MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Plan Ke Pulau B


__ADS_3

Sania mengangguk benarkan kata Agra. Mata Agra berbinar menyiratkan kebanggaan sebentar lagi dia akan naik pangkat menyandang gelar om dari bayi lucu. Agra tidak akan jadi satu-satunya orang berada di posisi buncit alias paling akhir.


Agra busungkan dada lagak pahlawan menang di arena perang. Jenderal gagah tersemat di pundak. Sania tertawa senang lihat Agra antusias jadi om. Melihat orang di sekelilingnya bebas tanpa tekanan merupakan karunia tak terhingga bagi Sania. Dalam tidurpun Sania berdoa semua saudara dan teman-teman hidup layak dipenuhi kebahagiaan.


"Kita pulang nak?" dari belakang muncul Bu Bur menyela obrolan kakak adik itu.


Bu Bur takut kelamaan di situ Agra berubah pikiran ikut Sania. Bu Bur belum rela kehilangan anak lajangnya. Jalan terbaik bawa Agra pulang ke rumahnya.


"Iya ma...Mbak..Agra balik dulu ya! Janji Sabtu ini Agra nginap di apartemen mbak." Agra menagih janji.


Sania angguk setuju penuhi janji mereka. Tangan Sania terulur mengusap rambut Agra. Sania jarang jumpa Agra karena kesibukan juga kehamilan mendadak. Siapa sangka Bara demikian subur. Bergaul beberapa kali berhasil produk kecebong-kecebong junior Bara.


"Agra tak boleh nakal ya! Harus patuh pada ibu. Belajar yang rajin."


"Janji patuh! Assalamualaikum mbak!" Agra menyalami Sania disusul yang lain yang lebih tua.


Rangga tiba juga harus pamitan pada adik berhati baja. Sania masih jengkel pada Rangga melengos tatkala Rangga berdiri di depannya. Rangga maklumi bagaimana kesalnya Sania anggap Rangga lebih pro ke Ranti. Andai Sania paham maksud Rangga tentu takkan ngamuk tak jelas.


"Dek...mas Rangga minta maaf ya! Mas ikuti kemauanmu! Kita proses secara hukum. Jangan ngambek lagi! Kasihan keponakan mas memendam kesedihan."


"Susah punya Abang plin plan." gerutu Sania masih jengkel.


"Ya sudah...mas memang plin plan. Makan yang banyak biar sehat."


Bara ingin menyimpan mulut Rangga agar jangan keluarkan kata sehat. Itu kata keramat bisa memicu perang dunia ketiga. Di rumah Bara berusaha hindari kata keramat itu. Sania bakal meledak dikira hina postur tubuhnya yang mulai membengkak.


"Sehat??? Pikir Sania gajah bunting apa?" seru Sania besarkan mata.


Rangga melongo tak ngerti salah apa kena semprot lagi. Kenapa Sania berubah radikal? Dikit-dikit marah. Jangan-jangan ini bukan Sania asli. Ini duplikat yang menyamar jadi Sania. Sania adik Rangga orangnya asyik gampang di ajak diskusi.


Bara meringis mendorong Rangga dkk keluar dari gedung. Makin lama Rangga di situ makin banyak pr buat Bara dinginkan hati Sania.


"Ibu hamil moodnya seperti pelangi. Aneka warna. Maklum saja!" bisik Bara sebelum Rangga pergi.


Rangga belum ngeh namun tak bisa omong apapun. Paling Rangga mangut mirip ayam ngantuk. Lain mau omong apa.


Sania memeluk kedua tangan di dada pasang wajah duka. Sania sensitif bila dengar kata sehat. Dalam benak Sania orang ejek dia gendut padahal faktanya belum banyak perubahan bentuk tubuh Sania walau dikit montok pengaruh hormon kehamilan. Beberapa bagian tubuh akan membesar seiring bertambah usia kehamilan.


"Sayang...mas Rangga itu perhatian pada keponakannya! Jangan diambil hati ya! Kita jalan-jalan cari rujak yok!" Bara keluarkan jurus merayu macan hamil. Gampang-gampang susah.


"Rujak? Yang ada kuah manisan?"


"Iya...ada gerai jual aneka rujak. Kau bisa cicipi satu persatu."


"Ayok!" seru Sania riang gembira. Dari jauh Pak Jaya dan Bu Jaya boleh bernafas lega. Sania berubah manja tak kenal toleransi. Sungguh mengerikan efek ibu hamil. Satu manusia rasional disulap menjadi manusia paling irasional.

__ADS_1


"Kita pamitan sama papa dan mama dulu. Nanti mereka cari kita."


"Sania" acung jempol tanda setuju.


Bara harus minum pil anti kesal hadapi ibu muda yang mengandung anaknya. Bara wajib ekstra sabar kalau ingin kedua bayinya tumbuh sehat dalam rahim Sania. Ntah tingkah apa lagi bakal Sania lakoni. Bara cuma harus sabar. Nama Bara harus ditambah satu kata di belakang yakni Sabar. Bara Sabar.


Bara dan Sania iringan ke arah pasangan gaek Pak Jaya dan isterinya. Melihat Bara dan Sania akur merupakan karunia tak terhingga. Orang tua mana yakni ingin bahtera keluarga anak aman dari goncangan badai? Setiap hari mereka berdoa semoga Bara dan Sania langgeng.


"Pa..ma...Aku ajak Sania jalan-jalan. Papa dan mama tolong kawal para pekerja bereskan kantor ya! Kami akan pulang cepat." Bara minta ijin ajak Sania perbaiki moodnya. Tidak gampang berurusan sama Sania yang sedang hamil. Dikit-dikit marah.


"Pergilah! Jaga mantu mama! Cepat pulang ya!"


"Assalamualaikum..." ujar Bara dan Sania serentak. Kompak banget.


"Waalaikumsalam..." sahutan tak kompak berasal dari bibir pasangan tak muda itu.


Bara menggandeng Sania lewati para pekerja dan karyawan kantor yang mulai berbenah kembalikan posisi kantor seperti semula. Untuk sukseskan acara ini banyak peralatan kantor diungsikan untuk dapat tempat lapang. Setelah acara kelar semua dikembalikan ke posisi semula karena besok kantor akan berjalan seperti biasa. Para karyawan saling membahu menata perabotan semula jadi.


Sania tidak rewel diajak nikmati aneka rujak. Sania gembira ria di bawa ke gerai khusus jual aneka rujakan. Berbagai jenis campuran buahan segar menggugah selera ibu hamil itu. Sania rakus borong beberapa macam rujak merasakan sensasi segar buah diberi kuah kacang campur gula aren.


Sania bahagia Bara gembira. Begitulah kira-kira mood pasangan muda itu. Banyak senyum banyak senang. Hari ini Bara kembali sport jantung walau diselesaikan tanpa solusi terbaik. Bara dan Rangga belum punya solusi terbaik untuk bantu Ranti jangan melahirkan di penjara. Sejahatnya manusia punya hak untuk dapat ampunan. Semoga Ranti mau minta maaf pada Sania.


Malam sudah larut menyisakan kesunyian. Bara masih duduk di pembaringan di samping Sania yang mulai sayu menahan ngantuk. Wanita Bara kekenyangan makan masakan Bu Jaya berupa dadar telur diberi bawang dan paprika. Satu piring penuh berpindah ke perut ibu hamil itu. Sania takut disebut gemuk namun rakus. Tak lama lagi tubuh Sania bakal bundar mirip bola senam. Bulat sempurna.


"Sayang...ngantuk ya?" tanya Bara lembut sambil membelai kening Sania.


"Hhhmmm..." Bara mendapat jawaban singkat.


"Besok kita cek up kandunganmu! Lusa kita akan ke pulau B. Lieve mau pastikan kamu dan bayi kita dalam kondisi fit."


"Siapa saja ikut ke sana?"


"Roy...kelak dia jadi penanggung jawab proyek. Kau hanya tunggu laporan."


Mata sayu Sania sontak berubah terang mendapat jawaban tak sesuai harapan Sania. Seumur hidup Sania bekerja tak pernah duduk manis terima laporan. Sebelum mata kepala sendiri menyaksikan fakta di lapangan Sania takkan percaya sejauh mana proyek berjalan.


"Aku bukan orang makan gaji buta. Kalau aku sudah tidak lemas aku akan pimpin langsung proyek pulau B. Aku akan tinggal di sana sampai proyek jalan 50 persen."


Bara ingin nangis darah dibuat Sania. Tinggal di pulau B sama saja berpisah. Bara kan tak mungkin tinggal di sana sementara di perusahaan masih banyak proyek lain.


"Sayang...di sana fasilitas kedokteran masih minim. Lieve kuatir kau tinggal di sana. Apa lagi kalau Lieve harus di sini tangani proyek lain. Sayang mau ya tetap pimpin dari jauh. Percayalah pada Roy!" Bara merapatkan kedua telapak tangan mohon Sania patuh padanya.


"Aku ngerti Lieve kuatir kehamilanku. Aku kuat bisa pimpin proyek ini. Dari dulu impianku adalah garap proyek ini hingga tuntas. Tapi Allah telah beri berkah besar pada kita maka aku mundur selangkah. Cukup sampai 50 persen."


Leher Bara terasa dicekik jari setan sampai susah bernafas. Permintaan Sania ingin jadi pimpro di pulau B adalah permintaan paling mematikan. Mematikan seluruh jiwa raga Bara. Terdengar lebay Bara sesedih itu. Bara tak ingin pertaruhkan nyawa Sania dan keselamatan bayi-bayi dalam rahim Sania.

__ADS_1


"Sayang...ingat kamu sedang beramal memberi kehidupan pada dua sosok calon manusia! Tugasmu mulia melahirkan mereka menghirup udara di dunia ini. Gimana kalau Lieve tak ada di sampingmu? Anakmu pingin rujak, gado-gado. Siapa sediakan?" Bara seperti bujuk anak kecil.


Sania tertegun merenungi kata-kata Bara. Apa yang dikatakan Bara mengandung kebenaran. Sania sendiri enggan pisah jauh dari papa anak mereka. Namun Sania teringat cita-cita membangun kota baru sesuai impian sejak dulu. Ingatan Sania berputar balik ke masa lalu di mana dia buang tenaga dan pikiran demi dapatkan proyek ini. Terlalu sering tinggal di pulau B beri kesempatan pada Bobby berselingkuh. Akankah kejadian sama terulang bila Sania ngotot mau garap proyek ini dengan tangan sendiri.


"Saran Lieve?" tanya Sania mulai goyah.


"Sebulan sekali kau boleh ceking proyek. Lieve yang akan antar kamu ke sana. Tiap hari Roy harus beri laporan supaya kamu yakin semua berjalan sesuai rencanamu." Bara beri solusi agar Sania urungkan niat jadi warga sementara pulau B.


"Apa bisa?" Sania tampak ragu laksanakan ide Bara. Proyek triliunan tak bisa dipertaruhkan hanya karena Sania hamil. Berapa kerugian bila terjadi sedikit pergeseran.


"Kita coba dulu. Kita percaya pada Roy dulu! Kalau tak beres baru kita cari plan lain. Ok?"


Sania mengangguk lemah. Untuk detik ini Sania belum punya rencana sendiri. Sania mulai terpikir trauma masa lalu terulang lagi bila terlalu sering tinggalkan Bara. Ulat-ulat bulu kegatelan bertebaran di sekeliling Bara. Ancaman gelombang tsunami cewek gatel siap menerjang benteng pertahanan keluarga Sania. Sania harus persiapkan diri buat alat deteksi dini serangan yang tak tahu kapan datang.


"Kenapa diam sayang?" tanya Bara lihat Sania anteng. Bara memainkan pipi bininya perlahan hendak beri rasa nyaman. Bara mau Sania tahu dia adalah aset paling berharga saat ini.


"Lieve ada niat main belakang?" tanya Sania lugu. Pertanyaan sederhana yang pasti akan dibantah. Mana ada laki mau ngaku berselingkuh. Ketangkap juga bakal matian menyangkal. Apa lagi belum kedapatan.


"Omong apa itu? Buang jauh pikiran buruk itu. Lieve takkan menduakan kamu. Lieve takut kamu tinggalkan. Kabur bawa anak Lieve."


"Itu takkan terjadi kalau Lieve tak ikut jejak para lalat pencinta sampah. Aku tak beri toleransi pada orang yang berselingkuh. Kuharap Lieve jaga amanah jauhi godaan duniawi. Andai Lieve merasa ada yang lebih baik dari aku silahkan terus terang. Aku terima kejujuran Lieve. Kita bisa berteman selama Lieve jujur."


"Tak ada yang lebih baik darimu! Lieve sudah puas jadi suamimu. Muda, cantik dan pintar. Kau sudah wakili semua wanita impian Lieve. Kau sudah bertatah di hati Lieve."


"Semoga begitu adanya. Kita tidur yok! Hari ini kita cukup lelah."


"Lelah apa kekenyangan?"


Sania tersipu malu ketahuan ngantuk karena kekenyangan. Bumil memang menyusahkan. Ada yang memanjakan otomatis bisa manja. Bagi orang kelas bawah, hamil ya hamil. Mana ada istilah ngidam aneh-aneh. Bisa bertahan sampai melahirkan saja sudah bersyukur. Mana ada acara ngidam ini itu. Paling keren ngidam mangga muda. Tak ada duit nyolong di kebun orang.


"Mari tidur sayang. Besok kita kasih salam sama bayi-bayi kita."


"Lieve tak ragu itu bayinya Lieve kan?"


"Kenapa ragu? Lieve yang unboxing kamu tentu saja Debay di perut mu hasil karya Lieve. Jangan pikir aneh-aneh! Tak ada sedikitpun keraguan di hati Lieve. Sejuta orang cerita jelekmu semilyar kali Lieve bela kamu. Lieve yang tahu kamu."


Dada Sania damai dengar pernyataan Bara. Bangga punya suami pengertian tak gampang kena hasutan orang. Sania tak tahu berapa banyak lagi wanita di luar sana mengharap pelukan Bara. Bara adalah the most wanted man saat ini. Bara lagi berada di puncak tinggi menara.


Sania menyusup ke pelukan Bara bersandar pada dada bidang lakinya. Tempat paling nyaman membangun mimpi indah. Sania letakkan semua harapan dan asa di dada yang berdegup lancar. Semoga kedamaian tak berakhir sampai malam ini saja. Akan berlanjut hingga rambut Bara dan Sania memutih.


Kicauan burung milik tetangga seperti alarm alami bagi Sania. Tak terasa fajar menyingsing menghalau malam. Pagi janjikan harapan segera hadir beri semangat baru bagi penduduk bumi pencinta berkarya. Bagi yang senang bermimpi tanpa kembangkan asa tetaplah nyenyak hingga matahari bertengger di ubun kepala.


Sania bangkit perlahan takut ganggu tidur Bara. Azan subuh belum berkumandang biarkan Bara bermimpi sejenak lagi. Bara kerja cukup berat tanpa istirahat. Tidur siang saja jadi moments mahal. Pagi subuh bangun dilanjutkan aktifitas hingga sore. Untungnya Bara bukan kalong yang suka ngelayap malam hari. Jam sepuluh Bara sudah dilanda ngantuk berat.


Sania buka jendela biarkan angin segar usir udara pengap dalam kamar. Angin dingin berlomba-lomba masuk menyentuh seisi kamar Bara. Sania belum berani klaim itu kamarnya karena posisinya di rumah ini belum Sekokoh bayangannya. Bara belum membeli cincin kawin untuknya bahkan Bara tak pernah kasih uang belanja sebagaimana suami lain. Bara lupa hal ini atau memang tak anggap Sania sebagai isteri sah. Isteri simpanan kali. Setiap tutur kata Bara selalu bilang sayang dan cinta. Namun kenyataan Sania masih belum bisa membuat hati Bara tersentuh untuk jadi suami sempurna.

__ADS_1


__ADS_2