
Sania mengucapkan terima kasih sekali lagi. Gadis penjaga toko balas dengan senyum manis.
"Apa tak ada pakaian yang menarik hati mbak?" pancing penjaga itu cari rezeki.
"Oh...aku cari baju kebaya yang cocok untuk dampingi teman menikah. Warna terang seperti cream muda atau warna gading?"
"Ada...mari kuantar!" Gadis itu kontan semangat menunjuk jalan pada Sania.
Sania diantar ke etalase berisi pakaian kebaya sangat indah lengkap dengan rok lipit senada. Ada tiga pilihan warna. Maron, putih gading serta hijau lumut. Kulit Lisa tak terang kalau dipadu dengan putih gading akan hilangkan pamor Lisa. Sania memilih warna hijau lumut.
"Boleh coba?" tanya Sania hendak pas kan pakaian untuk Lisa. Badan Sania dan Lisa tak jauh beda kecuali bagian dada dan pinggul. Kedua daerah vital Sania nyaris sempurna bentuknya terutama bagian dada. Indah sempurna.
"Silahkan!"
"Terima kasih." Sania diantar ke raung ganti pakaian.
Sania bergegas coba pakaian untuk Lisa. Sania yakin Lisa dan Rangga sedang menunggu di tempat parkir. Sania tak punya banyak waktu memilih. Sebenarnya Sania tak ingin beli pakaian namun demi balas budi penjaga toko maka Sania mau tak mau beli pakaian untuk Lisa.
Pakaiannya cocok untuk Sania. Gadis cantik macam Sania memakai model apapun tetap serasi di mata orang.
"Mbak cantik sekali." puji penjara toko tulus. Ini bukan pujian kosong karena sesuai fakta. Sania memang cantik dalam kebaya ini. Sania puas dengan pakaian ini. Tak salah beli untuk Lisa biar dipakai waktu nikahan dia.
"Berapa harganya mbak?" tanya Sania
"Tiga juta mbak. Ini bahan bagus. Buatannya juga halus. Cuma ada sepasang karena toko kami jarang jual pakaian banjir pasaran."
"Aku tahu..kurang dikit kenapa?"
"Dua delapan?"
"Dua setengah ya! Aku terburu mbak."
"Tapi kami rugi...pakaian sebagus gini mana ada harga segitu. Tambah dikit."
"Kutambah seratus jadi dua enam. Gimana?"
"Baiklah! Pasaran lagi sepi. Asal tak rugi saja."
"Bungkus saja. Aku pakai kartu debit ya!"
"Ya mbak..."
Transaksi berlangsung cepat karena Sania sudah tak sabar ingin keluar dari pusat belanja ini. Kuman penyakit terbesar sedang ada di mall ini. Sania mau menghindar sejauh mungkin biar tak terkontaminasi virus menjijikkan.
Sania meninggalkan mall dengan tergesa menuju ke lapangan parkir. Benar sja dugaan Sania. Kedua orang yang temani dia belanja sudah menanti di pelataran parkir. Rangga bersandar pada mobil Sania sambil lirik sana sini cuci mata.
Sania melihat Rangga menatap mobil jeep warna hijau tentara dengan tatapan mendalam. Mungkin Rangga suka mobil garang model gitu. Laki sejati rata suka mobil keren menunjang penampilan. Rangga pasti gagah bila menunggang mobil macho model gitu.
"Mas...Lisa..ayo cabut!" Sania mengatur nafas setelah sport jarak pendek. Sania berlari kecil menghindari Bobby.
"Toiletnya sudah pindah ke Nepal ya!" omel Lisa
"Cepat naik mobil! Dia ada di sini." Sania mendorong Lisa masuk mobil.
"Bobby?"
Sania mengangguk. Rangga yang tak tahu apa apa hanya bisa nyalakan mobil secepat mungkin. Rangga akan minta Sania bercerita mengapa takut pada manusia bernama Bobby. Sebagai abang Rangga wajib lindungi adik dari segala ancaman.
Mobil yang dikendarai Rangga perlahan meninggalkan lapangan parkir menuju ke jalan raya. Tujuan akhir orang ini tentu rumah Pak Bur.
Sania bersyukur bisa lepas dari Bobby. Sania tahu suatu saat dia pasti akan jumpa Bobby lagi. Ntah urusan kerja ataupun di tempat umum lain seperti hari ini.
"San...kau jumpa setan itu?" tanya Lisa balik kepala ke jok belakang di mana Sania duduk.
Sania mengangguk tak jawab. Ini kedua kali dia jumpa Bobby sejak kejadian menyedihkan itu. Satu tragedi yang tak dapat Sania lupakan seumur hidup. Dibohongi juga dianggap tolol oleh Bobby. Mau saja dibodohi cukup lama sampai laki itu menikah.
__ADS_1
"Siapa sakiti kamu dek?" tanya Rangga geram.
"Sudahlah mas! Nanti kita cerita lagi. Bukan cerita manis, malah pahit."
"Kau harus cerita karena kau masih punya abang. Tak mungkin aku biarkan adikku disakiti."
"Aku janji cerita."
Lisa pusing dengar Rangga ngaku jadi abang Sania. Baru hari ini Lisa dengar Rangga punya adik macam Sania. Adik dari mana? Jumpa juga baru hari ini.
"Kau dan Rangga kakak adik?" tanya Lisa pelan takut salah kaprah.
"Iya kenapa? Mas Rangga bilang aku mirip adiknya. Tak salah toh kami mengikat diri jadi saudara! Kau mau juga diakui sebagai adik?" Sania menyahut santai mau bikin otak Lisa makin pusing.
Lisa benar tambah pusing. Jumpa belum melebih hitungan jari tapi bisa jadi kakak adik. Dongeng dari mana? Dongeng bohongan atau dongeng antar tidur.
"Aku kok merasa demam." desah Lisa tak paham cara pikir Sania. Gampang sekali percaya pada orang. Dirayu Rangga pakai ilmu hipnotis kelas berapa. Kok langsung ampuh.
"Pulang minum puyer cap pusing ya! Jamin sembuh!"
"Iya..." sahut Lisa tak berdaya. Lisa berharap perasaan Rangga pada Sania adalah murni kakak adik. Bukan kakak adik dalam tanda kutip.
"Kami tak ada hubungan apa apa selain kakak adik." Sania menepuk bahu Lisa dari belakang. Sania tahu Lisa suka pada abangnya. Bisa bisa Lisa salah sangka dan patah hati. Cinta baru tumbuh sudah harus layu. Layu sebelum berkembang.
"Aku tahu..." sahut Lisa mirip bisikan. Lisa melirik Rangga yang tak terpengaruh pada obrolan dua gadis ini. Perhatiannya terpusat pada jalan raya.
Dua gadis dalam mobil ini adalah harta paling berharga dalam hidup Rangga. Sania sang adik dan Lisa anak majikan. Rangga wajib lindungi keduanya selamat sampai rumah.
Rangga mengantar kedua gadis ini sampai depan rumah Pak Bur. Rangga menarik nafas lega telah tunaikan kewajiban menjaga dua gadis manis selamat tiba di rumah.
Rangga ikut turun menyerahkan kunci mobil pada Sania. Rangga berniat kembali ke bengkel setelah lelah jalan ke pusat belanja. Rangga cukup bahagia bisa jalan sama gadis yang mirip adiknya. Rangga yakin Sania memang adik kandungnya.
Masih perlu waktu untuk dalami sifat Sania yang kadang konyol dan kadang sok dewasa. Apapun dia Rangga tetap senang bisa jumpa Sania.
"Kenapa buang buang uang dek? Mas tak terlalu penting barang begini. Yang penting ada kamu sudah cukup."
Lisa mendehem dengar kata Rangga yang pentingkan Sania. Dia sudah lama kenal Rangga tapi tak dipentingkan. Mana keadilan?
"Mas...ini untuk menambah penampilan mas biar keren kalau ajak seseorang jalan. Siapa tahu Mas kecantol cewek cantik. Kan perlu outfit lumayan biar tak maluin." kata Sania melirik Lisa.
"Siapa mau sama Mas yang bau oli? Macam saja kamu ini."
"Ada mas...nih makhluk dari planet Venus!" Sania menyeret Lisa dekat ke Rangga.
Lisa kaget namun senang. Secara tak langsung Sania telah membantunya ungkap rasa suka pada montir papanya itu. Lisa tak menolak kalau Rangga juga suka padanya.
"Jangan ngawur dek! Nona secantik Lisa mana mau sama abangmu? Iya kan?" Rangga dengan lugunya bertanya pada Lisa. Lisa merasa mukanya panas tak tahu harus jawab apa.
Sania tertawa kecil tahu Lisa sudah kepanasan diusilin dia. Gadis ini pasti malu bukan main dibuka rahasia di depan Rangga.
"Mas...aku mau kok punya kakak ipar kayak Lisa. Judes, konyol, dikit malas, dikit jorok, juga ngeselin." ujar Sania berusaha memojokkan Lisa.
Tanpa berkata Lisa menyeret Sania berlalu dari hadapan Rangga. Lisa marah pada Sania yang sengaja buka kartunya di depan Rangga. Nilai Lisa akan anjlok di depan laki yang diam diam telah menaruh bibit dalam dasar hati Lisa.
"Tega ya lhu peri jelek! Tak pantas jadi peri lagi. Pantasnya jadi nenek sihir."
"Apa ada nenek sihir cantik gini?" canda Sania.
Lisa buang muka sebel pada sahabat nakalnya. Teman bukannya dibantu naik harga. Ini malah di loak kan.
"Sebel..."
"Sebel sama mas Rangga?" pancing Sania persis di kuping Lisa. Lisa menutup kuping terasa geli hembusan nafas Sania gelitik kupingnya.
"Sama ente...Mas Rangga pasti pikir aku ini manusia loakan."
__ADS_1
"Loakan juga masih bisa dipakai kok! Contoh baju loakan. Banyak yang beli. Murah meriah."
"San...kamu ngajak duel ya! Ayo ke belakang! Biar kusambel bibir sexymu!"
Sania monyongkan bibir hendak cium Lisa perlihatkan kesexyan bibir nya. Lisa terpekik geli digoda Sania terusan
"Sinting, iissshhh...geli!" Lisa kabur masuk ke kamar.
Sania tersenyum sejenak lalu ikuti langkah Lisa masuk kamar. Lisa lemparkan tatapan musuhan lewat mata. Sania mana peduli segala ancaman sahabatnya. Sania tahu Lisa hanya canda.
"Lis..aku ada beli baju untukmu! Dicoba!" Sania sodorkan paperbag pada Lisa.
"Kapan kau beli?"
"Waktu beli jam tangan mas Rangga. Di sana jumpa Bobby." kata Sania pelan masih terganggu perjumpaan tadi.
"Makin dihindar makin jumpa. Coba kulihat seleramu!" Lisa mengeluarkan paperbag dari Sania. Pakaian kebaya warna hijau lumut terbentang di hadapan," Ya Tuhan! Indahnya kebaya ini. Seleramu jitu!"
Lisa mengelus kebaya itu perlahan takut merusak pakaian itu. Lisa yakin harganya tak murah kalau dilihat dari kualitas pakaian. Sania yang selalu tampak sederhana bisa juga memilih pakaian bagus. Lisa tak sangka Sania rela korek kocek dalam untuknya.
"Semoga sesuai ukuranmu. Tadi aku test sangat cocok."
"Pasti cocok! Eh San..kau sudah banyak habiskan uang untuk kami. Sekarang kau beli baju untukku. Belum lagi baju Rangga. Kau kehilangan banyak uang dong!"
"Jangan pikir itu! Uangku banyak! Oya...Lis...kamu jangan pikir yang bukan bukan antara aku dan Mas Rangga. Dia anggap aku adiknya. Aku sudah mau nikah mana mungkin tikung ente. Kutitip Mas Rangga padamu. Kau harus jaga dia." ujar Sania serius
Lisa terbawa suasana serius Sania. Sania tampak tak main main mau akui Rangga sebagai saudara. Sania rela korbankan puluhan juta bahkan ratusan juta demi abangnya yang tak jumpa cukup lama. Cuma saat ini Sania tak bisa bongkar siapa dia sesungguhnya. Tunggu kebenaran terungkap baru Sania akan buka kartunya.
"Kau serius San?"
"Serius...tanah yang akan kubeli buat atas namanya saja. Aku percaya padanya. Bertahun tinggal di bengkel dia tak pernah berulah bukan?"
Lisa menggeleng cepat. Rangga belum pernah buat ulah di bengkel. Sifatnya tertutup tak banyak bicara. Dia hanya tahu kerja dan kerja. Rangga hanya ramah pada pelanggan. Hanya ramah tak pernah lebih.
"Bagus...Oya nanti malam aku mau ajak Mas Rangga ngobrol lagi. Kau mau ikut?"
"Tak baik anak gadis ke bengkel malam malam. Biar mas Rangga saja kemari. Aku akan minta papa panggil dia datang."
"Terima kasih. Aku ngobrol bukan ngajak malam Minggu ya! Tapi ada hal mau kubincangkan dengan Mas Rangga. Jangan salah paham!"
"Isshhh...kayak Rangga itu milikku saja! Siapa tahu dia ada doinya." sanggah Lisa malu malu kucing.
"Tenang! Hanya kau calon iparku. Aku tak mau yang lain." kata Sania mantap.
Lisa memeluk Sania dengan hati gembira. Lisa tak takut cewek lain hadir dalam hidup Rangga. Justru Lisa takut laki incarannya juga jatuh cinta pada Sania. Sania memang cantik, ditambah otak setajam mata silet. Laki mana tak mau labuhkan hati pada gadis muda itu.
"Trims periku!" seru Lisa girang.
"Tadi nenek sihir. Sekarang baru peri. Plin plan amat!" sungut Sania beranjak tinggalkan kamar Lisa balik ke ruang tamu biasa dia tidur bila berada di rumah Lisa.
Sania termenung dalam kamar. Perjumpaan dengan Rangga akan membantunya cari tahu kejadian masa lalu. Waktu itu dia masih terlalu kecil tak ngerti apapun. Cuma Sania sering lihat mamanya nangis kalau papanya pulang. Mereka tak bertengkar namun sang mama selalu sedih bila papa datang. Papanya selalu cepat pergi dari rumah. Singgah hanya sebentar sekedar lihat kondisi mereka berdua.
Rangga yang paling sering datang temani Sania dan sang mama. Rangga sangat sayang padanya. Tak jarang anak muda itu nginap di rumah untuk temani Sania dan mamanya.
Sania kecil tentu senang dikunjungi abang ganteng full kasih sayang. Namun akhirnya muncul tragedi di mana mamanya meninggal karena ditabrak supir mabuk tatkala mengantar Sania ke sekolah.
Sania baru saja masuk pintu gerbang sekolah terdengar jeritan kencang geger kan satu sekolah. Mama Sania yang hendak masuk ke salam mobil diseruduk mobil sedan.
Nyawa mama Sania tak tertolong walau dibawa ke rumah sakit. Sehari setelah kejadian ini Sania dijeput pihak keluarga sang mama dibawa ke Belanda. Mulai hari itu Sania tinggal di Belanda.
Namanya langsung diganti. Dari Santi diganti Sania. Dari situ jejak Santi hilang dari peredaran bumi. Yang ada kini hanya Sania. Anak yatim piatu yang pinter. Sania menganggap ayah kandungnya sudah meninggal juga.
Laki jahat itu tak pantas diakui sebagai orang tua. Di otak laki itu hanya ada perempuan dan harta. Sania akan rebut kembali segala yang jadi haknya.
Tak ada kata ampun buat mereka yang telah sakiti mamanya. Mereka harus rasakan sedih dan sakit yang dialami Sania selama bertahun tahun ini.
__ADS_1