
Semua tertawa mengingat keberanian Roy merayu dosen yang sudah bersuami. Orang barat pula. Sang dosen sih ok ok saja dapat berondong namun bagaimana suami yang berprofesi sebagai atlet judo. Untung kepala Roy tak berpindah ke tong sampah.
Mengenang masa muda yang penuh canda ria menyemarakkan suasana kaku. Hari penuh sensasi hampir berakhir. Dari pagi di awali acara terjun bebas Maya, Ranti datang bawa wartawan dan diakhiri berita suka cita.
Bara merasa hari ini cukup menegangkan. Tapi untunglah babak drama hari ini hasilkan kisah babak baru dalam hidup laki ini. Sania hamil anak kembarnya. Hal yang tak pernah terlintas dalam pikiran Bara muncul bikin satu keluarga dibalut rasa bahagia tak terhingga.
Sebelum magrib para konco beda generasi pamit minta pulang. Keempat pegawai Bara ijin setelah bercanda satu sore. Chemistry mulai terjalin antara keempat orang itu. Sania berharap mereka bisa mencari kecocokan satu sama lain. Roy termasuk cowok baik walau urakan. Rudi adalah mantan playboy tobat. Semoga ke depan jalan mereka terarah.
Selepas magrib kedua orang tua Bara datang bawa pesanan Sania. Wajah Bu Jaya paling cerah karena tak lama lagi dia akan menggendong cucu yang dia idamkan bertahun-tahun. Penantian keluarga Jaya terbayar kontan. Malah dapat bonus cucu tambahan. Keajaiban itu selalu datang selama tak berjalan di jalan sesat.
"Gimana cucu Oma? Apa sudah tak sabar makan gado-gado?" sapa Bu Jaya begitu jumpa Sania.
Keakraban sangat terasa menyelimuti keluarga yang sedang bahagia itu. Semua orang tua bahagia mendapatkan anak ataupun menantu memberi keturunan untuk meneruskan marga keluarga. Demikian juga dengan keluarga Jaya. Di perut Sania sedang tumbuh penerus marga Jaya. Laki atau perempuan tak penting. Yang jadi prioritas utama adalah anak ibu sehat.
Malam berlalu tenang tanpa konflik lanjutan. Mungkinkah Ranti sudah kapok nginap di hotel prodeo gratis. Untuk sementara Sania bisa hidup tenang tanpa gangguan para ular tak punya ********. Sania sedang mengandung anak Bara butuh perasaan nyaman agar bayinya bisa tumbuh sehat dalam perut.
Esoknya Sania pulang ke rumah orang tua Bara langsung dijemput kedua mertua dan suami yang mulai tercinta. Dulu Sania selalu anggap Bara sebagai suami tak tercinta. Seiring waktu perlahan dewa amor mengantar panah cinta ditancapkan ke hati dua insan yang pernah gagal dalam bercinta. Semoga perasaan itu makin berkembang menutupi semua kenangan buruk masa lalu.
Bara segera berangkat ke kantor setelah Sania aman bersama Bu Jaya. Pak Jaya juga kembali ke kantornya melanjutkan kerja tertunda karena kejadian kemarin.
Seluruh karyawan Bara kasak kusuk bincangkan Sania yang jatuh pingsan setelah diserang Ranti. Sebagian yang tahu Sania adalah isteri Bara tak banyak komentar. Namun beberapa karyawan cewek yang doyan gosip belum percaya Sania adalah nyonya bos. Mungkin bagi mereka Sania sama saja wanita pencinta materi goda Bara sebagaimana dikatakan Ranti.
Bara tiba di kantor dengan wajah berseri. Aura Bara terpancar dari raut wajah gantang itu. Bos besar PT. ANGKASA JAYA makin berkibar membuat para karyawan baru histeris seakan jumpa idola baru. Tapi semua hanya bisa berteriak dalam kalbu. Mengagumi bos secara rahasia.
Bara memanggil Roy ke kantor bahas proyek PT. SHINY. Untuk sementara Sania tak bisa berangkat ke sana untuk kontrol proyek raksasa itu. Bara perlu masukkan Roy menangani ketimpangan karena orang yang paling paham proyek ini tak bisa diganggu.
Sebagai pengusaha profesional Bara tak mungkin tunda pelaksanaan jadwal kerja yang sudah ditentukan. Proyek ini bukan proyek abal-abal yang bisa digarap serampangan. Hukum pidana siap menjerat bila Bara ingkar kontrak kerja.
Roy datang memenuhi panggilan Bara dengan hati berat. Tanggung jawab sebagai wakil Bara bukan kecil. Jangan hanya senang menyandang gelar keren wakil Presiden namun minim prestasi. Roy harus tunjukkan kualitas sebagai wakil bisa diandalkan.
"Halo hot Daddy...gimana kabar hot mommy?" Roy melemparkan tubuh ke sofa cari posisi santai bahas kerja hari ini.
"Sudah di rumah. Untuk sementara ini dia harus bed rest. Aku tak mau ambil resiko kehilangan pertama hati. Ada kabar dari kepolisian?"
"Ranti stress di tahan semalaman. Suaminya tak muncul. Orang tuanya sedang negosiasi sama pihak polisi untuk keluarkan Ranti dengan jaminan."
__ADS_1
Bara tahu orang tua Ranti tak mungkin biarkan anak mereka mendekam di penjara. Apa lagi Ranti sedang hamil besar. Mereka pasti akan tempuh segala cara bebaskan Ranti dari jeratan hukum.
"Kenapa Bobby tak muncul bela isteri kesayangannya?" gumam Bara bingung. Bobby tak mungkin abaikan Ranti yang sedang mengandung anaknya. Apa yang sedang terjadi pada keluarga Ranti.
"Ntahlah! Tak ada reaksi dari pihak Bobby. Sebenarnya kau harus berterima kasih pada Bobby. Kalau dia tak berselingkuh dengan Ranti sampai detik ini kau takkan punya bini secantik Sania. Untunglah mata Bobby berkatarak salah lihat objek. Jodoh memang aneh." Roy menerawang mengapa di dunia ini ada laki setolol Bobby. Semua orang tahu Ranti itu bak permen karet lengket pada pengusaha besar dan produser film. Mengapa Bobby justru melabuhkan hati pada orang tak tepat.
"Inilah rahasia Illahi...Bobby mengantar Sania padaku."
"Hargai Sania Bar..dia adalah berlian. Jangan sekalipun kau khianati wanita sebaik Sania! Aku takut wanita-wanita pemburu cinta mengusikmu. Jangan terpengaruh oleh semua godaan! Aku di sini bicara sebagai saudaramu. Aku juga ingin kamu bahagia."
Bara mengangguk tak ingkari kata-kata Roy. Tujuan Roy baik tak ingin Bara terjebak dalam cinta palsu dari jaman purba. Lebih banyak duka dari pada suka.
"Akan kuingat...sekarang kita bahas soal rencana proyek. Sania bersikeras ingin hadir di pulau B. Tapi kondisinya tak memungkinkan dia pergi jauh." keluh Bara takut Sania kelelahan.
"Iya sih tapi ini konsepnya. Dia memang harus ke sana jelaskan semua plan baru kita bisa bergerak. Kalau perlu kita pergi bertiga minta penjelasan langsung. Setelah itu dia bebas tak perlu terjun lokasi lagi. Kalau ente sibuk biar kutemani bini ente ke sana." olok Roy menanti reaksi Bara bininya hendak diajak pergi berduaan.
Roy dapat hadiah lemparan pulpen dari omongan tanpa disaring. Bara mana bisa ijinkan Roy membawa Sania dengan janin di perut tanpa pengawalan suami. Roy sedang bangun mimpi di siang bolong.
Roy tertawa renyah diberi hadiah yang sudah dia duga. Bara ngak mungkinlah ijinkan Roy bawa bininya. Pergi bersama Bara saja dia keberatan apalagi tanpa Bara.
"Sekar?" tuding Bara menduga Roy sedang bidik Sekar untuk jadi pelabuhan bahtera hati.
"Yup..dia sopan dan alim."
"Jangan kau goda lalu kau tinggalkan! Dia itu saudara bini gue. Sania pasti akan kirim makanan bersianida kalau kau main hati."
"Aku masih waras bro! Jaman playgroup sudah berakhir. Kita harus menata masa depan. Aku anak tunggal..kalau aku tak segera kawin maka punahlah penerus keluargaku!"
"Syukurlah kalau ente ingat itu! Oya hari ini kau ajak Rudi pantau proyek Pak Wandi. Biar dia pegang itu. Kau tetap pantau pembangunan bank dan rumah sakit. Soal ke pulau B aku diskusi dulu sama Sania. Mungkin kau benar. Sania harus terangkan pada kita untuk tahap awal."
"Ok...semoga Rudi bekerja sepenuh hati. Kita sudah usaha dia bangkit. Ini jalan terbaik untuknya."
"Kau pergilah! Cepat kembali. Aku bingung pada Sania. Dia dapat proyek bangun jembatan di kota lain. Sudah kutolak tapi dia kecewa." keluh Bara ingat kata Sania tentang proyek baru lagi. Satu belum kelar dia Raup yang lain.
"Wah bini ente...betul-betul wanita besi! Kita cowok kalah sama dia. Seharusnya jangan kau semai bibit dulu ke ladangnya. Kan bisa kerja lebih banyak. Ini kamu kelewat semangat. Jadi gini deh!"
__ADS_1
"Sania dan debay dalam perutnya jauh lebih berharga dari seratus proyek. Aku tak pernah nyesal hamili dia. Ini proyek tersukses dalam hidupku." Bara ungkap euforia jadi ayah. Ratusan proyek tak sebanding dengan Sania dan anaknya. Bara merasa jadi manusia lebih mulia mampu memberi Sania kebahagiaan. Sania tentu senang punya anak apalagi anak kembar. Wanita mana tak bahagia menjadi seorang ibu. Sudah melahirkan anak dari suami adalah wanita sempurna.
"Iya hot Daddy...kau benar. Anak isteri tak bisa kita banding dengan proyek termegah manapun. Semoga aku segera menyusulmu. Bantu doa ya! Aku permisi dulu." Roy angkat tangan sambil tunjuk jempol.
Teman Bara keluar dari ruang Bara dengan sejuta harapan indah. Roy teguhkan hati mengejar cinta Sekar. Sekar gadis edisi lain dari pergaulan Roy. Wanita yang Roy temui selama ini selalu minim berpakaian. Tonjolkan bahasa tubuh memikat pria. Wanita demikian tak menarik perhatian Roy lagi. Justru Roy penasaran di balik gamis Sekar tersimpan pesona apa? Ini yang harus Roy bedah.
Suasana kantor kembali kondusif. Masing-masing laksanakan tugas yang menjadi bagian mereka. Bagi mereka yang berniat membuka hati sang big bos pasti sedang pikir segala upaya cari perhatian big bos. Nama Bara mulai dibincangkan di dunia bisnis. Putra pengusaha kaya Pak Jaya dan pemilik beberapa proyek besar. Nama Bara berkibar menyaingi pengembang lain yang sudah duluan sukses. Nama PT. BUILD redup ditelan waktu. Nama Bobby makin kumuh gara-gara skandal Ranti yang memalukan.
Bobby dan Ranti berselingkuh menjelang Bobby akan menikah. Bobby terangan hamili bintang top dan tinggalkan tunangan. Berbagai media memuat berita ini membuat nama kedua orang itu hancur. Lebih parahnya Ranti menyerang Sania dengan tuduhan tak ada bukti. Celakanya Ranti menawarkan diri menjadi isteri Bara tanpa ada rasa malu.
Bobby yang terpuruk makin jatuh sejak muncul skandal Ranti. Tak ada yang bela Ranti walau dia bintang top. Nama boleh besar namun akhlak tak seujung kuku. Tamat sudah riwayat Ranti dan Bobby. Mereka sudah panen buah busuk yang mereka tanam. Sania yang terzolimi justru meraup kebahagiaan ganda. Mendapat cinta Bara juga sepasang anak kembar.
Di PT. Sunrise terjadi keributan besar di mana Amanda dan Suhada datang menuntut Rangga. Amanda membawa beberapa preman untuk mengancam Rangga kembalikan perusahaan mereka. Suhada dan Amanda sudah berusaha negosiasi secara damai namun Rangga tak bergeming untuk kembalikan perusahaan yang saat ini milik Sania. Rangga hanya tameng untuk menutupi pemilik sah perusahaan ini.
Preman yang berjumlah delapan orang mengancam semua karyawan untuk tidak bela Rangga. Suhada dan Amanda sudah tak sabar ambil alih perusahaan yang mulai stabil sejak dipimpin Rangga. Sania menyuntik dana cukup besar untuk kelangsungan perusahaan peninggalan mamanya.
Suhada dan Amanda menggugat Rangga di ruang kerja bersama pengacara yang mereka sewa untuk melawan Rangga. Rangga bukan Rangga yang dulu bisa ditindas pakai gertakan sambal terasi. Rangga sudah siapkan mental untuk melawan Amanda yang makin menggila. Mengancam Sania dan sekarang berbalik ancam dirinya pula.
Rangga tak kalah gertak segera hubungi pengacara Sania. Pengacara yang senantiasa membantu Sania tak buang waktu berangkat ke tempat Rangga. Unjuk kekuatan akan segera di mulai.
Rangga sengaja tak kabari Sania mengingat kesehatan adiknya tak mungkin ikut dalam pertarungan keluarga ini. Andai Sania ada mungkin tak perlu adu urat karena wanita itu bisa turun tangan besi hajar Suhada sekeluarga.
Ruang kantor Rangga dipenuhi orang-orang Suhada. Preman bayaran juga pengacara kondang yang pasti dibayar mahal oleh Suhada. Mereka sudah persiapkan diri beberapa waktu ini untuk tuntut Rangga menggelapkan perusahaan mereka.
Rangga dan Lisa berusaha tenang walau berada di bawah ancaman Suhada dan Amanda. Otak kedua orang ini sudah korslet mengaku aset mereka dirampas. Padahal bukti-bukti Rangga beli saham secara legal tertera jelas dalam setiap dokumen. Dari mana datang tuntutan pengambil alihkan secara paksa.
"Erlangga...mengingat kita masih sekeluarga maka papa dan mama akan sudahi pertikaian ini asal kamu beritikad baik kembalikan semua aset." Amanda mengawali topik pembicaraan.
Urat-urat di kepala Rangga menegang ingin hamburkan bogem mentah ke wajah wanita culas itu. Herannya tak kapoknya buat masalah dengan keluarga sendiri. Ngak sama Sania ngak sama Rangga. Amanda sudah terbiasa menindas maka seenak perut hendak pakai kekerasan.
"Dari segi mana aku rebut aset kalian. Aku beli aset ini secara legal punya kekuatan hukum. Silahkan kalian bawa ke ranah hukum." Rangga berusaha menahan diri tak mau perlihatkan dia sedang emosi. Mata Rangga menatap tajam pada Suhada yang dianggap biang kerok dari semua masalah ini. Suhada menunduk kalah ditantang oleh putra kandung sendiri.
"Hukum apa? Dari mana kamu punya dana segitu besar beli semua ini. Kau menipu kami memindahkan semua hak atas namamu. Kau kira kami tak tahu kau main curang." bentak Amanda keras.
"Bu...mas Rangga beli semua ini dengan uang halal. Andai kalian bilang mas Rangga menipu kalian apa buktinya? Pernahkah mas Rangga menekan kalian teken surat pengalihan? Pernahkah mas Rangga mengancam kalian serahkan aset?" seru Lisa kesal orang dia kasihi digertak.
__ADS_1