
Maya terbangun dari tempat duduk tak percaya pada pendengarannya. Bara telah menikahi seorang wanita muda. Dan itu pegawai Bara sendiri. Maya tak terima penolakan Bara kali ini. Bertahun dia tunggu hari ini berdoa agar Nania cepat mati dan dia kembali hadir dalam hidup laki ini.
"Kau gila Bara! Apa kau lupa kita ini adalah pasangan abadi. Arsy hanya bayanganku. Kau sama sekali tak cinta siapapun selain aku."
"Itu masa lalu. Sekarang aku punya bini yang bisa beri aku ketenangan. Orang tuaku juga sayang pada Sania. Inilah surgaku? Di saat aku terpuruk jatuh ke dalam jurang, Sania yang membimbing aku naik ke puncak. Masih adakah wanita lain bisa gantikan biniku yang suci murni?" Bara mengecup ubun kepala Sania beri penghargaan.
Darah beku Sania mulai mengalir hangat. Tak Sania sangka Bara betul berani suarakan isi hati. Sania mengira Bara akan tetap jadi pecundang sembunyi di masa lalu. Tak bis move on dari masa lalu. Kini tak ada alasan marah. Perlahan suasana hati Sania berubah hangat.
"Bara...kau tahu aku sangat mencintaimu. Aku silap kau langsung lari ke Arsy lalu ke Nania. Apa maumu sekarang? Campakkan aku lagi?" tanya Maya mulai nangis.
Sania masih berdiam diri biarkan Maya dan Bara selesaikan hutang masa lalu. Tak diragukan Bara telah memilih lepaskan masa lalu sambut hari cerah bersama Sania.
"Maya..kau yang pilih profesor Muller. Aku tak bisa menahan perasaanmu terhadap siapapun. Begitu juga aku kini. Aku telah punya keluarga sendiri. Tak mungkin aku tinggalkan orang yang telah dampingi aku di saat susah. Aku percayakan seluruh hidupku pada macan kecilku."
"Bara...kau lupa sejarah kita di masa lalu? Kita duluan bersama dari yang lain."
"Kita bersama tapi aku tak pernah melakukan hal senonoh padamu. Aku hormati kamu dan junjung nilaimu. Tapi kamu malah gampang serahkan diri pada Muller. Salahkah aku mencari kebahagiaan sendiri?"
Sania bersorak dalam hati ternyata Bara dan Maya tak ada hubungan intim. Mungkin hanya sebatas pacaran biasa. Sania beri nilai enam untuk akhlak Bara terhadap Maya. Sania belum bisa beri nilai tinggi mengingat Bara pernah intim dengan Arsy. Kumpul kebo.
"Aku punya power..aku bisa dukung perusahaanmu. Aku bisa beli kantor baru untukmu. Pelakor kecil ini boleh jadi simpanan mu asal aku jadi isteri sah mu."
"Tidak...isteriku cuma satu. Inilah isteriku! Gadis murni yang kumiliki."
Sania tahu niat Bara ingin katakan dia dapat gadis muda masih perawan untuk jadi isteri. Untuk apa lagi sisa orang lain.
"Bara...kau akan menyesal telah tolak aku! Akan ku buat kau kehilangan segalanya. Kau lupa siapa aku? Jaringanku menggurita di mana-mana. Kupastikan kau tak dapat proyek. Termasuk perusahaan papamu." ancam Maya dengan mata merah.
Sania mengepal tinju kesal pada cara licik Maya merebut Bara. Sania mau lihat sampai di mana kekuatan Maya mau kacaukan perusahaan Bara.
"Aku tak keberatan kehilangan segalanya selama bersama macan kecilku. Aku bahagia bersamanya." Bara menatap Sania penuh penghargaan. Inilah tatapan tulus sang suami. Baru kali ini Sania merasakan ketulusan terpancar dari mata Bara.
"Terima kasih Lieve..." Sania tak malu memeluk Bara dari depan. Keraguan di hati sirna.
"Apa hebatnya pelacur murahan ini?"
"Dia bukan pelacur tapi isteriku yang masih suci. Aku lelaki pertama buat dia. Apa ada pelacur yang masih perawan?" tanya Bara makin tak nyaman Maya rendahkan Sania.
Maya tergugu tak bisa jawab. Dari sini Sania sudah menang total. Dia dan Bara pernah dekat sebelum berangkat ke Australia. Sampai di sana Maya kepincut dosen muda dan memilih hidup bersama dosen itu. Bara ditinggal lalu pacaran dengan Arsy dan muncullah kisah kisah tak manis hingga titik sekarang.
"Bara...aku sadar Muller bukan kebahagiaanku. Dia terlalu kaku tak tahu arti hidup penuh warna. Aku dikekang tak boleh ini itu. Aku tak tahan." Maya melemah merasa kalah oleh pesona Sania.
"Maya..ingat anak-anakmu. Kasihani mereka! Pulang pada suamimu! Kalian sudah bercerai?" Akhirnya Roy ikut bersuara.
"Dalam proses...aku bisa bantu kamu dalam keuangan. Aku sudah warisi perusahaan papa aku. Dan aku berlimpah. Kita bisa mulai dari awal. Dan kau sudah rasakan darah perawan. Selanjutnya yang kamu dapat tetap sama. Maka itu beri uang pada gadis ini dan kembalilah padaku." bujuk Maya pantang menyerah. Mata Maya terusan menatap Sania tajam seolah ingin sihir Sania raib dari pandangan mata Bara.
"Sania tak dapat diganti oleh apapun Maya. Ini menyangkut hati. Aku sudah gadai hati ini pada Sania dan tak berniat menebusnya. Biarlah selamanya hati ini dititip pada Sania."
__ADS_1
Roy tertawa gelak tak sangka si kulkas lima pintu pintar gombal. Artinya Sania telah berhasil melumerkan hati Bara dengan kehangatan cinta sejati.
"Ya ampun bro! Gombalan ente kuno amat. Tapi bolehlah! Tuh lihat pipi macan kecilmu. Merah..."
Bara mengusap pipi Sania sambil tersenyum lega. Bongkahan batu yang selama ini himpit di dada terangkat sudah. Bara tak ragu lagi umumkan Sania adalah isterinya. Cepat atau lambat semua ini akan terjadi. Hanya menunggu waktu. Mungkin inilah waktunya.
"Ok...kali ini kau bisa menang. Tapi jangan lupa siapa aku? Aku tak pernah kalah." Maya bangkit dari sofa melempar tatapan membunuh pada Sania, "Anak kecil...kau akan nyesal berhadapan dengan Maya Sebastian Muller. Ingat namaku!"
Sania mangut tanpa takut. Jangan hanya satu Maya. Seribu Maya pun datang tak bisa menciutkan nyali Sania. Bagi Sania ancaman Maya hanya ancaman orang frustasi.
Maya pergi dari kantor tanpa diantar. Sania dan Bara menarik nafas lega. Pagi kacau berubah jadi pagi berkah. Sania ucapkan puji syukur pada Illahi diberi jalan terang melihat sosok asli Bara.
"Maafkan aku Sania! Kamu terlibat dalam masa laluku." Bara mengecup kening Sania menyusul kecupan ringan di bibir.
"Woi...di sini ada anak kecil." seru Roy jengah lihat suami isteri itu saling merayu.
Bara tersadar kalau masih ada Roy dalam ruangan. Tak urung Bara kikuk bermesraan di ruang kantor.
"Sori...Oya terima kasih bro! Kau adalah teman sehati."
"Kunasehati kamu bro! Di depan mata sudah ada burung merak jangan sekali-kali tergoda burung gagak. Kesempatan tak datang dua kali." Roy beri Bara wejangan agar lupakan masa lalu.
"Pasti..." Bara memeluk Sania makin erat. Bara tak ingin lepaskan Sania sampai kapanpun. Bara tak boleh menoleh ke belakang. Mata harus tertuju ke depan.
"Ok...sekarang kembali pada tugas. Kita jadi ke SHINY?" tanya Roy melirik jam tangan tunjukkan pukul sembilan pagi. Jadwal pertemuan jam sepuluh. Mereka tak mungkin biarkan orang menanti mereka.
"Alhamdulillah siap! Biar Sania yang presentase soalnya semua seluk beluk lokasi proyek sudah Sania kuasai."
"Terserah kamu!"
"Ok..kita berangkat!" ujar Roy semangat. Siapa tak bangga bisa bekerja sama dengan SHINY yang terkenal kuat. Mimpi pun Roy tak sangka bisa gabung garap Mega proyek yang dibincangkan orang dari tahun lalu.
Selentingan berita proyek itu akan diberikan pada PT. BUILD tanpa tender tapi herannya berubah menjadi tender lelang umum. Maka itu PT. pimpinan Bara bisa masuk tender.
Ketiganya segera angkat kaki berangkat ke pusat gedung PT. SHINY yang megah. Konon katanya PT. SHINY memiliki puluhan cabang seluruh dunia termasuk di Indonesia. Katanya pusat perusahaan berada di Belanda. Tak ada yang jelas tentang pemilik asli perusahaan raksasa itu.
Sania tak ragu melangkah masuk ke gedung berwarna biru itu. Sania sudah beberapa kali kerja sama dengan PT ini di bawah naungan PT. BUILD. Sania dan kawan-kawan langsung diantar ke ruang rapat yang berada di lantai dua puluh gedung ini. Sania dapat sambutan cukup hangat dari pegawai PT. besar ini.
Sania masuk ruang rapat dapatkan ada tiga perusahaan lain sudah duluan hadir. Sania beri kode pada Bara dan Roy untuk ambil posisi duduk di meja sementara dia berdiri di belakang bos tetap ikuti protokol seorang pegawai lebih rendah.
Bara dan Roy agak gelisah disuruh ikut tender beraset trilliunan. Baru kali ini Bara dan Roy diberi kesempatan ikut tender Mega proyek. Tak urung rasa gugup munculan di hati. Sania justru santai tak terpengaruh oleh suasana tegang.
Menunggu detik hadirnya bos perusahaan tiba-tiba muncul seorang gadis cantik bak peragawati hampiri Sania. Gadis itu berbisik pada Sania. Suaranya pelan sekali nyaris tak terdengar.
Sania tersenyum mengangguk. Gadis itu undur diri setelah menebar senyum maut. Harum minyak wangi gadis ini membawa udara segar di ruang ber-AC itu.
"Ayok kita keluar sebentar! Kita jalan-jalan kantor ini." ajak Sania pada Bara dan Roy.
__ADS_1
"Tak usah...kami tegang! Mana sanggup jalan-jalan lagi. Kamu pergi saja tapi jangan lama ya!" ujar Roy pelan takut malu terdengar orang lain.
"Ayoklah! Sebentar saja!" bujuk Sania pada Bara. Ntah apa tujuan Sania ajak Bara dan Roy jalan-jalan. Mungkin ini strategi Sania bikin Bara dan Roy hilangkan rasa tegang.
Bara tak enak juga lihat niat baik Sania bikin mereka lebih rilex. Bara beri kode pada Roy untuk ikut Sania keluar dari ruang rapat. Tinggal beberapa orang dalam ruang rapat dari perusahaan lain. Mereka pasang wajah tak kalah tegang. Siapapun akan alami perasaan tegang di saat harus menjadi pemenang tender.
Sania membawa Bara dan Roy masuk satu ruang besar di perusahaan itu. Di sana sudah ada sepasang suami isteri menanti Sania. Keduanya tersenyum lebar melihat kehadiran Sania. Sambutan yang sangat hangat.
Sania tanpa ragu menjatuhkan diri pada pelukan laki paro baya. Sania dapat sambutan kecupan di kening. Lalu berpindah ke pelukan wanita di samping laki itu. Kali ini Sania dapat kecupan lebih banyak. Kening pipi tak luput dari incaran wanita itu.
"Bagaimana kabarmu sayang?" tanya wanita itu penuh keibuan.
"Alhamdulillah sehat... kenalkan ini Bara. Suami Sania dan ini Roy tangan kanan Bara." Sania perkenalkan Bara dan Roy pada kedua orang tua itu.
Dua pasang mata langsung menghujamkan mata pada Bara. Bara kaget ditatap sedemikian rupa oleh pasangan itu. Bara merasa seperti telanjang tak pakai apapun di bawah tatapan tajam kedua orang itu.
"Dia suamimu?" tanya lelaki paro baya itu.
"Iya Om..ganteng tapi dikit tuaan. Tak apalah dari pada tak ada." olok Sania bikin Bara menahan nafas diejek Sania.
"Huusss..yang sopan. Tante ada bawa bubur jagung kesukaanmu! Om mu bilang hari ini kau mau datang maka Tante sengaja ikut ke kantor. Ayo Tante suapi!" Wanita itu menarik tangan Sania menuju ke meja di mana sudah tersedia kotak makanan.
"Tan..Sania sudah punya suami lho! Masa harus disuap lagi. Malu tuh!"
"Bagi Tante kau selamanya tetap Sania kecil. Ayo cepat! Katanya ada rapat." Wanita itu tetap memaksa Sania untuk makan.
Bara dan Roy tercengang menduga dalam hati apa hubungan Sania dengan pemilik perusahaan ini. Mengapa Sania demikian manja pada kedua orang itu. Andai tak ada wanita paro baya ini Bara bisa salah paham pikir Sania adalah gundik bapak tua itu. Nyatanya ada wanita yang di duga isteri dari bapak itu.
"Ayok anak muda! Silahkan duduk! Jangan heran sama Sania! Kami sudah anggap Sania seperti anak sendiri. Dia telah berhasil menarik perhatian kami. Dia sangat pintar dan telah berapa kali membuat kami menambah pundi emas. Kali ini kami mau lihat kejutan apa yang mau diberikan." Kata bapak yang dipanggil om oleh Sania. Pantas dipanggil om karena jelas tercetak mirip om om. Kepala nyaris botak dengan jidat klimis. Kecerdasan tampak tertulis di wajah itu.
"Oh...Sania sudah sering kerja sama dengan bapak?" tanya Bara sopan.
"Ada tiga kali. Semua sukses. Kami tak peduli di mana Sania bernaung. Asal yang tangani Sania kami akan lega. Semoga nak Bara bisa jaga Sania. Dia betul mutiara langka. Muda bertalenta tinggi." puji bapak itu pada Sania.
"Sania isteriku. Aku wajib jaga dia pak! Bapak jangan kuatir! Tak ada kisah sedih akan terulang dalam hidup Sania." janji Bara sepenuh hati.
Bapak itu mangut setuju. Sementara itu Sania dan tantenya bercanda ria diselingi tawa renyah. Betapa bahagianya Sania bisa jumpa tantenya. Apa hubungan mereka hanya mereka yang tahu.
Bara dan Roy masih penasaran dengan sosok Sania yang makin misterius di mata mereka. Di mana-mana Sania diterima dengan baik. Termasuk orang tua Bara yang terkenal kritis nilai orang. Mungkin aura Sania pantulkan cahaya kebaikan maka orang gampang suka padanya.
"Bu...sudah selesai? Rapat mau dimulai." ujar bapak itu pada wanita paro baya.
"Sudah...sudah...silahkan! Sania yang semangat! Tante harap dewan direksi pilih rancanganmu."
"Amin..." Sania menyalami tangan ibu itu lalu diciumi. Wanita itu membelai kepala Sania seolah tak ingin Sania pergi.
"Kalian balik ke ruang rapat! Tak baik kita jalan bareng. Nanti dipikir sarat KKN." bapak itu mengusir kelompok Sania dengan halus.
__ADS_1
"Iya pak. Terima kasih atas bimbingan bapak. Kami pamit dulu ke ruang rapat." Bara pamitan.