
Sebenarnya Sania ingin katakan kalau mereka cuma tiga bersaudara. Ranti bukanlah anak kandung Suhada. Ranti anak Amanda dengan laki lain. Tapi berhubung kondisi Suhada belum bisa diberi terapi syok maka Sania bersabar tunggu moments tepat bongkar semua kelicikan Amanda.
Suhada tak percaya kalau anak-anak yang dia sangka sudah meninggal kini berdiri utuh di hadapan. Di saat Suhada akan bertarung dengan maut mereka muncul memberi semangat.
Rasa bersalah dan bahagia bercampur dalam hati Suhada. Kini mata Suhada terbuka siapa wanita yang dia agungkan selama ini. Tak lebih pembunuh dan pemburu harta. Amanda gunakan ketampanan Suhada jerat wanita kaya lalu habisin wanita itu untuk kuasai materi mereka. Sudah tiga jadi korban dan Suhada ikut terlibat membantu Amanda wujudkan kejahatannya
"Pa...sekarang papa istirahat! Sebentar lagi papa akan dibawa ke meja operasi. Kami menunggu papa di sini. Oya...Santi sudah punya suami! Sekarang Santi sedang hamil cucu papa. Jadi papa harus sembuh untuk lihat cucu papa." Rangga beri motivasi pada Suhada untuk makin kuat.
Mata tua Suhada makin cerah dengar sebentar lagi dia akan jadi kakek. Waktu berjalan sangat cepat. Tak terasa Suhada berada diambang akhir masa. Semoga Allah masih ijinkan Suhada lanjutkan hidup bersama anak cucu.
"Siapa suamimu nak? Apa papa mengenalnya?" tanya Suhada kepo ingin kenal siapa orang yang telah merebut Sania darinya.
"Kenal...dia pemilik PT.ANGKASA JAYA!" Ujar Sania pelan takut pancing emosi Suhada. Laki tak mungkin tak kenal Bara yang jebloskan Ranti ke penjara.
Suka tidak suka Suhada harus dengar nama ini lagi. Sania tak bisa bayangkan bagaimana reaksi Suhada tahu Bara adalah menantunya yang diklaim Ranti sebagai anak dari kandungannya.
"Bara Jaya..mengapa harus dia?" gumam Suhada tak percaya kedua anaknya terlibat dengan laki bernama Bara. Suhada tak tahu kalau Bara tak ada hubungan apapun dengan Ranti. Rantinya yang karang cerita bohong jebak Bara dalam posisi sulit.
"Bara itu anak baik pa! Dia tidak kenal Ranti. Ranti yang ingin Bara. Ranti hanya mau hidup mewah bersama orang kaya. Begitu Bara dapat puluhan tender besar dia klaim ini itu. Ranti sama saja dengan Amanda. Wanita iblis." Sania bela Bara. Sania tak ingin Suhada berprasangka buruk pada Bara.
Ranti yang karang cerita wajar dia harus tanggung resiko dituntut oleh Bara.
Suhada sangat terkejut dengar cerita Sania. Suhada hanya dengar cerita dari Ranti kalau sebenarnya anak yang dikandungnya anak Bara. Dia main gila dengan Bara sebelum menikah dengan Bobby. Bodohnya Suhada percaya pada khayalan Ranti.
Sania tampil ke depan bela suaminya. Saatnya Suhada tahu betapa bejat kelakuan ibu anak itu. Orang yang dia anggap Puteri kesayangan tak lebih anak haram Amanda dengan laki lain. Sania tak segera bongkar siapa ayah biologis Ranti demi jaga perasaan Suhada.
"Apa benar ceritamu nak?" tanya Suhada ragu-ragu. Cerita siapa yang benar. Sania atau Ranti.
"Sudahlah pa! Tunggu papa sehat dulu baru kita bahas bersama. Yang penting papa tahu Bara itu suami yang baik dan setia. Orang iri padanya maka berusaha jatuhkan dia. Sekarang istirahat. Kami tunggu di luar." Sania menepuk punggung tangan Suhada pelan. Sania tak ijinkan Suhada banyak beban. Masih banyak kisah belum terungkap.
Saat ini jantung Suhada tak mungkin terima berita-berita sadis maka Sania dan Rangga bersabar sampai Suhada siap dengar kisah sesungguhnya.
Suhada mengangguk. Sania beri seulas senyum manis. Senyum damai yang meluluhkan hati Suhada. Senyum dari wanita yang pernah ada dalam hidupnya yakni Rene.
"Kami keluar ya pa! Papa bersiap akan dibawa ke ruang operasi. Ingat kami anak-anak papa masih menunggu." Rangga ikutan beri semangat.
Mata Suhada kembali berkaca-kaca akan berjuang di meja operasi. Pertemuan singkat dengan anak-anak akan jadi alasan Suhada bertahan. Suhada ingin bercerita lebih banyak dengan Sania serta main dengan Agra.
"Papa akan kembali." janji Suhada semangat. Wajah tirus itu berusaha mengukir senyum hangat untuk menyenangkan hati para anak.
"Amin..." sambut Sania. Agra masih mematung tak beri reaksi gembira walau dikatakan punya papa. Ntah apa merengut rasa antusias anak lajang itu.
"Kami keluar ya pa!" Rangga minta ijin sambil menarik Agra berlalu dari ruang rawat Suhada.
__ADS_1
Suhada menatap nanar ketiga anaknya menghilang di balik pintu. Suhada merasa Sania bukan wanita muda manja. Di balik sikap datarnya tersimpan kekuatan dahsyat tak bisa dilukis dengan kalimat. Sania bukan sembarangan orang. Aura kuat seperti aura Rene dulu terpancar di wajah Sania.
Suhada tak ragu Sania itu anaknya. Dari raut wajah bisa dibaca Sania adalah wanita tegar. Berbagai cobaan telah dilalui wanita muda ini. Di mana selama ini Sania? Suhada harus tahu perjalanan Sania bisa jumpa kembali dengan Rangga dan Agra.
Suhada harus sembuh agar punya kesempatan mendengar kisah hidup Sania. Suhada harus bangkit dari putus asa. Amanda boleh hancur tapi dia tidak. Masih ada yang harus dia pertahankan.
Di luar Bara segera menyambut Sania takut bininya syok atau terpancing amarah. Beruntung Sania keluar dengan wajah biasa. Rona wajah Sania malah tampak lebih baik dari waktu pertama masuk.
Bara menduga Sania telah menang dari perang batin. Sania berhasil atasi dendam kesumat di dada. Jalan terang telah menanti Sania. Beban puluhan tahun telah terangkat dari batin Sania.
"Sayang...kau lapar?" Bara bertanya hal lain tak ingin ungkit soal Suhada detik ini. Ini sudah lewat waktu makan malam. Seharusnya ibu hamil itu sudah lapar.
"Kita semua lapar. Gimana kalau kita pergi makan dulu? Secepatnya balik untuk temani papa kalian masuk ruang operasi." Pak Bur mengusulkan supaya semua punya energi isi ulang. Waktu mereka panjang harus menanti Suhada masuk ruang dan jalani operasi.
"Kita gantian. Kalian pergi dulu. Aku jaga di sini. Atau kalian beli nasi bungkus untukku. Agra ikut saja. Kalau ngantuk pulang saja bersama ibu dan bapak. Besok Agra masih sekolah kan?" Rangga berkata pada Agra yang masih linglung oleh skenario hidupnya.
Anak lajang itu dipenuhi jutaan pertanyaan dalam benak. Agra ingin minta penjelasan sama Rangga ataupun Sania. Mengapa selama ini mereka tak pernah ungkit nama Suhada di telinganya. Rahasia apa terselubung di keluarga.
"Biar kami antar Agra pulang! Besok dia sekolah. Nanti bapak balik lagi." Pak Bur menawarkan diri untuk urus Agra.
Bu Bur segera merangkul Agra sebagai anak kesayangan. Bu Bur menyayangi Agra keluar dari lubuk hati. Di mata perempuan paro baya itu Agra dan Lisa dapat posisi sama di hati. Tak ada dilainkan.
"Bapak tak usah bolak balik. Biar Lisa kawani mas Rangga. Kalau ada kabar kami akan telepon. Agra pulang sama mama ya! Cepat tidur! Besok sekolah!" Lisa mencolek pipi Agra yang tembem. Dulu Agra kurus kering. Sekarang berubah gendut sejak diurus Bu Bur. Yang terbaik tetap untuk Agra.
"Good boy..." Lisa turunkan kepala kecup pipi Agra dengan gemas. Sania menatap iri pada Lisa yang bebas bercanda dengan adiknya. Sania membangun dinding pemisah antara dia dan Agra.
Sania menyayangi Agra tapi tak tahu cara ungkap perasaan itu. Malah Lisa yang santai berbuat sesuka hati dengan Agra. Bisa peluk cium. Sania belum punya keberanian ke situ.
"Kalau gitu bapak pulang. Kalian cepat kasih kabar setelah siap operasi. Nak Sania pergi makan dulu. Kasihan bayi di perutmu kelaparan." Pak Bur berkata sambil menatap Sania yang masih tak percaya bisa lepas dendam dengan mudah.
"Iya pak! Bawa Agra makan dulu! Kami akan makan juga. Lisa ikut atau tungguin Mas Rangga. Sehidup semati kan?" ejek Sania bikin Lisa tersipu. Lisa harus tahan lapar kalau mau tunggu bersama Rangga. Kata orang cinta itu buta benar adanya. Lisa telah dibutakan cinta pada Rangga. Rela hidup sengsara demi pangeran kodok perampas Sukma.
Ingin sekali Lisa cubit bibir Sania tapi di depan Rangga harus jaga image. Amarah setinggi Himalaya juga harus diredam sampai ke bumi. Lisa hanya bisa meringis tunggu saat balas dendam. Ada waktu balas keusilan Sania.
"Kalian pergilah! Bawa makanan untuk kami saja." Rangga melerai kedua wanita yang dia cintai. Rangga bukan tak tahu tingkah laku dua orang ini kalau sedang berantem. Segala buaya kadal pasti ikut terseret dalam kancah perang mulut mereka.
Sania tersenyum mengejek arahkan pada Lisa. Lisa balas dengan tatapan killer. Dari bahasa mata Lisa lontarkan kata awas lhu. Tapi kata itu tak terucap. Hanya dikirim lewat Kilauan mata.
Sania meruncingkan bibir tanda menang. Satu kosong untuk Sania. Lisa menelan kekalahan tak berkutik.
Akhirnya kelima orang itu tinggalkan sepasang kekasih yang saling mencintai itu. Pak Bur ajak isteri dan Agra pulang sedang Sania dan Bara cari restoran terdekat untuk isi perut. Sebenarnya Sania cukup lapar namun di abaikan untuk cari tahu apa dia sanggup lepas beban di hati.
Ternyata Sania menang melawan dendam. Perlahan dan pasti rasa dendam berubah rasa iba. Suhada tak tahu banyak kejadian dalam hidupnya. Suhada dibutakan oleh sikap baik Amanda. Amanda rela dimadu untuk lancarkan aksinya. Sodorkan wanita cantik untuk kelabui Suhada. Dasar Playboy cap kadal. Suhada jadi pada perangkap Amanda. Beginilah hasilnya. Semua berakhir tragis.
__ADS_1
Bara perhatikan Sania yang lebih banyak berdiam diri sejak keluar dari ruang rawat Suhada. Namun rona wajah Sania berubah lebih adem. Tidak keruh kayak pertama datang. Semoga bawa angin baik.
Di tempat parkir Bara tak segera masuk ke mobil. Laki ini mau tahu selera Sania malam ini. Sania adalah ratu yang setiap kalimatnya adalah sabda.
Langit sudah berubah jadi lembaran hitam naungi semua umat di bumi. Angin sepoi-sepoi bertiup datangkan hawa dingin mencubit kulit. Untunglah bukan udara lembab bakal hujan. Hanya angin malam nakal menyentuh semua benda yang dia lalui.
"Mau makan di mana sayang?" Bara menahan langkah persis di depan mobil mereka.
"Apa saja! Asal jangan yang berat."
"Batu kali..." guyon Bara sambil buka pintu mobil untuk Sania. Bara bantu Sania masuk ke mobil sambil lindungi kepala Sania dari benturan atap mobil.
Sania tertawa kecil dengan hati lega. Kini Sania bisa tertawa lebih lepas tak perlu ingat dendam lagi. Tujuan hidupnya lebih terarah setelah jumpa Suhada.
Bara masuk dari pintu sebelah lagi seraya stater mobil. Di mata Bara bininya makin cantik. Aura Sania makin terpancar berkat kemurahan hatinya memaafkan Suhada.
"Lieve...kita telepon mama di rumah dulu. Takut beliau kuatir menunggu kita."
Bara tersenyum bangga pada Sania yang hargai orang tuanya. Nania dulu cuek bebek pada orang tuanya. Istilah mau anaknya tapi campakkan orang tua. Nania hanya mau Bara tak peduli orang tua Bara tak suka padanya. Di sini perbedaan Sania dan Nania. Hati Sania terlalu lembut untuk jadi penjahat.
Bara bayangkan kalau Sania jadi hakim. Semua tahanan pasti dibebaskan dari hukuman. Tak ada orang jahat lagi di penjara.
"Isshhh...orang gila! Senyum sendiri!" gerutu Sania kata-kata tak dapat tanggapan.
"Sudah Lieve kabari mama! Beliau maklum dan minta kamu banyak istirahat. Mama dan papa tak mau terjadi sesuatu pada trio kwek-kwek kita." sahut Bara kalem.
Mobil melaju pelan tinggalkan pelataran parkir rumah sakit. Mobil Bara berbaur dengan kenderaan lain menuju ke tujuan masing-masing. Dalam mobil Sania dan Bara menyatukan hati mencari pengganjal perut.
"Dedek bayi pingin makan apa?" Bara arahkan ke perut Sania. Tangan laki itu mengelus perut berisi penerus keluarga Jaya. Kapan mereka akan segera lahir? Butuh berapa bulan lagi?
"Pingin makan bistik daging tenderloin!" ujar Sania dengan suara dimiripkan dengan suara anak kecil.
Bara surprise Sania minta daging merah. Padahal itu musuh abadi Sania. Wanita itu tak pernah sentuh daging selama bersama Bara. Hanya doyan buah dan sayuran. Mungkin kehamilan Sania mengubah selera makannya. Bawaan bayi atau Sania yang berubah.
Bara tak banyak mulut tanya mengapa Sania berubah selera. Yang penting Sania mau makan. Daging juga sangat bagus untuk menambah gizi anak. Sayuran melulu juga tak bagus bagi pertumbuhan bayi. Sania butuh asupan gizi lebih karena janinnya lebih dari satu.
Bara arahkan mobil ke restoran yang ada menu sesuai selera Sania. Utamakan Sania jadi prioritas Bara.
Mereka berhenti di restoran ala Barat yang menyajikan aneka bistik. Restoran itu terhias mewah dengan lampu aneka warna untuk menarik pengunjung. Di lihat dari tampilan restoran menjanjikan pelayanan baik.
Bara tak ragu ajak Sania makan di situ. Mereka harus makan cepat karena masih ada yang menunggu dibawakan makan malam.
Sania turun dari mobil edarkan mata ke restoran lumayan besar itu. Sania menduga pasti orang-orang kaya yang mampir situ. Dari tataan saja sudah wakili kualitas restoran.
__ADS_1
Kelihatannya Sania akan menguras kantong Bara malam ini. Bara harus rela rogoh kocek lebih dalam bayar menu makan malam Sania. Belum lagi makanan untuk Rangga dan Lisa. Berlipat ganda bayaran.