
Sania menjadi tak enak hati menyusahkan mertua. Tak seharusnya Bu Jaya melayani Sania. Justru Sania yang harus melayani sang mertua untuk tunjukkan bakti sebagai menantu. Semua terbalik.
"Lieve...aku tak enak hati menyusahkan mama." bisik Sania takut terdengar yang lain.
"Sekali ini boleh karena kamu lelah. Besok kamu yang harus jaga mama." Balas Bara meredakan rasa kuatir Sania. Sedikitpun Bara tak salahkan Sania saat ini. Gadisnya telah berjuang untuk perusahaan keluarga. Andai Sania tak turun tangan maka papanya akan mengalami kerugian sangat besar.
"Ya Lieve.."
Bu Jaya menghidangkan roti tawar telah diolesi cokelat dan segelas teh hangat. Bu Jaya dengan senang hati melakukan untuk Sania sang penyelamat keluarga. Sania agak grogi dilayani orang yang seharusnya dia layani.
"Ma...terima kasih!" kata Sania malu. Kalau malu terus cacing di perut akan meronta minta diperhatikan. Sekali cacing menggeliat terdengar bunyi kriuk nyaring.
"Makanlah! Lalu istirahat. Bukankah besok kita semua masih ada kegiatan?" Bu Jaya bijaksana tak masalahkan harus merendah diri melayani sang menantu.
"Ayok kita tidur! Bara kan bisa jaga bininya." Pak Jaya tahu diri tak ingin jadi nyamuk di antara Bara dan Sania.
"Oiya...ayo Fadil masuk kamar! Bukankah besok kamu harus urus alat beratmu?" Bu Jaya menarik Fadil agar masuk kamar tak ganggu kemesraan suami isteri itu.
Bukan Fadil namanya kalau langsung patuh pada mamanya. Fadil tak rela Sania harus ditinggal bersama Bara. Fadil sudah ancang-ancang rebut Sania setelah Nania meninggal. Fadil tahu kalau Bara dan Sania menikah karena Nania. Batu penghalang sudah tiada. Tunggu bagaimana Fadil usik hubungan mereka sampai Bara rela lepaskan Sania.
"Aku masih betah ngobrol sama Sania. Mas Bara aja tak keberatan. Ya kan mas?" Fadil mengerjakan mata sok imut.
"Sangat keberatan. Pergi sono!" usir Bara pasang wajah jawara Betawi. Sangar mengerikan.
"Sirik amat! Tuh Sania saja mau kutemani! Mas Bara pergi tidur saja." Fadil tetap kekeuh tak mau beranjak dari tempat duduk semula.
Pak Jaya gemas lihat Fadil masih betah ganggu Sania padahal jelas Sania adalah kakak ipar. Fadil tak boleh mengharap apapun dari tubuh gadis itu.
"Fadil...ayok ikut papa!" Pak Jaya terpaksa sedikit keras untuk halau nyamuk nakal terbang sekitar abangnya.
Suara kepala rumah tangga tak bisa dibantah. Fadil terpaksa bangkit dengan wajah suram menuju ke kamarnya di ujung rumah. Kamar Fadil memang sengaja dibuat terasing atas permintaan lajang itu. Fadil sengaja minta kamar di ujung rumah untuk hindari keributan. Kadang Fadil suka setel musik keras sementara sang mama suka musik ringan.
Di ruang tamu tinggallah Sania dan Bara. Sania lega bisa nikmati roti tanpa rasa segan lagi. Sepotong roti itu terasa nikmat di saat lapar gini. Di tambah teh hangat sebagai pendamping membuat perut makin nyaman. Bara perhatikan Sania mengunyah roti dengan seksama. Makin cantik bini mudanya. Kenapa Sania makin menarik hati? Mungkinkah dia telah jatuh cinta?
"Ada kotoran di wajahku?" tanya Sania melihat Bara asyik tatap wajahnya. Sania menyentuh sudut bibir takut ada ketinggalan coklat di sana.
"Aku rela jadi kotoran di sudut bibirmu agar bisa dekat dengan bibir ceri mu." gombal Bara tanpa sadar. Ntah dari mana ide ngerayu bini di tengah malam buta.
Sania nyaris tersedak tak percaya kulkas lima pintu bisa keluarkan rayuan macam Fadil. Kalau Fadil ngerayu itu sudah biasa. Anak lajang itu memang ahlinya jadi perayu ulung.
"Apa itu kamu Lieve?" Sania masih tak percaya di hadapannya adalah Bara.
"Kamu harap siapa?"
Sania tertawa kecil melihat Bara sewot dikerdilkan Sania. Di mata Sania sedemikian kaku kah dia?"
"Hhhmmm biasa judes kok sekarang pintar gombal. Lewat tengah malam Lieve berubah jadi sosok hangat ya!"
__ADS_1
"Dasar kamu...suami diejek! Kualat baru tahu. Cepat makan dan tidur!"
"Aku belum ngantuk. Tidur sampai sore mana ngantuk lagi. Aku mau kerja kan rancangan Pak Zainal malam ini."
"Tidak bisa...kau pasti capek."
"Lha? Kok Lieve yang ngotot aku capek? Emang kita ada kontak batin?"
"Malam kamu berubah cerewet. Ayo masuk kamar! Aku cepat tidur!" Bara tak beri kesempatan pada Sania untuk menolak diajak tidur. Sejujurnya Bara mengharap lebih dari sekedar tidur. Itu kalau Sania ijinkan. Percintaan yang tertunda tadi sore harus dilanjutkan agar ada Bara dan Sania junior. Bara sudah tak sabar ingin punya anak mengingat usianya sudah cukup untuk jadi orang tua.
Sania terpaksa ikut Bara naik ke tingkat atas masuk ke kamar mereka selama berada di rumah mertua. Langkah Bara tak sabar seakan takut ketinggalan pesawat. Sania patuh tak mau berdebat di tengah malam. Ribut hanya soal tidur sungguh menggelikan.
"Nah...sekarang Lieve tidur dulu! Aku mau bersihkan badan." Sania masuk kamar mandi tak peduli pada tatapan nakal Bara. Sania sengaja menghindar agar Bara tak banyak mengharap. Sania hampir saja hilang kontrol menyerah pada Bara tanpa perlawanan.
Sania tak ingin terjebak pada pesona Bara. Dulu dengan Bobby tak pernah ada kontak sedekat ini. Mereka pacaran dalam batas sangat sopan karena Sania selalu tekankan malam pengantin syahdu. Sania akan serahkan diri bila sudah sah jadi isteri Bobby. Siapa sangka Bobby yang sopan tega berbuat curang menghamili wanita lain.
Sania sengaja lama-lama di kamar mandi untuk hindari Bara yang sedang terbakar nafsu. Laki itu mungkin sudah terlalu lama memendam libido pria yang seharusnya tersalurkan. Namun Nania sakit maka Bara hanya bisa menelan air ludah menahan nafsu.
Jumpa Sania isteri muda namun tak bisa disentuh. Betapa sengsara hidup laki ini. Segala upaya harus Bara tempuh untuk luluhkan bini mudanya.
Sania intip Bara dari pintu kamar mandi. Sania mau lihat apa Bara sudah tertidur atau masih melek. Gerakkan Sania pelan tak timbulkan suara. Sania hati-hati sekali buka pintu.
Bara sudah tertidur pulas tanpa ganti baju tidur. Mungkin laki itu lelah menanti gadisnya bersihkan diri. Mandi berjam gini kulit bukan tambah bersih, mungkin sudah terkelupas ganti kulit baru.
Sania menarik nafas lega lalu keluar dari kamar mandi ikut berbaring di sisi Bara. Tak ada interaksi antara mereka lewati sisa malam menyambut pagi esok. Suasana sepi hinggapi sekeliling tanpa ada suara aktifitas. Semua terbuai mimpi sesuai hasrat hati. Semoga saja mimpi indah.
Mata indah Sania perlahan terbuka. Seraut wajah ganteng muncul persis di depan mata memberi senyum manis sebagai sambutan pagi cerah. Bara pancarkan pesona laki jantan apalagi kena pantulan cahaya terang dari balik jendela kaca. Laki itu laksana pahlawan dalam dongeng Yunani.
Sania terpesona sampai tak sadar membelai wajah ganteng di depan mata. Ntah karena pengaruh Mata ngantuk atau memang Belem sadar sepenuh dari tidur. Sania bermimpi jumpa pangeran tampan dari negeri ntah berantah.
"Pangeran ku...kau datang!" Sania keluarkan suara manja bahagia jumpa pangeran dalam dongeng.
"Iya aku datang jumpa Puteri tidur." bisik Bara lembut tak ingin Sania cepat tersadar dari pesona yang dia pancarkan.
"Peluk aku pangeran tampan! Kau datang dengan unicorn?" Sania makin ngawur tak sadar bukan berada di negeri dongeng.
Bara ingin tertawa geli melihat Sania sadar antara tak sadar mengira berada di alam mimpi didatangi pengeram menunggang kuda putih. Gadis ini terlalu banyak mengkhayal ingin punya pasangan pangeran tampan. Suami sendiri disangka Pangeran dongeng penunggang kuda putih.
Bara tentu saja dengan senang hati memeluk bini yang masih belum sadar sekali dari bangun pagi. Masih linglung mengira bermimpi.
"Aku mau terbang bersamamu ke langit membelah awan." desis Sania belum sadar yang dia peluk ada suami sendiri.
"Iya...kita akan terbang ke langit!" desah Bara terpancing gairah pagi. Padahal tadi niat Bara hanya ingin bangunkan Sania karena hari sudah siang. Sania tidur terlalu pulas sampai tak tahu matahari sudah tinggi menyinari persada.
"Aku mau..." ujar Sania linglung.
Bara mangut setuju mengantar Sania terbang ke langit penuh pelangi indah. Bara mulai dari bibir ceri lantas ke dua bukit kembar yang menantang. Ntah sejak kapan baju tidur Sania lari tinggalkan tempat dia berada sejak semalam. Pakaian Bara juga satu persatu jatuh sana sini berserakan di lantai.
__ADS_1
Dua anak manusia lain jenis bak Adam Hawa menuju ke taman Eden memadu kasih satukan cinta. Bicara cinta masih terlalu jauh dari relung hati Sania. Sania belum mampu beri cinta yang diinginkan Bara. Hati Sania masih terluka oleh kecurangan Bobby. Kasih tulus dibayar pengkhianat menjadi borok di hati Sania.
Pagi ini Bara menawarkan segala kelembutan mengangkat Sania membubung tinggi ke langit capai nirwana kenikmatan pasangan suami isteri sah. Bara berhak mendapat haknya sebagai suami dan Sania wajib memberi.
Cumbuan Bara yakinkan Sania dia sedang bermesraan dengan pangeran tampan dari negeri dongeng. Bara sudah tak sabar ingin mengambil haknya sebagai suami. Bara tinggalkan jejak untuk umumkan Sania mutlak milik Bara seorang. Setiap jengkal tubuh Sania dihiasi kissmark warna merah muda. Bara tak ingin tinggalkan sejengkal tubuh sintal Sania.
Tugas negara seorang suami adalah menanam benih di lahan yang bakal tumbuh generasi baru keluarga. Bara tak ragu lagi lakukan tugas mulia cetak generasi baru untuk teruskan marganya.
Sania tak melawan tatkala senjata Bara diarahkan ke liang liat Sania. Sania merem-merem nikmat dicumbui Bara. Pengalaman baru mendebarkan hati akan dilalui Sania sebagai seorang isteri. Sania entah sadar tidak dia sedang dalam rengkuhan suami atau masih berangan itu adalah pengeram dalam dongeng.
"Aku akan pelan." bisik Bara tak terlalu mengharap Sania masih perawan. Siapa tak kenal Bobby sang penakluk wanita. Sangat sulit dipercaya kalau Bobby bisa menahan diri tak menyentuh Sania.
Bara sudah bertekad tak masalahkan keperawanan Sania. Dia juga bukan orang suci di masa lalu. Yang penting dia rasakan kenyamanan bersama Sania. Baik buruk Sania tetap jadi tanggung jawabnya. Tak ada niat tinggalkan Sania walau yang terburuk muncul.
Bara kaget waktu senjatanya tak mulus meluncur di liang ****** Sania. Terhalang oleh sesuatu yang tak nampak. Otak Bara cepat tersadar kalau wanita di depannya adalah gadis suci murni. Bara bangga terpilih merasakan kesucian seorang gadis setelah lewati beberapa wanita tanpa selaput darah. Bara dapat juga rasakan isteri suci bersih.
"Tahan sedikit ya sayang! Aku akan pelan." Bisik Bara takut Sania trauma.
"Ya..." sahut Sania terbawa arus gairah pagi. Sania menikmati segala kelembutan pangeran kesasar datang beri kenikmatan.
Bara seperti dapat angin untuk kerja lebih keras untuk menembus selaput kenikmatan Sania. Semangat juang makin berkobar di dada untuk tuntaskan kewajiban seorang suami.
Tiba-tiba pintu diketok dari luar kamar.
"Bara...bangun..sudah siang!" seruan Ibu Suri menghentikan adegan panas delapan belas tahun ke atas. Bara menjambak rambut sendiri omel dalam hati mengapa mamanya selalu ganggu kegiatan ranjang yang sudah dinantinya berbulan.
Bara bangkit dari tubuh Sania menuju ke kamar mandi ambil bathrobe. Bara membuka pintu dengan wajah putus asa. Kesedihan terukir di wajah laki ini. Kenapa ada mama segitu usil mengganggu acara mesra anak sendiri. Apa beliau tak tahu Bara sedang berjuang ambil hak sebagai suami.
"Ada apa ma?" tanya Bara lesu nyaris nangis. Bu Jaya menatap tak percaya anaknya belum mandi jam segini. Biasa Bara paling on time lakukan aktifitas pagi. Sarapan lalu ke kantor.
"Matahari sudah tinggi masih tidur." seru Bu Jaya tanpa dosa.
"Ma...aku kan tak ke kantor. Dan lagi apa salah aku bersama wanitaku? Kenapa mama doyan merusak acaraku? Acara yang susah payah kudapatkan." ujar Bara patah semangat.
"Acara??? Ya Tuhan!!! Kau dan Sania sedang.." Bu Jaya besarkan mata sambil dekap mulut sadar telah lancang merusak mood Bara.
Bara mengangguk kecil benarkan apa yang terlintas di benak sang mama. Semua orang dewasa maka wajar maklum keadaan sesungguhnya.
"Maafkan mama! Kalian lanjutkan! Mama pergi...ya lanjutkan!" Bu Jaya syok tanpa sadar telah membuyarkan keindahan pagi anak sendiri. Bu Jaya cepat-cepat turun ke lantai bawah malu halangi Bara dapatkan hak sebagai laki.
Bara tertegun sejenak lalu balik masuk kamar mengharap Sania masih mau melanjutkan ritual penting suami isteri.
Bara kecewa melihat Sania sudah tak ada di tempat tidur. Tempat tidur masih acak-acakan bekas pergumulan mereka berdua. Pakaian yang berserakan juga sudah tak ada. Bara yakin Sania pasti sudah sembunyi lagi di kamar mandi.
Bara duduk lesu di tepi ranjang menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Sania pasti sedang mandi wajib. Walau Bara belum sempat bobol markas Sania yang tertutup rapat tapi ada rasa bahagia tahu Sania masih suci. Bara akan dapatkan hak itu cepat atau lambat. Tinggal tunggu waktu.
Bara berterima kasih pada Bobby tak merusak Sania. Bobby masih baik tinggalkan yang terbaik untuknya. Bara makin tak ragukan akhlak Sania sebagai isteri saleha. Sania mampu menjaga diri dari jeratan nafsu angkara Bobby yang terkenal brengsek.
__ADS_1