MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Pasangan Baru


__ADS_3

"Siapa bilang gue tak punya ********? Ntar ente tanya sama calon bini gue ada apa tidak? Garangan siapa punya?"


"Jelas punya gue! Tuh sekali gerak hasilnya dobel. Punya ente belum terbukti keampuhan. Kasihan Sekar kalau senjata andalanmu dikokang seratus kali belum tentu punya daya tembak dahsyat."


Kuping Sania terasa panas dengar ocehan mesum antara Bara dan Roy. Kedua laki ini mungkin lupa ada orang lain di sisi tak terbiasa dengar obrolan delapan belas tahun ke atas. Moncong kedua laki ini bocor minta ditambal. Harus dibawa ke tukang obras ditambal biar punya saringan.


"Lieve...yang sopan. Ada anak bayi ikut dengar." ujar Sania gerah diperdengarkan kalimat tak senonoh. Bara lupa kalau ada ibu muda ikut numpang dalam mobilnya. Atau Sania memang tak dianggap oleh Bara.


Bara tersadar keceplosan bahas hal tak pantas di depan bini. Sania bukan type orang bisa diajak canda vulgar. Semua tingkah Sania sopan walau kadang kata-kata yang keluar dari bibir mungilnya pedas cabe rawit.


"Maaf...suka hilang kontrol omong sama orang impoten." Bara minta maaf namun sengaja ejek Roy. Ntah gimana reaksi Roy dibilang impoten. Darah laki itu pasti mendidih keluarkan uap panas.


Masa bodoh batin Bara puas kerjain bawahannya itu. Roy suka ngejek dia waktu bersama Nania. Jatah ranjang tak tersalurkan karena Nania sakit. Bara sering diejek punya perabotan karatan.


Ada masanya buat Bara balas dendam. Perlahan dendam itu dicicil sedikit demi sedikit. Bara tertawa puas sambil matikan ponsel tak peduli Roy teriak-teriak kesal.


Sania menoleh ke arah suaminya yang tertawa puas berhasil kerjain Roy. Sejak kapan suaminya kulkasnya bisa bercanda santai dengan orang lain. Biasa kaku kayak tiang bendera. Apa mungkin pengaruh bayi dalam perutnya?


Tapi apa hubungan Bara dengan kehamilan serta berubah jadi lebih manusiawi. Yang mengandung Sania, Bara hanya menitip bibit. Mengapa sang papa yang berubah? Otak Sania berputar-putar memikirkan efek dari kehamilannya.


"Mikir apa?" Bara seolah bisa baca pikiran Sania.


"Lagi mikir mengapa papa bayiku berubah genit? Atau memang genit dari dulu?"


"Kalau tidak genit mana mungkin ada si kembar? Aku rajin cocok tanam maka tumbuh subur." olok Bara makin bikin tanda tanya di benak Sania.


"Dari dulu rajin kan? Cuma tanam di ladang kering kerontang. Ladang bekas jajahan kompeni."


"Tak baik omongin orang yang sudah meninggal lho!" Bara ingatkan Sania untuk tidak ejek Nania yang sudah meninggal.


"Aku bukan omongin mbak Nania tapi harem-harem yang lain. Termasuk Arsy." Nada ramah Sania turun drastis menjurus ke titik beku.


"Itu masa lalu sayang. Semua orang punya masa lalu. Kita tinggalkan masa suram. Kau adalah harapanku, masa depanku." Bara mengulurkan tangan kiri menyentuh tangan Sania beritahu betapa besarnya rasa sayang di hati. Bara ingin membangun proyek mulia bersama Sania. Membangun keluarga samawa. Sakinah mawadah warahmah. Keluarga tenteram penuh cinta kasih dan dirahmati.


"Aku belum yakin Lieve mampu membawaku hidup damai. Perjalanan cinta Lieve kacau balau. Lieve juga tak bisa tutup mata pada masa lalu. Terbukti Maya dan Arsy bisa merampas perhatianmu. Andai Lieve masih terlibat dengan wanita jangan salahkan aku hilang dari hidupmu. Bersama anak-anak." Sania keluarkan ancaman sebelum terjadi hal tak menyenangkan yang bisa merusak moodnya.


"Percayalah pada Lievemu! Kau dan anak-anak adalah aset paling berharga. Lupakan semua kenangan tak sedap. Malam ini kita telah tuntaskan satu ganjalan hidup kita. Maya akan pergi jauh."


Sania tak menjawab. Dalam hati Sania masih tersimpan rasa kuatir wanita-wanita Bara yang lain akan berusaha masuk dalam lingkaran pernikahan mereka. Apa lagi kini Bara termasuk orang tajir meraup banyak proyek besar. Pundi-pundi di saku Bara makin membludak. Mata-mata dolar mana mungkin tinggal diam.


Bara dan Sania tiba di restoran cukup elite. Dari segi keuangan mungkin laki Maya berkecukupan. Seorang profesor tak mungkin bergaji standar. Wanita model Maya mana mungkin mau sama laki gaji di bawah standar. Mata Maya kan mata elang incar mana mangsa bisa menggemukkan kantong.


Bara memarkirkan mobil memantau kalau-kalau Roy dan Rudi sudah tiba. Kedua laki itu pasti datang mengingat mungkin ini pertemuan terakhir sama Maya. Untuk selanjutnya susah jumpai wanita berotak miring itu.

__ADS_1


Dugaan Bara tak meleset. Mobil Jeep Roy memasuki pelataran parkir menyusul Bara. Mobil Roy berhenti persis di samping mobil Bara yang tampak lebih elegan dibanding mobil Jeep produk tahun tinggi. Namun Roy cocok tunggangi kuda besi model Jeep berdasarkan jiwa bebas Roy.


Roy turun dari mobil lontarkan pandangan permusuhan pada Bara. Laki ini belum keluarkan jurus pendekar mabuk berhubung pertama kali ajak Sekar jalan bersama. Roy tak mungkin merusak image hanya untuk balas kekonyolan Bara. Roy harus tampil Galant biar Sekar beri simpatik.


Bara melempar senyum licik pada Roy. Bara bahagia menang telak dari pemilik cafe yang banting setir jadi wakil Bara.


Sekar malu-malu kucing jumpa bos dan sahabatnya di tempat parkiran. Roy tak bilang Bara dan Sania akan hadir. Kalau tahu pimpinan mereka datang mungkin dia akan tolak undangan Roy.


"Hai Sekar...makin glowing malam ini?" olok Sania buat Sekar makin malu. Gadis berbusana muslim itu grogi ditegur Sania. Sania hanya menegur ramah tapi Sekar merasa teguran Sania tak ubah sindiran.


Sejenak Sekar menatap Roy minta perlindungan dari gangguan Sania yang belum tentu akan berhenti sampai situ. Roy paham tatapan tajam Sekar. Gadis itu pasti malu kedapatan jalan sama orang nomor dua di kantor.


"Aku ajak Sekar karena tak punya pasangan. Wajar toh! Dia sekretaris aku."


Roy coba bela Sekar.


"Yang bilang tak wajar siapa? Kau culik bawa pulang juga wajar asal sah dulu di depan penghulu." timpal Sania mengembangkan senyum lebar.


"Isshhh Sania...kamu salah makan obat ya? Ngawur banget!" ketus Sekar sambil cubit lengan Sania. Sania menghindar berlari kecil tinggalkan Sekar. Sekar tak mau kalah mengejar Sania sampai depan restoran.


"Woi bumil...jangan lari! Ingat bayi dalam perut!" seru Bara kaget Sania lupa daratan bercanda pakai acara berlarian. Ini bisa membahayakan kandungan. Gimana kalau Sania terpeleset jatuh? Janin-janin dalam rahim jadi taruhan.


Bara dan Roy ayunkan langkah menyusul dia wanita yang sudah duluan masuk restoran. Musik lembut mengalun manjakan gendang telinga pengunjung restoran. Perasaan adem langsung lahir dari relung kalbu ikut merasakan keromantisan suasana restoran mewah tersebut.


"Sania..." ada suara memanggil Sania. Sania dan Sekar otomatis mencari arah datang suara.


Maya dan seorang laki bule memberi kode agar Sania datang ke meja mereka. Di samping Maya duduk pasangan lain berpenampilan cukup wah. Pasangan kedua itu agak tersipu dipandangi bak sepasang makhluk alien dari luar angkasa.


Sekar dan Sania tak percaya pada penglihatan mata mereka. Pasangan tak terduga itu kenapa bisa hadir juga pada malam ini.


Sania menunjuk Rudi dan Putri gantian meyakinkan diri kalau kedua orang itu memang nyata bukan ilusi semata.


"Kau Put?" tanya Sania mencolek pipi temannya.


Putri menunduk malu ketangkap basah janjian sama Rudi hadiri undangan Maya. Sejak kapan kedua makhluk ini bikin cerita manis di belakang layar. Sania tak sangka akan terbit kisah baru di antara teman-teman kerja dengan konco suaminya. Sania senang berharap kisah malam ini berlanjut ke jenjang lebih serius. Dasarnya Roy dan Rudi laki baik. Sekar dan Putri akan aman di tangan tepat.


"Wah..wah...pasangan backstreet kedua! Diam-diam makan dalam." Bara tiba di meja Maya sambil geleng-geleng kepala tak kira Rudi tak mau dikalahkan Roy. Buat sensasi ajak Putri muncul di umum.


"Jangan salah sangka! Aku ajak Putri karena tak ada pasangan. Putri juga bosan di rumah." Rudi meralat sikon dengan muka merah. Playboy cap dua cula badak bisa juga malu.


"Ya sudah...kalau sama-sama bosan sendiri ya bersatu! Aku restui kalian." ujar Bara sok bos besar beri berkat pada bawahan.


Di sini yang malu Sekar dan Putri. Dua playboy kondang produk jaman dulu cengar-cengir salah tingkah. Mental mereka lebih teruji dibanding dua cewek yang jarang berdekatan dengan cowok terutama Sekar yang alim.

__ADS_1


Bagi Sania malam ini adalah malam penuh berkah. Bertemu mantan pacar suami untuk buang semua salah paham. Ditambah pemandangan menyejukkan hati bertemunya dua pasangan baru. Semoga ke depan dua pasangan ini akan maju selangkah demi selangkah capai titik akhir di meja pak penghulu.


"Halo...kalian datang ke sini hendak main comblangan atau tulus hadiri undanganku." Maya mulai merasa diasingkan. Dia yang punya hajatan kok yang lain pada heboh dapat pasangan baru. Maya kesal diabaikan sementara suami Maya hanya bisa jadi penonton setia tak ngerti bahasa Indonesia.


"Sori...very sori...hai Sir.." sapa Bara cepat sadar telah merebut pamor Maya dan suaminya. Bara balik badan menyapa suami Maya yang merupakan dosen mereka dulu.


Suami Maya bangkit menyalami Bara dan yang lain satu persatu. Suami Maya alias Watson tersenyum ramah pada mantan mahasiswa serta pasangan masing-masing. Watson kelihatan orangnya lembut tak suka kekerasan. Dari wajah lainnya sudah tertera tidak suka kekerasan. Cocok untuk Maya yang brutal, mungkin hanya laki ini bisa tangani wanita galak macam Maya.


"Nona ini...aku pernah lihat tapi di mana ya?" ujar Watson berusaha mengingat di mana pernah jumpa Sania. Wajah Sania sangat familiar di mata Watson. ( Obrolan tentu dalam bahasa Inggris. Author tak gunakan bahasa Inggris untuk kenyamanan bersama. Harap maklum! Terima kasih)


Wajah Sania berubah sampai mundur ke belakang. Sania tak harap Watson ingat di mana pernah jumpa dia. Ini akan bawa bencana pada misinya. Sania belum siap buka jati diri di hadapan Bara dkk.


"Wajahku wajah pasaran. Mungkin cuma mirip sir." Sania cepat tanggapi supaya profesor itu tak perlu susah payah putar otak tayangkan memori di mana pernah bersua dengan Sania.


"Ya mungkin..." Watson menyerah tak perburuk suasana. Namun mata Watson masih tak lekang dari wajah isteri Bara. Mulut mengatakan mungkin tapi hati dipenuhi rasa penasaran.


"Silahkan duduk! Kita santap semua hidangan. Ini untuk persahabatan kita. Aku minta maaf sudah menyusahkan kalian terutama pada Bara dan Sania." ucap Maya dalam bahasa Indonesia.


"Sania...yes...Sania Mu.." seru Watson tiba-tiba. Sania segera hentikan kalimat terakhir Watson sebelum sempat terucap.


"Sir...may be you forget something! Can we talk for a while?" ( Pak..anda mungkin melupakan sesuatu. Bolehkah kita ngobrol sebentar) potong Sania cepat.


Watson merasakan kepanikan Sania. Sebagai orang bijak Watson ngerti maksud Sania memotong kalimatnya. Watson tak tahu apa tujuan Sania membungkus diri rapat-rapat dalam. Di balik semua ini pasti ada rahasia terselubung.


"Oh tentu...mari kita ngobrol di tempat lain! Kau sepertinya anak pintar. Usiamu muda tapi matamu bersinar seperti orang tua. Aku suka anak muda berjiwa kreatif." Watson bangkit dari bangku mempersilahkan Sania ikut dengannya di meja lain.


Semua melongo bingung mengapa kedua orang ini bertingkah aneh seakan pernah jumpa saling mengenal. Maya bukan orang bodoh tak tahu Sania bukan orang sembarangan. Suaminya profesor terkenal kritis tak sembarangan hargai orang lain tanpa kelebihan. Namun siapa Sania? Maya hanya kenal dia sebagai bini mungil Bara.


"Wah Bar... Profesor kita sedang bikin rayuan maut. Pura-pura kenal akhirnya ajak ngobrol secara pribadi. Karma.." olok Roy senang lihat Bara manyun bininya di embat suami Maya.


"Karma apa? Emang gue ganggu bininya? Bininya yang genit kejar aku. Aku toh setia pada bini kecil aku." Sahut Bara tak peduli Maya jengkel dikatain genit. Memang kenyataan begitu. Maya yang kegatalan kejar Bara.


Maya ingin sekali cakar wajah Bara agar tak ungkit soal kekonyolannya. Maya depresi ingin cari perhatian suami. Bara jadi kambing hitam kena oleh ulah Maya. Hubungan dengan Sania nyaris retak gara kekonyolan Maya. Masih untung Sania punya hati seluas samudera bisa memaafkan Bara.


"Bisa ngak kalian tak bahas kesalahan orang? Kalian senang ya aku hidup susah?" ucap Maya sewot.


"Ngak sih. Tapi jangan aku! Aku sudah punya anak bini. Gimana kalau Sania kabur bawa hasil maha karyaku? Kan berabe.." tukas Bara mendecak tak suka dilibatkan hal bersifat merusak.


"Kalau gitu aku akan cari Rudi atau Roy untuk bikin sensasi. Bolehkah nona-nona manis? Aku pinjam pacar kalian untuk hibur hati." Maya melirik Sekar dan Putri gantian.


"Tidak boleh...aku orangnya setia. Sekali nikah seumur hidup. Tak ada selingan. Pusing banyak cewek.." potong Roy kontan menolak bila kelak Maya kumat gila cari dirinya bikin cerita seperti yang menimpa Bara.


"Aku juga no...kisahku sudah cukup pahit. Tak ada niat makan buah pare lagi. Aku sudah bersumpah takkan berpaling dari pasanganku sampai ajal menjemput nyawaku. Jadi cari orang lain untuk latihan sandiwaramu!" tolak Rudi ikut jejak Roy tak mau dilibatkan sandiwara berbahaya Maya.

__ADS_1


__ADS_2