
Sania sangat kecewa pada Bara. Nyali Bara hanya segede jari semut. Hendak dilihat cara acungkan jempol harus pakai mikroskop. Lihat ke arah mana dia arahkan ujung jari.
"Aku akan resign dari sini cari perusahaan yang berani maju rebut tender ini. Proyek ini sudah kuincar dari tahun lalu. Segala sumber dayaku tercurah di proyek ini. Maaf pak!" Sania balik badan tak mau bujuk Bara untuk maju. Tak ada guna memaksa bila yang bersangkutan tak mau berjuang.
"Sania...jangan gitu! Aku tak mau lakukan sesuatu di luar batas ku. Aku tak mau kerja setengah hati." Bara mengejar Sania sebelum mencapai pintu kaca ruang Bara.
Bara mencekal kedua bahu Sania berhadapan dengan gadis itu. Sania makin mungil berdiri sejajar dengan Bara. Bara menjulang tinggi di antara tubuh kecil Sania.
"Maaf pak! Aku sudah cukup lama berjuang. Aku takkan berhenti. Semua alasan bapak tak masuk otakku."
"Kau akan balik ke Bobby?" tanya Bara bergetar.
"Bobby? Siapa itu? Aku bisa cari perusahaan lain. Tak usah kuatir. Aku tetap jaga mbak Nania."
"Jangan konyol! Aku tak mau kamu terseret masalah bila tak mampu tangani proyek raksasa itu. Kau masih muda. Harimu masih panjang untuk berkarya."
"Ini tantangan buatku! Aku akan jawab tantangan ini. Tanpa bapak aku juga bisa."
Bara tak sangka tekad Sania sangat besar di proyek ini. Dalam otak Sania hanya bagaimana menang tender lalu tunjukkan seorang insinyur jempolan.
"Bagaimana kau mau ngerti niat baikku? Aku hanya mau lindungi kamu."
"Tak perlu. Aku sudah biasa jalan sendiri." ketus Sania buat Bara hilang akal.
CS sinting muncul lagi membawa kopi untuk Bara. Mata laki muda itu tertuju pada Sania dan Bara yang masih berdebat. Tangan Bara masih berada di bahu Sania. Bara belum mau kehilangan Sania di perusahaan dan juga di rumah. Kalau Sania resign pasti akan menjauh darinya.
Bara mulai tahu sifat keras Sania. Gadis ini gigih pertahankan satu pendapat yang betul di matanya. Proyek raksasa bukan proyek abal-abal yang bisa ditunda sesuka hati. Bara takut Sania tak mampu pikul beban seberat itu. Sania hanya seorang gadis muda belum banyak jam terbang di bidang konstruksi. Salah dikit bisa bawa petaka berimbas semua pekerja.
"Sania...dengar aku! Ini bukan hanya sekedar salurkan jiwa mudamu. Jangan merasa tertantang lalu mau coba! Pikir panjang. Ayo duduk minum kopi dulu! Tenangkan otakmu!" Bara membawa Sania ke sofa panjang khusus untuk tamu.
CS sinting itu melirik ke arah Sania pakai ekor mata sekejap lalu keluar ruang Bara. Gerak gerik CS itu mencurigakan seperti sedang mengintai sesuatu.
"Pak...ini adalah tujuanku menjadi seorang insinyur. Kalau hanya kerjakan itu itu saja kapan ada kemajuan? Bapak tak sanggup pikir? Biar aku yang pikir." Sania melengos hindari tatapan ragu Bara. Mentang dia gadis muda diragukan kemampuannya. Picik sekali cara pikir Bara.
"Kita bisa dipenjara bila tak bisa selesaikan kontrak kerja. Aku tak mau kamu terpuruk di tempat tak pantas."
"Bukankah enak makan tidur gratis di penjara?" Bobby matian kejar proyek ini sedang bapak nolak. Di mana jiwa seorang insinyur. Dosen bapak pasti nyesal pernah ngajar bapak waktu kuliah. Ilmu yang diberikan terbuang sia sia."
Bara tak berkutik dihajar mulut tajam Sania. Apa yang dikatakan Sania memang benar. Seorang insinyur tak boleh menolak segala macam tantangan di bidang konstruksi. Tapi kasus ini beda. Bara tak yakin bisa sediakan alat berat segitu banyak untuk pembangunan satu kota baru di pulau B. Sania malah semangat ingin menangi tender.
"Bapak ingin aku balik ke PT BUILD?"
Bara melotot perbesarkan mata, "Kau berani?"
"Kenapa ngak? Bobby toh minta aku kembali."
"Sadar siapa kamu saat ini?"
"Sadar...Sania bini Bara. Emang ada larangan wanita berkeluarga pergi kerja?"
"Sakit kepalaku bicara denganmu. Aki diskusi sama papaku dulu. Kamu gambar sketsa bangunan yang kuminta." Bara biarkan Sania menang dulu. Ribut terus takkan ada akhir. Sifat Sania keras tak bisa dibilang.
"Ok...permisi pak!" Sania bangkit tinggalkan ruang Bara.
Bara menyugar kepala pakai tangan merasa makin tua. Semangat anak muda macam Sania patut dipuji cuma harus ada perhitungan. Salah langkah bisa terjun bebas cari kematian.
Bara sakit kepala hadapi Sania. Laki ini mencoba minum kopi yang dibawa CS ke ruangnya tadi. Kopinya tak panas lagi tinggal hangat.
Bara langsung angkat cangkir ke bibir cicipi kenikmatan kopi pagi. Biasa Bara suka kopi ditambah satu sendok gula. Tidak manis tapi bisa rasakan citra rasa kopi asli.
__ADS_1
Bara menyemprotkan kopi ke lantai saking kaget dengan rasa kopi di tangan. Bukan manis atau pahit tapi asin. Asinnya melebihi kadar air laut. Ntah siapa gila seduh kopi asin ini.
Bara memanggil Dea pakai intercom. Dada Bara makin sesak disuguhi kopi aneh. Belum selesai dengan Sania dikejutkan kopi aneh pula. Amarah Bara merayap naik ke ubun kepala.
"Ya pak?" Dea masuk takut takut. Sekilas Dea melihat Bara dan Sania berdebat di ruangan tadi. Bara kelihatan marah pada Sania. Apa sekarang giliran dia?
"Siapa bikin kopi ini?"
"Kurang tahu pak. Biasa kan bagian pantry."
"Panggil dia!" bentak Bara keras.
Dea cepat cepat turun ke bawah cari orang yang bertanggung jawab bikin kopi bos mereka. Sebenarnya Dea tak tahu kenapa Bara marah sekali pagi ini. Pertama dengan Sania kini berlanjut soal kopi. Kenapa sih bos mereka hari ini? Belum sarapan atau kondisi bininya memburuk.
Dea tak punya kesempatan berpikir panjang kali lebar. Terpenting kini hadirkan orang yang bertanggung jawab soal kopi.
CS konyol malah sedang santai main hp di pantry. Kepalanya goyang goyang ikuti irama dari hand free di kuping. Tak tahu bahaya besar sedang mengancam dirinya.
"Halo..." Dea memanggil cowok itu tapi tak digubris. Dea terpaksa mencolek anak itu dengan keras.
CS itu membuka headset di kuping menatap Dea dengan tatapan lugu. Maskernya masih setia nangkring di wajah yang tak tahu gimana bentuk.
"Ya kak?"
"Kau yang bikin kopi bos?"
"Iya..." sahut cowok itu mulus tanpa merasa bersalah.
"Dipanggil bos. Ayo ikut!"
"Gajian ya?"
CS itu tertawa geli tak gentar sedikitpun diajak jumpa bos. Dengan gaya Flamboyan cowok itu ikut Dea naik ke lantai dua.
Dea mengantar cowok itu masuk ke ruang Bara setelah ketok pintu. Bara sudah berdiri di depan meja menanti orang yang berani kurang ajar padanya.
Melihat siapa yang datang Bara kontan pukul kepala orang itu di depan Dea. Sania yang ikut pantau dari luar kaget Bara pukul orang. Bara berubah kasar. Itu bukan sikap seorang pemimpin. Sebesar apapun salah anak laki itu tak bisa diselesaikan dengan pukulan
Sania cepat cepat masuk menghalangi Bara bertindak lebih kasar. Sania menarik cowok itu menjauh dari Bara agar tak ada kelanjutan adegan pemukulan.
"Pak...jangan gitu! Kalau anak buah salah harus ditegur. Bukan dipukul. Bapak bisa dilaporkan melakukan tindakan kekerasan." Sania melindungi cowok itu.
"Kau lindungi tuyul ini? Lihat apa yang sudah dia lakukan. Masukkan garam dalam kopi ku. Gila ngak?" Bara menunjuk muka cowok itu dengan kesal.
Sania berbalik badan menatap CS baru yang sedikit gila itu. CS itu tampak santai tak takut pada Bara.
"Benar?" tanya Sania lembut.
"Aku orang baru mana tahu beda garam dan gula. Sama sama putih kok!" bela si cowok sok lugu.
"Kenapa tak tanya? Ayo minta maaf pada Pak Bara! Kamu sudah salah jadi wajib minta maaf!" kata Sania ramah.
Bara merasa dadanya mau meledak. Pada cowok itu Sania lemah lembut tapi sama suami sendiri galak kayak macan cantik.
"Kau bela anak sinting ini? Kau tak kenal orang gila ini?" seru Bara masih panas. Bara mendekati cowok itu menarik masker di wajahnya. Semula Sania mengira Bara akan lepaskan bogem lagi. Ternyata tidak.
"Fadil..." seru Sania setelah masker cowok itu dibuka.
"Ya saya...CS baru sini!"
__ADS_1
Dea terpana melihat CS baru mereka sangat mirip Bara. Cuma cs mereka agak kurus tapi tak kalah tampan. Fadil cengar-cengir perlihatkan tampang tanpa dosanya.
"Kak Dea...tinggalkan kami. Aku kenal perusuh ini." Sania minta Dea tinggalkan ruang Bara. Hadapi kekonyolan Fadil perlu energi ekstra. Laki ini tak mau tahu susah orang. Dia mau berbuat tetap dilakukan.
"Mau apa kamu di sini?" tegur Bara setelah Dea keluar.
"Kejar Dewi cintaku." sahut Fadil masih dengan gaya rilex.
"Fadil...ini kantor! Jangan buat onar! Pulanglah!" bujuk Sania tak mau Fadil makin kacaukan pikiran Bara. Barusan tadi mereka berdebat seru kini muncul pula tukang rusuh menambah kekesalan Bara.
"Aku mau kerja di sini. Jadi CS boleh juga. Yang penting bisa dekat denganmu." Fadil melempar senyum genit pada Sania.
"Kau pergi atau kulempar kamu ke comberan!" ancam Bara mulai hilang kata sabar dalam kamus.
Fadil tersenyum tak open pada amarah sang abang. Tujuan Fadil muncul di kantor Bara tak lain hanya untuk dekat dengan Sania. Ancaman Bara bagai angin lalu di kuping Fadil. Fadil pun hilangkan kata gentar dari kamus supaya tiap hari bisa jumpa pujaan hati.
Fadil masa bodoh Sania sudah menikah dengan Bara. Mottonya cinta harus diperjuangkan. Berdiam diri Sania takkan merdeka. Fadil harus berjuang buat Sania merdeka bentuk keluarga sakinah yang nyata. Bukan keluarga dalam tekanan perjanjian.
"Mama sudah ijinkan aku bantu kamu di sini. Aku resmi jadi karyawan sini." Fadil menantang Bara busungkan dada tipisnya. Badan Fadil tak sekuku dada Bara yang padat berisi. Ditonjok Bara mungkin Fadil akan babak belur. Semua itu menyurutkan tak niat Fadil merebut perhatian Sania.
Sania cemas kalau abang adik itu berantem di kantor. Bara sedang badmood, Fadil keras tengkorak. Percikan gesekan bisa hasilkan nyalaan api bakar ruang kantor. Sania tak ingin kedua saudara itu jadi tontonan gratis karyawan.
"Fadil ayo keluar!" Sania menyeret Fadil keluar ruang kantor Bara.
Fadil tentu saja dengan senang hati dipegang tangan Sania. Fadil sengaja memegang telapak tangan Sania sambil beri senyum licik pada Bara. Bibirnya terbentuk senyum ngejek.
Bara ingin sekali gampar wajah adik liciknya namun Sania keburu seret Fadil keluar ruang kerja Bara.
Sania mendudukkan Fadil di bangku kerjanya dengan geram. Fadil selalu buat onar ganggu dia. Fadil mana bisa diajak bicara serius. Omongan orang dianggap angin lalu.
"Mau apa kamu di sini?" Sania berkacak pinggang mulai interogasi cowok sejuta akal licik itu.
"Nyusul bidadari hati." sahut Fadil polos.
Dea tertawa geli dengar jawaban Fadil. Ternyata dari tadi pagi mereka dikecoh karyawan baru songong. Pantas ada yang tak beres pada CS baru mereka. Bicara ngawur ntah ke mana mana. Kerja juga tak beres. Ngepel di saat karyawan sedang kerja. Kerja juga berantakan.
Dea tak sangka cowok mirip Bara datang demi kejar cinta Sania. Tak diragukan cinta cowok itu cinta mati.
"Fadil ini kantor...kumohon jangan bikin mood abangmu tambah buruk! Nanti kami digonseng sampai garing sama beliau. Kau pergi pulang saja!" bujuk Sania tak mau ladeni kekonyolan Fadil.
Dea kaget Sania sebut Fadil adik Bara. Pantas tampang mereka hampir sama. Tak diragukan kata kata Sania full kebenaran. Bara dan Fadil mirip.
"Aku akan manis duduk sini. Janji ngak bikin rusuh! Please.." Fadil menyatukan dua tangan memohon pada Sania diijinkan tinggal di kantor Bara.
"Abangmu takkan ijin Fadil! Kita di sini kerja bukan main petak umpet. Kau pulang nanti siang kita makan siang bersama. Kutraktir kau makan pizza vegetarian."
"Benar??? Ok...aku ke kantor papa dulu. Siang kujemput kamu. Jangan ajak manusia purba itu ya!" Fadil kontan bersemangat dijanji makan siang bersama.
Sania tak punya pilihan lain selain mengangguk. Andai cowok itu masih di kantor diapun tak bisa kerja dengan tenang. Fadil pasti akan bikin ulah cari perhatian Sania.
"Aku pergi..tunggu aku makan siang baby! Bye.." Fadil pergi dengan wajah ceria.
Bara pantau dari ruang kerjanya kegiatan Sania dan Fadil. Bara tak tahu dengan cara apa Sania berhasil usir pengacau kelas wahid itu. Bagaimana cara Sania hilangkan Fadil dari kantornya tak penting buat Bara. Asal pengacau itu tak di kantor hatinya lega.
Bara tahu Fadil datang untuk cari perhatian Sania. Fadil sudah katakan suka pada bini mudanya. Cowok itu pasti akan kejar Sania sampai ke manapun. Tak peduli Sania bini Abang sendiri. Maju pantang mundur.
Sania memberi senyum damai pada Bara supaya laki itu mulai fokus kerja. Sania sendiri curahkan perhatian pada data dan denah yang dikirim Bara soal pembangunan bank baru.
Tugas Sania adalah pelajari lokasi dan struktur tanah dulu. Tingkat kelembaban tanah sangat berpengaruh pada teknik membangun. Apalagi pembangunan bank ini cukup tinggi maka harus diperhitungkan dengan matang. Tak boleh asal tebak.
__ADS_1
Sania tak boleh beri resiko pada Bara memberi perhitungan tak tepat. Bara bisa terkena pinalti bila terjadi sesuatu dengan bangunan