MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Bersikap Jujur


__ADS_3

Di dalam apartemen Sania tampak Agra dan Rangga asyik lihat pemandangan dari tingkat sembilan ke bawah jalan raya. Tak ada pemandangan indah selain lihat kenderaan lalu lalang di jalanan. Apartemen Sania di pusat kota tak ada taman kota ataupun pemandangan bisa sejukkan mata.


Sania meneleponi seseorang minta diantar makan malam mereka. Sania pesan beberapa makanan lezat dari restoran ternama untuk manjakan lidah kedua saudaranya. Sania tahu kehidupan Rangga dan Agra sangat sederhana jarang makan enak maka Sania tak sayang uang demi bahagiakan orang orang tercinta.


"Agra...mandi sayang!" seru Sania setelah order makan malam mereka.


"Ya mbak.." Agra tinggalkan teras menuju ke arah Sania yang sudah menanti dia untuk mandi.


Sania menarik Agra menuju ke satu pintu kaca untuk lakukan ritual bersih bersih setelah seharian kegiatan. Keringat dan abu pasti melekat di kulit tanpa diundang. Saatnya sejukkan diri dari segala keruwetan seharian.


"Mandilah! Bisa gunakan shower? Sini tak ada bak mandi selain bathtub. Agra boleh berendam kalau suka tapi tak boleh lama. Sudah senja. Nanti masuk angin." Sania membuka pintu kaca perlihatkan kamar mandi lux.


Agra terkagum lihat komposisi kamar mandi yang sangat jauh beda dengan kamar mandi di panti maupun di rumah Bu Bur. Di sana ada bak penampung air berisi air untuk guyur tubuh. Sini hanya ada shower dan bathtub kosong tanpa air. Agra bingung mau mandi pakai apa?


Sania menyadari kegalauan sang adik tak menemukan air setetespun dalam kamar mandi. Yang namanya mandi yang diutamakan tentu air dan sabun. Ini tak ada objek utama yakni air.


"Sayang...buka kran ini! Akan keluar air sendiri. Ada panas dan dingin. Dan bak ini untuk Agra berendam." Sania terangkan cara mandi ala orang kota. Satu persatu Sania terangkan sedetail mungkin agar jangan ada bahaya bila Agra kena air panas.


Agra angguk angguk tertarik mandi ala orang kota. Terdengar sangat luar biasa. Mandi air kucuran air hujan. Lajang cerdik ini cepat menangkap semua pelajaran yang diberikan Sania. Kelihatan Agra suka diperkenalkan teknologi kekinian.


"Agra ngerti mbak!" ujar Agra semangat ingin cepat mandi untuk rasakan perbedaan mandi ala orang kampung dan orang kota.


"Hati hati ya! Jangan mandi terlalu lama! Nanti masuk angin." nasehat Sania sebelum ijinkan Agra gunakan kamar mandinya.


"Siap bos."


Pintu kaca itu tertutup perlahan. Sania tersenyum bayangkan sang adik nikmati mandi pertama tanpa bak mandi. Semoga Agra suka.


Sania menemui Rangga yang kelihatan sedang berpikiran. Wajahnya kusut lagi seperti pakaian baru dicuci diperas hingga tak karuan. Apalagi jadi beban laki ini.


"Mas..tak suka tinggal sini?" tanya Sania perlahan di belakang Rangga yang masih melayangkan mata ke arah jalan raya.


Rangga balik badan hadap Sania. Mata Rangga agak redup tak pancarkan rasa senang walau berada di tempat mewah. Bukan kemewahan yang diharap Rangga namun rasa nyaman hidup bersama adik adiknya. Gaya hidup Sania yang sangat bertentangan dengan dirinya buat Rangga berpikir dari mana kekayaan sang adik.


Rangga meraih Sania lalu memeluknya tanpa bersuara. Rangga ingin kasih tahu bahwa dia sayang Sania apa adanya. Tak perlu segunung uang bila tanpa rasa nyaman.


Sania membalas pelukan Rangga merasa nyaman. Sania merindukan saat saat demikian. Dapat perhatian dari abang tersayang.


"Dek...kau mau jujur sama mas?" tanya Rangga tanpa melepaskan pelukan.


"Jujur apa? Emang Sania pernah bohongi mas Rangga?"


"Mas tak mau kamu salah langkah cari materi tak halal. Kita bisa hidup bahagia tanpa perlu kemewahan. Mas akan jaga kalian sampai waktu kalian bisa dilepas. Tinggalkan bosmu! Dia sudah punya keluarga. Mas yang akan rawat kamu. Kita mulai dari awal walau tanpa apapun."


"Mas..uangku semua halal. Mari duduk biar Sania jelaskan dari mana dana di kantong Sania." Sania menuntun Rangga duduk di sofa. Rangga yang penasaran ikuti langkah Sania dengan harapan dapat jawaban memuaskan.

__ADS_1


Rangga duduk di sisi Sania menanti cerita jujur dari gadis muda ini. Semoga tak ada kebohongan dalam cerita Sania.


"Ceritakan!"


Sania memejamkan mata berusaha kumpulkan semua cerita lama yang dia lalui setelah mamanya meninggal. Kenangan buruk yang bikin hidupnya sengsara. Maka itu Sania dendam pada Suhada walau itu papanya.


"Sehari setelah mama dimakamkan aku ditinggal di rumah bersama Bik Ani. Tak ada orang datang hibur aku. Hari itu datang omku dari Belanda. Beliau bawa aku balik ke Belanda. Aku harus mulai hidup baru di tempat yang sangat asing. Setahun di Belanda Sania diungsikan ke State untuk sekolah di sana. Sania ikut ujian negara untuk tingkat SMP dan lulus. Sania masuk sekolah tingkat SMA dalam usia muda. Usia empat belas tahun aku ikut test masuk university Harvard dan lewat. Aku kuliah di jurusan arsitektur. Selesai dala waktu empat tahun lalu lanjut jenjang S2. Di samping aku gunakan waktu luang ambil jurusan design grafik untuk lengkapi design bangunan yang bakal kubangun. Semua selesai saat aku berusia dua puluh tahun. Aku magang setahun di perusahaan opa di Belanda baru pulang ke Indonesia. Lalu aku lamar kerja di PT BUILD BARATA. Selanjutnya Mas tahu ceritanya." Sania buka rahasia yang tersimpan siapa dia sesungguhnya. Sania tak mau tutupi siapa dirinya karena ketulusan Rangga.


Rangga termenung bayangkan bagaimana seorang gadis kecil berjuang selesaikan kuliah lebih cepat dari orang untuk pulang laksanakan misi terpendam.


"Kau menderita dek?"


"Aku belajar pagi siang malam tak kenal waktu untuk jadi orang besar. Opa wariskan seluruh warisan padaku. Aku punya beberapa perusahaan besar di luar negeri. Jerman, Belanda dan Amerika. Itu semua hadiah dari Opa yang katanya hak mamaku."


"Ya Allah..maafkan mas telah berpikiran negatif padamu! Mas pikir uangmu dari tipu tipu bos kaya." Rangga meraih tangan Sania lalu mengecupnya.


Sania tertawa kecil maklumi kecurigaan Rangga. Siapapun akan berpikir negatif melihat seoarng gadis muda hidup dalam gelimang harta. Uang seperti tak berharga. Nyatanya Sania punya backing sangat kuat.


"Mas jangan cerita pada siapapun karena nyawaku akan terancam bila Amanda tahu aku telah kembali. Dia pasti akan celakai aku. Mas tahu sifat nenek sihir itu kan?"


"Mas janji tapi berjanjilah hidup sederhana! Harta itu tak abadi. Andai kita tak pandai kelola semua akan hilang. Gunung emas akan runtuh bila dicangkul terus. Kau paham maksud mas?"


Sania mengangguk bersyukur punya abang baik. Rangga tetap abang sempurna bagi dia daan Agra. Rasa bangga Sania terhadap Rangga makin kental. Tak salah bila Sania menaruh harapan pada Rangga untuk bangun perusahaan PT Sunrise yang sebentar lagi akan beralih kepemimpinan.


"Mas..rahasiakan Sania dan Agra dulu karena kita tak tahu bagaimana sikap Amanda dan Suhada. Otak mereka kotor. Tak tik mereka selalu pakai cara kotor habisin orang yang dianggap lawan."


Sania tertawa nama Bara terbawa lagi dalam obrolan mereka. Wajar seorang abang tak rela adiknya dinikahi hanya jadi isteri muda. Sania bukan wanita hanya bermodal tampang. Punya otak dan materi cukup mengapa rela jadi bini muda. Ini yang buat Rangga tak habis pikir.


"Mas kami menikah karena ada perjanjian antara kami. No love dan no keintiman. Hanya ada janji saling menguntungkan. Mas tak usah kuatir. Sania tahu arah ke mana melangkah. Mas jaga Agra baik bik saja. Untuk beberapa hari ke depan Sania akan sibuk. Mungkin tak bisa datang jenguk kalian."


"Yang kau bilang itu benar? Kau dan Bara hanya kawin saling menguntungkan?"


"Ya..Sania perlu perisai untuk hadang Bobby dan batu loncatan untuk raup proyek. Bara itu laki baik. Isterinya sakit parah tapi dia tetap setia rawat isterinya. Laki macam gitu sudah langka. Dia juga sopan padaku. Mas tenang saja ya!"


"Semoga yang kau bilang itu benar. Oya masalah tanah samping bengkel mungkin jadi kita ambil. Mas lihat masa depan bengkel Pak Bur bakal cerah bila ada doorsmeer rencanamu. Mas kerjakan sesuai harapanmu?"


"Lanjut. Kantong kita akan bertambah penuh kalau doorsmeer kita bisa lancar. Mas kelola baik baik agar uang Sania tidak sia sia. Gunakan uang di kartu dengan bijak ya." Sania beri semangat pada Rangga agar jangan ragu buka lapangan baru. Jadi montir bengkel masa depan Rangga hanya bisa mentok di situ. Tak ada perkembangan kalau hanya andalkan bongkar mesin mobil.


"Mas akan urus untukmu. Tapi kamu juga harus hemat. Jangan boros!"


Sania angguk janji akan ikuti saran Rangga hidup lebih hemat. Niat Rangga sangat baik. Rangga tentu memikirkan hari depan yang makin berat. Belum lagi biaya hidup Agra yang tak mungkin andalkan keluarga Lisa selamanya.


"Eh...Agra mandi kok lama? Coba periksa!" Rangga tiba tiba ingat sang adik mandi sudah lewat waktu batas wajar.


Sania tersentak baru sadar Agra masih dalam kamar mandi. Sudah cukup lama anak itu berada dalam kamar mandi. Sania segera bangkit ketok pintu kaca kamar mandi.

__ADS_1


"Agra.." seru Sania kuatir.


"Ya..bentar lagi mbak. Tanggung nih!" terdengar jawaban riang dari dalam.


"Tanggung apa? Nanti masuk angin bro." balas Sania lega karena Agra baik baik saja. Apa yang dikerjakan anak itu dalam kamar mandi. Main air atau kesenangan rendam dalam bathtub.


"Agra lagi berendam air hangat."


"Oh..jangan lama ya!" Sania tinggalkan Agra yang masih ingin main di bathtub. Bagi lajang itu mungkin bathtub adalah mainan baru . Sania biarkan Agra nikmati mandi ala orang kota.


Sania kembali temui Rangga yang masih berenung di sofa. Rangga heran mengapa punya orang tua macam keluarganya. Di mana mana orang tua akan lindungi anak sendiri namun orang tua mereka malah berusaha singkirkan anak sendiri. Macan yang ganas saja selalu lindungi anaknya untuk dimangsa hewan liar lain. Mengapa orang tua mereka tega korbankan mereka demi materi.


Rangga tak habis pikir hukum alam pada diterapkan keluarganya. Sistim kanibal atau sistim anut ilmu hitam harus korbankan anak anak untuk jadi tumbal supaya cepat kaya.


"Mas..betah amat melamun. Jauh jodoh!" Sania menempatkan bokong indahnya di sisi Rangga.


Rangga jawab dengan helaan nafas. Masih ada beban di dalam hati laki itu walau Sania sudah jujur buka jati diri pada abangnya. Masih ada beban apa lagi.


"Dek...kita ini korban apa? Kenapa ada orang tua macam gitu? Papa gila perempuan dan mama Amanda gila harta." keluh Rangga belum bisa cerna pola pikir kedua orang tua mereka.


"Korban masa lalu. Amanda itu licik umpat Suhada dengan wanita. Amanda datang dari keluarga berantakan. Dia rela berbagi suami asal Suhada anteng bisa jerat wanita bodoh kaya. Setelah dapat ya dihabisin." sahut Sania enteng. Sania buka orang tolol tak pandai baca situasi. Amada sengaja biarkan suaminya terlena sama wanita kaya gunakan wajah rupawan nya. Suhada sangat ganteng berkharisma. Wanita manapun akan bertekuk lutut padanya. Ntah berapa wanita dibodohi pasangan ini. Sania tak mau cek lagi. Yang Sania utamakan saat ini adalah buat kedua orang itu kapok.


"Apa rencanamu?" Rangga tahu Sania takkan tinggal diam lihat kedua orang itu makin merajalela.


"Kita tunggu saja karma datang. Oya rumah peninggalan mamaku gimana?" Sania teringat rumah mamanya yang cukup mewah di kawasan elite.


"Mau dijual tapi tak ada sertifikat. Rumah itu disewakan oleh Amanda pada pegawai bank. Selebihnya aku tak tahu."


"Mereka tak cari sertifikatnya?" pancing Sania.


"Kau rasa ada harimau lapar tak buru mangsa? Mereka sudah obrak abrik rumah tak temukan apapun. Sepertinya sertifikat ada sama seseorang."


Sania tertawa sinis. Orang licik macam Amanda pasti gregetan tak temukan surat berharga di rumah peninggalan mamanya. Sania tahu persis di mana semua surat berharga mamanya. Namun belum waktunya Sania keluarkan kartu truf jatuhkan orang jahat itu.


"Ada masanya semua kembali pada pemilik asli. Mas harus bela yang benar ya! Jujur ya mas di mataku tak ada kata papa. Dia cuma musuhku."


"Mas paham maksudmu. Kematian mamamu memang sangat ganjil. Mana ada orang ngantuk sampai tabrak orang di depan sekolah."


"Aku sudah minta orang selidiki Darman. Dia pengangguran. Setelah keluar dari penjara sempat kerja sama Amanda tapi ntah kenapa dia berhenti."


"Kau yakin?"


"Yakin..mas tunggu saja kabar tentang Darman. Akan kuseret orang itu kembali ke penjara. Kalau perlu hukuman mati. Mas camkan kata kataku."


Rangga bergidik melihat pancaran sinar membunuh di retina mata adiknya. Dendam membara rajai seluruh tubuh gadis cantik itu. Ntah bagaimana Sania jalani hari hari penuh dendam membara dalam hati. Sania seakan hukum diri sendiri dengan belajar mati matian agar kembali menjadi manusia multiguna.

__ADS_1


"Dek...mas tak larang kamu berbuat apapun pada orang yang sudah rengut masa bahagiamu tapi jangan terlempar terlalu jauh ke dalam jurang dendam. Mas takut kau tak bisa balik ke atas."


"Sania sudah persiapkan semua dengan matang. Cuma sayang Sania tak sangka Bobby akan tergoda Ranti. Sebenarnya Bobbylah harapanku lawan Suhada. Sekarang ganti cerita harap Bara."


__ADS_2