
"Tak kusangka punya adik yang sangat sadis. Tega kamu memiskinkan papa kandung sendiri."
"Itu untuk kebaikan dia! Dia sudah waktunya pensiun dari segalanya. Baik dari jadi orang bodoh, penjahat, juga dari kancah bisnis. Dia pasti syok bila tahu anak yang paling dia sayangi bukan darah dagingnya. Darah daging sendiri dicampakkan demi wanita-wanita tak bermoral. Saatnya dia menyesali segala perbuatan buruknya."
"Kayaknya jauh dari harapanmu. Dia masih semangat teror aku. Kini aku tak mungkin mundur mengecewakan kamu. Amanah darimu akan kutuntaskan." janji Rangga terdengar kesungguhannya.
Sania tak meragukan Rangga cuma apa laki itu sanggup melawan teror bertubi-tubi dari Suhada. Ditambah Rangga hatinya tak seteguh batu karang. Gampang iba hati. Itu kelemahan Rangga.
"Mas...kita berdoa semoga semuanya cepat berlalu. Kita tak perlu hidup dalam mimpi buruk."
"Amin...mas kerja dulu ya! Nanti malam kita ngobrol."
"Baiklah! Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
Sania meletakkan ponselnya di meja sambil melamun. Sampai kapan Suhada mau jadi monster bagi anak-anak? Kapan pak tua itu mau sadar kalau semua perbuatannya adalah salah. Tak bisakah otak karatan itu digosok biar hilang karatan untuk bisa berpikir jernih?
Sania kecewa pada Suhada tapi tak mampu melakukan apapun untuk cuci otak ayah biologisnya. Langkah Suhada sudah terlalu dalam jatuh ke dalam kubangan dosa. Susah diangkat untuk jadi manusia berharkat baik.
Pintu ruang Sania diketok menyadarkan Sania dia sedang berada di kantor baru. Sania belum sempat mantau dekorasi ruangnya. Semuanya pilihan Pak Jaya dan Bara. Sania hanya bilang senang warna putih dan biru muda. Lainnya Sania tak banyak protes. Apa adanya.
"Masuk..."
Putri nyelonong masuk dengan wajah pucat. Mata Putri memancarkan sinar kuatir. Nafasnya tersengal seperti menahan sesuatu yang dapat dilukis dengan kata-kata.
"Kenapa kamu Put? Ketemu setan siang bolong?"
"Itu San...ada orang ingin bunuh diri di atas. Dia teriak-teriak minta pak Bara tanggung jawab terhadap hidupnya." kata Putri dengan bibir bergetar. Nyali Putri cuma sekutil tak sanggup melihat hal menyayat hati.
Sania menghela nafas. Siapa demikian iseng merusak hari baik mereka. Seharusnya hari ini adalah hari keberuntungan Bara buka lembaran baru di kantor baru. Mimpi seribu kali Sania tak menyangka bakal ada tragedi memilukan.
"Siapa orang itu?" tanya Sania dingin. Hati Sania kesal bukan main ada kekacauan pada hari ini.
"Mana kukenal? Tuh sudah pada ramai di bawah!" Putri membuka jendela ruang Sania agar Sania bisa melihat ke bawah.
Sania terpaksa menjulur kepala ke bawah saksikan pemandangan bikin otak panas. Di bawah sudah ramai manusia teriak-teriak agar orang yang pingin akhiri hidup cepat turun. Bara dan Roy berada di kerumunan massa yang lumayan banyak.
Sania mulai ngerti siapa yang ingin bunuh diri karena terdengar nama Maya dalam jeritan histeris Bara. Mengapa Maya tak habis-habisnya ganggu kehidupan Bara. Di saat Bara sedang berusaha bangkit dia malah tendang Bara ke comberan lagi. Apa kata orang bila tahu Bara punya banyak tinta merah di masa lalu. Bara seorang presiden direktur dikejar wanita minta tanggung jawab. Apa yang terlintas di otak masyarakat.
"Orang stress berat...Biar kutangani wanita histeris itu!" Sania mengambil ponselnya lalu melangkah keluar menuju ke rooftop gedung lihat apa yang diinginkan Maya. Skandal apa akan dia lakoni untuk cari perhatian Bara.
Putri merasa kuatir terpaksa ikuti langkah Sania naik ke puncak gedung. Ternyata di sana sudah ada beberapa laki dan sekuriti berusaha bujuk Maya turun dari balkon gedung. Maya duduk di balkon juntaikan kaki ke bawah perlihatkan wajah sedih. Maya belum bisa terima ditolak Bara mentah-mentah hanya untuk anak kecil macam Sania.
Maunya Maya Bara itu beri perhatian sepenuhnya buat dia. Dia tak pernah di tolak para cowok. Setiap keinginannya adalah sabda yang harus terjadi. Penolakan Bara membuat dia patah hati. Maka itu Maya ingin mati di gedung baru Bara biar laki itu terkenang padanya.
__ADS_1
Sania tertawa sinis melihat wanita histeris macam Maya keluarkan jurus andalan yakni ingin bunuh diri. Wanita egois macam gitu paling takut mati. Gertakan sambal terasi model lawas tak termakan di otak Sania.
Tanpa ragu Sania ayunkan langkah ke arah Maya. Sania ambil resiko jatuh bersama perempuan itu bila Maya nekat.
Maya kaget melihat Sania nekat dekati dia. Wajah Sania dingin tak berekspresi terus melaju hampiri dirinya.
"Jangan mendekat! Aku akan loncat!" ancam Maya bangun tegakkan badan berdiri di pinggiran balkon. Teriakan histeris terdengar sana sini meminta Maya mundur.
"Loncat saja...aku toh tak dihukum karena kau bunuh diri! Nanti arwah mu akan saksikan sendiri tubuhmu remuk. Patah sana sini. Wajah hancur tak berbentuk. Aku mendekatimu kasih semangat! Aku malah diuntungkan kalau kau mati. Tak ada saingan rebut Bara. Artinya kau kalah total."
"Aku kalah? Aku belum pernah kalah..."
"Buktikan kau tak pernah kalah! Mati artinya kau kalah. Ayo loncat! Nanti direkam kirim ke anak dan suamimu detik-detik Maya yang cantik tewas bunuh diri. Aku akan rekam posisi paling manis biar ada kenangan indah buat anakmu."
"Edan...bunuh diri kok indah! Kau anak kemarin mana bisa lawan aku!" seru Maya terpancing emosi dikompori Sania. Api mulai menyala bakar hati Maya untuk tak biarkan Sania enak-enakan sama Bara.
"Bude..kau metong artinya game over. Aku pemenangnya. Kalau merasa hebat kita bersaing secara jantan...eee sori secara betina. Kita kan betina bukan pejantan. Ayo sini! Kita tanya Bara siapa lebih unggul." Sania mengulurkan tangan mengharap Maya menerima tangannya. Sebenarnya Sania ketar-ketir takut Maya tak termakan ucapan provokasinya. Sania sengaja pancing emosi Maya agar mau bersaing secara jujur. Bukan dengan cara tak terpuji mengancam jiwa sendiri.
Lama Maya menatap uluran tangan Sania yang mengambang di udara. Untunglah udara tak terlalu panas bikin otak panggang. Semoga Maya menyadari kalau dia sedang berbuat hal konyol bahayakan jiwa sendiri.
Para satpam dan Putri terpaku lihat cara Sania tangani ancaman bunuh diri Maya. Sania sedikit teledor ambil resiko besar yang bisa bahayakan nyawa Maya juga dirinya. Namun Sania yakin Maya tak benar ingin bunuh diri. Andai benar mau bunuh diri ngapain sampai merepotkan orang bunuh diri di gedung Bara.
Pelajaran pertama di mana Maya meneguk soda dengan permen mentol sudah tunjukkan fakta Maya hanya cari perhatian Bara.
"Ayo bude! Aku kepanasan! Ntar kulitmu gosong lho! Kalah set lagi..." Sania ayunkan tangan minta disentuh Maya.
Pandainya hanya mengancam dengan tindakan tak terpuji. Maya orang berpendidikan namun kelakuan kayak orang buta huruf. Mengapa bisa muncul manusia berperangai buruk itu? Mau menang sendiri tanpa peduli kesusahan orang.
Maya telah aman dalam genggaman Sania. Putri dan para satpam menarik nafas lega menyaksikan Maya berubah jinak di tangan Sania. Sania seperti pawang hewan liar berhasil jinakkan hewan tak berakal. Otak buntu tak bisa diajak berpikir normal.
Matahari makin angkuh memancarkan sinar siap memanggang kulit bila kena terpaan cahayanya secara langsung. Sania masih sayang pada kulit mulusnya tak mau jadi gosong demi orang tak punya iman kuat. Sania membimbing Maya turun ke lantai sepuluh melalui tangga manual. Di belakang para satpam dan Putri ikut tanpa beri komentar.
Dalam hati tentu memuji Sania sebagai pahlawan penyelamat manusia konyol. Mereka makin respek pada Sania yang sangat gampang merayu Maya pakai kalimat provokasi. Ini buktikan umur tak bisa dijadikan patokan kedewasaan seorang manusia. Maya jauh lebih tua dari Sania namun kelakuan tak ubah anak kecil. Sania yang jauh lebih muda punya nalar lebih bijak. Akhlak manusia tak bisa diukur dari umur tapi potensi dalam diri masing-masing.
Sania membawa Maya masuk ke ruang kerjanya diikuti Putri. Rasa canggung hinggap di hati Maya telah berbuat bodoh cari sensasi. Wanita muda yang dianggap rival justru bijak mengoyak kekonyolan Maya.
Sania mendudukkan Maya di sofa sambil beri senyum lembut. Maya menunduk malu mengingat kebodohan yang dia ciptakan.
"Putri...bikin teh untuk ibu Maya!" ucap Sania tetap santai tak mau bikin Maya makin tertekan gara telah berbuat konyol.
"Iya San..."
Kini Sania ikut duduk di samping Maya hendak beri sedikit ceramah atas tindakan yang telah bikin heboh.
"Bu Maya...kenapa terobsesi pada Bara?"
__ADS_1
Maya mengangkat kepala menatap Sania dengan mata berkaca-kaca. Ntah itu ekspresi rasa bersalah atau menyesal tak bisa mati.
"Aku tak tahu.."
"Kau mencintai Bara?" selidik Sania ingin tahu isi hati Maya terhadap Bara. Cinta Maya tulus atau hanya pingin diperhatikan.
"Aku tak tahu...aku cuma ingin diperhatikan Bara. Dia teman aku dari kecil."
"Lalu kenapa kau tak menjadi pacarnya dari dulu? Mengapa mau kawin sama suamimu sekarang ini?"
"Suamiku tak romantis. Dia hanya tahu kerja dan kerja. Tak ada waktu buat kami. Bara itu orangnya romantis penuh perhatian. Dia selalu datang bila aku sedih."
Sania mangut kecil mulai paham isi hati Maya. Wanita ini minta perhatian dari suami namun suami macam balok kayu kaku tak paham perasaan Maya. Mungkin di saat sedih sering curhat pada Bara dan ditanggapi dengan baik maka Maya bidik Bara untuk dijadikan pasangan romantis.
"Bu...Bara itu kaku kayak tiang listrik. Tak ada romantisnya. Aku telah hidup bersamanya selama beberapa bulan ini. Belum pernah sekalipun dia merayu aku apalagi kasih surprise romantis. Kami malah kadang tak jumpa berhari-hari."
"Bohong...kau tampak bahagia bersama Bara." cetus Maya tak terima omongan Sania. Maya anggap Sania sedang berbohong supaya dia tak ingin merebut Bara.
Sania tertawa kecil lihat amarah Maya, "Aku bohong? Aku dan Bara adalah rekanan kerja yang kebetulan harus menikah. Hidup kami monoton dihiasi proyek. Tak ada kencan apalagi yang namanya berlibur. Hari Minggu kami juga bahas proyek. Kau sanggup hadapi laki gitu?"
"Kau bohong...kenapa Nania betah? Dan kau juga betah."
Kata-kata Maya memicu tawa derai Sania. Ternyata Maya hanya melihat Bara dari segi kulit luar. Maya berpikir bisa bermanja layak suami romantis tiap hari kasih bunga, merayu dengan kata-kata membelai kuping. Maya tak tahu Bara lebih kaku dari batang kayu. Kayu masih bisa dibengkokkan dengan alat canggih sekarang tapi Bara?? Parah habis.
"Apa mbak Nania punya pilihan dengan kondisi penyakit kronis? Mbak Nania punya kaki tapi tak mampu berjalan ke tempat lain. Nania yang sodorkan aku pada Bara karena kami sama-sama cuek bebek terhadap lingkungan. Tak perlu manja-manja apalagi kencan romantis. Itu tak ada dalam kamus Bara." Sania bicara kebenaran tanpa bermaksud patahkan semangat Maya perjuangkan Bara. Itu fakta yang dia hadapi sekarang. Setiap hari bersama hanya untuk proyek.
Maya termenung setelah mendengar penjelasan Sania. Bara yang kelihatan penuh perhatian ternyata lebih parah dari lakinya. Suami Maya masih ajak Maya pergi kencan walau langka. Suami Maya juga kaku asyik fokus kerja. Sementara Maya orangnya manja butuh perhatian ekstra.
"Kau jujur?" Maya mencari kejujuran di mata Sania. Mata bening Sania pancarkan ketulusan mengalahkan tatapan detektif Maya.
"Jujur sejujurnya...aku tak peduli Bara mau kasih perhatian pada siapa asal jangan selingkuh di depanku! Aku bukan orang ramah tapi tak suka kekerasan. Bu Maya jangan uji kesabaranku lewat batas. Aku bisa buat Bu Maya kehilangan segalanya bila asyik main petak umpet dengan Bara." Sania mulai Serang Maya untuk kerdilkan nyali Maya. Sania yakin Maya bukan pemberani bila betulan diajak mati.
"Kau ngancam?"
"Tidak...cuma tak suka diusik. Bu Maya tak perlu mencari padi di ladang orang. Nanti malah dituduh mencuri. Lebih baik Bu Maya pupuk tanaman di lahan sendiri. Jaga dari hama agar tumbuh subur. Kusarankan Bu Maya telepon suami minta dijemput. Berliburlah di Indonesia selama masih di sini! Percayalah! Bu Maya pasti lega memiliki sesuatu yang memang hak Bu Maya. Kalian tinggal di mana di State?"
"Chicago..."
"Aku lama di Massachusetts. Kelak aku akan kunjungi kalian bila pulang ke State. Aku besar di luar negeri. Tepatnya Netherlands."
"Wow...pantes kamu percaya diri banget. Kuduga kamu lulusan Harvard kalau lama di Massachusetts."
"Iya... cumlaude..." Sania menyombongkan diri biar tak dipandang rendah oleh Maya.
"Sudah kuduga kamu bukan wanita biasa. Matamu setajam mata pisau silet. Mata itu jendela hati. Semua tercatat di sana. Ok...aku terima kalah dari anak kemarin model kamu. Aku janji takkan ganggu Bara lagi. Aku tak suka pria kaku. Mungkin aku harus berkelana lagi cari Romeo hati."
__ADS_1
"Bu...jangan main hati! Nikmat dunia itu tak abadi! Bu Maya boleh umbar cinta ke segala pelosok dunia tapi akhirnya pasti zonk."