MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Lokasi Proyek


__ADS_3

Bara terlalu lemah hadapi wanita. Sania tak tahu sudah ada berapa wanita manfaatkan kelemahan Bara cari keuntungan pribadi. Pantas Bara bisa jatuh asyik pertimbangan wanita.


Sania harus hati hati yang proyek bila tak mau tekor. Uang proyek harus difokuskan ke proyek bukan ke badan wanita penggoda.


"Pak...aku tahu niatmu baik tapi jangan terlalu dalam masuk dalam hidup Arsy. Atau bapak kawini Arsy baik baik! Jangan gantung sana sini! Wanita itu bukan jemuran boleh digantung sampai kering." Sania kembali sok bijak.


"Aku tak berniat kawini orang yang sudah selingkuh dariku. Aku cuma kasihan pada Kintan." Bara menekan kalau dia dekat Arsy karena Kintan.


"Cara bapak salah. Maunya bapak dekatkan Kintan sama bapak kandungnya. Bantu mereka jalin tali silaturahmi. Bapak malah putuskan jalinan itu. Tega bener bapak ini."


Bara makin tak nyaman dikuliahi anak bawang. Sania tak hiraukan perasaan Bara saat ini. Mau bersalah kek, mau tobat atau makin gencar datangi Arsy itu urusan dia. Asal jangan kepergok Sania. Sania akan buat hidup Bara lebih sengsara dari Bobby.


"Aku akan jaga jarak. Jangan bahas itu lagi! Pusing." Bara hindari bahas soal Arsy. Sania akan sejak dia habisan bila dilanjutkan.


Sania termasuk orang bijak. Masih muda tapi pola pikir kayak nenek berumur seratus tahun. Tua banget.


Ponsel Sania berbunyi. Sania melirik layar hp pantau siapa yang telepon. Ternyata si iseng.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam...ada apa?" tanya Sania tak ramah. Fadil bisa lebih iseng bila diladeni ramah.


"Mau ajak makan siang...kita berdua. Jangan ajak Pak Flinstone ya!"


Sania tertawa geli Fadil panggil Abang sendiri manusia purba dalam khayalan anak anak. Sungguh tak sopan si Fadil. Bagaimana reaksi Bara kalau tahu diejek adik sendiri.


"Kami sedang turun lokasi. Lain kali saja ya!"


"Kamu selalu nolak aku padahal aku cinta mati padamu."


"Cinta yang salah tempat bro!"


Bara pura pura batuk menduga apa yang dibincangkan Sania dan seorang cowok. Bara belum tahu siapa lawan bicara Sania. Bisa jadi Bobby yang belum nyerah hendak membawa Sania kembali ke pelukan.


Sania melirik tingkah Bara yang tampak bodoh cemburu pada adik sendiri. Sania belum gila main gila sama adik ipar sendiri. Fadil boleh konyol namun Sania tak mau ikutan konyol.


"San...aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Ingat kita jumpa di supermarket dulu? Sejak itu aku ingat kamu terusan." Fadil ungkap perasaan pada Sania tak peduli itu kakak iparnya. Fadil jelas betul hubungan Sania dan Bara tak lebih dari hubungan perjanjian nikah.


"Dil...aku hargai tapi aku ini isteri abangmu. Kau harus ingat itu!"


"Kalau tak ada Bara kau akan terima cintaku?"


"Fadil...jangan buang waktumu untuk aku! Masih banyak gadis baik lain menantimu."


"Itu urusanku! Mencintaimu itu urusanku. Asal kamu tahu cintaku tulus. Andai kalian bubar datanglah padaku."


"Jangan lanjutkan! Aku sedang dinas!" Sania ingin cepat cepat akhiri pembicaraan. Sania jengah dirayu di depan suami sendiri walau antara mereka tak ada ikatan cinta.


Sania masih hormati posisi Bara sebagai suami. Laki mana tak marah lihat bini digombalin cowok lain. Walau hanya sekedar gombalan kosong.


"Fadil?" tanya Bara tak ramah.

__ADS_1


Sania mengangguk. Bara memukul stiur mobil sambil menggeram marah. Fadil sudah keterlaluan berani merayu kakak ipar. Mau cari mati anak itu.


"Jangan diambil hati! Fadil suka canda."


"Kamu salah. Dia tak pernah serius sama cewek. Baru kali ini dia gigih kejar cewek. Kau harus tahu diri."


Sania melotot besarkan mata tersinggung ditegur Bara. Apa Sania sudah terima cinta Fadil sampai ditegur harus tahu diri. Sania juga tak tergoda gombalan Fadil. Amarah Bara tak tepat guna.


"Aku memang tak tahu diri. Suka merayu laki." sinis Sania melengos buang muka keluar jendela.


Bara tak menyahut. Laki ini masih kesal pada adiknya yang tak tahu di mana letak cinta. Segitu banyak wanita di negeri ini mengapa justru suka pada cewek yang sudah jadi kakak ipar.


Kedua saling diam tak ingin buang tenaga berdebat hal yang akan menambah buruk keadaan. Tujuan mereka adalah kerja bukan cari ribut.


Sania benar benar pusing bila bahas soal cinta. Mengapa tak ada kisah manis di antara mereka. Kisah Sania dan Bobby kandas karena Bobby main hati. Bara lebih parah, pacar selingkuh dan harus kawini wanita hamil anak teman. Itupun belum happy ending. Masih berlanjut kisah haru biru sang isteri kena kanker dan Bara kawin lagi. Kalau diangkat jadi sinetron pasti akan jadi cerita menarik.


Sania pejamkan mata usir segala kisah kisah bikin otak panas. Bisa bisa jadi otak panggang. Syukur kalau tak gosong.


Tanpa Sania sadari dia tertidur. Gadis cantik ini imut bila tenang tidur. Wajahnya teduh tak ubah kayak anak bayi anteng kejar mimpi.


Bara melirik bini mudanya sambil menghela nafas. Wajah imut Sania mulai tinggalkan jejak di hati Bara. Apa dia sanggup lepaskan Sania suatu saat gadis ini berontak minta pisah? Kalau soal kelakuan Sania dapat ponten 9. Tak dipungkiri gadis ini baik hati. Tapi mulut Sania terlalu tajam bila ada hal tak masuk logikanya.


Bara menyentuh wajah bini mudanya perlahan takut gadis ini terbangun. Bisa bisa dia ngamuk Bara langgar janji lakukan kontak fisik.


"Kau gadisku...Kau datang hangatkan hatiku yang telah lama beku." Bara bergumam sendiri. Ada rasa sayang mencuat di hati di arahkan ke Sania yang sempurna di mata Bara.


Mobil berhenti di lokasi tanah kosong. Lahan yang rencananya akan dibangun bank swasta milik teman Bara. Teman Bara sang bankir masih teringat pada sahabat lama yang mulai redup sejak Nania sakit. Tak mungkin proyek ini dibagi ke orang lain selama Bara masih mampu berkarya.


Tak jauh dari tempat Bara sudah ada terparkir mobil super mewah warna silver. Tak perlu ditanya Bara sudah tahu itu mobil Zainal sahabatnya sang bankir. Mereka sudah janjian mau ketemu di lokasi untuk tindak lanjuti rencana pembangunan.


Tanpa ragu Bara ayunkan langkah ke arah mobil temannya. Di lokasi belum ada kegiatan apapun selain lahan kosong membisu. Tanahnya agak becek berlumpur. Kelak lokasi ini yang sekarang bak jin buang anak akan menjadi bangunan bermanfaat bagi perbankan.


Bara mengetok pintu mobil mewah milik Zainal sang bankir. Di moments ini Bara harus ngalah tunduk pada pemilik proyek untuk dapat kepercayaan. Semua emosi juga gengsi harus ditanam dalam dalam ke tanah. Satu kata untuk capai tujuan yakni kesabaran.


Kaca mobil mewah diturunkan secara otomatis. Satu kepala nyembul dari balik kaca mobil. Seraut wajah bulat berkacamata tebal beri sambutan kurang manis. Kecut.


"Satu menit transaksi satu milyar. Kau buang waktuku sampai dua puluh menit." ucap Zainal ingatkan Bara kalau Bara telat.


"Sori bro...macet!" Bara merangkap tangan mohon maaf.


"Hhuuu..gaya lama masih dipakai. Alasan macet! Gimana? Bisa mulai kerja?"


"Turun dulu bro! Sekilas kau bisa gambarkan posisi tepat. Kali aja ente percaya yang namanya hoki dan Feng sui ala orang Tionghoa."


Zainal ikuti saran Bara turun dari mobil dengan ogahan. Tanah lahan yang becek membuat pria ini enggan tapakkan kaki. Mungkin akan merusak sepatu mahalnya.


"Mana perancangnya? Kok datang sendiri? Katanya akan bawa orang yang gambar sketsa." ujar Zainal setelah turun dari mobil. Laki ini tambun dalam balutan jas mahal. Dari atas hingga ujung kaki melekat barang mahal. Memang bos bankir tajir.


"Oh ada...biar kupanggil!" Bara segera balik ke mobilnya untuk bangunkan Sania sang bini sekaligus perancang bangunan bank milik Zainal.


Bara membuka pintu sebelah kiri di mana Sania tertidur di jok mobil. Bara tersenyum melihat gadisnya masih terbuai mimpi tak tahu tugas sedang menanti.

__ADS_1


"Sania...bangun!" Bara menepuk pipi Sania lembut.


Sania membuka mata indahnya. Gadis ini pasang muka tolol menatap Bara. Sania mungkin lupa sedang ikut Bara tinjau lokasi kerja. Saking nyaman tidur serasa tidur di rumah sendiri.


"Pak Bara?" Sania menggosok mata pulihkan kesadaran. Bara tertawa geli Sania tampak culun di saat ini. Gadis berlidah tajam tak tampak bekasnya di sini. Yang ada hanya gadis berwajah bodoh.


"Nyenyak betul. Mimpi naik ke bulan bersamaku?" olok Bara bangkitkan gairah Sania untuk melawan.


"Mimpi jadi dukun sunat. Sunat laki tukang selingkuh." si mulut tajam sudah kembali. Inilah Sania sesungguhnya. Full energi.


"Aku siap kau sunat. Disunat dikit toh masih ada sisa buat nyenengin para biniku."


"Dasar muka tembok." sungut Sania sambil bereskan penampilan. Rambut gadis ini acak acak bergerak panjang. Kalau wajah masih tetap cantik walau tanpa make up setebal tembok China. Sania tetap on tanpa perlu polesan kosmetik.


Sania turun dari mobil setelah yakin bisa tampil jumpa investor. Sania tak mau buat Bara malu punya pegawai berantakan. Tak perlu mewah penting rapi dan sopan.


"Ayo..itu Pak Zainal pemilik proyek!" Bara menunjuk Zainal pakai bibir. Sangatlah tidak sopan menunjuk seseorang pakai jari di saat gini. Bisa bisa Zainal salah sangka kira jadi bahan gunjingan.


Sania lempangkan mata ke arah titik fokus mereka. Seorang laki sebaya Bara bertubuh gempal kelebihan lemak juga sedang menatap ke arah mereka. Jarak tak terlalu jauh membuat mereka cepat bertemu. Sania perlihatkan keanggunan wanita tulen walau tak senang berjalan di lahan becek. Medan tak bersahabat tak surut kan semangat Sania beri yang terbaik untuk perusahaan Bara.


"Ini perancang kantor kami!" Bara perkenalkan Sania pada Zainal. Zainal meneliti Sania dari atas rambut hingga ujung kaki. Sepatu Sania jadi santapan mata Zainal paling buruk karena sepatu itu berubah kehitaman kena lumpur. Titik lemah itu kurangi nilai Sania di mata bos bank itu.


"Wah...perancang cantik! Secantik rancanganmu. Ok kita mulai dari ujung sana hingga akhir." Zainal semangat ditemani perancang cantik penyegar mata. Semula Zainal pikir akan menemukan insinyur membosankan berkacamata tebal macam dirinya. Tak sangka dapat angin mamiri sejukkan mata. Fresh dari oven.


Zainal tak peduli sepatu mahalnya ikutan bergabung dengan kumpulan lumpur. Beri pengarahan pada Sania selaku tukang rancang lebih penting dibanding sepasang sepatu yang bisa dibeli kapanpun. Dapat temani perancang penyejuk mata lebih berharga.


Bara sudah cium modus Zainal mau dekat dekat dengan bininya. Bankir berbentuk bola salah cetak pasang jerat hendak menarik perhatian Sania. Jarang jarang ada gadis cantik berotak cemerlang. Biasa cantik tapi isinya zero alias tong kosong. Nyaring kalau digebukin.


"Pak Zainal...struktur tanah ini agak lembek. Kita mungkin akan temukan kendala bila bangun basement. Basement parkiran kita bangun jangan terlalu dalam. Takutnya bawah air. Tapi ini hanya prediksi. Di sini kusarankan gedung kita bangun akan lebih tinggi dari permukaan tanah. Ada beberapa anak tangga gitu. Bagaimana pendapat bapak?" Sania mulai perlihatkan analisa setelah lihat langsung kondisi tanah yang agak basah.


"Aku kurang ngerti soal itu. Kamu tentu lebih ngerti." kata Zainal tak lepaskan pandangan dari wajah Sania. Ntah sekedar kagum atau buat modus lain.


"Pak..bapak sebagai pemilik bangunan harus punya pendapat agar kami bisa kerja maksimal. Segala tuntutan bapak akan kami jawab sebaik mungkin. Kemarin aku hanya bikin sketsa ala kadar. Belum jumpa bapak untuk minta denah tata ruang."


"Oh gitu...bagaimana kalau kau datang ke kantor untuk bahas tata ruang? Kita bisa bahas dengan santai. Di sini tak nyaman."


"Oh tentu...besok aku akan ke kantor bapak. Bapak cukup beri bayangan berapa ruang yang dibutuhkan serta di mana ruang utama. Terpenting ruang brankas." sahut Sania cerdas.


Zainal tepuk tangan puji wawasan Sania cukup untuk jadi perancang muda berpotensi tinggi. Ruang brankas adalah ruang terpenting bagi satu bank. Di sanalah semua aset disimpan. Sania bisa beri arahan mana yang terpenting itu sudah cerminkan gadis ini bukan perancang jual tampang.


"Wah nona perancang. Siapa namamu?"


"Sania pak!" sahut Sania lugas tanpa sok malu. Sania posisikan diri sebagai pekerja Bara bukan wanita cantik gula gula pemanis pertemuan para bos.


"Ok...cukup hari ini! Kutunggu kehadiranmu nona Sania. Silahkan datang ke bank kami. Di sana kamu bisa kredit rumah dengan bunga rendah. Khusus untukmu bisa dinego kan lagi." ujar Zainal menyerempet ke arah lain. Sania tak tahu apa tujuan Zainal tawarkan KPR rumah tapi itu tak masuk rumus Sania dalam pekerjaan.


"Terima kasih pak! Aku sudah punya rumah walau kecil. Yang penting nyaman." sahut Sania sopan terhadap investor. Sania harus pandai menahan emosi terhadap para bos besar yang kadang belagu. Punya banyak duit bisa semau gue.


"Oh gitu ya! Aku tetap harap nona mau berkunjung ke bank kami untuk kerjasama lebih lanjut."


"Siap pak!"

__ADS_1


Bara sudah gondok lihat Zainal monopoli Sania dalam pembicaraan. Dia tak diajak ngobrol seperti tak ada di antara mereka. Tapi apa mau dikata. Zainal yang punya kuasa saat ini. Dia yang punya proyek. Bara harus menahan diri tak boleh kesal.


__ADS_2