
Wajah Sania pucat pasi tak sangka kondisi Nania bisa berubah sekejap. Selama ini Sania tak pernah lihat Nania dalam kondisi terendah. Sania tahu Nania kurang sehat namun tak kira bisa sampai tahap ini.
Bara tak sempat perhatikan keadaan Sania lagi karena kejar Nania yang sedang ditangani di ruang ICU. Sania duduk lemas serasa tak bertulang. Nafas Sania sesak masih terbayang Nania kejang kejang seperti ayam dipotong.
Tanpa sadar Sania nangis tersedu sedu tak sanggup lihat penderitaan Nania. Sania ditinggal sendirian menangisi nasib Nania. Dunia Sania serasa mau runtuh seakan mau kiamat. Ternyata begini sakitnya melihat orang yang kita kasihi dalam keadaan sekarat.
Roy masuk ke ruang rawat inap Sania kaget lihat Sania terduduk lemas di atas tempat tidur. Wajah Sania pucat pasi seperti lihat hantu ganas. Roy cepat cepat dekati Sania sambil menepuk bahu Sania agar sadar.
Sania mengangkat kepala menatap Roy dengan mata berkaca kaca. Roy menduga telah terjadi sesuatu yang dahsyat memicu emosi Sania naik lagi. Gadis ini baru saja alami syok ringan kini berurusan lagi dengan syok tingkat tinggi.
"Sania...ada apa?" tanya Roy pelan.
"Mbak Nania.." sahut Sania dengan bibir bergetar hebat. Pandangan mata Sania kosong seakan tak ada rohnya.
Roy segera menarik Sania ke pelukannya untuk tenangkan bini muda Bara. Kalau Bara mau marah padanya lancang memeluk bininya itu urusan nanti. Saat ini Sania butuh seseorang untuk beri rasa aman.
"Nania sudah sering gini. Percayalah dia takkan apa apa! Sudah lama dia begini, setiap kali dia bisa lalui tanpa masalah. Sekarang kau makan dikit dulu! Kau harus kuat untuk dampingi Nania ke depan." bujuk Roy lembut. Roy berusaha menekan perasaan agar jangan sempat suka pada bini sahabatnya. Sania memang menarik tapi itu milik sahabat sendiri. Roy tak boleh ambil kesempatan menikung Bara.
"Mbak Nania sekarat pak Roy."
"Tenang! Dulu Nania pernah lebih parah lagi. Jantungnya sampai berhenti. Toh dia aman sampai sekarang! Kau makan ya! Aku ada beli bubur ayam untukmu." Roy melepaskan pelukan mengambil bungkusan dari kantong plastik. Roy keluarkan bubur yang tersimpan dalam kotak styrofoam.
Bubur ayam keluarkan bau menggugah selera. Perut Sania yang kebetulan sudah lapar tak menolak disuguhi bubur wangi bawaan Roy. Roy mengambil sendok lalu menyuapi Sania perlahan. Sania tak sanggup bertingkah menolak perlakuan lembut Roy.
Roy jauh lebih lembut dari Bara. Roy lebih tahu cara perlakukan gadis muda macam Sania. Gadis muda macam Sania tak bisa dikasari, maunya diperlakukan lembut bak puteri raja. Apalagi gadis seperti Sania yang sudah malang melintang di masyarakat ramai. Jiwanya sudah terlatih tahan badai. Namun Sania mudah syok bila tersentuh ranah tang menyangkut emosi kewanitaan. Sania paling tak bisa terima kalau orang yang dia kasihi menderita.
Roy dengan telaten menyuap Sania hingga bubur kandas di perut Sania. Kini perut Sania terasa hangat. Wajah juga tak sepucat tadi. Rona merah mulai terpancar dari pipi mulus Sania. Roy bersyukur Sania mulai bisa kontrol emosi.
"Enakan?" tanya Roy sambil berikan air mineral pada Sania sebagai penyegar kerongkongan setelah dilewati bersendok sendok bubur hangat.
"Terima kasih pak Roy."
Roy tertawa kecil dipanggil pak oleh Sania. Roy merasa tua banget dapat panggilan demikian. Atau tampang Roy memang sudah tua. Di usia di atas tiga puluh belum temukan tambatan hati.
"Di sini tak ada pak Roy. Yang ada Kak Roy..panggil aku kak Roy saja! Aku merasa tua banget kau panggil bapak."
Sania hanya mangut masih belum ada semangat bercanda. Pikiran Sania masih melayang pada Nania. Bagaimana keadaan wanita itu?
"Kak..kita lihat kondisi mbak Nania yok!"
"Kamu sini saja. Biar Bara yang urus dia. Kasihan Bara kalau kau juga drop! Kalau kau sayang pada Bara maka kau harus patuh."
Sania benarkan kata Roy. Saat ini Sania tak boleh mengacaukan pikiran Bara. Laki itu mungkin juga sedang panik lihat kondisi Nania yang sangat jauh dari kata sehat.
"Kak Roy sangat kenal mbak dan Pak Bara?"
"Kami sahabatan dari dulu. Bara lebih pintar cepat wisuda dan langsung lanjut S2. Kami yang bodoh cuma mentok di S1. Sebenarnya pacar Bara itu Arsy. Ada sedikit masalah maka alur cerita berubah. Nania dinikahi Bara." Roy tak mau buka aib teman sendiri pada gadis muda di depannya. Biarlah Bara yang buka kisah mereka kalau dia mau. Roy bukan teman yang suka menikam teman sendiri dari belakang.
"Pak Bara sudah cerita sekilas. Aku masih kurang ngerti mengapa Arsy tega khianati laki sebaik Pak Bara. Apa kekuatan cinta mereka serapuh kerupuk."
Roy tertawa pahit mengingat kisah cinta rumit antara Bara, Rudi, Arsy, Nania dan Doni. Roy tahu Nania dan Arsy memang suka pada Bara. Bara memilih Arsy membuat Nania terpaksa pacaran sama Doni. Kisah belit muncul tatkala Arsy selingkuh dengan Rudi dan Naniapun kehilangan Doni. Alur cerita berubah tanpa ada penulis skenario handal. Plot cerita berubah begitu saja.
"Ntahlah! Kamu masih muda hanya melihat orang dari sisi baik. Suatu saat kau akan ngerti mengapa keluarga Bara tak bisa terima Nania. Aku tak boleh buka aib orang."
"Iya kak..biarlah aku mengenal mbak Nania yang saat ini. Aku tak perlu tahu masa lalu mbak. Oya bagaimana proyek perumahan? Sudah sampai tahap apa?"
__ADS_1
"Masih gali cakar dan aku masih menata taman dan tanaman pelindung. Kata Bara kau yang urus proyek ini dari awal. Kau sangat berbakat memikirkan semua sampai sedetailnya. Kau lulusan kampus mana?"
Sania tertawa ditanya lulusan kampus mana. Seharusnya Roy tanya lulusan universitas mana? Bukan kampus.
"Aku kuliah di Harvard S2."
Roy terperanjat gadis kecil yang dianggap anak ingusan ternyata lulusan luar negeri. Universitas top dan gelar keren. Masih muda sudah S2. IQ Sania pasti lebih tinggi dari gadis umum.
Kalau Sania dibilang anak SMU orang juga akan percaya. Soalnya Sania memang bertampang imut bikin gemas. Dewi Fortuna sedang berpihak pada Bara dapat anugerah seorang bidadari tanpa sayap.
"Wow...kukira kau anak kecil masih magang sedang susun skripsi. Ternyata anak buah Pak Albert Einstein."
"Apa aku demikian mungil?"
"Terlalu mungil untuk makhluk sebesar Bara. Kau akan seperti si kerdil bila berdiri sama Bara."
"Sedemikian besarkah gap antara kami?"
"Tidak terlalu. Tapi kami para cowok suka wanita mungil karena enak digendong." gurau Roy berusaha ajak Sania ngobrol agar perhatian Sania tidak tertuju pada Nania melulu.
"Jadi kalian punya bini hanya untuk digendong?"
"Salah satunya ya gitu! Kamu beruntung dapat Bara. Dia itu orangnya setia. Nania yang sekarat dia sayangi. Apalagi kamu yang muda, cantik dan pintar. Bara sejuta persen sayang padamu."
"Kak Roy dibayar berapa sama Pak Bara kok promosi dia?"
"Tidak dibayar cuma dikasih kerja. Aku sudah lama nganggur. Dulu pernah kerja sama Bara tapi sejak perusahaannya agak mundur aku beralih profesi buka cafe. Kini Bara banyak kerja dia ajak aku kembali."
"Aku juga ajak Rudi bantu Pak Bara." kata Sania santai seakan tak pernah terjadi apa apa antara Rudi dan Bara.
"Terima..Pak Bara sudah move on dari masa lalu. Anak Kak Rudi juga sedang dirawat karena jantungnya bermasalah."
"Kau sudah jumpa Rudi?"
Sania mengangguk buat Roy puyeng. Sania sedang berbuat apa hidupkan kisah lama yang sudah lama terkubur. Apa Sania mau Bara dan Rudi bertempur dalam kebisuan? Pekerjakan rival masa lalu bukan hal gampang buat Bara yang tersakiti cukup parah. Calon isteri selingkuh sampai hamil.
"Masa lalu hanya boleh diingat untuk jadi pelajaran masa depan. Bukan untuk dijadikan ajang balas dendam. Kalau Pak Bara berani pekerjakan Kak Rudi karena potensinya artinya Pak Bara sudah dewasa."
"Kau benar. Kau masih muda tapi cara bicaramu tak ubah nenek-nenek sudah uzur."
"Kalau kubilang umurku sudah empat puluh kau percaya ngak?"
Roy berenung coba percaya kata Sania. Sania tak ada tampang gadis berumur lebih dari tiga puluh tahun. Kulitnya masih kencang dan raut wajah juga imut. Kelihatannya Sania sedang uji kejelian Roy taksir umurnya.
"Kau berumur dua puluh gitu. Orang boleh operasi plastik tapi tetap ada kekurangan. Kami laki memang nakal suka perhatikan wanita wanita. Mata kami belum bisa berbohong mana gadis tua dan muda."
"Kau sangat jeli. Umurku hampir dua puluh empat. Sudah masuk masa kritis untuk seorang gadis belum laku."
"Laku? Kalau kau dipajang pasti laris manis. Sayang keburu dibeli Bara."
"Idihhh..kayak pakaian saja dipajang. Eh..gimana mbak Nania ya? Kita cari tahu yok!" Otak Sania kembali teringat pada orang yang telah terukir di hati. Sia sia Roy alihkan perhatian Sania dengan ngobrol. Ujung ujung tetap balik topik utama.
"Kau tunggu sini saja biar aku yang lihat. Kau pasien rumah sakit tak boleh keliaran." Roy beranjak dari kursi keluar kamar Sania sebelum gadis itu minta ikut. Ribet kalau Sania ikut mengetahui sesuatu tentang Nania.
Sania tak membantah ijinkan Roy mencari Bara. Sania sendiri belum siap mendengar kabar buruk dari Nania. Hati Sania belum bisa terima kalau terjadi sesuatu pada Nania. Waktunya bersama Nania belum lama. Masih banyak cita cita Sania untuk Nania.
__ADS_1
Di depan ruang ICU Bara mondar mandir gelisah menanti Nania ditangani para ahli medis. Dalam hati Bara tak henti berdoa semoga Nania diberi kekuatan lawan penyakitnya.
Roy datang hampiri Bara sambil menepuk bahu temannya beri semangat. Di saat gini dukungan sahabat paling penting. Roy memang tak bisa janjikan kesembuhan Nania namun sebagai teman dekat Roy wajib beri doa dan dukungan.
"Gimana Bar?"
Bara menggeleng. Wajah Bara pancarkan rasa putus asa mendalam. Roy turut prihatin kondisi sahabat isterinya tak bagus.
"SpO2 turun sampai 50 persen. Ini tahap kritis. Kayaknya HB nya juga turun. Mungkin harus tambah darah."
"Ya Allah...apa yang bisa kita lakukan sekarang?"
"Berdoa.." sahut Bara putus asa.
"Sudah kau telepon keluarga Nania? Mereka harus tahu kondisi Nania."
"Belum..biar kutelepon." Bara hampir lupa kasih kabar pada keluarga Nania tentang kondisi Nania yang cukup serius. Bara memang tak suka keluarga Nania yang suka merongrong Nania minta ini itu. Terutama Nada sang kakak yang selalu bermimpi ganti posisi Nania bila wanita itu meninggal.
Semarah apapun Bara pada mereka namun prosedur tetap harus ada. Sejelek apapun mereka tetap keluarga Nania.
Bara meneleponi Nada kasih tahu keadaan Nania tak bagus. Bara harap keluarga Nania bersedia luangkan waktu lihat kondisi Nania.
Orang tua Bara datang juga bersama Fadil. Mereka langsung ke tempat di mana Nania dirawat. Walau semua tak suka pada Nania namun nilai kemanusiaan tak luntur dari hati orang tua Bara. Sejelek apapun Nania dia tetap isteri Bara.
Wajah Pak Jaya dipenuhi kecemasan. Begitu juga Bu Jaya. Hanya Fadil tampak lebih santai seolah kondisi genting gini tak pengaruhi moodnya. Mata Fadil lebih liar mencari objek yang dia inginkan.
"Bagaimana Nania nak?" tanya Bu Jaya cemas.
"Sangat buruk." sahut Bara lemah.
"Lalu mantuku yang satu lagi? Katanya juga dirawat?"
Bara tersadar masih ada Sania di ruang perawatan. Mengapa saking panik bisa lupa masih ada gadis lain butuh perhatian Bara.
"Sania tak apa. Dia ada di ruang rawatan."
Fadil yang dengar kabar ini kontan sumringah. Objeknya sudah ketemu. Tinggal ayunkan langkah menuju ke titik fokus pencariannya.
"Biar kukawani kakak ipar cantikku. Kalian jaga saja kakak ipar tua. Yang muda jatah aku." Fadil tersenyum licik tak peduli pancaran hawa membunuh dari mata Bara.
Bara bukan tak tahu kalau adiknya suka sekali pada Sania. Segala akal bulus pasti dikeluarkan rubah licik itu untuk tari perhatian Sania.
Sania gadis muda mudah terpengaruh pada pengaruh pemuda seusia yang tentu lebih bervariasi cara interaksi. Bara mana rela biarkan Fadil merayu bini mudanya.
"Kau di sini saja buaya! Jangan kau usik Sania! Dia juga kurang sehat." Bara menahan Fadil yang ingin pergi ke ruang rawat Sania.
"Mas Bara tenang saja. Aku pasti akan jaga kakak ipar dengan baik. Jika perlu kubawa pulang ke rumah agar lebih teliti perawatan dari aku yang ganteng." Fadil menepis tangan Bara yang sudah terlanjur mencekal tangan Fadil. Ketegangan hadir antara kedua abang adik itu.
Roy yang tahu keadaan cepat bertindak sebelum Bara lepas kontrol. Emosi Bara saat ini sedang kurang bagus. Diberi sedikit percikan api pasti akan membakar seluruh ruang dengan amarah setinggi leher.
"Kalian di sini saja. Biar aku yang temani Sania. Sania butuh ketenangan." Roy melerai agar tak terjadi pertumpahan darah.
"Pergilah Roy! Katakan Nania sudah agak mending cuma masih harus observasi. Jangan pancing emosinya! Dia sangat sensitif bila dengar Nania dalam kondisi drop." kata Bara ingat fisik Sania belum stabil karena baru lalui syok gara dapat tekanan darinya.
"Baik.." Roy segera pergi untuk dinginkan suasana.
__ADS_1
Bukan Fadil namanya bila digertak sekali langsung patuh.