MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Pengawalan Bara


__ADS_3

Bara bikin gerakan kecil tanda dia mulai sadar. Cuma mata Bara belum terbuka. Laki itu masih berada dalam kondisi antara sadar tidak sadar. Dilihat dari keadaan Bara hati Roy terenyuh. Laki itu terlalu lemah pada wanita. Berkali Arsy berbuat nakal namun Bara tetap berikan rasa peduli. Yang terakhir ini nyaris merengut nyawa Bara.


Sekar merasa hatinya ikut sedih lihat kondisi Bara jauh dari kata ok. Seorang laki gagah perkasa jatuh karena seorang wanita berakal setan. Rugi Bara baik pada Arsy selama ini. Semua kebaikan dan perhatian Bara hanyalah niat baik sia-sia.


"Sania...Sania..." gumam Bara pelan namun didengar Sekar dan Roy.


Rasa iba makin merajai hati Sekar. Dalam batin Sekar mengutuk orang yang telah memisahkan sepasang suami isteri sedang bahagia itu.


Roy meringsut dekati brankar Bara seraya menggenggam laki itu. Hanya Tuhan yang bisa menolong Bara saat ini. Hidup mati adalah kuasa Illahi. Kita orang awam hanya bisa berdoa minta perlindungan.


"Sania segera datang." bisik Roy lembut di telinga. Roy pererat genggaman untuk menguatkan Bara. Kekuatan cinta sanggup mengalahkan segalanya. Andai Bara teringat pada anak isteri pasti akan berjuang melawan maut.


Sekar melihat dengan jelas air mata mengalir dari sudut mata bosnya. Artinya Bara mendengar bisikan Roy mengatakan Sania akan balik. Ini merangsang fungsi otak Bara agar cepat sadar.


Roy lap air mata Bara pakai ujung bajunya. Bertahun bersama Bara tak pernah melihat laki itu menetes air mata. Baru kali ini Bara rapuh diterpa cobaan beruntun dari orang yang sama.


Sekar dan Roy tak bisa sembunyikan kesedihan. Ternyata begini rasanya kehilangan orang tercinta. Sakit sampai terbawa ke alam tak sadar diri.


"Kau di sini jaga Bara. Aku cari dokter dulu." Roy melepaskan tangan Bara perlahan takut menyakiti laki itu.


Sekar mengangguk patuh. Sekar siap lakukan apapun asal Bara dan Sania berkumpul kembali. Kedua itu sudah terlalu lama dipermainkan nasib buruk. Mungkin ini akhir babak tragedi Bara dan Sania. Orang yang bersangkutan semua kesandung hukum.


Dokter datang memeriksa Bara. Dari hasil pantauan tak ada masalah. Cuma Bara masih belum sadar dari pengaruh obat bius. Operasi Bara cukup besar karena organ perut banyak yang terluka kena pisau dapur Arsy. Untunglah semua bisa diatasi.


Selang dua jam kemudian Rangga dan Lisa datang. Pak Elmo dan isterinya juga datang. Mereka segera datang setelah dapat informasi mengenai rencana pembunuhan Arsy. Bara jadi korban wanita sinting macam Arsy. Berita mengenai Arsy membunuh Bara ramai dibincangkan di medsos. Berita ini menyebar bak debu terbangan di udara. Memenuhi seluruh berita utama di medsos.


Pak Elmo tampak marah Bara dilukai wanita yang sama merusak hubungan Bara dan Sania. Orang kuat di PT. SHINY berjanji akan bantu tegakkan keadilan bagi Bara dan Sania. Bara dan Sania adalah rekan bisnis Pak Elmo jadi wajar laki paro baya itu harap muncul ke kendala yang pengaruhi hubungan kerja mereka.


Roy sudah berapa kali jumpa Pak Elmo ngeri lihat amarah pak tua itu. Pak Elmo yang biasa santai kelihatan berbeda. Urat di kepala laki itu menonjol siratkan kemarahan kelas Wahid. Roy tak berani ambil kesimpulan mengapa amarah Pak Elmo capai titik puncak. Apa penyebab laki itu naik darah tingkat tinggi.


Sekar menarik tangan Lisa menjauhi kumpulan orang-orang sedang dibalut emosi selangit. Sekar belum puas sidang Lisa yang teledor buka pabrik untuk Rangga berproduksi. Kedua gadis itu bicara di sudut koridor rumah sakit dekat jendela. Angin sejuk menerpa mengelus pipi kedua gadis itu.


Untung ada hembusan angin dinginkan otak Sekar. Kalau tidak Lisa sudah dijadikan perkedel daging oleh Sekar.


"Katakan sekarang! Mengapa sampai bodoh dikadali laki?" Sekar kontan serang Lisa setelah cuma berduaan.


Lisa tersenyum seraya mengelus perut ratanya. Gaya Lisa yang santai menambah rasa jijik Sekar pada sahabatnya itu.


"Anak kami lahir besok. Kata dokter selusin." ujar Lisa kalem.


Sekar melongo perlihatkan tampang bodoh nan culun. Kata-kata Lisa seperti perkataan orang stress. Baru bilang hamil sudah mau melahirkan. Perut Lisa juga tak buncit layak ibu hamil. Jangan-jangan Lisa hamil anak ajaib.


Lisa menepuk pipi Sekar agar sadar dari tampang tolol. Kini pura-pura hamil sudah tak ada guna. Tanpa berita Lisa hamil Sania toh akan segera pulang menjenguk suami lagi sekarat.


"Kau gila Lis!" desah Sekar masih linglung.


"Aku tak hamil." ujar Lisa jujur buka kartu.


Sekar meloncat girang lantas memeluk Lisa dengan hati gembira. Sudah Sekar duga Lisa bukan gadis murahan mau diajak ranjang ria tanpa ikatan. Ternyata dugaan Sekar benar.


"Ya Allah...akhirnya kau bebaskan saudaraku dari dosa." Sekar puji syukur Lisa terhindar dari aib dan dosa.


"Amin..."


"Ayo katakan kenapa ngaku bunting? Pingin bunting ya?" serang Sekar pura-pura marah.

__ADS_1


"Kami tak punya cara pancing Sania keluar dari persembunyian maka ciptakan sensasi ini. Terbukti efektif. Cuma sekarang tak perlu sandiwara lagi. Sania toh sedang pulang sini! Aku tak mau kamu musuhi gara-gara hamil duluan."


"Sialan kamu! Aku dan Putri bersedih demi kamu. Sia-sia air mata kami. Eh..kau dan Rangga sudah gituan?" Sekar dekatkan kepala ke jantung Lisa mau dengar detak jantung Lisa. Kalau bohong pasti akan berpacu lebih cepat.


Lisa mendorong kepala Sekar menjauh pakai ujung jari. Sekar terlalu berlebihan hakimi dia. Emang Lisa gadis murahan gampang diajak berbuat mesum.


"Ngak usah harap ya! Belum ijab kabul tak ada malam pengantin. Apa lagi ritual belah duren." ujar Lisa angkuh angkat kepala ke atas.


Sekar tersenyum kembali memeluk Lisa. Hati Sekar lega Lisa masih punya akal sehat. Kadang cinta berkalang nafsu gampang jerumuskan orang dalam maksiat.


"Ini baru temanku. Aku punya kabar baik untukmu." Ucap Sekar malu-malu kucing.


Lisa perhatikan tingkah aneh Sekar seperti lintah tak bertulang lengket padanya. Lisa menduga temannya itu lagi kasmaran dengan seseorang. Tak biasa Sekar bertingkah konyol.


"Ada berita apa? Kamu hamil?"


"Amit-amit...otak lhu titip di mana? Sembarangan..."


"Habis aneh sih!"


"Aku...aku..."


"Aku apa? Aku si gembala sapi?"


Sekar hentakan kaki ke lantai kesal digoda Lisa terusan. Sekar malu ingin kasih tahu pada Lisa kalau dia dan Roy telah resmi pacaran. Tapi ngomongnya kok susah banget.


"Roy tembak aku!" akhirnya keluar juga kabar baik ini.


"Wow...kamu terluka? Mati ngak?" canda Lisa tak urung bahagia Sekar telah temukan tambatan hati. Usia Sekar tak muda lagi. Hampir sama dengannya. Sudah waktunya dapat pendamping sejati.


"Hehehe...emosian! Sudah ada bodyguard sudah sombong. Ok deh! Selamat...semoga langgeng hingga anak cucu. Jangan kelamaan pacaran! Ntar masuk pihak ketiga."


"Pihak ketiga? Emang Bang Roy punya selingkuhan?" buru Sekar cemas


"Selingkuhan apa? Setan burik selip antara kalian. Terciptalah generasi baru!"


"Itu kamu! Aku sih ogah timbun dosa."


"Ini baru temanku! Ok...salah paham sudah terurai! Kini tunggu kehadiran Sania. Aku sudah rindu pada anak itu. Gimana si kembar dalam perutnya?"


"Berdoa saja. Semoga Bara cepat pulih kumpul kembali dengan anak bini."


"Amin..."


"Si Putri sudah antar Rudi pulang. Rudi syok banget lihat kondisi Bara. Dia yang langsung lihat kejadian. Mentalnya sedikit terganggu." cerita Sekar membayangkan betapa terpukul Rudi melihat Arsy nekat bunuh Bara.


"Arsy itu seperti Dajjal. Harusnya manusia kayak gitu tak pantas punya tempat di dunia ini. Arsy itu gagal produk Yang Maha Kuasa. Harusnya di kembali ke tanah." omel Lisa jengkel pada wanita sejahat Arsy. Tak puas timbun dosa.


"Mati dong kembali ke tanah! Arsy itu insan terlahir tanpa bekal agama. Sebenarnya kita tak peduli dia terlahir dari agama apa. Setiap agama ajar kebajikan terlepas dari orang itu sendiri. Arsy itu tak kenal pelita hati yang menuntunnya mencari jati diri. Maka itu dia berbuat semaunya tanpa pikir akibat. Kaya maksiat miskin iman." Kotbah Sekar seperti ustadzah asli.


"Ngerti Bu ustadzah." Lisa rapatkan tangan bersedekap ke dada. Lisa hanya ingin menggoda Sekar yang selalu ke depankan nilai agama. Tak heran Sekar mau membalut diri dalam busana muslim. Masih untung Sekar tak memakai cadar alias niqab.


"Huh...dikasih tahu malah melawan."


"Siapa melawan? Bukankah aku bilang ngerti. Eh..kita balik ke tempat Pak Bara. Siapa tahu beliau sudah sadar."

__ADS_1


"Ok..." Sekar bikin tanda setuju.


Keduanya beriringan balik ke ruang rawat Bara. Di situ tinggal Rangga dan Roy. Pak Elmo mungkin sudah pamitan. Seorang bos kaya raya bersedia datang menjenguk teman bisnis sudah merupakan kehormatan. Pak Elmo jarang interaksi dengan orang luar. Beliau datang menjenguk Bara sudah merupakan hal luar biasa. Siapa tak kenal orang kaya itu.


"Di mana Pak Elmo?" tanya Sekar mengedar mata ke sekeliling koridor rumah sakit.


"Sudah balik kantor. Sebaiknya kamu pulang istirahat Sekar. Di sini biar aku yang jaga Bara. Ikut Lisa balik saja!" Roy meminta pacarnya pulang duluan. Fisik Sekar sudah gambarkan keletihan mendalam. Mereka dari pulau B langsung mentok di rumah sakit.


"Lalu Pak Roy tak lelah?" tanya Sekar lugu. Mata indahnya selalu jadi daya tarik bagi Roy. Asli dari mata turun ke hati.


Roy menggeleng damai. Sinar mata Roy lembut menembus relung hati Sekar. Magnet saling menarik ciptakan satu ikatan yang akan segera menyatu. Rangga dan Lisa saling berpandangan tahu kalau ada pasangan baru sedang kasmaran. Benih cinta telah ditabur, semoga tumbuh subur hasilkan buah sempurna.


"Aku tak apa. Mungkin sebentar lagi Bara sadar. Harus ada orang di sampingnya. Aku akan menjaganya untuk kita semua." janji Roy melegakan Rangga. Rangga memang kesal pada Bara khianati Sania. Namun Bara juga korban Arsy.


Bara tegas pada Arsy berujung petaka. Arsy terlalu brutal sebagai seorang wanita. Kejar cinta pakai trik kotor juga kekerasan.


Belum sempat Rangga menjawab dari ujung koridor rumah sakit datang dua laki berbadan tegap berpakaian hitam model safari. Kedua orang itu memakai kacamata hitam kenakan masker hitam juga.


Rangga dan Roy langsung pasang badan di depan pintu ruang rawat Bara. Belum terpikir baik muncul segala pikiran buruk. Mungkin itu orang suruhan Arsy yang belum puas Bara masih hidup. Keluarga Arsy cukup terpandang di dunia bisnis. Arsy masuk penjara mencoreng muka keluarga itu. Bisa jadi mereka datang untuk buat onar.


Lisa dan Sekar bergerak cepat bersembunyi di belakang pasangan masing-masing cari perlindungan. Nyali kedua gadis itu tak segede nyali dua laki besar yang bertugas melindungi mereka dan Bara.


Kedua laki serba hitam akhirnya tiba di depan Rangga dan Roy. Roy sudah siapkan ancang-ancang balas bila diserang mendadak. Roy bukan takut hadapi kedua laki berbadan badak itu tapi takut terjadi sesuatu pada kedua gadis dekat mereka. Juga berimbas pada Bara yang sedang sekarat.


Di luar dugaan kedua laki badak itu langsung membungkuk sopan secara serentak. Gerakan mereka kaku di seakan tak punya perasaan.


Rangga dan Roy mundur beberapa langkah takut itu cuma strategi kedua badak itu untuk menyerang saat keduanya lengah.


"Selamat sore...kami diutus Pak Elmo untuk kawal Pak Bara selama dirawat. Kami diminta jumpa Pak Rangga." salah satu dari laki badak keluarkan suara berat serak becek.


Rangga dan Roy saling berpandangan menarik nafas lega. Bayangan buruk terhadap dua monster itu ternyata tak nyata. Justru mereka diuntungkan dapat pengawalan untuk hindari kejadian lebih tragis.


"Aku Rangga...Pak Elmo baru dari sini! Kenapa kalian sudah cepat sampai sini?"


"Kami memang berada di sekitar sini jaga Pak Elmo. Beliau perintahkan kami kawal Pak Bara." salah satu dari mereka mengusir rasa curiga Rangga.


"Ini nomor Pak Elmo. Silahkan bicara!" laki berpakaian hitam serahkan ponsel berdimensi besar pada Rangga. Rangga bisa lihat ponsel itu sangat canggih produk limited edition.


Sedikit ragu Rangga menerima ponsel itu sambil lempar mata ke Roy. Roy menggeleng tanda menolak. Roy masih curiga jangan-jangan suruhan orang menggunakan nama Pak Elmo. Orang licik bisa saja gunakan segala trik untuk menangkan pertarungan di kancah keributan.


"Kami punya nomor Pak Elmo. Biar kami telepon sendiri." potong Roy hati-hati jangan salah persepsi.


"Silahkan!" tanpa ragu si badak ijinkan Roy hubungi Pak Elmo. Mereka kembali kaku tak bersuara biarkan Roy hubungi Pak Elmo cari tahu kebenaran penugasan pengawal kawal Bara.


"Halo...Pak Elmo. Ini Roy wakil Bara. Ini ada dua pengawal bilang arahan Pak Elmo."


"Oh benar! Sania yang minta suaminya dikawal untuk hindari hal tak diinginkan. Mereka pengawal setia. Namanya Baron dan Ritonga."


"Oh iya terima kasih! Maaf sudah ganggu."


"Sama-sama...jangan sembarangan terima orang menjenguk karena ada isu tak sedap! Ini sudah merambat jauh dari sekedar urusan asmara. Orang besar mulai turun tangan. Dua kekuatan besar sedang intervensi kasus ini."


"Iya pak! Kami akan siaga. Kalau boleh tahu siapa ingin campur tangan?"


"Orang tua Arsy dan Bobby. Mereka akan pakai pihak ketiga tekan kita untuk cabut tuntutan pada Arsy. Bobby ikut terlibat karena Arsy bernyanyi ini semua ide Bobby."

__ADS_1


__ADS_2