MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Ngidam Sania


__ADS_3

Sania cuek tak peduli Bara terangkan bagaimana dia dijebak Arsy. Andai Bara punya niat tak peduli lagi pada Arsy ngapain tanggapi permainan wanita itu. Baranya sendiri kegatelan juga.


"Bodoh amat! Di dalam catatanku Lieve sudah berselingkuh."


"Ngak gitu dong! Lieve tak ada niat sedikitpun bermain dengan Arsy. Bagaimana kamu baru mau maafkan Lieve!"


"Ada satu cara Sania maafkan Lieve! Tapi harus ditepati." Sania bangkit dari tepi ranjang dekati Bara sambil tersenyum cerah.


Bara ikut cerah melihat senyum manis mulai hiasi ujung bibir wanita yang bikin hidupnya panas dingin. Bara akan sanggupi semua syarat Sania asal dapat maaf dari Sania.


"Ayo katakan apa maumu?" ujar Bara ceria.


Sania pasang muka cengar-cengir di hadapan Bara sengaja uji nyali lakinya. Sampai di mana batas kesabaran Bara terhadap bini yang sedang hamil.


"Aku mau sesuatu dari tetangga kita!" akhirnya Sania kemukakan maksud hati.


"Ngak masalah. Lieve akan penuhi semua permintaanmu. Ayo katakan!"


"Janji akan kabulkan permintaan Sania?"


"Swear.." Bara angkat dua jari tepat janji.


"Sania ingin mengelus burung Pak Slamet!" ujar Sania malu-malu kucing.


Bara bagai kesengat kalajengking dengar permintaan tak masuk akal Sania. Ke mana akal sehat Sania pingin mengelus burung Pak Slamet tetangga sebelah. Pak Slamet duda tua untung banyak burung cucak rowonya dielus wanita secantik Sania.


Permintaan tak masuk akal. Bara mana mungkin ijinkan sang bini mungil menyentuh barang haram.


Sania melihat Bara terdiam langsung manyun. Tadi bilang akan penuhi semua permintaan Sania kini berdiam diri ogah penuhi janji. Sania hentakan kaki ke lantai tanda marah. Wajah yang tadi berseri kini berubah muram durja tak dapat restu dari sang suami elus burung Pak Slamet.


Bara mana rela ijinkan isteri tercinta menyentuh burung laki lain. Bayangkan Sania dekati Pak Slamet saja ubun kepala Bara kontan naik beberapa senti. Apa lagi kalau tangan mungil Sania terulur pegang barang keramat Pak Slamet bisa pingsan Bara.


"Sayang... minta yang lain saja! Lieve tak enak omong sama Pak Slamet." Bara meringis mau bujuk Sania ubah permintaan.


"Ini kemauan anakmu lho! Kalau nanti anak Lieve ileran jangan salahkan Sania." ketus Sania tak mau ngalah.


"Ampun sayang... permintaan luar binasa. Lieve pasti binasa. Pertama digampar Pak Slamet kedua mati cemburu. Ok deh! Lieve coba cari tahu apa Pak Slamet ijinkan sayang elus burungnya." Bara mengalah demi anak-anak di perut Sania. Tentu saja dengan hati tidak ikhlas.


"Benar?" seru Sania kembali riang. Bara mangut dengan hati berat. Berton-ton batu gajah himpit pernafasan Bara hingga nyesak. Lebih sesak dari waktu ditusuk Arsy. Waktu itu Bara hanya rasakan perih di perut tapi ini perih sampai ke hati.


"Demi sayangku segalanya kukorbankan." ujar Bara dengan hati berdarah. Berdarah dalam hati. Tak tampak dari luar.


Wajah Sania berubah sumringah. Keinginan yang lama terpendam akhirnya bisa terealisasi. Permintaan ibu hamil memang aneh-aneh. Kadang bisa bikin sesak nafas sang suami. Kejadian persis yang terjadi pada Bara. Laki ini tak berdaya tatkala Sania ngidam elus burung Pak Slamet.


Sania memeluk Bara sebagai tanda terima kasih atas kerelaan Bara ijinkan Sania loloskan hasrat elus burung Pak Slamet. Bara senang dipeluk Sania. Laki ini sudah rindu pada pelukan sang bini mungil. Di balik itu dalam hati Bara mengucapkan belasungkawa pada diri sendiri.


"Makasih ya Lieve! Kapan Sania bisa ke rumah Pak Slamet?"


"Sabar dong! Kan harus minta ijin dulu. Sorean Lieve ke rumah Pak Slamet ya!" Bara berkata sambil menangis darah. Bagaimana harus minta ijin pada Pak Slamet? Omong saja Bara segan soalnya ini menyangkut hal sensitif. Salah-salah dianggap pelecehan.


"Ok.. kutunggu!" Sania berkata dengan manja masih memeluk Bara. Begini Sania tak ubah mirip bini umumnya. Minta dimanja saat hamil. Sania yang tegas sirna diganti bini muda nan manja.


"Apa hadiah buat Lieve?"


"Ada deh! Tapi setelah jumpa Pak Slamet."


Bara mangut sedih. Air matapun tak bisa keluar saking sedihnya.

__ADS_1


"Lieve lapar. Coba lihat apa mama sudah siap masak?" Bara alihkan pembicaraan yang menambah duka di hati.


"Tadi mama pergi beli buah. Coba kulihat sudah pulang belum." Sania mendorong tubuh Bara menjauh. Dengan perasaan ringan Sania keluar dari kamar tak peduli Bara berduka cita.


Begitu Sania menghilang Bara mengambil ponsel meneleponi Roy. Tujuan Bara tentu ingin minta pendapat Roy tentang permintaan tak masuk akal Sania. Mau tarok di mana wajah ganteng Bara. Mana ada dalam sejarah bini ngidam burung laki orang. Bisa jadi orang akan mengira burung suami tak perkasa.


"Halo... di mana ente?" Bara tersambung dengan Roy. Bara tak tahu kalau Roy sedang repot bersihkan nama baik Bara dari tuduhan Bobby dan keluarga Arsy.


"Lagi di kantor. Ada apa bro? Bukankah bidadari ada di sampingmu?"


"Bidadari bikin sesak!"


"Emang Sania bikin ulah apa lagi? Rencana kabur sama cowok lain?"


"Itu sih tak seberapa. Ini ada yang luar binasa bagi gue. Harga diri gue sebagai laki diinjak-injak. Ente harus bantu gue cari jalan redam permintaan bini gue yang aneh."


"Emang Sania ngidam apa? Seingat gue dia orangnya rasional. Bisa kontrol perasaan dengan apik."


"Nah ini anehnya dia hari ini. Ntah balas dendam sengaja siksa gue atau emang anak gue yang aneh."


"Apa coba?"


"Ente jangan ketawa bila kucerita ya!"


"Ya ngaklah! Teman lagi semaput diejek. Dosanya berganda."


"Ok.. Sania ngidam pingin elus burung tetangga gue Pak Slamet."


Hening seketika tak ada jawaban Roy. Mungkin Roy lagi cerna permintaan Sania pakai otak besar. Otak kecil pasti tak mampu berpikir saking ribet permintaan ini.


Tiba-tiba tawa Roy menggelegar ganggu gendang telinga Bara. Roy tak dapat tawa merasa lucu dengar permintaan ajaib Sania. Roy bisa bayangkan penderitaan Bara ingat ngidam Sania. Laki itu pasti putus asa.


"Janji tak ketawa tapi ngakak! Kualat lhu!" Bara gusar diejek Roy.


"Sori bro! Ini baru terjadi sekali dalam sejarah ada bini ngidam burung laki orang. Siapa tak merasa lucu. Kusarankan alihkan perhatian Sania dari soal burung memburung. Jika perlu ente pindah rumah balik ke rumah lamamu. Di sana kan jauh dari tetanggamu. Siapa tahu Sania bisa lupa."


"Betul juga saran ente tapi gimana mamaku? Dia tak bisa jauh dari Sania. Selalu kuatir cucu-cucu dalam perut Sania. Apa lagi bayi kami tambah satu lagi."


"Wah.. jadi kwartet. Hebat ente! Bibit ente tokcer. Sekali dayung tiga pulau. Selamat bro! Semoga Sania dan debay-debay ente sehat selalu hingga lahiran."


"Amin..thanks saran lho! Gue akan ajak Sania pulang rumah lama. Jangan kendor di kantor! Tanggung jawab ente sangat besar."


"Iya.. gue takkan kecewain ente. Selamat mencoba saran gue! Coba apa kata Rudi kalo gue cerita soal ini."


"Jangan banyak mulut! Harga diri gue sedang diuji."


Roy kembali tertawa ngakak dengar nada sewot Bara. Sejujurnya kalau hal ini sampai pada Roy juga tak rela ijinkan bini menyentuh burung laki lain. Sama saja selingkuh secara terbuka.


"Sori bro! Lucu sih! Ok.. gue kerja dulu. Daaa"


Bara menutup ponsel dengan hati sedikit lega. Semoga saran Roy bisa digunakan. Ajak Sania pindah ke rumah di mana dia dan Nania tinggal dulu. Rumah itu kosong hanya dihuni oleh Bik Sur menjaga rumah. Sekali-kali datang keponakan Bik Sur temani orang tua itu kalau lagi kesepian.


Ada baiknya ajak Sania pulang sana sampai masa ngidam lewat. Waktu itu mungkin Sania bisa melupakan permintaan memalukan itu.


Tak lama Sania datang membawa kabar baik. Makan siang sudah tersedia. Rona wajah Sania begitu cerah kontras dengan udara yang mendung dari pagi tadi. Mungkin semendung hati Bara.


"Ayo makan! Lieve mau makan di kamar atau makan bersama di bawah?" Sania kembali bergelayut manja pada Bara.

__ADS_1


"Makan di bawah saja. Sudah lama tak makan bersama. Papa dan Fadil ada pulang makan?"


"Kayaknya tidak. Cuma ada mama."


"Kita turun." Bara bermaksud gendong Sania turun ke bawah untuk tunjukkan bahwa dia sayang pada Sania. Sania kontan menolak ingat luka Bara belum kering total. Angkat ibu hamil yang berat badan bertambah dari hari ke hari bukan jawaban baik.


"Jangan Lieve! Aku bisa jalan sendiri. Lieve masih belum sembuh total. Kita gandengan saja." Sania menggamit lengan Bara berjalan barengan keluar dari kamar. Bara tak mau banyak membantah karena memikirkan cara bujuk Sania pulang tinggal di rumah lama mereka.


Bu Jaya sudah menanti di meja makan. Calon nenek tiga bayi itu senang bukan main lihat anak menantu akur lagi. Segala salah paham teratasi. Ini berkat doa orang tua yang tak putus-putus.


"Wah.. Bara sudah kuat." ujar Bu Jaya semangat.


"Dokter paling jempol ada di sini. Obat paling manjur." Bara memuji Sania sebagai obatnya.


Sania membimbing Bara duduk di kursi meja makan dengan telaten. Bu Jaya bersyukur dapat mantu baik walau Sania tak ngerti soal dapur. Setiap manusia terlahir dengan kelebihan dan kekurangan. Sania pintar dalam berbisnis namun tak ngerti apapun meracik makanan. Itu kekurangan Sania. Bu Jaya yakin Sania bisa kalau dia mau belajar. Yang lebih sulit bisa dia kuasai. Apalagi hanya menyangkut soal bumbu dan peralatan dapur.


Beberapa macam menu bergizi terhidang di meja makan. Semua Bu Jaya sediakan untuk memulihkan kesehatan Bara juga untuk ibu hamil butuh asupan vitamin alami.


"Wah.. makan enak!" ujar Sania tergiur sayuran kuah campur macaroni. Kelihatannya segar karena hanya ada sayur tanpa daging. Sania suka itu.


"Mau makan apa nak?" Bu Jaya perhatikan Bara bingung tentukan selera hari ini. Makanan cukup banyak tak mampu goyahkan selera Bara. Padahal perut Bara lapar. Rasa lapar dikalahkan rasa duka Sania ngidam mengelus burung Pak Slamet.


"Lieve ingin apa biar kuambilkan!" Sania menyendok nasi ke piring Bara dengan hati riang gembira. Tak ada beban sedikitpun di wajah Sania. Di pihak Bara sudah nyaris mau muntah darah. Dapat penyakit tbc dadakan.


"Lieve bisa ambil sendiri. Kamu cepat makan biar anak kita tak lapar. Makan yang banyak."


"Iya Lieve!" Sania menyendok masakan yang dia inginkan sesuai selera.


Bu Jaya hanya tersenyum simpul melihat interaksi dua insan itu. Akur mesra.


Selanjutnya hanya ada dentingan sendok garpu beradu di meja makan. Masing-masing nikmati masakan Bu Jaya yang sangat lezat. Bumil muda itu tak malu-malu cicipi semua hidangan. Ntah berapa kalori makanan masuk ke perut wanita itu. Bertambah jadi lemak yang ditakutkan semua wanita.


"Sayang... Lieve ada rencana pindah ke rumah kita dulu! Kau mau?" Bara berkata sambil akhiri makan siang.


Sania mangut tanpa berkomentar apapun. Bu Jaya yang seperti diserang gerombolan tawon. Wanita tua ini tak ijinkan keduanya pindah saat Sania butuh perawatan khusus. Kandungan Sania sangat riskan butuh perhatian khusus karena berisi tiga janin mungil. Mereka sedang tumbuh butuh perhatian ekstra. Saniapun orangnya reseh tak bisa diam. Bu Jaya mana lapang dada lepaskan Bara dan Sania hidup berdua tanpa pengawalan khusus.


"Tidak boleh... Sania harus di sini sampai melahirkan." tegas Bu Jaya disambut kesedihan Bara. Bara tak ingin benar memisahkan Sania dengan ibunya. Ini berhubung permintaan tak wajar Sania.


"Ma... Bara ingin ketenangan. Di sana lebih tenang tak seramai sini. Sania juga bisa istirahat tanpa suara bising."


"Kau mau bilang mama bising?" mata Bu Jaya melotot besar tak senang dibantah Bara.


Untunglah sebagian makanan sudah pindah ke dalam perut. Kalau tidak nafsu makan yang menggebu terganggu oleh debat kecil antara ibu dan anak. Sania tak masalah mau tinggal di mana asal nyaman.


"Ma.. hanya untuk sementara saja."


"Seharipun tak boleh. Sania itu hamil kembar tiga. Butuh perawatan khusus. Apa kamu pernah merawat ibu hamil? Gizi tak boleh kurang dan susu ibu hamil tetap sehari dua kali. Pokoknya tidak boleh." Bu Jaya bersikeras tak beri lampu hijau Bara dan Sania pindah.


Bara meringis tak berdaya. Mamanya tak tahu mengapa dia ingin bawa Sania pergi dari sini. Pangkal masalah soal ngidam aneh Sania. Sania harus dibawa jauh dari Pak Slamet.


"Ma... kami akan balik sini."


"Tak bisa...Masa gini Sania butuh perhatian ekstra. Kalau kandungan sudah besar tak jadi masalah. Buang keinginan itu. Sania makan buah dan pergi tidur." Bu Jaya mendengus marah pada Bara yang tak patuh.


"Ma... baru siap makan gimana tidur? Perutku sesak!" protes Sania kekenyangan tak bisa dibawa tidur.


"Rebahan juga boleh. Kasih tahu suamimu jangan belajar membantah orang tua. Durhaka itu!" Bu Jaya melirik Bara dengan ekor mata sinis.

__ADS_1


Sania angguk. Sania merasa lucu pada mertuanya. Bara di depan hidung tapi masih minta dia kasih tahu pada Bara. Langsung saja omong kan lebih bijak. Tanpa diberitahu Bara juga dengar. Ada-ada saja tingkah laku manusia sekarang. Sampaikan rasa kesal pakai perantara.


__ADS_2