MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Rangga Jatuh Cinta


__ADS_3

Hati Bara terasa dicubit setan. Tak berbentuk namun sakitnya terasa sampai ke jantung. Sania menghubungi semua beberapa orang terdekatnya namun tak bersedia menerima telepon Bara.


Kaki tangan Bara kaku tak bisa digerakkan. Kesedihan jelas terukir di wajah ganteng itu. Ingin marah pada siapa? Semua ini berawal dari kesalahan sendiri terlalu pede jadi pahlawan kesiangan. Untung tak dapat diraih kemalangan menghampiri.


"Pak..." Dea menjadi tak enak hati ciptakan gap panjang antara bos dan isterinya.


"Apa katanya?"


"Cuma suruh jaga pola makan bapak! Sania sangat sayang pada bapak. Dia bekerja matian demi bapak tapi bapak kenapa selingkuh?" Dea beranikan diri ajukan protes walau tahu resiko dari keberaniannya. Bisa jadi dia dipecat.


"Aku tak selingkuh cuma salah paham." lirih Bara tak marah. Apa yang dikatakan Dea adalah kebenaran walau tuduhan berselingkuh tidak benar.


"Dari dulu Bu Arsy hanya kacaukan hidup bapak. Sania yang temani bapak waktu susah. Kini bapak sudah kuat jadi bapak harus lebih kuat jaga milik bapak yang berharga."


Bara menatap Dea lantas mengangguk. Bara tak bisa marah walau harga dirinya sedang diobrak abrik bawahan. Dea hanya suarakan isi hati seorang pegawai yang peduli pada atasan. Bangunan yang baru dibangun mulai dihinggapi rayap. Tak ada orang yang mampu basmi rayapnya bila tak ada kemauan dari pemilik bangunan.


Bara sendiri yang harus kejam basmi semua rayap-rayap yang gerogoti bangunan mahligai rumah tangganya.


"Pergilah kerja! Jangan ganggu aku! Siapapun mau jumpa tunda dulu."


"Iya pak! Pak Cipto ada telepon minta bicara. Tapi sudah ditangani pak Rudi. Semua berjalan sesuai rencana."


"Bagus...lanjutkan!"


"Iya pak! Kalau tak ada perintah lagi aku permisi." Dea angkat kaki dari hadapan Bara dengan hati lega. Tak ada hukuman dari Bara walau dia telah lancang gurui bos. Dea tak bisa bayangkan akibat kalau Bara tersinggung ditegur anak buah. Dikandangkan di rumah. Itu resiko utama. Syukurlah semua itu tak terjadi.


Dea lemparkan pandangan ke arah Bara sebelum tutup pintu. Bosnya itu benar kacau ditinggal Sania. Tak ubah anak ayam kehilangan induk.


Di kantor Sunrise baru siap rapat. Kondisi kantor membaik dan perlahan tapi pasti nama Sunrise mulai pulih. Kepercayaan investor makin mencapai puncak. Rangga makin berkibar membuat laki ini makin bersemangat memajukan perusahaan seperti impian Sania.


Lisa tetap setia dampingi Rangga tanpa kenal lelah. Rangga yang basicnya montir kini menjelma jadi macan bisnis atas bimbingan Lisa. Lisa lama bekerja di perusahaan Build maka ngerti cara jalankan perusahaan.


Rangga balik ke ruang kerjanya dengan wajah kuyu. Adik yang paling dia sayangi sampai detik ini tak ada kabar sama sekali. Sania seakan ditelan bumi. Rangga tak tahu harus ke mana cari Sania.


Daerah jajahan Sania sangat terbatas. Sania kurang suka bergaul kecuali dengan orang tertentu. Bara sendiri sudah angkat tangan cari Sania. Sejauh ini belum ada kabar.


Hasil rapat memuaskan namun tak ada guratan bahagia di wajah bos pujaan hati Lisa. Awan mendung masih betah bergelantungan di wajah ganteng itu. Ingin rasanya Lisa halau kesedihan di wajah Rangga. Namun kain lembut untuk lap awan mendung itu terbang raib ntah ke mana.


Rangga duduk di mejanya sambil meremas kepala pakai kedua tangan besarnya. Tangan itu demikian kokoh tampak mantan pekerja keras. Gimana rasanya bila dibelai tangan kasar itu. Tentu nyaman walau tak ada kata halusnya.


Lisa berdiri di samping Rangga menanti reaksi bosnya sekaligus pujaan hati. Rangga sering sebut Lisa pacar namun laki itu belum pernah omong langsung pada Lisa ataupun meminta ijin Lisa jadi pacar resmi. Laki aneh.


"Lis... kira-kira ke mana Sania?" gerutu Rangga putus asa.


"Sania orangnya misterius. Waktu kejadian bersama Bobby dia juga menghilang. Capek kami cari dia. Tiba-tiba dia muncul sendiri." sahut Lisa meneliti air muka Rangga yang betul-betul jauh dari kata ok.


"Apa ada cara bikin dia muncul?"


Lisa menggeleng tak punya rencana karena memang tak tahu harus ke mana cari Sania. Siapa bisa tebak isi otak wanita berhati batu itu? Mau apa tetap dijalankan tak open sekeliling.


"Aku hanya tahu Sania orangnya setia. Dia selalu berusaha lindungi orang-orang dekatnya. Tak boleh ada yang sakiti teman atau saudaranya."


"Kita bilang Agra sakit?" ujar Rangga asalan.


"Amit-amit...ngak boleh! Kata itu doa. Kalaupun bilang sakit kau pikir dia percaya gitu saja? Aku yakin mata-matanya pasti ceking kondisi Agra. Yang ekstrem dikit! Yang bisa pancing emosinya."

__ADS_1


"Apa ya?" otak Rangga berputar cari topik untuk pancing kemunculan Sania.


"Bilang Amanda ditahan polisi? Dia pasti senang."


"Ngak mungkin dia muncul. Dia punya team solid tangani kasus ini. Sekarang Amanda lagi depresi. Kejiwaan terganggu. Dia pasti tahu itu. Ehm...aku punya usul tapi kamu harus siap jadi korban."


Jantung Lisa berdetak kencang dengar Rangga minta dia berkorban. Apa Rangga akan membunuhnya untuk pancing Sania keluar? Rencana gila apa dimaksud Rangga.


"Rencana apa mas?"


Rangga tersenyum kecil. Lisa malah merasa senyum Rangga bukan pertanda baik. Pasti bukan plan baik.


"Sebar berita kau hamil dan aku tak mau tanggung jawab. Aku yakin Sania akan muncul untuk membunuhku."


Mata Lisa nyaris terloncat dari rongga mata dengar rencana konyol Rangga pertaruhkan nama baiknya. Rencana paling gila yang pernah Lisa dengar. Apa kata orang tuanya bila tahu ada rumor menyesatkan ini.


"Ngak...ini konyol! Mas belum dibunuh Sania aku sudah mati dicekik papa." tolak Lisa tak terima usul tak sehat ini.


"Kita jelaskan pada orang tuamu dulu. Cuma ada cara ini kita pancing emosi Sania. Dia sangat sayang padamu. Aku yakin dia akan pulang bawa golok pancung kepalaku."


"Tuan Rangga...aku ini anak gadis! Tersiar di luar aku hamil siapa berani lamar aku lagi? Mau jadi perawan tua seumur hidup?" Lisa kemukakan alasan mengapa tak mau dibawa dalam tonil karangan Rangga.


Rangga bangkit dari bangku berjalan hampiri Lisa. Mata elang Rangga menatap lurus ke tubuh Lisa jelajahi setiap jengkal tubuh yang Rangga klaim miliknya.


Lisa mundur karena grogi didekati Rangga dengan cara aneh. Biasa berdekatan juga tak rasakan aliran tegangan listrik. Kok hari ini keadaan mencekam. Lisa mundur sampai mentok ke dinding Rangga maju terus mengurung Lisa dengan kedua tangganya. Wajah Rangga dekat sekali dengan wajah Lisa yang sudah seperti kepiting rebus.


"Aku siap bertanggung jawab. Atau kau mau hamili betulan baru mau bersandiwara?" Rangga menghembuskan nafas di belakang telinga Lisa.


Bulu kuduk Lisa merinding merasa tak ketakutan terlalu dekat Rangga. Bukankah ini harapan Lisa selama ini. Didekati malah merinding takut.


"Mesum gimana? Kau milikku. Cepat atau lambat kau akan sedekat ini denganku. Atau kau mau test rasakan stempel kepemilikan." Rangga mengangkat wajah Lisa yang tertunduk malu.


Kini keduanya saling berhadapan. Mata Rangga tertuju pada bibir Lisa yang dipoles lipstik warna pink. Bibir itu sangat menggoda jiwa laki Rangga. Perlahan bibir Rangga mendarat sukses di bibir Lisa.


Lisa merasa kejang dapat serangan mendadak. Deburan ombak bertalu-talu di dalam jantung Lisa. Bergemuruh memecah berkali-kali di tepi jantung.


Rangga bukan playboy ulung yang kencani banyak wanita. Tapi untuk sekedar ciuman mungkin bukan hal sulit. Tinggal rasakan manisnya bibir wanita yang di klaim jadi calon ibu anak-anak.


Lama sekali Rangga ******* bibir Lisa sampai Lisa kehabisan oksigen. Otak Lisa nyaris berhenti berfungsi gara-gara hilang kesadaran dicium Rangga tanpa permisi.


Rangga melepaskan Lisa tahu gadis itu kehabisan oksigen. Tangan kasar Rangga mengelus bibir yang tampak sedikit bengkak diserang bos secara mendadak. Senyum licik Rangga terhias di wajah laki ini. Rangga berhasil bikin tanda kepemilikan di bibir Lisa.


"Bernafaslah! Kau bisa mati bila menahan nafas. Aku belum mau jadi duda sebelum kawin. Belum belah duren!" bisik Rangga mesum di kuping Lisa.


Lisa berusaha memulihkan pernafasan. Jantung yang berpacu dengan cinta berdenyut makin kencang diberi kalimat mesum Rangga.


"Mas..."


Rangga beda dari biasanya. Hari ini sisi genit Rangga terbit menghalau sisi beku laki itu. Biasa Rangga cuek bebek tak pernah ungkit soal cinta apalagi bermesraan begini. Ini buktikan Rangga itu normal sebagai lelaki. Masih doyan kulit mulus cewek.


"Gimana? Sudah siap sebar kabar kau hamil? Aku yakin Sania akan muncul menikahkan kita. Dia paling benci orang tak punya moral."


"Mas siap nikahi aku?"


Rangga tak menjawab malah menarik Lisa masuk ke pelukannya. Rangga memeluk Lis erat-erat hendak kasih tahu detak jantungnya berirama nama Lisa. Rangga suka pada Lisa sudah cukup lama. Cuma posisinya sebagai montir tak beri peluang baginya. Di saat posisinya sudah mantap muncul pula kemelut keluarga.

__ADS_1


Mungkin ini waktunya utarakan niat baik nikahi wanita idaman sejak dulu.


"Dari dulu aku suka padamu. Tapi kau anak bos. Sekarang aku mantap nikahi kamu. Kau bersedia jadi ibu anak-anak kita?"


Lisa mengangguk dalam pelukan Rangga. Lagi-lagi Sania buka jalan bagi Lisa meraih cinta sejatinya. Cinta yang sudah lama terpendam dalam hati. Lisa mencintai Rangga dari posisi dia sebagai montir, bukan karena Rangga direktur perusahaan. Cintanya murni karena rasa sayang.


"Aku bersedia mas. Umurku juga sudah cukup untuk menikah."


"Baiklah! Nanti malam kita ngobrol sama bapak dan ibu serta misi kita pancing Sania. Jangan bilang kita akan menikah! Paling setan kecil itu kirim kado. Bikin sensasi pancing dia marah. Siap-siap calon suamimu dihajar Sania."


Lisa bisa bayangkan si bibir tajam itu hajar Rangga. Kira-kira Rangga jadi perkedel atau daging cincang?


"Mas tak takut dihajar Sania?"


"Demi kamu dan Sania aku tak keberatan hidup susah. Kau adalah matahariku dan Sania adalah mentariku dan Agra adalah."


"Bukankah itu sama walau tulisan berbeda?"


"Iya...kalian sama-sama menerangi hidupku walau dengan nama berbeda. Kalian nyawaku. Aku sayang pada kalian. Kau percaya padaku?"


"Percaya...kelihatannya aku harus cemburu pada adik-adik iparku. Mereka masuk dalam hatimu."


"Jangan omong gitu manis!Kalian bagai bumbu penyedap makananku. Hilang satu semua jadi hambar."


"Idih..sok puitis! Sudahan...aku harus balik kerja." Lisa mendorong dada bidang Rangga menjauh. Bau maskulin Rangga memabukkan Lisa. Berada dalam pelukan Rangga merupakan impian Lisa. Akhirnya mimpi jadi kenyataan.


"Biar gini sebentar. Aku tenang begini. Sakit di otakku agak reda." Rangga belum rela lepaskan Lisa. Hati Rangga nyaman memeluk Lisa. Lisa bagai kekuatan terselubung Rangga. Penyemangat hidup yang telah berjasa bangkitkan gairah hidup Rangga.


"Mas...apa kita mau gini sampai besok? Masih ada laporan belum kubuat."


"Oh maaf! Mas lupa masih di kantor. Rasanya tak sabar bawa kamu ke penghulu."


"Mulai...mulai mesumnya!" sungut Lisa mendorong Rangga menjauh. Kali ini Rangga mengalah biarkan Lisa hirup udara bebas.


"Kamu mulai sebar kabar kau hamil. Mulai dari teman dekatmu yang di kantor Bara. Aku percaya di situ Sania pasang cctv hidup. Tak mungkin dia tinggalkan Bara tanpa perhitungan. Sania itu licin kayak belut."


"Tapi aku malu mas! Cewek ngaku dihamili bos bukan prestasi bagus." Lisa meringis membayangkan senyum ejek dari orang yang memandangnya. Wanita hamil di luar nikah tetap dapat pandangan negatif dari orang lain. Stempel perempuan murahan langsung disematkan atas nama Lisa.


"Lis...ini demi Sania. Kita tak mungkin biarkan dia keliaran dalam keadaan hamil. Ingat dalam perutnya ada dua bayi tak berdosa. Bapaknya berdosa jangan libatkan bayi yang tak tahu apa-apa. Dasar bayi apes punya orang tua super tolol! Punya jantung tapi tak punya hati. Ya seperti batang pisang gitu!" gerutu Rangga masih kesal pada Bara tak punya pendirian tetap.


Punya anak bini tapi masih ingat akan masa lalu. Yang berlalu hendaknya dikubur tak perlu dibangkitkan. Dibangkitkan hanya jadi momok bagi keluarga. Bara sudah rasakan akibat dari main gila. Hancur lebur.


"Sudahlah mas! Sekarang yang penting adik mas kembali. Masalah dia dengan Bara biar kita bincangkan nanti. Bara juga korban Arsy. Maka itu jadi laki jangan plin plan. Punya tanggung jawab terhadap keluarga." omel Lisa ntah pada siapa.


Di ruang itu hanya ada Rangga otomatis Rangga yang jadi target amarah Lisa. Rangga mencolek kening Lisa agar gadis itu sadar salah kirim rasa kesal. Orang tak makan nangka kok kena getah.


"Kok mas yang jadi sasaran?" tanya Rangga bloon.


"Laki sama saja!" sungut Lisa beranjak pergi pasang wajah tak bersahabat.


Rangga bingung sampai mulut menganga lebar. Dari topik kembalikan Sania jadi topik laki tak punya pendirian. Persoalannya di mana salah Rangga? Rangga tak merasa tinggalkan tanggung jawab terhadap keluarga. Dia masih peduli Agra dan Sania.


"Wanita...huh..bingung dah!" Rangga menggaruk wajah yang mulai ditumbuhi bulu halus. Sedikit gatal berujung tajam. Lisa pasti kegelian adu bibir dengannya. Bulu-bulu halus yang tumbuh sekitar wajahnya pasti mengganggu ciuman perdana mereka.


Rangga tersenyum sendiri ingat ciuman pertama yang tak bawa kesan mendalam. Hanya ciuman terburu-buru tanpa ditunjang keromantisan. Gadis manapun mengharap adalah bujuk rayu sebelum dimulai acara adu bibir. Rangga main sosor kayak bebek sosor dedak basah.

__ADS_1


__ADS_2