MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Emosi Sania


__ADS_3

Sania hanya seorang wanita muda yang selalu takut dengan gumpalan lemak di badan. Mana ada istilah orang berlemak bisa jadi pujaan. Makin langsing makin mencuri perhatian. Tapi sebagai menantu yang patuh Sania tak membantah. Ikuti semua saran orang tua untuk jaga hati orang yang telah beri perhatian.


"Iya ma...Sania siap-siap sholat Zuhur ya! Sekarang Sania bisa full ibadah tanpa perlu ingat tamu bulanan."


"Itulah istimewanya ibu hamil. Bisa ibadah sepenuh hati. Hati-hatilah naik ke atas! Nanti mama antar makan siang. Makan di kamar saja. Tak usah turun naik." ujar Bu Jaya penuh pengertian.


Sania mangut serta bersyukur dapat mertua super baik. Tak jarang dalam rumah tangga timbul perpecahan gara-gara mertua dan mantu tidak akur. Cekcok tiap hari rebut perhatian anak dan suami. Sania berdoa semoga dijauhkan dari kondisi tak enak gitu.


Perlahan Sania bergeser naik ke kamarnya di lantai atas. Sania berhati-hati menjaga titip Allah yang sekarang jadi bagian dari dirinya.


Bu Jaya menatap Sania sampai wanita muda itu sukses sampai tingkat atas. Bu Jaya selalu was-was jaga kesehatan Sania. Di dalam perut Sania ada darah daging keluarga ini.


Sania benar-benar dimanja oleh Bu Jaya. Makan siang saja diantar ke kamar. Sania bukannya senang tapi malah jadi beban. Sania tak biasa dilayani bak Puteri raja. Dalam keseharian Sania terbiasa hidup mandiri tak menyusahkan orang. Apa lagi hamil harus mengubah kebiasaan?


Bik Usi siap siaga melayani Sania membuat perasaan Sania makin tak nyaman. Kok seperti manusia cacat tak bisa melakukan aktifitas harus dikawal ke manapun. Selera makan Sania memudar di kawal acara makan. Kebebasan yang biasa Sania terapkan seakan menguap.


Ternyata jadi orang hamil bukan hal menyenangkan. Malah berkesan seperti tahanan rumah. Setiap gerak-gerik diintai beberapa pasang mata. Sania serasa kehilangan jati diri. Namun Sania tak berani protes mengingat niat baik mertuanya. Mereka tentu ingin lindungi cucu mereka yang sudah dinanti bertahun-tahun.


Sania merasa bosan terkurung dalam rumah tanpa kegiatan. Sania tidak banyak mengalami perubahan dalam fisik selain cepat lelah. Semangat kerja tetap ada walau kadang dihinggapi rasa malas.


Wanita ini mondar-mandir dalam kamar cari sesuatu untuk usir rasa jenuh. Melapor ini itu pada Bara bukanlah type Sania. Sania tak ingin mengganggu konsentrasi kerja Bara pada saat laki itu perlu konsentrasi penuh garap proyek.


Sania meraih ponsel meneleponi seseorang cari kabar tentang misinya cari keadilan.


"Halo...ada kabar?"


"Banyak nona...Suhada dan Amanda sudah di tangan aparat karena serang Rangga. Kami limpahkan kasus ini langsung ke pihak berwajib untuk usut semua tuduhan Amanda pada Rangga."


Wajah Sania mengeras dengar laporan orang kepercayaannya. Kejadian sebesar ini Rangga tak lapor padanya. Sungguh keterlaluan abangnya itu. Sania yakin Rangga takkan mampu melawan Amanda. Wanita itu terlalu licik. Untung Rangga pintar hubungi pengacaranya.


"Sekalian bawa kasus lima belas tahun lalu. Sogok Darman lebih banyak agar dia buka mulut. Dia sudah jalani hukuman jadi mungkin hukuman untuknya tak berat. Jaga keluarga Darman dari ancaman Amanda! Takut dia pakai anak isteri Darman bungkam orang itu. Kita mulai bikin gerakan. Di tunggu terlalu lama akhirnya tetap sama."


"Siap non! Apa nona sudah siap muncul di hadapan Suhada?"


"Mau tak mau kita harus muncul. Urus sebaik mungkin baru aku muncul sebagai saksi. Jangan ada kesalahan! Kawal Rangga dan Lisa."


"Siap non! Aku akan perintahkan penambahan pengawal pada Rangga dan keluarga Pak Bur. Amanda pakai preman ancam Rangga. Kami terpaksa bawa aparat."


Sania mengepal tinju geram pada Amanda tak kapok gunakan jalan sesat untuk muluskan semua rencana jahatnya. Mengapa ada manusia sejahat itu. Asli gagal produk Yang Maha Kuasa. Manusia berhati iblis tercipta ke dunia ini.


"Jangan kendor! Usut terus sampai tuntas. Sudah waktunya tragedi ini capai titik *******. Aku bosan hanya dengar laporan."


"Iya non...soal rumah Bobby gimana? Bobby menghilang tak ada kabar. Ranti masih di tahanan. Apa tindakan kita?"


"Abaikan sampai Bobby muncul! Kita jangan melanggar hukum terobos tanpa ijin. Jangan ada cela cari kesalahan di pihak kita. Ratakan Amanda sampai tuntas!"


"Baiklah! Oya..soal ibu Rangga memang ada kesalahan. Dia itu diracuni secara perlahan oleh pembantu yang dibayar Amanda. Ibu Agra memang meninggal karena pendarahan. Itu pengakuan Darman."


"Lalu siapa bapak Ranti?"


"Pak Yudi salah satu petinggi di kantor Rangga. Dia masih aktif di kantor. Cuma untuk sementara tak bisa berkutik karena pemimpinan di pegang Rangga."


"Cari kesalahannya dan pecat."


"Siap non...ada perintah lain?"


"Bantu aku cari pekerja lapangan yang bisa diperoleh untuk garap proyek di pulau B. Pakai orang-orang kita. Minggu depan aku akan turun lapangan. Buat pengawalan ketat. Nanti kukabari kapan berangkat. Bapak harus hati-hati. Waspada dari Bobby juga. Dia itu putus asa perusahaan mulai runtuh. Takut pakai jalan kiri."


"Tak usah kuatir non. Kami akan waspada. Nona juga jangan lengah. Musuh kita orang yang sudah malang melintang di dunia hitam. Melakukan kejahatan tak ubah makan Snack. Kami akan hubungi pihak berwajib bila ada hal menyimpang."

__ADS_1


"Bagus...jangan hubungi aku kalau tak penting! Biar aku yang hubungi bapak."


"Kami ngerti.."


Sania menutup ponsel dengan hati kesal. Amanda tak henti usik Rangga dan dirinya. Mungkin sudah saatnya bongkar kejahatan Amanda dan Suhada agar bertanggung jawab atas dosa masa lalu.


Sania cemas pada nasib Rangga yang dapat ancaman Amanda. Amanda terlalu narsis jadi orang. Dipikir semua orang harus tunduk padanya. Orang yang sudah terbiasa buat jahat merasa menambah sedikit kejahatan tak masalah.


Apa tak pernah terlintas di otak orang itu kalau Rangga anak kandung Suhada. Penerus trah keturunan Suhada. Suhada mungkin sudah gila tega menyakiti anak kandung sendiri. Pelet apa disuguhi Amanda sampai lupa diri.


Sania tak tenang sebelum dengar langsung keadaan Rangga. Abangnya itu bukan orang bermental baja seperti dirinya. Rangga mudah digoyah oleh pemandangan miris. Sania takut Rangga tak tega beri pelajaran pada Suhada dan Amanda.


"Assalamualaikum mas.."


"Waalaikumsalam...kamu sehat dek?"


"Alhamdulillah...sehat. Mas Rangga gimana? Baru sport jantung ya?"


"Kok tahu...??" Rangga kaget Sania bisa dapat berita tentang kehadiran Suhada dan Amanda.


"Apa yang tak kuketahui mas? Mas...kita harus akhiri semua kekacauan ini. Lebih sakit sekarang daripada sakit terusan. Mas tak boleh menyerah pada Amanda. Mama mas memang diberi racun oleh Amanda melalui pembantu. Darman sudah akui itu. Kalau mama Agra memang meninggal karena pendarahan."


"Astaghfirullah...sejahat itukah Amanda?"


"Sekarang tinggal tunggu kerja pihak berwajib usut Suhada terlibat tidak. Sania minta maaf harus penjarakan ayah sendiri kalau memang terlibat. Ayah biologis Ranti ada di kantormu. Namanya Yudi. Mas harus pantau ini orang. Kalau ada kesempatan depak saja kuman bakteri di lingkungan mas."


"Ya Allah...kok begini ribet? Enakan jadi montir tak perlu peras otak pikir ini itu?" keluh Rangga belum bisa cerna mengapa orang mau buat jahat. Jalan terang selalu terbuka mengapa mau meraba dalam kegelapan.


"Emang cucian main peras..!"


"Otak mas seperti diremas-remas mesin cuci. Pusing nyeri."


"Mati dong di setrika."


"Ngak bakalan asal tukangnya nona Lisa yang bawel. Sania dukung Mas ngelamar Lisa. Mas akan lebih kuat bila ada uluran sepasang tangan ajaib. Lisa akan gandeng mas terobos hutan tragedi. Aku punya Bara dan mas punya Lisa. Kita saling membahu bangun perusahaan peninggalan mamaku."


"Mas hanya membantumu dek! Setelah semua kelar mas akan urus doorsmeer di bengkel pak Bur. Tempat bukan sini."


"Jangan omong gitu mas! Mas harus tetap pimpin perusahaan untuk aku dan Agra. Aku punya suami tak mungkin melangkah pergi dari perusahaannya. Mas harus lebih kreasi tangani perusahaan. Lisa juga tak mungkin selamanya bantu mas."


"Emang kenapa? Dia mau resign?"


"Idiihh nih laki! Kalau mas kawini dia kan bisa hamil punya kecebong mas. Apa masih bisa bantu di kantor?"


"Oh itu...iya juga ya! Mas takkan cari sekretaris cewek yang bisa bawa sejuta penyakit bagi rumah tangga. Mas akan cari cowok saja."


"Terserah mas...semua berpulang pada iman mas. Kalau mas tak berpaling dari cinta sejati mas semua akan aman."


"Kita itu manusia dek! Bisa khilaf kapan saja. Sudah banyak kejadian dalam masyarakat bos selingkuhi bawahan hancurkan fondasi keluarga. Mas tak mau itu terjadi. Mas pilih main aman."


"Sania bangga pada Mas. Kapan rencana lamar Lisa?"


"Tunggu masalah kita kelar. Mas takkan ingkar janji."


"Syukurlah!"


"Jaga kesehatan ya! Jaga keponakan mas dengan baik. Agra rindu padamu. Kapan jumpa?"


"Nanti kukabari mas. Jaga Agra dengan baik! Dia aset kita yang berharga. Gimana kalau kukirim dia ke Belanda?"

__ADS_1


"Tidak...dia harus sama kita. Dia sudah lama kehilangan kasih sayang kita. Masak kita kirim dia jauh pula."


"Di sana dia akan dapat pendidikan lebih baik. Di sana ada yang ngerawat dia kok! Mas tak usah kuatir Agra terlantar."


"Lalu muncul Sania kw 2 berdarah dingin? Agra jangan sampai tak punya kehangatan batin macam kamu. Jiwamu keras kena kincir angin."


Sania tertawa geli Rangga sewot hendak dipisahkan dari Agra. Padahal niat Sania baik mau Agra dapat ilmu lebih banyak bila sekolah di luar negeri. Opanya pasti senang Sania kirim seorang anak untuk semarakkan rumah sebesar kastel di Belanda. Rumah itu terlalu sepi cuma ditinggali orang tua.


"Mas...percayalah padaku kalau Agra akan hidup layak dan jadi pangeran di Puri mewah. Sekolah terbaik di sana."


"Sania...niatmu memang baik tapi di sana dia tak punya siapa-siapa. Kita ini keluarganya. Masak kamu tega kirim anak kecil merantau jauh."


"Aku lebih kecil dari Agra waktu merantau ke luar negeri. Hidupku tak gampang karena punya tanggung jawab cari fakta kematian mamaku. Agra hanya perlu rajin belajar ikut jejakku menjadi mahasiswa berprestasi. Aku menaruh harapan pada Agra menjadi pengusaha sukses."


"Tak semua orang harus terobsesi macam kamu dek! Biar Agra tumbuh wajar tanpa tekanan. Kita bimbing sama-sama biar dia sukses."


"Iya mas...tawaranku tetap berlaku kalau mas berubah pikiran. Kita pilih langkah terbaik untuk adik kita."


"Iya...kau ke kantor?"


"Tidak...jadi tahanan rumah. Aku bosan dipingit."


"Yang sabar ibu muda...tunggu anakmu lahir baru kerja lagi!"


"What? Tunggu sembilan bulan baru boleh kerja? Peraturan dari mana itu?"


"Bukan peraturan tapi demi keponakanku! Kau ini ibarat robot hidup. Kerja tanpa ingat kondisi."


"Bukan gitu mas! Ini tuntutan jaman. Tak ada ruang bagi pemalas. Sania jamin bayi dalam perutku tetap tumbuh sehat walau induknya masih kerja. Sania bukan orang manja mas. Roda harus berputar."


"Capek omong sama orang berotak keras. Mas mau ajak Lisa makan siang. Kau sudah makan?"


"Sudah dong! Ibu hamil tetap terdepan."


"Ya sudah...mas tutup dulu."


Sania tersenyum lega bisa ngobrol dengan Rangga. Asal Rangga dalam kondisi stabil Sania sudah lega. Sania kembali ke tanah air dengan tujuan tegakkan keadilan juga cari abangnya. Berhasil jumpa Rangga dapat bonus adik kecil pula si Agra. Sania tak sangka akan dapat adik kecil.


Sania menyimpan ponselnya merebahkan diri di ranjang mewah Bara. Bagaimana keadaan kantor tanpa dirinya. Mampukah Bara handel beberapa proyek sekaligus? Berbagai dugaan bermain di otak Sania.


Bara bukan cowok romantis akan kabari setiap tindak tanduk. Kalau Bara laki pengertian pasti akan telepon tanya kabar bini yang sedang hamil muda. Dari tadi tak satupun berita dari kantor. Sania tak mau sok manja minta perhatian Bara.


Semua berpulang pada Bara. Sania mau lihat sampai di mana kasih sayang Bara padanya. Memang sayang dari hati atau hanya sekedar rasa butuh. Butuh pendamping rumah dan kantor.


Sania istirahatkan badan dan otak sekaligus. Wanita ini mencoba pejamkan. mata usir segala keruwetan sesaat. Masih banyak tugas di depan mata Sania. Soal Suhada dan Amanda cukup menyita alam pikiran Sania.


Perlahan Sania terbenam dalam buaian mimpi. Ntah apa hiasi mimpi wanita muda ini. Di raut wajah tampak Sania tidur dengan damai. Ini menyirat Sania tidak mimpi buruk.


Sania terbangun oleh hembusan nafas kasar panas di pipi. Seraut wajah tampan berada di depan wajah Sania tersenyum hangat.


Sania menggeliat manja merentangkan tangan cari posisi nyaman. Bara perhatikan gerakan Sania tanpa niat mengusik putri tidurnya.


"Lieve..kok pulang?" tanya Sania melirik jam digital di samping desk lamp. Baru jam dua siang. Belum waktunya pulang kantor. Mengapa Bara pulang jam gini.


"Aku rindu maka pulang lihat kamu!" Bara berkata hadiahkan kecupan mesra di atas bibir mungil Sania.


"Kan bisa telepon. Untuk apa pulang pergi."


"Beda telepon dengan lihat langsung anak bini aku. Hatiku lega melihat kamu sehat. Sehatkan badan biar buah hati kita cepat gede. Aku tak sabar ingin jumpa mereka." Bara mengelus pipi mulus Sania yang sedikit kurus gara-gara banyak beban hati.

__ADS_1


__ADS_2