
Bara ingin Sania bersamanya seumur hidup. Lebih bersyukur lagi kalau Nania juga diberi kesembuhan. Mungkin orang akan mengira Bara tamak ingin memiliki kedua wanita cantik ini. Tapi tak banyak tahu Bara tak pernah mencintai Nania. Dia nikahi Nania karena ada satu hal. Suatu saat Bara akan berterus terang pada Sania.
Sekarang belum waktunya Bara buka cerita. Nania sedang sakit tak mungkin menambah beban wanita itu lagi. Biarlah waktu yang berbicara.
Seusai makan Bara pamitan dan berjanji akan datang bersama orang tua. Sania tinggal tak ikut Bara pulang. Sania ingin bahas banyak hal dengan Pak Bur. Terutama masalah tanah dan pembangunan doorsmeer untuk perluas cari rezeki.
Sania mengantar Bara sampai di pintu pagar layak isteri pilihan antar suami pergi ke tempat lain.
"Sania...terima kasih untuk hari ini. Aku senang jumpa keluargamu. Besok aku akan datang setelah magrib." ujar Bara sebelum pergi.
Sania hanya membalas kata kata dengan anggukan kepala. Bara hidupkan mobil lalu melajukan mobil pulang ke rumah orang tuanya. Bara hendak bicarakan acara lamaran Sania dengan keluarga.
Sania masuk ke dalam rumah menemui Lisa. Sania berniat ajak Lisa pantau bengkel yang sedang diperluas. Sania memang berniat tinggalkan nama baik sebelum balik ke Belanda. Cuma Sania harus selesaikan misinya cari kebenaran kematian ibunya. Orang yang telah nyakitin hati ibunya harus bayar dengan nilai yang sama. Sania bukan Sania bodoh yang gampang dibodohi lagi. Sudah waktunya Sania perlihatkan siapa dia sesungguhnya.
"Sania...sini nak!" panggil Pak Bur begitu Sania mauk ke ruang tamu.
Sania mangut patuh lalu duduk berseberangan dengan Pak Bur cari tahu apa yang ingin dibicarakan.
"Ada apa pak?"
"Kau yakin mau menikah dengan suami orang?" tanya Pak Bur setelah Sania duduk manis.
"Iya Pak..isteri Pak Bara sudah ijinkan kami menikah resmi. Dan lagi saya dan Pak Bara akan sering bersama. Kami akan kerjasama dalam beberapa proyek. Daripada dituduh berbuat yang tidak tidak lebih baik kami menikah. Dan juga melindungi aku dari Bobby."
"Betul cuma itu alasanmu? Bapak memang tak kenal keluarga aslimu tapi bagi bapak kamu tak ubah sama Lisa yang harus bapak lindungi. Bapak tak mau kamu sakit hati lagi."
"Sania janji akan hidup lebih baik lagi. Semua perhatian bapak sekeluarga sudah kuukir dalam hati. Terima kasih pak!" Sania merapatkan tangan buat tanda terima kasih.
"Bapak hanya bisa berdoa untukmu. Harapan bapak kamu dan Lisa dapat suami baik."
"Amin.."
Bu Bur keluar dari dapur bawa nampan berisi teh panas. Asap masih mengepul sebar harum teh melati kesukaan Sania. Disusul Lisa bawa buahan segar di piring.
Sania pingin ketawa lihat makanan dan minuman tidak matching. Teh dipadu sama buahan bukan pilihan tepat. Teh seharusnya ditemani biskuit atau gorengan. Ini malah buah segar.
"Hidangan kacau balau.." ujar Sania menyentik hidung Lisa. Lisa mendelik tak terima diusilin Sania.
"Syukur sudah diumpan. Banyak protes."
"Kamu bukan calon IRT yang baik. Menu makan amburadul. Teh harusnya ditemani gorengan atau kue kering. Bukan buah nona jelek."
"Protes lagi..." seru Lisa berkacak pinggang gemes pada Sania.
"Idihhh nih cewek! Diajar malah marah. Gini gini aku pernah kerja di restoran hotel bintang enam."
"Bohong kegedean. Di mana mana hotel cuma bintang lima. Dari mana bintang enam? Dari hongkong?"
"Ada namanya Restoran Bintang Enam."
"Capek omong sama orang IQ jongkok. Sekarang makan buah dariku atau kita musuhan selamanya." ancam Lisa pasang tampang bajak laut seseram mungkin.
"Makan...ayo pak dimakan buah nona jelek kita! Takutnya dia nangis."
Pak Bur dan Bu Bur geleng kepala lihat tingkah dua gadis bertingkah anak SD. Bertengkar melulu.
"Sudah..sudah...syukuri apa yang ada!" lerai Bu Bur.
"Oya San..kata Lisa kau mau beli sisa tanah samping yang becek. Apa benar?" tanya Pak Bara sambil comot buah apel di meja.
"Benar pak. Kita bangun doosmeer. Jadi orang akan makin rajin datang kalau semua lengkap di bengkel kita. Aku akan urus semua biaya. Bapak dan Lisa jadi pelaksana."
"Kau percaya pada bapak?"
"Kalau Sania tak percaya tak mungkin bikin usulan ini. Ini demi kita semua. Bapak boleh minta bantu mas Rangga. Kelihatannya dia bukan orang bodoh."
Pak Bur mangut mangut, "Dananya lumayan besar lho! Kamu sudah keluarkan banyak biaya untuk perluasan sekarang tambah lagi. Apa tidak beratkan kamu?"
"Sama sekali tidak. Tabunganku masih ada dananya. Sayang kalau dibiarkan mengendap. Kita gunakan kembangkan bisnis biar uangnya berkembang biak." jelas Sania supaya Pak Bur tak kuatir Sania bakal kekurangan uang.
__ADS_1
"Baiklah! Bapak akan hubungi pemilik tanah. Semoga harganya masih bisa nego."
"Sania serahkan pada bapak saja. Sania akan transfer uang pada Lisa."
"Hoorree....aku kaya raya. Mau beli suami ganteng." seru Lisa macam orang stress.
"Bu..kelihatannya ada orang gila minta kawin." olok Sania dibalas cubitan di pinggang oleh Lisa.
"Kamu yang gila kawin. Baru kenal sudah minta dikawini. Tapi calonmu ganteng lho. Aku juga mau. Jadi bini ketiga juga boleh."
"Dasar anak anak sinting..bapak mu balik ke bengkel. Kalian ikut ngak?"
"Ikut..." koor Sania dan Lisa barengan.
Pak Bur ambil langkah panjang berjalan ke bengkel yang letaknya tak jauh dari rumah. Sania dan Lisa ikut tanpa disuruh dua kali.
Ketiganya berjalan iringan menembus panas terik matahari. Sania dan Lisa bercanda sepanjang jalan. Suara renyah dua gadis manis ini warnai siang terik ini. Sekali kali Pak Bur melirik kedua gadisnya. Pak Bur bangga punya anak anak tahu diri dan sopan macam kedua anak itu.
Tak terasa akhirnya sampai juga mereka di bengkel Pak Bur. Hanya ada sedikit kegiatan karena memang lagi sepi job. Rangga dan seorang montir lain sedang kerjakan mobil suv keluaran tahun menengah. Ntah apa yang bikin mobil itu harus dirawat di bengkel Pak Bur. Sumpah Sania buta soal bengkel. Sania hanya bisa nyetir mobil tak tahu cara ngerawat. Bocor ban saja bisa jadi bencana besar. Apalagi kalau turun mesin.
Lisa menarik tangan Sania ke tempat di mana beberapa pekerja bangunan sedang aktifitas kerjakan tugas mereka. Masih tahap bikin pagar keliling. Sania tak banyak komentar soal ini. Sania yakin Lisa mampu tangani masalah kecil ini. Lisa bukan tak ngerti soal bangun membangun. Dia sudah lama ikut Sania sedikit banyak kan paham.
"Lis..sebelum cor lantai padatkan dulu fondasi. Tanah sini agak lembut. Kamu sudah boleh masukan tanah timbunan biar padat seiring waktu." Sania beri pengarahan pada Lisa harus lakukan apa selanjutnya.
"Apa bukan waktu membangun kita masukkan tanah dan kerikil?"
"Itu buat membangun tapi ini untuk padatkan fondasi. Ikuti saran ku! Dan kalau tanah samping jadi beli langsung timbun ya. Kalian nego terus harga biar cepat selesai."
"Siap nyonya Bara!" Lisa siagakan diri posisi siap lengkap tangan di jidat.
"Belum nyonya...masih nona! Yok kita colek Rangga Mu! Pelipur lara buat jomblo akut macam kamu."
Lisa menggeleng tak tertarik pada Rangga. Ditanya satu jawab setengah. Bagaimana Lisa yang periang bisa satu rumah dengan batu karang macam Rangga. Lisa bisa mati bosan.
"Ogah...kaku. Kamu coba saja! Siapa tahu dia takluk pada insinyur bodong macam ente."
"Jangan lupa aku punya kulkas lima pintu! Sudah diorder kok! Tinggal dikirim ke rumah." gurau Sania cerita tentang Bara yang kadang dinginnya minta ampun.
"Dia memang dingin. Sudah ACH..kita samperin Rangga! Aku kok suka lihat matanya. Dingin menyimpan duka."
"Aneh..punya calon suami suka pada cowok lain. Tuh! Dia lirik ke kamu. Ada rasa mungkin."
"Tenang..akan kujadikan selingkuhan. Kamu tolong jaga dia buat aku ya!"
Lisa melengos pergi tak mau dengar ocehan ngawur Sania. Ntah kenapa Lisa tak suka Sania ikutan suka pada Rangga. Rangga itu maskulin dengan perut berkotak kotak. Badannya bagus mengundang tatapan mata cewek. Sebagai cewek normal wajar Lisa kagumi sosok Rangga cuma sayang laki itu dingin.
"Mas...apa yang rusak?" tanya Sania ikut berjongkok si samping Rangga.
Rangga menoleh pada Sania sekilas lalu kembali fokus pada kerjanya.
"Kena mesin...air di tangki radiator kering maka rusak mesin."
Sania menggigit bibir menahan nafas terharu karena keluar juga kalimat lumayan panjang dari bibir bebas nikotin itu. Suara Rangga empuk berirama cuma sayang dingin.
"Fatal?"
"Sangat fatal...maka kalau ada mobil tiap hari harus periksa air tangki."
"Caranya?" tanya Sania memancing reaksi Rangga agar mau bincang lebih lama.
"Mana mobilmu?"
"Di rumah bapak.."
"Oh...kapan kapan kau bawa sini biar kujelaskan."
"Terima kasih mas. Sudah makan siang?"
"Belum...sebentar lagi. Tanggung dikit lagi."
__ADS_1
"Makan dulu. Jaga kesehatan biar punya energi lanjutkan kerja. Gimana kalau aku pergi beli makan siang mas?"
"Tak usah..aku biasa makan di warung tak jauh dari sini."
"Yok kita pergi makan! Ajak teman mas sekalian!"
"Tak boleh semua pergi. Tak ada yang jaga bengkel. Tak usah repot nona Sania."
"Kau tahu namaku?"
Rangga tak jawab malah meneruskan kerja tak peduli pertanyaan Sania.
Manusia aneh Sania membathin. Tak ada jiwa sosial dikitpun. Namun ngobrol sebentar Sania tahu sebenarnya Rangga tak seburuk dugaan. Mungkin Rangga pernah patah hati. Disakiti cewek sampai terluka parah.
Sania berdiri tak mau ganggu Rangga lagi. Sania menghampiri Lisa yang sok jadi mandor dadakan atur para pekerja kasar.
"Lis.." panggil Sania
"Ya?"
"Kita beli makan siang untuk pekerja bengkel yok!"
"Ogah..panas! Kulitku tak secerah kulitmu. Nanti malah tambah gosong. Mana duitnya biar kuminta montir yang beli?"
"Dasar pemeras sejati. Yang jadi bos kan kamu kok aku yang biayai?"
"Kan usulmu! Aku lagi bokek. Maklum pengangguran sejati." sungut Lisa tak ramah.
"Dasar kamu..."Sania keluarkan beberapa uang lembaran warna merah dari tas selempang yang tak pernah lepas dari badan.
"Wah..rejeki nomplok! Woi.... sini! Tolong beli nasi untuk semua montir!" seru Lisa semangat bak ember bocor .
Dengar kata makanan semua montir keluar dari persembunyian. Ntah dari mana muncul beberapa pemuda berpakaian kumal penuh oli.
Seorang anak tanggung berlari kecil hampiri Lisa dengan mata berbinar. Bayangan makan enak bermain di pelopok mata maka semangatnya berkobar.
"Mana duitnya mbak?" Anak remaja itu ulurkan tangan tak malu malu.
"Ini... beli buat semua anggota."
"Boleh beli ayam?"
"Terserah asal dananya segitu. Tapi yang adil ya! Jangan kamu doang makan ayam! Yang lain kamu kasih lalapan." ancam Lisa seolah kenal akal bulus remaja itu.
"Beres mbak...aku akan berlaku jujur dan adil bagi seluruh rakyat bengkel." kata remaja itu lalu cekikan sendiri.
Setelah dapatkan apa yang dia mau langsung ngacir ke warung dekat. Tinggal Lisa dan Sania ikut ketawa melihat gaya lucu remaja itu. Ternyata ada juga remaja bocor di bengkel bikin hidup suasana. Rangga dingin dibantu kelucuan anak tadi mungkin suasana bengkel terbantu dikit.
Sania dan Lisa lanjutkan pemantauan ke tanah yang mau dibeli. Mata Sania menangkap pemandangan tidak menyenangkan dari tanah itu. Tumpukan sampah bertaburan hasilkan bau lumayan ganggu hidung. Berair pula.
Andai harganya murah mungkin bisa dipertimbangkan. Untuk membersihkan tanah ini perlu waktu dan alat berat. Itu akan makan biaya lumayan besar. Belum lagi harus ditimbun dengan massa kerikil cukup banyak. Kalau harga tinggi takkan bisa dikerjakan.
"Sudah kau lihat? Ini jadi tempat buang sampah warga sini. Tidak gampang urus tanah ini." kata Lisa berdiri di samping Sania.
"Tergantung harga. Setengah dari harga kemarin. Boleh ambil! Kita lakukan pengerukan dulu. Keringkan baru timbun."
"Iyalah! Biar papa yang nego. Papa kenal baik sama pemiliknya."
"Kita tunggu hasil nego..oya Lis..berapa hari ini aku akan sibuk karena proyek Pak Wandi sudah bergerak. Kau bisa tangani semuanya bukan? Jangan terlalu bebankan bapak ya! Kau bisa ajak mas Rangga diskusi soalnya aku lihat Rangga punya potensi sendiri."
"Ok...yok balik! Bau.."
Sania mengangguk setuju pada usulan Lisa tinggalkan lokasi yang masih kumuh. Bau tak sedap bikin pedas hidung.
Keduanya berjalan balik ke bengkel utama. Para pekerja mulai istirahat berberes beres makan siang. Ada yang cuci tangan, ada yang pergi ganti baju biar makan dengan bau makanan itu sendiri. Bukan gulai berbau oli.
Anak remaja tadi balik membawa berbungkus makanan dalam tas kresek. Sania dan Lisa memantau dari jauh lihat apa yang dilakukan anak itu.
Tanpa ragu anak itu bagi nasi bungkus tanpa memilah. Ini bisa dipastikan setiap bungkus porsinya sama. Terakhir dia dapat jatah bungkusan terakhir. Wajahnya sumringah dapat jatah makan enak. Biasa paling tahu dan tempe. Sekali dapat juga ikan.
__ADS_1
Anak buah bengkel bersyukur Lisa memberi jatah makan enak hari ini. Mereka tak tahu yang belanjakan mereka adalah Sania. Uang dari tangan Lisa maka Lisalah jadi donatur makan siang orang bengkel.
Bagi Sania itu tak jadi masalah. Yang penting semua bahagia. Berbagi itu indah tetap jadi kalimat andalan menuju kepuasan hati. Memang indah berbagi.