
"Iya dong! Makanan menantu kesayangan pasti akan disiapkan selezat mungkin. Makanya kamu harus patuh hargai usaha mama kita. Sebentar lagi mas Rangga dan Lisa akan datang. Tadi dia sudah datang bersama Lisa. Sekarang kau mama dari dua bayi. Harus lebih pandai jaga diri agar anak kita sehat." Bara berusaha Sania tak minta pulang. Bara ingin Sania fit seratus persen baru boleh pulang. Bara takut Sania drop lagi sesampai di rumah.
Rumah sakit penuh tangan-tangan cekatan menangani para pasien. Setiap ada keluhan bisa cepat diatasi. Andai Sania pulang dan tiba-tiba drop lagi buka kah akan menimbulkan kegaduhan harus balik ke Rumah sakit.
"Lieve senang punya anak?" tanya Sania lugu.
"Bukan senang lagi tapi bahagia tak terlukiskan. Anak-anak kita...pasti cantik seperti kamu."
"Ganteng seperti bapaknya."
"Pasti dong! Ngaku kan punya suami ganteng!" gurau Bara menghibur Sania biar tak bosan.
"Ganteng tapi penuh keriput. Sudah tua."
"Tua tapi tokcer. Sekali garap tumbuh dua"
"Sok amat..."
"Bukan sok...buktinya kau hamil. Kau toh suka main kuda-kudaan dengan Lievemu! ******* manjamu bikin gairahku selalu full. Kamu adalah anugerah terindah dalam hidupku." Bara tak malu mengakui perasaan pada wanita muda di depan mata. Sania memang berharga memberi Bara kehidupan baru.
"Isshhh...dasar kakek bucin!"
"Bucin pada wanita halal tak dilarang agama. Malah berpahala...aku sayang padamu!" Bara mengecup punggung tangan Sania. Sania merasa terlempar ke awang-awang diperlakukan demikian mesra oleh Bara. Taman bunga terbentang di mata menghadirkan sejuta rasa suka cita. Bunga-bunga bermekaran berseri-seri menyambut hati yang terpanah panah asmara.
"Lain di mulut lain di hati. Besok muncul nona noni berkepala ular." Sania tetap jual mahal tak terpengaruh segala rayuan kelas teri Bara. Rayuan Fadil baru termasuk rayuan kelas paus.
Dalam hati Sania berbahagia merebut perhatian Bara namun Sania pertahankan gengsi tak mau cepat turun panggung menyerah pada ocehan penuh nada rayuan.
"Sejuta ular takkan mampu melingkarkan cinta di hatiku. Cukup seekor macan kecil mengaum manja di benakku."
Sania kaget dengar kalimat Bara yang tertular Fadil penuh gombalan picisan. Apa Bara sudah berguru pada adiknya menjadi perayu kelas menengah. Masih amatir.
"Ciiisss...rayuan pasaran. Ngak termakan tuh!" Sania menepis tangan usil Bara yang mulai merayap ke pipi. Dari tangan menjalar ke pipi. Ntar mau berkelana ke mana pula.
"Ngak penting. Cukup kau rasakan detak jantungku yang hanya berseru nama Sania."
Sania geli dihujani gombalan manis Bara. Kebanyakan menelan gombalan manis bisa-bisa Sania terkena penyakit diabetes.
"Hahahaha..ternyata suamiku mantan playboy kelas kakap. Sudah mulai jurus-jurus engkong mabuk ya!" Sania tertawa ngakak digombalin terusan. Rona merah kembali warnai wajah yang tampak pucat dari tadi pagi.
Bara terhibur melihat Sania mulai pancarkan semangat 45 layani gurauannya. Ibu hamil hendaknya memang selalu happy supaya janin di perut tumbuh sehat.
"Dari tadi ngejek suamimu tua. Emang aku tua banget?"
Sania meneliti wajah Bara lebih dekat. Ada keriput di sudut mata namun sudah jauh lebih baik dari pertama jumpa. Dulu wajah Bara kaku bak topeng dewa kematian. Jarang tersenyum bermulut jahat. Tak ada rasa humanis.
Sekarang jauh lebih manusiawi. Sudah pintar menggombal pula. Sania harus tepuk tangan beri applaus pada Bara terhadap pencapaian menjadi insan lebih ramah.
__ADS_1
"Lieveku tua tapi aku sayang. Kalau Lieve tua nanti aku masih muda. Masih punya kesempatan manjakan mata. Lieve sudah jadi aki tua harus sabar ya!" olok Sania memukul mental Bara agar jangan sok kecakepan.
"Aku takkan tua karena ada anak-anak hibur hatiku. Orang happy gk bisa tua."
"Malas berdebat denganmu." Sania pura-pura ngambek. Dalam hati Sania bersorak akhirnya di kulkas lima pintu takluk pada macan mungil. Sania tak mau dijuluki macan tapi oven hangat yang mampu melumerkan es beku mencair. Selamat tinggal kulkas abadi.
"Dedek bayi pingin makan apa? Hot Daddy akan cari sampai ketemu." Bara dekatkan wajah ke perut Sania yang masih rata. Bara bertingkah seakan janin sebesar biji kacang hijau bisa berkomunikasi sama ayahnya.
"Ngak pingin makan tapi pingin pulang. Tugas setumpuk aku malah enak-enak santai di sini."
Bara menghela nafas tak paham jalan pemikiran Sania. Badan sudah terkurung di rumah sakit masih ingat kerja. Kalau diganti wanita lain mungkin akan kegirangan diminta istirahat nikmati masa santai tanpa kerja.
"Sania...aku mohon untuk sementara lupakan kerja. Jaga kesehatan karena ada dua nyawa harus kamu lindungi."
Sania menggeleng, "Lieve...ada yang harus kita pertaruhkan! Ingat tanggung jawab kita di proyek SHINY. Ini bukan bicara soal kewajiban tapi dedikasi kita sebagai orang yang menerima proyek. Aku bukan memandang rendah pada Lieve tapi proyek ini aku yang paham. Aku mau proyek ini berjalan sesuai impianku. Membangun kota baru bersama para penduduk."
Kata-kata Sania mengandung kebenaran cuma dalam kondisi begini Bara mana tega bebankan tugas berat pada wanitanya. Proyek kali ini akan memakan tenaga dan pikiran. Mungkinkah tubuh mungil itu sanggup membawa tugas dan anak dalam satu aksi?
"Lieve paham niatmu cuma kau jangan lupa ada dua nyawa bersatu dalam dirimu! Tunggu kamu sehat baru ke sana. Sekarang kau hanya kasih perintah biar aku dan Roy yang jalankan. Masih ada Rudi. Ingat kan?" Bara masih membujuk Sania agar tak banyak pikir. Yang penting sekarang adalah jaga kesehatan. Itu modal utama.
"Baiklah!" Sania mengalah tak mau membuat Bara serba salah.
"Terima kasih...kau memang the best." Lagi-lagi Bara hadiahkan kecupan mesra persis di bibir Sania. Sekilas kecupan namun datangkan sejuta kedamaian. Keduanya tersenyum damai.
Tak lama kemudian muncul dua pasangan baru. Roy, Rudi, Sekar dan Putri datang menjenguk bini bos baru mereka. Baru sehari masuk kantor baru sudah berdatangan berbagai kejadian tak mengenakkan. Apa ini pertanda kantor baru mereka tak bawa rezeki? Mitos orang tua memang gitu. Asal ada kejadian langsung dihubungkan dengan hal-hal gaib.
Sekar dan Putri bersyukur lihat Sania tak separah bayangan mereka. Malah Sania tampak lebih bercahaya setelah diterpa badai beruntun. Sania bukannya down malah lebih bersinar. Mungkin kena rayuan Bara plus berkah dari Allah sepasang anak kembar.
"Siap tempur..." sahut Sania tak tinggalkan jejak sebagai pasien yang baru sadar dari pingsan.
"Siap tempur di mana? Di Medan tugas atau di ranjang?" olok Bara menggoda Sania. Roy dan Rudi tergelak lihat tampang imut Sania malu-malu kucing kena godaan telak Bara.
"Isshhh...otak mesum! Itu saja terlintas di otak kotormu. Bawa otakmu ke doorsmeer biar dicuci." sergah Sania tersipu.
"Mesum kan sudah menghasilkan kecebong Bara junior." Bara sengaja pamer Sania hamil pada bawahan dan kedua temannya.
"What??? Sudah rilis kabar adanya kecebong Bara dalam perut Sania?" seru Roy ikut bahagia. Roy perlihatkan rasa suka dengar Bara berhasil menanam bibit pada ladang Sania. Syukur sudah berhasil tumbuh.
Roy senang dengar kabar Sania hamil lain dengan Rudi. Sejujurnya Rudi sedikit kecewa Sania hamil anak Bara. Rudi kagumi sepak terjang Sania sebagai wanita perkasa. Segala kebaikan Sania telah terukir di sanubari Rudi. Mengapa dia selalu tertarik pada wanita Bara.
Mungkinkah seumur hidup dia selalu jadi lawan Bara dalam bercinta? Dulu Arsy kini datang daun muda lebih kompeten. Tapi kali ini Rudi tak mau melakukan kesalahan sama sampai dua kali. Cukup sekali berkhianat pada teman lamanya. Bara sudah baik hati mengangkatnya dari keterpurukan. Rudi tak boleh kecewakan orang yang telah memaafkan kesalahannya.
Putri dan Sekar mendekap mulut ikut rasakan kebahagian pasangan beda umur itu. Bara terlalu tua untuk Sania harus dikubur dulu. Kini Bara telah menjadi suami sempurna bagi Sania. Rasa tak puas di hati kedua gadis ini harus dienyahkan jauh-jauh.
"Kami jadi aunty? Keren..." seru Putri tak kalah heboh dengan Roy.
"Selamat ya San...Semoga semua berjalan lancar. Tugas dan menjadi cute mommy." Putri hadiahkan pelukan hangat disusul Sekar tak mau kalah beri doa terbaik untuk sahabat mereka.
__ADS_1
"Terima kasih." Sania membalas big hug dari kedua konconya.
"Lisa sudah tahu?" tanya Sekar masih tak percaya wonder woman mereka akhirnya menjadi seorang ibu.
"Sudah...dia datang bersama pacarnya. Pulang kantor dia akan datang lagi." lapor Bara.
"Wah...kita ketinggalan banyak cerita. Sejak kapan Lisa punya gandengan? Kok dia tak pernah bahas dalam forum kita?" Putri kesal Lisa menutupi kabar baik dari mereka. Kabar baik seharusnya dibagi untuk dirasakan bersama.
"Jangan salahkan Lisa! Soalnya sang cowok plin plan belum berani tembak Lisa pakai panah cupido. Hanya kasih signal yang kadang kurang kuat. Lisa mana berani umumkan berita belum jelas. Dia masih punya rasa malu." Sania bela Lisa ingat abangnya yang sampai detik ini belum tembak Lisa.
"Aku kok penasaran siapa sih calon Lisa?" gumam Putri belum terima Lisa tak pernah di singgung soal laki yang telah merebut hati wanita itu.
"Orangnya baik dan pemimpin perusahaan besar. Kalian tak perlu ragu kredibilitas laki itu. Aku jamin Lisa akan bahagia bersama laki itu." Sania mengenang Rangga yang baik dan ganteng. Rangga bahkan terlalu baik untuk gadis sekonyol Lisa. Lisa itu kan ada bocornya kalau lagi kumat gilanya.
"Kuharap begitu. Kita semua berhak dapat yang terbaik."
"Amin..."
Roy yang punya rencana mengikat Sekar untuk jadi teman serumah seperti dapat angin segar. Pertama jumpa Roy sudah suka pada gadis berbusana muslim taat itu. Seluruh tubuh Sekar terbalut busana sopan tak ijinkan laki mengintip sedikitpun bentuk tubuh gadis manis ini. Sekar memang tak secantik Sania namun Sekar punya magnet tersendiri mengundang kerlingan Roy.
"Setiap orang berhak mendapat impian masing-masing. Dimulai dari perkenalkan bisa merambat tumbuh jadi buah cinta." oceh Roy mengarah pada Sekar. Gadis itu belum ngerti maksud Roy maka cuek saja. Sekar sedikitpun tak punya pikiran akan menjadi pendamping Roy. Dekat baru hari ini. Sifat, tingkah, bibit bobot masih asing bagi Sekar.
"Cinta itu akan datang seiring waktu. Aku tak percaya mitos itu tapi sejak adanya Sania aku paham mitos orang jaman. Orang jaman menikah karena dijodohkan. Mana ada yang namanya kencan, ngedate ataupun pacaran. Toh mereka langgeng hingga selusin cucu! Cinta itu datang asal kita saling memahami." Bara orasi bak pujangga cinta. Padahal track record perjalanan cintanya berantakan. Untunglah jumpa Sania baru berbenah temukan arah.
Roy tepuk tangan setuju kata-kata Bara. Laki seumur mereka juga sudah cukup lelah berkelana mencari cinta sejati. Yang datang selalu cinta bunga rafflesia alias bunga bangkai. Bermekaran tanpa tahu kapan dan berakhir tanpa tinggalkan kenangan manis selain bau busuk. Roy merindukan hari di mana ada wanita akan menyambut dia pulang kerja. Lebih manis lagi kalau ditambah kurcaci lucu berlari dengan tubuh montok menggemaskan meminta pelukan.
Roy tersenyum sendiri tenggelam dalam angan khayalan yang ntah kapan terealisasi. Semoga Allah berbaik hati mengantar wanita dambaan ke hadapannya.
"Woi...kesambet setan rumah sakit!" Bara menepuk kening Roy agar sadar sedang melamun.
"Kau ini..pantang orang senang. Aku kan lagi mengkhayal punya debay macam kamu. Apa melanggar hukum?"
"Debay??? Apa itu?" Bara pasang wajah tolol asing pada istilah baru Roy.
"Kakek tua kuper... debay itu dedek bayi. Mau jadi hot Daddy tapi kuno minta ampun. Bergaul dikit!"
"Aku bukan kamu yang tebar pesona sana sini. Aku lelaki sejati hanya menitip hati pada seorang wanita. Kini Sania penjaga locker hatiku."
"Oh so sweet..." Putri mendekap dada seolah kata-kata itu ditujukan padanya.
"Kau ini merusak pasaranku. Di sini kan ada lahan kosong yang aku tanami bunga asmara. Kalian jangan dengar ocehan kosong Bara. Aku ini penjaga hati yang setia. Sekali dititipi seumur hidup akan kurawat sampai ajal." Roy promosi diri sendiri pada siapapun yang bersedia tampung isi hatinya.
"Walah...ada yang jual kecap! Kalian berdua ada yang tertarik? Roy itu orangnya baik walaupun kadang bocor. Setia aku tak tahu...bisa ngak bisa iya. Itu aku tak jamin. Sayang yang ini aku tak bisa bantu endorse." gurau Sania membantu Roy naik derajat.
"Kujamin setia. Terbukti aku tak punya skandal dengan kaum hawa. Namaku suci murni tak ternoda oleh nona-nona pemburu nama." Roy menepuk dada banggakan namanya tak cacat oleh skandal cinta.
"Siapa mau buru kamu? Nama aja ngak jelas. Roy doang! Apa sih hebatnya Roy? Nama pasaran." cetus Rudi yang merasa tersindir.
__ADS_1
"Wa...ente iri ya pada aku yang tak ternoda! Kau dan Bara biang kerok seputar percintaan segi astakona. Aku sih fine tak terciduk punya affair dengan hawa manapun."
"Tidak terciduk tapi tertangkap rayu dosen biar dapat nilai bagus. Dikemplang pakai kayu oleh suaminya kan?" Rudi buka lembaran lama yang terdengar lucu. Merayu dosen cewek tebar pesona harap dapat nilai bagus bukan dosa besar. Namanya juga usaha dapat nilai tinggi biar kuliah cepat kelar.