MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Melawan


__ADS_3

Rangga dan Sania menyimak penjelasan Toni tanpa menyela. Sebenarnya Sania tak begitu tertarik bahas type mobil. Asal Rangga nyaman dengan mobil tersebut sudah tak masalah. Saniapun tak terlalu ngerti soal otomotif. Dia hanya pintar bawa mobil. Selebihnya blank soal kuda besi itu.


Dari pada ikut pusing Sania memilih duduk santai di sofa khusus untuk tamu. Gadis ini buka buka brosur yang terletak di meja. Aneka ragam type mobil tercetak dalam setiap brosur. Dari yang mungil kayak mobilnya sampai yang segede gajah.


Sania sedikitpun tak tertarik beli mobil untuk diri. Satu mobil saja tak habis dipakai. Sania bukan pejalan. Keluar rumah hanya ke kantor dan proyek serta kadang belanja untuk isi kulkas. Sania fokus tuntaskan tujuan utama dia kembali ke tanah air. Setelah itu dia akan kembali ke negara kakeknya. Melanjutkan hidup layak tanpa beban lagi.


Ponsel Sania berbunyi ting. Sania melihat ada pesan masuk di wa.


Di MANA KAMU?


Sania menghela nafas setelah tahu siapa yang kirim pesan singkat itu.


LAGI ADA DIKIT URUSAN. LEWAT MAKAN SIANG AKU BALIK KANTOR.


Sania balas pesan Bara tanpa embel embel pak maupun basa basi sebagai calon pasangan hidup.


Tak ada balasan dari Bara. Sania menutup ponselnya sambil memantau sampai di mana hasil kerja Rangga memilih mobil. Sungguh bosan menunggu. Rangga itu orangnya cukup bertele tele dalam hal memilih. Tak mampu bertindak sigap.


Itu bukan gaya Sania. Sania selalu sigap tanggapi urusan apapun. Tapi dengan perhitungan maksimal. Tepat guna dan tepat waktu.


"Mas...Agra sudah mau pulang sekolah lho!" seru Sania mulai hilang rasa sabar.


Rangga hampir lupa ada bawa Sania bersamanya memilih mobil. Keasyikan pantau mobil satu persatu hingga lupa diri.


"Mas bingung dek!" ngaku Rangga tak punya pendapat.


Sania langsung loyo. Hampir satu jam memilih jawaban cuma keluar kalimat bingung. Ingin sekali Sania jitak kepala abangnya. Rasa kesalnya bisa terobati andai bisa dilepaskan.


"Ya sudah! Ambil yang itu!" Sania menunjuk fortuner warna putih dengan asalan. Mobil itu gagah dan kokoh. Dibawa jalan sama pacar juga tak bakal malu maluin.


.


"Itu berbahan bakar diesel varian 4x4. Jenis matic. Pilihan cocok untuk Rangga. Kita urus administrasinya. Cash atau kredit?"


"Cash..bisa langsung on road?" tanya Sania tak banyak basa basi.


Toni meninggalkan Rangga mendekati Sania pasang gaya macho laki tulen. Ternyata bukan Rangga penentu pembelian mobil namun Sania. Toni pergunakan kesempatan dekati Sania sambil tebar pesona. Siapa tahu Sania bisa nyangkut di hati.


"Dek..itu lumayan mahal lho!" Rangga menolak mobil terlalu mewah menurutnya.


"Mas...kalau ikuti cara mas sampai tahun depan mobilnya masih di sini. Ayoklah mas! Kita harus jemput Agra dan aku harus ke kantor. Bosku sudah minta aku balik kantor."


Rangga tahu Sania kerja sama orang tak bisa seenak perut ijin terlalu lama. Dari pagi mereka sudah jalan sana sini belum ketemu apa yang dicari. Andai ikuti gaya Rangga bisa bisa mereka nginap di showroom Toni.


"Kau balik kantor saja. Biar mas urus di sini. Agra mas yang jemput."


"Tapi kita janji bawa dia belanja." Sania teringat semangat Agra menyala dengar mau dibeliin permintaannya. Sania mana tega ingkar janji pada anak lajang itu. Sebagai kakak Sania wajib tepat janji apalagi mereka baru jumpa. Lebih tak boleh tinggalkan kesan buruk.


"Tunggu kau pulang kantor saja!"


"Ok! Ini kartuku. Bayar pakai kartu ini. Nama pemilik atas nama abang saja."


Rangga menatap kartu sakti di tangan adiknya. Rangga bangga juga terharu Sania percaya padanya urus keuangan.


Di jaman ini demi uang tak ada kata saudara lagi. Tak jarang terjadi baku hantam hanya karena materi. Bahkan nyawapun sering melayang demi rebut harta. Banyak kasus anak tega habisin orang tua karena masalah pembagian harta, saudara kandung saling bacok demi seonggok emas. Suami bunuh isteri juga silau materi plus gara berselingkuh.

__ADS_1


"Kamu tenang saja. Mas takkan siakan uangmu. Hati hati di jalan." Rangga menerima kartu Sania dengan berat hati. Tapi Rangga juga tak mau adiknya kehilangan kerja. Menahan Sania lebih lama makin percepat Sania kena omelan sang bos.


"Pin kartuku adalah ulang tahunku."


Rangga tak perlu komentar lagi. Dia ingat jelas kapan ulang tahun Sania. Setiap tahun Rangga mengingat hari jadi ulang tahun sang adik. Dalam hati hanya bisa kirim doa semoga Sania selamat di manapun dia berada.


Sania segera berangkat menuju ke kantor. Bara takkan telepon dia kalau tak penting. Mungkin laki itu menemukan kendala dalam mengurai rancangan Sania.


Semua rancangan hasil karya Sania. Tak seorangpun campur tangan. Andai ada tak dipahami tentu saja Sania bertanggung jawab memberi penjelasan.


Toni mencolek Rangga yang masih terpaku melihat Sania menghilang bersama mobil mungilnya. Ada rasa kehilangan dalam hati walau Sania tidak pergi jauh. Hanya ke kantor. Rangga trauma kehilangan adik tercinta selama bertahun tahun. Kini jumpa lagi. Rangga takut Sania hilang lagi.


"Rangga..siapa sih dia?"


"Jangan masukkan dia dalam buku targetmu! Kujamin hidupmu bakal pendek bila berniat ganggu dia." ancam Rangga tak main main.


"Sadis amat...pacarmu? Cantik banget! Kapan ente putus dengannya?"


"Kami takkan putus. Kita mulai dengan mobil yang diinginkan Sania. Harga harus lebih rendah dari tempat lain ya!"


"Rebes bro! Aku akan usahakan keluar hari ini juga. Kita ke gudang biar kamu bisa pilih yang sesuai selera."


"Siippp...dia suka warna putih. Ikuti saja seleranya. Sebenarnya aku suka hitam. Lebih angkuh."


"Kita ke lokasi gudang dulu. Lihat warna lain. Kau bisa diskusi sama Sania soal pilihan warna. Kau tinggalkan fotokopi KTP biar langsung diproses. Kita balik sini sudah tinggal teken."


Rangga mengeluarkan dompet ambil KTP untuk jadi syarat pertama membeli mobil. Toni mengambil KTP Rangga diserahkan bagian administrasi. Lalu kedua laki ini pergi ke gudang penyimpanan mobil milik keluarga Toni.


Yang dipajang di showroom tak bisa diambil karena itu hanya contoh mobil untuk dipantau pelanggan. Stok asli ada di gudang penyimpanan yang tempatnya tentu jauh dari pusat kota. Gudang besar tak mungkin berada di tengah kota karena akan merusak tata ruang pusat kota.


Sania langsung naik ke tingkat dua di mana mejanya masih setia menunggu sang majikan datang menempatkan diri.


Dea berseru kecil melihat Sania datang tergesa gesa. Perempuan Batak itu beri tanda ke ruang kerja Bara pakai bibir. Bibir tebal Dea makin jelek dimajukan beberapa senti. Persis bibir ikan emas koi. Manyun runcing.


"Siapa?" tanya Sania berbisik lihat ada tamu di ruang Bara.


"Ngak tahu..dia datang mencarimu." balas Dea ikutan berbisik.


Sania penasaran siapa mencarinya sampai ke kantor Bara. Teringat dia belum banyak yang tahu dia kerja di kantor Bara. Cuman Pak Wandi dan keluarga Pak Bur.


Perasaan Sania menjadi tak enak karena bayangan dalam ruang Bara seperti sosok manusia yang paling mau dia hindari. Apa mungkin Bobby nekat datang mencarinya sampai ke tempat kerja barunya.


Bobby sungguh sudah hilang akal sehat bila berani masuk ke wilayah orang mencarinya.


Tak seharusnya Sania balik bila harus jumpa manusia sejahat Bobby. Setiap kalimat Bobby yang tega menghinanya terngiang jelas di kuping Sania. Dalam setiap kata Bobby memandang rendah padanya. Anggap Sania gadis tolol bisa dirayu. Bobby tak tahu Sania punya tanduk jin lebih jahat lagi kalau terdesak harus digunakan.


Sania bisa seruduk musuh dengan tanduk tajamnya. Lebih kejam dari perlakuan tak gentle lawan. Sania akan membuat Bobby sengsara dengan cara elegan. Tak perlu caci maki kayak wanita lain. Makin marah malah Bobby mengira Sania masih cinta padanya. Sania marah karena cemburu.


Sania tak open siapa tamu Bara. Toh Bara tak memanggilnya masuk untuk temui makhluk setingkat jin ifrit itu. Sania buka laptop lanjutkan kerjanya yang tertunda.


"Kak Dea...suami kakak bisa kerja di bengkel Pak Bur. Untuk sementara kerja apa yang bisa. Nanti kuberi alamat Pak Bur. Suruh suamimu langsung ke sana." bisik Sania pelan takut di dengar orang dalam ruang Bara.


Mata Dea bersinar terang. Secercah harapan datang terangi bahtera rumah tangganya. Suaminya tak perlu pulang kampung ikut jadi petani buah dan sayuran. Dea sendiri bisa lanjutkan kerja di kantor Bara. Saling membahu bangun bahtera lebih kuat hadapi badai kehidupan yang makin berat dari hari ke hari.


"Terima kasih Sania...kau adalah malaikat penyelamatku." Dea tak malu menyalami Sania salurkan rasa bahagia suami dapat kerja.

__ADS_1


"Ssssttt..kamu belum lihat tanduk luciferku. Kejam.." Sania guyon supaya Dea tak tegang. Dapat harapan baru adalah kado terindah dalam hidup. Hari ini Sania beri Dea kado sederhana namun sangat berarti bagi keluarga Dea.


Sania dan Dea saling melempar senyum senang. Hati Dea terasa plong suami dapat kerja. Sania merasa tubuh lebih ringan telah membantu sahabat melewati titi rusak menuju ke jalan lebih mulus.


"Sania..." terdengar panggilan bernada berat dari balik pintu kaca.


Perut Sania kontan mules. Panggilan Bara seperti tiupan sangkakala kematian. Sania membeku tak bisa menjawab panggilan Bara. Hanya tatapan mata Sania bermain menatap Bara seakan minta pengecualian tak usah masuk ke ruang Bara.


"Sania..masuklah!" Bara mengulang panggilannya.


"Apa mesti masuk?"


"Kamu mampu." Bara menguatkan Sania untuk hadapi kenyataan. Cepat atau lambat Sania akan bertemu Bobby.


Yang harus terjadi memang pasti terjadi. Mengelak selamanya juga tak ada guna. Sekarang tinggal tekat Sania menolak setiap ajakan Bobby.


Sania bangkit dari tempat duduknya sambil mengucap kata Bismillah. Sania tegakkan badan busung dada maju ke ruang Bara.


Bara tahu Sania sedang dilema masuk ruang kerjanya. Bara takkan biarkan Bobby semena mena pada calon isterinya. Tugas Bara tentu saja melindungi gadisnya semampunya.


Bara memberi ruang pada Sania masuk ke ruangnya. Bara ikut dari belakang biarkan Sania berjalan duluan.


Bobby langsung bangkit dari bangku begitu melihat Sania masuk ruang kerja Bara. Laki ini pasang wajah seakan rindu pada Sania. Bobby maju hendak memeluk Sania namun gadis ini mundur ke belakang tubuh Bara. Sania meminta perlindungan calon suami.


"Sania...ini aku pacarmu! Mengapa kabur?" tanya Bobby sok mesra.


"Maaf pak Bobby! Ini kantorku. Dan lagi Pak Bobby sudah berkeluarga tak pantas ganggu anak gadis orang." Bara mual lihat gaya Bobby mau bodohi Sania lagi. Bara takkan biarkan Bobby lakukan hal tak pantas di kantornya.


Kalaupun Sania bukan calon bini, Bara akan tetap beri perlindungan sebagai bos perusahaan.


"Aku memang sudah menikah tapi aku tetap akan menikahi Sania sesuai janjiku. Aku sangat cinta pada Sania."


"Maaf ya Pak Bobby! Sania adalah karyawanku! Aku wajib lindungi dia selama dia perlu. Sania bukan gadis tak ada harga yang bisa bapak bodohi. Gadis mana mau jadi simpanan bapak?"


"Apa urusan denganmu? Sania tak mungkin menolak cintaku. Kami saling mencintai." Bobby mau ke depan menantang Bara.


Kedua laki berbadan besar saling berhadapan tak mau ngalah. Bobby tak sadar telah membodohi diri sendiri yakin Sania masih suka padanya. Dalam otak Bobby tersimpan memori Sania gadis lugu gampang diatur. Bobby tak tahu Sania jauh lebih cerdas darinya cuma Sania masa bodoh dengan kelakuan menjijikkan Bobby.


Nama Bobby sudah di delete dari hidup Sania sebagai orang terkasih. Sania menambah nama Bobby sebagai musuh yaang harus dibasmi. Kini Bobby berani datang ingin bodohi Sania lagi.


Bobby bermimpi masih bisa rayu Sania dengan kata kata mesra maka Sania akan kembali ke kantornya diimingi jadi isteri muda.


"Maaf pak...aku sudah tak kerja di perusahaan bapak jadi jangan datang ganggu hidupku lagi. Semoga bapak bahagia dengan orang top itu. Bapak hanya masa laluku. Silahkan bapak keluar dari kantor ini! Bapak tidak diterima di sini."


Bobby tak terima ditolak Sania. Bobby sudah yakin Sania akan bangga diajak nikah walau hanya sebagai isteri siri.


"Sania sayang...aku menikah dengan Ranti karena terpaksa. Aku dijebak hingga tak tahu bagaimana dia hamil. Aku harus bertanggung jawab. Percayalah di hatiku cuma ada kamu!"


Mata Sania menyipit dengar alasan Bobby nikahi Ranti. Andai Sania tak dengar sendiri pembicaraan Ranti dan Bobby di rumah mewah yang disponsori PT SHINY bisa jadi Sania akan goyah. Tapi sayang Tuhan masih berpihak pada Sania menunjukkan wajah asli Bobby.


Dalam setiap kalimat Bobby selalu ke depankan kata gadis tolol dan bodoh. Gampang diurus asal dirayu sedikit. Bobby tak tahu Sania akan jadi mimpi buruk Bobby.


"Baiklah! Aku kasih bapak kesempatan."


"Tuhkan..Kau masih sayang padaku. Ayo katakan syaratmu!" ucap Bobby tertawa ngejek pada Bara.

__ADS_1


Bara merasa dadanya mau meledak Sania masih kasih kesempatan pada Bobby.


__ADS_2