
Bara ingin sekali meninju wajah songong Bobby. Apa mau Sania beri kesempatan pada Bobby padahal minggu depan mereka akan menikah.
Sania ngerti amarah Bara maka secara diam diam menyentuh tangan Bara beri kode agar tenang. Bara melirik sentuhan Sania barulah merasa tenang.
Apa rencana Sania kalahkan orang angkuh itu. Sok hebat mampu kendalikan gadis berotak keras macam Sania.
"Sania...katakan apa maumu? Beli mobil baru atau rumah baru?" buru Bobby tak sabar hendak ajak Sania balik ke kantornya.
"Melihat semangat Pak Bobby maka kuberi kesempatan. Aku mau bapak adakan konferensi pers umumkan kalau bapak menikah dengan Ranti karena dijebak. Kalian akan bercerai setelah anak itu lahir. Aku tunggu kalian bercerai baru akan beri jawaban pasti."
Wajah Bobby berubah pucat diberi permintaan mematikan. Tak mungkin dia umumkan kalau pernikahannya dan Ranti karena hamil sebelum nikah. Apalagi menyangkut Ranti menjebaknya. Ranti orang ternama dipuja sebagai idola. Sangat tak mungkin diturunkan berita begini. Ranti bisa ngamuk kalau Bobby berani umumkan berita ini.
"Tak mungkin...Ranti bisa marah. Dan lagi kau hanya calon bini muda. Mana ada hak bicara keras padaku?"
"Hak? Aku tak pernah minta hak itu dan aku tak mau jadi bini sirimu. Di dunia masih banyak laki baik. Tidak munafik bohongi orang. Aku masih bisa memilih semauku. Untuk apa bapak yang tak setia. Mungkin tukang ojek lebih baik dari bapak." mulut pedas Sania mulai perlihatkan rasa pedas cabe rawit. Kecil namun pedas minta ampun.
Bara ingin tertawa melihat wajah Bobby memucat diserang Sania. Apa Bobby tak tahu mulut Sania bisa keluarkan kalimat melebihi racun sianida.
"Ok...mulai saat ini jangan muncul di hadapanku lagi! Aku tak butuh sayangmu. Di kaki lima banyak kok sayang model bapak. Pak Bara juga bisa kasih sayang model gitu. Ya kan Pak Bara?" Sania sengaja bermuka manis pada Bara.
Bara mengangguk bikin Bobby makin kheki. Sejak kapan Sania tumbuh sayap terbang tinggi melambung ke atas. Sania bukan gadis patuh yang bisa disetir sana sini untuk melobi proyek. Sania sudah berubah total. Tidak seperti dulu bisa dirayu langsung diam.
"Sania sayang kenapa kamu berubah? Biasa kamu tenang tidak terpancing gosip. Kita ini hanya korban keadaan. Aku akan adil sama kalian. Dalam agama laki kan boleh berbini dua. Kau tahu dalil itu kan?" Bobby belum menyerah merayu Sania kembali ke pelukannya.
"Maaf ya pak! Aku tak mau masuk dalam hidupmu lagi. Sudah cukup semua kebohongan bapak. Bapak pikir aku anak SD gampang didiamkan asal ada rayuan gombal? Bapak salah...bagiku masa lalu biar jadi abu! Terbang tak bersisa."
Bobby tertegun dibuat oleh Sania. Gadis ini sangat tenang tak menampakkan kesedihan ditinggal Bobby. Benarkah Sania sudah melupakan kisah cinta mereka? Kisah cinta berbalut kepalsuan.
"Sania sudah cukup buat onar. Ayok balik kantor! Aku akan melupakan semua kesalahanmu pergi tanpa pamit. Kita kembali seperti biasa. Bulan depan kita nikah siri dulu. Setelah Ranti melahirkan kita baru nikah resmi. Itu maumu kan?" Dengan pedenya Bobby berkata seolah Sania anak kecil mudah dikadali.
Bara sudah gatal tangan ingin hajar Bobby yang anggap Sania tak ada nilai sama sekali. Sania lain lagi. Gadis ini pingin cakar muka licin Bobby supaya tahu rasa sakit dipermainkan.
"Jangankan nikah siri! Dinikahi resmi aku juga menolak. Bapak punya otak ngak? Baru umumkan pernikahan mewah sekarang mau nikahi aku. Apa kata orang seorang pemimpin perusahaan selingkuhi isteri sedang hamil. Aku pelakor?"
"Bukan gitu! Kau tetap orang kucintai. Jadi isteri mudaku kan tak jelek. Untuk sementara kita sembunyikan pernikahan kita. Tunggu aman baru kita umumkan."
"Dasar bajingan kau! Kau pikir aku barang haram harus disembunyikan? Pergilah dari sini sebelum kata kataku makin tak sedap. Ingat! Kita tak ada hubungan apapun lagi. Jangan datang cari aku!" Sania mulai kehilangan rasa sabar karena kata kata Bobby meremehkan nilainya. Di mata Bobby dia cuma gadis tolol tak berguna. Kapan saja bisa dipanggil balik kantor. Semaunya.
"Sania...kenapa jadi kasar? Biasa kau manis penurut. Aku sudah mau nikahi kamu sudah harus bersyukur. Siapa mau sama kamu? Satpam atau tukang sapu gedung?" Bobby juga mulai keras karena Sania tak mau patuh. Maunya Bobby, Sania tersanjung dinikahi pengusaha kaya macam dia.
"Siapapun suamiku tak masalah. Yang penting bukan kamu. Silahkan keluar dari kantor ini! Ini bukan kantormu jadi tak usah arogan! Maaf Pak Bara aku kembali kerja! Bukankah besok kita akan melakukan peletakkan batu pertama? Aku mau tinjau lokasi." Sania keluar dari ruang kerja Bara tak mau melihat tampang Bobby lagi.
Bobby mendecak marah gara Sania berubah jadi garang. Kucing manis yang biasa mengeong manja telah tumbuh jadi macan ganas. Tak ada kelembutan tersisa dalam diri Sania.
Sania tampak dewasa juga lebih tegar. Tak ada kesedihan di wajah cantik itu. Bobby akui Sania jauh lebih cantik dari Ranti namun gadis ini bukan orang terpandang bisa naikkan pamor Bobby.
Bobby sengaja bilang Sania biasa saja untuk jatuhkan mental gadis ini biar balik padanya secara suka rela. Siapa sangka Sania kini jauh lebih kuat serta lebih dewasa.
__ADS_1
"Silahkan pak Bobby! Kami masih banyak kerja. Jangan bikin onar di kantor! Aku tak segan bila anda lewat batas. Sania itu Karyawanku saat ini. Kuharap anda hormati Sania." Bara membuka pintu ruangnya meminta Bobby tinggalkan kantornya.
Bobby menghela nafas tak terima kalah dari seorang gadis kecil. Harapan Bobby bawa Sania balik ke kantornya pupus sudah. Tak ada gelagat Sania bakal luluh oleh rayuannya.
Bobby pergi dari kantor Bara dengan segunung rasa kesal. Amarah setinggi gunung Himalaya mendekam dalam hati. Mega proyek milik PT SHINY akan makin jauh. Sania memiliki semua konsep tentang proyek itu. Gampang saja dia tembus Mega proyek milik PT SHINY. Rencana Bobby bodohi Sania gagal total. Sania telah berubah. Gadis ini telah menjadi gadis kuat tak tangisi kemelut masa lalu.
Bara keluar dari ruangnya menemui Sania. Bara takut Dan Sania syok didatangi Bobby saat jam kerja. Bobby memang salah telah melangkahi hak Bara sebagai pemimpin. Bara bukannya tak mau kasar pada Bobby tapi berharap Sania sendiri atasi manusia bermoral rendah macam Bobby.
"Kau tak apa?" tanya Bara pelan
Sania menatap Bara sesaat lalu beri senyum hambar. Sejujurnya Sania ada sedikit terguncang kehadiran Bobby. Untunglah bisa teratasi walau harus ada kata kata tak sopan.
"Aku tak apa pak! Tak usah bahas manusia itu lagi. Kita fokus ke proyek kita."
"Proyek yang mana? Yang utama atau proyek Pak Wandi?"
Sania tahu arah bicara Bara. Secara halus Bara ingatkan proyek utama mereka yakni menikah. Bara mau ingatkan Sania untuk buat persiapan jelang hari H. Sania orangnya cuek bebek. Jangan jangan nanti dia pakai celana jeans dan kemeja jadi pengantin.
"Aku sudah siapkan semua pak.Tak ada kendala." Sania menyahuti kecemasan Bara. Sania tak mau bahas masalah mereka di kantor. Takut keceplosan.
"Baiklah! Fokus kerja!" Bara meninggalkan meja Sania balik ke ruangnya. Bara melirik sekali lagi ke arah Sania sebelum masuk ruangan. Bara mau yakinkan diri sendiri Sania tak tergoncang oleh kehadiran Bobby.
Sania tampak aman maka Bara merasa lega. Beberapa hari lagi Sania akan jadi bagian dari hidupnya. Tugasnya adalah melindungi wanita yang sebentar lagi menyandang gelar bininya.
Bobby kembali ke kantornya dengan hati kesal. Tujuan utama Bobby bukanlah Sania tapi rancangan proyek di tangan gadis itu. Jauh hari Sania sudah dapat bocoran proyek ini maka luangkan waktu survey lokasi proyek dan pelajari segala yang berhubungan dengan proyek ini.
Sania urusan belakangan. Sania mudah diatur. Asal dijanji nikah semua akan aman. Tak disangka semua rencana Bobby berantakan.
Rugi puluhan milyar juga kehilangan proyek. Itulah yang didapat Bobby sebagai ganjaran berbohong. Segala sesuatu yang diawali niat busuk hasilnya pasti buruk.
Bobby sudah menuai karma buruknya.
Sesampai di kantor sudah ada isteri tercinta di ruang kerjanya. Ranti menunggu suaminya sambil tiduran di sofa. Tak dipungkiri Ranti jauh lebih Lux dari Sania. Dari segi penampilan dan cara berpakaian Ranti menang total.
Ranti seorang publik figur tentu harus tampil sempurna walau sedang hamil. Ranti pandai ambil hati sang suami dengan gaya sok imut.
"Sayang...dari mana? Aku sudah lama menantimu." Ranti segera bergelayut manja pada Bobby.
Bobby meraih pinggang Ranti lalu mengecup bibir bininya mesra. Hati Bobby terasa nyaman setelah jumpa Ranti. Mungkin bayi dalam perut Ranti mampu meredakan emosi Bobby.
"Aku cari Sania."
"What? Kau gila ya?" bentak Ranti marah. Ranti tak peduli pegawai lain dengar suaranya. Dia adalah isteri resmi Bobby. Bobby katakan mencari mantan pacar sama saja selingkuh.
"Aku ajak dia balik sini. Aku akan nikahi dia Ranti. Kau harus terima dia supaya Mega proyek kita tak lolos ke tangan orang lain."
Ranti mendorong dada Bobby menjauh darinya saking kesal pada lakinya. Seenak perut mau nikah lagi padahal mereka kawin baru beberapa bulan.
__ADS_1
Wanita mana rela dimadu. Ranti punya segalanya untuk diberi pada Bobby. Nama besar, anak juga tampang cantik bintang top. Apa kurang dia sampai Bobby tega nikah lagi.
Alasan proyek sangat tak masuk akal. Kekayaan Bobby sekeluarga sudah cukup dimakan tujuh turunan. Hilang satu proyek takkan bawa akibat buruk.
"Tak boleh...aku tak ijinkan kau nikahi ****** itu."
"Sania tidak ******. Dia anak baik. Yang ****** itu kita. Kita yang sudah main di belakangnya. Kau harus sadar itu. Kau yang rebut haknya." kata Bobby putus asa Ranti tak mau diajak kerja sama.
"Dia siapa? Bukan siapa siapa. Aku yang bintang top. Semua memujaku. Tenang saja Bob. Aku akan melobi proyek itu untukmu. Siapa bisa menolak permintaan bintang tenar macam aku." ujar Ranti sombong.
Ingin Bobby maki Ranti tak berotak. Proyek tak ada hubungan dengan bintang top. Investor mana mau pertaruhkan dana hanya untuk menyenangkan hati seorang bintang tak ngerti proyek. Cara pikir Ranti dangkal tak bisa diandalkan.
"Capek bicara denganmu! Pulanglah! Di sini tempat kerja bukan tempat omong kosong."
Ranti gusar disuruh pulang oleh Bobby padahal niat Ranti datang mau ajak Bobby temani dia belanja. Sambutan Bobby jauh dari dugaan Ranti.
"Bob...aku mau beli peralatan untuk bayi kita. Kenapa kau tak sayang pada anak sendiri?" tegur Ranti mewek cari perhatian Bobby.
"Ranti... anakmu baru tiga bulan. Belum penting belanja. Aku sedang pusing jadi pulanglah!" Bobby tak berdaya bila sudah libatkan anak. Ranti pandai ambil kesempatan curi perhatian Bobby agar hanya tertuju padanya.
"Aku tak mau. Aku mau belanja. Ini permintaan anakmu." rengek Ranti bikin kepala Bobby makin mumet.
Ranti tak tahu bagaimana pentingnya proyek PT SHINY bagi perusahaan. Siapa saja yang berhasil menang tender proyek itu otomatis namanya akan berkibar di jasa konstruksi. Tawaran kerja pasti akan mengalir bak kran bocor.
"Ranti...aku mohon kamu pulang. Sakit kepalaku mikir proyek. Kamu tambah lagi. Besok kita belanja. Aku janji."
Bobby melemah tak ingin Ranti stress keinginan ditolak.
Bobby sayang sekali pada anaknya. Di usia begini wajar punya keturunan. Usia Ranti juga sudah cukup untuk melahirkan.
"Baiklah papa! Besok kita belanja." Ranti mengalah tatkala melihat wajah Bobby memang kuyu.
"Pulanglah! Diantar Mang Kasim kan?"
"Iya...awas kalau berani janji nikah sama pelakor murahan itu. Aku takkan maafkan kamu." ancam Ranti sebelum meninggalkan kantor Bobby.
Bobby menggaruk kepalanya yang tak gatal. Makin Faruk makin pusing. Bobby pusing harus pakai cara apa rebut Sania kembali ke sisinya. Sania tampaknya sudah tutup mata terhadap Bobby. Tak ada sikap manis dalam diri Sania lagi.
Senyum lembut nan manja tak terukir di raut wajah cantik itu. Tinggal tatapan dingin ingin habisin Bobby. Bobby pantas dapatkan perlakuan kasar Sania soalnya laki itu tak pernah anggap Sania sebagai calon bini selain jadi sapi perah.
Sania sudah merdeka nikmati kebebasan memilih jalan ke depan. Tak perlu ingat kenangan bersama Bobby yang tinggalkan kesan indah.
Bara dan Sania disibukkan oleh dimulainya kerja proyek Pak Wandi. Bara berusaha beri yang terbaik untuk meraih simpatik investor baik macam Pak Wandi. Bara juga tak mau bebankan semuanya pada Sania. Gadis muda ini sudah cukup kerja keras untuk perusahaan.
Sania tak segan turun lapangan ijinkan cahaya Surya membelai kulit mulusnya. Sania tak takut jemuran sinar matahari demi tugas.
Bara baru sadar kalau karyawan sekaligus calon bininya adalah pekerja keras. Tidak manja merengek ini itu. Sania betul betul pegawai profesional.
__ADS_1
Bobby sudah katarak tak dapat melihat barang bagus. Membuang berlian untuk beling tak bermanfaat. Bara yakin suatu saat Bobby akan menyesal telah campakkan Sania untuk Ranti. Ranti hanya bintang tanpa keahlian apapun.