MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Berdamai Dengan Hati


__ADS_3

"Terima kasih dek! Untuk sementara tak usah bahas soal jati diri Ranti. Kesehatannya kurang bagus. Bayinya juga kurang bergizi. Kita selesaikan setelah Ranti lahiran. Mas sudah duga hatimu terbuat dari emas tulen."


"Terserah mas deh! Sania marah pada Ranti bukan soal Bobby tapi dia mengatakan yang bukan-bukan tentang Bara. Bobby tak masuk buku tapi Sania akan beri dia pelajaran berharga yang takkan dia lupakan seumur hidup."


"Jangan anarkis dek! Nanti kamu harus berhadapan dengan hukum. Mas tak mau kamu ikutan nginap di hotel gratis."


"Tenang...otakku masih sangkut di kepala! Tunggu saja tanggal mainnya!"


"Apapun boleh kamu lakukan asal jangan melawan hukum."


"Siap bos! Oya...Agra akan kubawa ke Belanda. Boleh kan?"


"Tidak...Agra tak mau pisah sama kita! Dia cuma punya kita. Tinggal jauh ke ujung langit. Gimana kalau rindu? Buang pikiran itu! Agra tetap di sini bersama kita."


Sania agak kecewa Rangga tak ijinkan Agra menetap di Belanda. Sania hanya ingin beri kehidupan lebih layak pada Agra. Di sana Agra bisa menempuh pendidikan lebih baik. Rumah Sania di sana tak ada penghuni karena pemiliknya berada di Indonesia.


"Ya mas."


"Dek...apa yakin tak mau jumpa papa sebelum beliau di operasi?"


"Tidak..." sahut Sania tegas.


"Baiklah! Kalau ada kabar mas teleponi kamu." Rangga tak bisa memaksa Sania walau kecewa. Hati Sania telah membatu untuk beri maaf pada lelaki sekarat yang telah beri kehidupan pada Sania.


Rangga tak tahu mengapa Sania tak beri kata maaf pada orang tua sendiri. Pada orang lain Sania selalu baik dan ramah. Giliran pada Suhada yang ada hanya kata benci.


"Iya mas. Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Hubungan berhenti. Sania meletakkan ponselnya di atas meja perlahan. Wajah Sania berubah murung teringat nasib orang dia namakan musuh. Mereka semua tumbang panen karma. Haruskah Sania bersorak girang melihat satu persatu orang yang telah buat sengsara hidupnya rontok?


Jauh di lubuk hati Sania tak tega tapi dendam kesumat terlanjur mengakar di hati. Sanggupkah Sania buka hati beri kata maaf. Rasanya Sania belum sanggup berbesar hati lupakan dendam.


Sania mengangkat ponsel meneleponi seseorang. Tak menunggu lama ponsel terhubung.


"Halo...tolong ceking kesehatan orang yang bernama Suhada di rumah sakit. Lapor kondisinya. Dan lagi lenyapkan PT. Build. Jangan ada lagi perusahaan itu!"


"Maksud nona?"


"Jatuhkan sahamnya! Tak perlu akusisi. Perusahaan itu tak ada guna. Pegawainya nanti rekrut di PT. SHINY ataupun PT. ANGKASA JAYA. Jangan biarkan mereka tak punya kerja."


"Baik non! Gimana soal rumah? Apa sudah waktunya usir Bobby?"


"Usir saja! Sudah terlalu lama dia hidup nyaman. Atur Ranti keluar penjara sampai dia melahirkan. Jadi tahanan kota saja!"


"Baik non! Lalu Arsy? Dia tak mungkin keluar karena kasusnya berat."


"Biar dia di penjara dulu. Jalankan permintaanku dulu! Lapor secepat mungkin soal Suhada."


"Ya non!"


Sania mematikan ponsel dengan sedikit arogan. Wanita ini mengusap wajah lelah dengan semua kemelut hidupnya. Dari dendam keluarga merambat ke dendam baru mengenai suaminya. Arsy muncul meramaikan masalah Sania. Urusan dengan keluarga Suhada hampir capai titik akhir. Kini ditambah soal Arsy.


Sania sebenarnya tak tega Arsy dijerat hukuman mati. Kasihan Kintan kehilangan sosok ibu di masa kecil. Nasib Kintan tak jauh beda dengannya bila Arsy kena hukuman mati. Lagi-lagi Sania merasa dadanya ngilu bayangkan Kintan meratapi kepergian Arsy sampai dewasa kelak.


Sania tak konsentrasi kerja hari itu. Otak Sania tak diijinkan istirahat sejenak. Kejadian demi kejadian bergulir jadi slide tayangan.


"Sayang...." suara Bara membuyar lamunan Sania. Bara menatap Sania dalam-dalam cari tahu apa yang sedang ganggu pikiran Sania.


"Lieve...ada apa?"


"Ini ada undangan ulang tahun perusahaan PT. SHINY. Sabtu ini."


"Oh.." hanya itu yang keluar dari bibir mungil Sania. Tak ada sambutan antusias.

__ADS_1


Bara bisa rasakan kegalauan Sania. Pagi tadi bininya masih ceria. Setelah tiba di kantor berubah total. Air muka Sania berubah pucat menahan sedih.


Bara berjalan ke belakang kursi Sania memeluk bininya dari belakang untuk beri rasa nyaman. Satu kecupan mendarat di ubun kepala wanita hamil itu.


"Ada apa sayang? Lieve berbuat salah lagi?"


"Bukan Lieve...ini soal Ranti dan Arsy! Suhada mau dioperasi pula."


Bara mulai paham apa yang ganggu pikiran bininya. Masih berkutat perihal lama yang tak tamat.


"Sini!" Bara mengangkat Sania dari kursi menggendongnya ala bridal. Bara membawa Sania pindah ke sofa agar lebih nyaman ngobrol.


Bara duduk di sofa tetap memangku Sania di atas pahanya. Keduanya tak ubah bos dan bawahan sedang selingkuhan di kantor. Pacaran pada saat jam kerja.


"Sayang...Lieve tak mau kamu terbebani oleh masalah tak perlu. Kita serahkan pada hukum. Berani berbuat harus berani tanggung jawab. Fokus pada kesehatanmu saja."


Sania mengalungkan tangan ke leher Bara memandang laki itu minta perlindungan. Sania tak butuh perlindungan secara fisik tapi perlindungan dari hati kecil.


"Tapi Ranti hampir melahirkan. Aku ijinkan dia lahiran di luar penjara. Jadi tahanan kota." ucap Sania lugu tanpa dendam.


Bara tersenyum dukung suara hati Sania. Bara tahu hati Sania terlalu lembut untuk berbuat anarkis.


"Bagaimana bagusnya sayang. Kalau sayang merasa itu terbaik ya jalankan. Ok? Soal Suhada kita berdoa saja kalau sayang belum sanggup jumpa. Doamu akan membantunya sehat. Arsy tak bisa kita bantu bebas. Tetap ada hukumnya."


"Tapi Kintan.."


"Ssssttt...Kita cuma bisa bantu dia tak dihukum mati. Penjara tetap harus dia lalui agar ada efek jera. Nyawa orang tak boleh dipermainkan."


Sania yakin Bara tak tertarik pada Arsy lagi. Lakinya tetap ingin proses hukum berlanjut walau hati Sania mulai melemah. Sania benar-benar tak tega Arsy dihukum mati. Allah masih sayang pada Bara dan Arsy. Bara diberi kesempatan menanti kelahiran anaknya dan Arsy masih dijauhkan dari hukuman mati. Andai Bara benaran mati maka tak ada kesempatan buat Arsy lolos dari jeratan hukuman mati. Allah masih maha pemurah kasih kesempatan pada semua umatnya.


"Sania kasihan pada Kintan."


Bara mengelus rambut hitam Sania dengan lembut. Bara bisa rasakan wanita besi miliknya mulai meleleh dikit. Sudah ada rasa kemanusiaan.


"Biar Arsy rasakan dinginnya dinding penjara. Nanti kita pikirkan hukuman cocok untuknya. Ayoklah jangan manyun! Kasihan anak kita rasakan kesedihan maminya. Sore ini kita kontrol ke dokter ya! Lieve mau lihat perkembangan anak-anak."


Bara terkekeh tak puas cuma jatah ciuman di pipi. Laki ini ingin lebih dari pada sekedar window kiss. Maunya full kiss.


"Tanggung!" Bara meraih kepala Sania dekat ke wajahnya. Pas bibir mungil Sania lengket di bibir kasar Bara. Bara ******* bibir halalnya penuh hasrat gelora.


Ciuman dadakan di kantor bawa sensasi sendiri bagi Sania. Sania merasa seperti wanita nakal menggoda bos. Pokoknya ada yang aneh curi ciuman di kantor. Penuh tantangan.


Bara mengusap bibir Sania yang memerah kena hajar bibirnya. Lembut seperti jelly manis.


"Kok seperti sedang selingkuh sama bos!" ujar Sania malu.


"Anggap saja gitu! Siang nanti kita makan di mana? Pulang rumah atau pingin makan sesuatu yang lain?"


"Telepon mama masak apa? Takutnya beliau sudah siapkan makan siang kita. Kan mubazir."


"Ok...Lieve balik kerja. Sayang kasih tahu Lieve mau makan di mana. Oya...jangan lupa undangan SHINY! Mereka pelanggan istimewa kita."


"Ngerti. Apa kado buat mereka?"


"Kirim papan bunga ucapan dan buah tangan perangkat tulis bagus." usul Bara disetujui Sania.


"Boleh...deal."


"Sekarang Lieve balik kerja. Ayok turun!" Bara mendorong Sania perlahan takut menyakiti bininya. Sania bangkit dari paha Bara duduk di sofa. Sania biarkan Bara balik ke ruang kerjanya untuk selesaikan tugas yang masih menumpuk.


"Selamat bekerja." Sania mengirim kiss melalui jari tangan. Bara menangkap kiriman ciuman di udara dengan gaya kocak. Tanda kiss itu disimpan di hati.


Sania tersenyum lihat kekonyolan Bara. Hati Sania sedikit lega setelah curhat pada Bara. Bara telah beri masukkan cukup menenangkan Sania.


Ponsel Sania berdering di atas meja kerja. Sania tinggalkan ponsel di meja sewaktu diangkat Bara ke sofa. Dengan ogahan Sania angkat ponselnya. No di ponsel tanpa tercantum nama kontak namun Sania hafal diluar kepala.

__ADS_1


"Halo...gimana?"


"Suhada memang harus operasi karena jantungnya harus pasang ring. Tersumbat empat ruas. Kalau tak operasi bisa cabut nyawanya setiap saat."


"Ada resiko operasinya?"


"Secara umum tidak tapi kita tak berani jamin soalnya penentu bukan kita."


"Dia sadar?"


"Sadar...cuma ditemani pembantu tua."


"Baiklah! Terima kasih. Lanjutkan semua perintahku!"


"Siap nona!"


Hubungan terhenti. Sania galau juga dengar adanya resiko operasi Suhada. Sania memang benci Suhada tapi dari segi kemanusiaan Sania ikut prihatin. Kata orang darah lebih kental dari air itu ada kebenarannya. Sebenci apapun Sania terhadap Suhada ada seberkas rasa iba.


Pintu sanubari Sania mulai terketuk untuk melihat langsung kondisi bapak biologisnya sebelum bercanda dengan maut. Andai operasi sukses maka nyawa Suhada masih bisa menikmati sisa umur melihat cucunya terlahir ke dunia. Baik anak Sania, Ranti maupun Rangga.


Sania boleh tak akui Suhada namun Sania tetap keturunan Suhada. Tak ada yang bisa membalikkan fakta ini.


Sania ambil keputusan akan jenguk Suhada secara diam-diam. Bukankah sore ini dia akan kontrol kandungan? Sania bisa ke rumah sakit setelah singgah di tempat praktek dokter kandungan. Sore hari dokter buka praktek di klinik maka Sania harus ke sana dulu sebelum jenguk Suhada.


Itu keputusan Sania. Bara tak perlu diberitahu dulu sebelum keputusan Sania final. Bisa jadi nanti Sania berubah pikiran. Hati Sania belum bisa berdamai dengan masa lalu.


Sorenya Bara membawa Sania cek kandungan untuk pantau perkembangan bayi. Bara masih penasaran soal bayi ketiga yang muncul tiba-tiba. Karunia Allah tak terhingga padanya.


Keduanya berangkat dengan mobil Bara. Sepanjang jalan ke klinik kandungan Sania tak banyak keluar suara. Wanita ini berdiam diri memikirkan apa harus menjenguk Suhada atau tidak. Sania masih dipenuhi keraguan melihat laki yang telah membuat hidupnya susah.


Bara melirik Sania merasakan perbedaan Sania dari biasanya. Celoteh tajam tak muncul dari bibir mungil itu. Apa Sania sakit gigi sampai ogah bersuara.


"Sayang kenapa lagi? Lieve bikin sayang marah?" tanya Bara hati-hati takut menyinggung perasaan Sania.


"Lieve...andai ada orang bersalah besar pada Lieve. Apa yang harus Lieve lakukan? Orang juga lagi sekarat."


Bara senyum tahu ke mana arah pembicaraan Sania. Sania tak mau buka langsung Bara pun pura-pura tak tahu siapa yang dimaksud Sania.


"Sayang...dalam agama kita tak boleh dendam pada orang. Berbuat salah itu sifat manusia dan memaafkan itu tugas mulia. Tergantung bagaimana sayang memandang masalah itu. Tetap ingin disimpan dalam museum hati atau dilepas bebas agar lega. Yang namanya terkurung itu tak ada faedah. Lepaskan saja!"


Sania diam memikirkan makna dari kalimat Bara yang mendalam. Bara benar. Dalam agama dilarang menyimpan dendam. Memaafkan kesalahan orang adalah sifat terpuji.


"Apa Sania bisa?" gumam Sania lirih.


"Bisa asal sayang mau. Biarkan masa lalu jadi kenangan. Yang indah dikenang dan yang buruk dibuang. Coba sayang pikir! Gara sayang dendam maka sayang belajar matian jadi orang pintar. Bukankah itu satu cambuk untuk sayang maju ke depan. Semua ada hikmahnya. Petik yang baik saja."


"Sania ingin gitu tapi mengapa tak bisa." Sania memukul kepala sendiri beberapa kali. Bara langsung menangkap tangan Sania untuk tidak menyakiti diri sendiri. Bara tak rela Sania stress gara banyak pikiran. Banyak yang dipertaruhkan dalam hal ini.


Bara hentikan mobil di pinggir jalan kasih kesempatan Sania tenang. Bara segera merengkuh Sania ke pelukan agar Sania nyaman.


"Tak usah pikir itu! Kalau sayang belum mampu lepaskan tunggu saat tepat. Lieve selalu dampingi sayang sampai kapanpun." Bara menepuk punggung Sania pelan. Sania menempelkan wajah ke dada bidang Bara tanpa air mata. Sania sudah tak bisa menangisi bapak yang telah memberi duka panjang baginya.


"Tapi dia tak punya waktu menunggu hatiku berdamai. Dia akan dioperasi. Jantungnya bermasalah."


"Kita temui beliau! Kita lihat dari jauh. Kalau sanggup sayang dekati kalau tidak cukup lihat dari jauh. Ok?"


Bara merasakan anggukan kepala Sania. Bara lega Sania bisa terima usulnya. Paling penting Sania harus bisa berdamai dengan hati sendiri baru bisa berdamai dengan sekeliling.


"Lieve jalankan mobil lagi?" tanya Bara ijin jalankan mobil menuju ke praktek dokter kandungan.


"Iya Lieve. Terima kasih sudah mau dengar Sania."


"Kamu isteriku. Tanggung jawabku. Mana mungkin kuijinkan orang lain sakiti kamu. Senyum dong!"


Perlahan Bara melepaskan Sania untuk memegang stiur mobil. Sania kembali duduk manis di jok samping Bara. Bara menjalankan mobil perlahan berbaur dengan puluhan mobil lain.

__ADS_1


Raut wajah Sania tak setegang tadi. Ada senyum tipis terhias di bibir sesuai orderan Bara. Sania tampak jauh lebih cantik dengan senyum tipis penuh misteri.


Setengah jam berkutat di jalan aspal sampai juga di klinik dokter kandungan. Pengunjung lumayan ramai rata-rata wanita dengan perut buncit. Bahkan ada yang sangat gede seolah siap melahirkan.


__ADS_2