MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Sania Kejar Rangga


__ADS_3

Roy mengejar Sania sampai ke parkiran. Di sana sudah menanti mobil mewah mengantar Sania pulang. Roy tak tahu mobil siapa tapi pastinya mobil seharga milyaran.


"Sania..." panggil Roy sebelum Sania masuk ke dalam mobil.


Sania hentikan langkah menanti apa yang akan dikatakan Roy. Sania siap mendengar semua laporan Roy selaku wakil Bara. Roy tak sebodoh Bara gampang masuk perangkap.


Bu Jaya cs masuk ke mobil beri kesempatan pada Roy dan Sania untuk berbincang. Mereka menduga pasti masalah Bara dan Arsy. Ini menyangkut rahasia tak boleh diketahui Bara maka Roy pilih kejar Sania.


"San..." Roy menenangkan diri sebelum buka suara ungkap isi hatinya.


Sania menanti dengan sabar tak mendesak walau rasa ngantuk menggila. Sania tak bisa tenang waktu dengar Bara ditusuk Arsy. Sebagai isteri Sania pasti kuatir walau di depan Bara Sania pura-pura tak kuatir. Padahal jauh di lubuk hati Sania bersyukur Bara lolos dari maut.


"Ya?"


"Bara tak bersalah. Dia benar rindu padamu. Dia merasa bersalah. Dalam keadaan tak sadar dia memanggilmu terusan. Kau adalah orang terpenting dalam hidupnya. Jadi kumohon maafkan dia!"


"Dia yang minta kamu omong gitu?"


"Sumpah disambar cewek cakep! Ini insiatif aku bicara padamu. Bara tak pernah minta aku jelaskan padamu. Aku cuma kasihan padanya. Dia bagai layangan putus tanpa kamu."


"Aku tahu...terima kasih sudah kasih tahu. Aku sangat lelah. Tolong jaga dia dulu! Aku akan balik setelah terang."


"Ok...itu kamu jangan kuatir! Aku dan Bara sahabat dari jaman masih pakai celana puntung. Aku kenal dia. Kau pulanglah! Jangan pikir apapun! Suamimu aman bersama kami."


"Terima kasih...aku permisi. Assalamualaikum..." Sania masukkan badan ke kuda besi produk terbaru.


Roy melambai dibalas Sania sampai mobil menghilang di telan kegelapan. Roy membuang nafas lega temannya bisa berkumpul lagi dengan keluarganya. Semua harus segera berakhir. Kisah hidup Sania dan Bara sangat ruwet. Bara terpuruk karena masa lalu sedang Sania terpuruk karena pengkhianatan. Kalau Bobby berpikir memisahkan Sania dan Bara untuk masuk dalam hidup Sania lagi itu mimpi di siang bolong. Sania belum beri pelajaran buat Bobby sudah harus bersyukur. Mau main kotor pikir Sania masih bisa dibodohi.


Langkah Roy terasa lebih ringan. Segala gundah gulana terhapus karena kehadiran orang paling berhak atas Bara yakni Sania.


Hari cerah menanti Bara. Semoga ke depan tak ada Maya, Dhenok, Arsy atau wanita manapun ganggu keutuhan keluarga Bara. Cukup sekian kisah cinta rumit Bara.


Bangun tidur Sania bukannya menjenguk Bara namun pergi mencari Rangga. Rangga masih punya hutang pada Sania. Sania diterpa banyak masalah. Persoalan dengan Amanda belum kelar, dengan Ranti masih terkatung karena Sania masih memikirkan bayi di perut Ranti. Sekejam apapun Sania tetap tak tega lihat Ranti melahirkan di penjara.


Ditambah cerita Rangga hamili Lisa dan terakhir Bara nyaris meninggal karena Arsy kalap ditolak Bara. Dari mana Sania harus mulai untuk selesaikan masalah berlapis-lapis. Sania pilih yang paling dekat dan paling urgen.


Andai Lisa hamil tak bisa ditunda. Rangga harus bertanggung jawab. Rangga harus segera menikahi Lisa siap tidak siap. Sania tak mau anak abangnya tak punya status di masyarakat. Anak adalah malaikat mulia. Harus dilindungi sampai anak itu tumbuh menjadi manusia sempurna.


Sania mengendarai mobil mininya menuju ke kantor Rangga. Bu Jaya melarang Sania bawa mobil sendiri mengingat kondisi Sania sedang hamil kembar tiga. Ini suatu keajaiban bagi Bara. Bertahun hidup bersama Nania tanpa anak. Menikahi Sania langsung dapat kembar tiga. Sungguh besar karunia Ilahi.


Sania melirik gedung kantor Rangga yang merupakan kantor milik mamanya dulu. Beralih ke tangan Amanda secara ghaib. Sania bertekad kembalikan semua yang direbut Amanda ke tangan yang berhak.


Sania ayunkan langkah masuk ke gedung dengan hati penuh kekesalan. Namun di part ini Sania belum bisa tumpahkan amarah pada orang yang tak ada hubungan dengan persoalan Lisa. Sania harus jumpa Rangga minta tanggung jawab selaku laki sejati.


Dengan mengucap kata bismillah Sania masuk menuju ke meja resepsionis minta ijin jumpa Rangga atau Lisa. Sebelum jumpa para petinggi kantor tetap harus lalui tahap ijin dari penerima tamu. Kalau Sania asal nyelonong yang kena imbas tentu bawahan. Sania bukan orang ingin menyusahkan orang kecil ikuti prosedur sesungguhnya.


"Selamat pagi nona! Aku mau jumpa Pak Rangga." Sania to the point tak sabar ingin hajar abangnya.


"Waalaikumsalam...maaf sudah ada janji?"

__ADS_1


"Belum. Cuma sampaikan saja Sania mau jumpa. Tolong ya nona!" Sania merangkap tangan mohon bantuan dipertemukan pada Rangga.


"Baiklah! Mohon tunggu." nona resepsionis yang ramah. Gadis muda itu menghubungi Lisa sebagai tangan kanan Rangga.


Begitu dengar nama Sania langsung disetujui. Orang ini yang ditunggu-tunggu Rangga dan Lisa. Sudah hadir di kantor mana mungkin Rangga tolak. Pagi siang malam Rangga berharap jumpa adiknya. Sudah datang mana mungkin ditolak.


"Ibu ditunggu di atas! Silahkan naik langsung ke ruang Pak Rangga."


"Terima kasih." selesai minta terima kasih Sania berjalan tergesa menuju ke lift yang membawanya menuju ke lantai di mana Rangga bekerja. Lift berjalan sangat lamban di mata Sania. Rasa sesak di dada membuat semua tampak konyol.


Begitu menginjak lantai terakhir gedung di depan lift sudah ada Lisa. Lama keduanya beradu pandang tanpa berkata. Mata Lisa bergerak-gerak menahan cairan bening di bawah mata. Bagi Sania itu isyarat Lisa sangat tertekan oleh penolakan Rangga.


Sania bergerak maju memeluk Lisa. Rasa rindu dan iba merajai hati Sania. Bohong kalau Sania tak rindu pada sahabat terbaiknya selain Sekar dan Putri. Sania lebih dekat dengan Lisa dibanding dengan dua kawan lain.


Lisa teraniaya oleh abangnya bikin darah Sania mendidih lebih panas. Bergejolak ingin bakar Rangga sampai hangus.


"Kau pulang San! Maafkan aku dan mas Rangga telah membuatmu kecewa!" Lisa tak dapat tahan Isak. Dalam pelukan Sania tangis Lisa meledak. Sania menepuk punggung Lisa menyatakan tak ada masalah.


"Jangan cengeng! Mas Rangga takkan lari dari tanggung jawab."


"Tanggung jawab apa?" tangis Lisa berhenti seketika berganti rasa heran. Memang Rangga salah apa.


"Bukankah kamu bunting?" seru Sania jengkel.


"Oh itu...hampir lupa! Itu candaan gue dan Putri. Sejujurnya gue ngak hamil. Gue candain Putri untuk pancing lhu pulang! Gue kasihan lihat mas Rangga melamun ingat kamu. Maaf ya!" ujar Lisa memelas mohon ampunan Sania. Lisa membuat jarak dengan untuk bisa menatap bola mata Sania.


Sania menghempas tangan Lisa menggerutu dalam hati. Sia-sia dia sarapan dobel simpan energi untuk melabrak Rangga. Ternyata hanya sandiwara Lisa untuk pancing Sania keluar dari persembunyian. Di antara rasa kesal Sania bersyukur abangnya tak berbuat dosa cipta generasi baru secara ilegal.


Lisa terkekeh didamprat Sania. Mau Sania gampar, mau tinju Lisa takkan melawan. Yang penting Sania sudah pulang tanah air. Itu merupakan karunia Tuhan.


"Ayo ke ruang mas Rangga. Dia pasti senang lihat kamu. Eh..gimana debay di perutmu? Aku bakal jadi aunty dong!"


Sania mencibir mengejek Lisa gede rasa jadi aunty dari bayinya. Nikah aja belom dengan Rangga dari mana gelar aunty.


"Tak kuijinkan anakku panggil elu aunty! Belum apa-apa sudah bohong." ujar Sania melangkah meninggalkan Lisa dekap pintu lift. Sania belum puas dikerjain Lisa dan Rangga. Niat mereka memang baik tapi kelewatan memaksa Sania keluar dari persembunyian pakai cara kotor.


Lisa menyusul Sania sambil berlari kecil. Sepatu high heels mengganggu langkah Lisa sejajar dengan Sania. Sania pakai sandal hak rendah maka bisa berjalan bebas tanpa hambatan. Sebentar saja Sania sudah berada di depan pintu Rangga. Ruang Rangga hanya disekat kaca tebal bisa dipantau dari luar.


Sania melihat abangnya termenung di meja kerja. Mata laki itu kosong menatap ke monitor komputer. Sinar mata mengandung kabut tebal yang sulit ditembus mata awam. Sejuta duka bersemayam di kelopak mata abangnya.


Amarah Sania kontan sirna setelah melihat pemandangan miris. Rangga betul-betul kehilangan Sania. Rasa bersalah terpendam dalam hati laki itu karena telah memaksa Sania memaafkan Ranti. Sania terluka parah gara-gara Ranti merebut Bobby menjelang hari pernikahan. Luka itu ntah kapan bisa sembuh. Datang pula Rangga sok pahlawan lindungi Ranti maka Sania makin terluka.


"Mas Rangga hilang semangat hidup sejak kamu pergi. Dia dihantui rasa bersalah. Lihat betapa kurusnya dia! Kau maafkan dia!" kata Lisa dari belakang.


Tanpa diminta Lisa pasti Sania maafkan. Sania pergi bukan ingin menyalahkan siapapun. Sania pergi untuk cari ketenangan. Sania butuh waktu untuk mencerna kan nasib yang menimpanya. Di balik kesuksesan sebagai perancangan handal Sania selalu dirundung nasib sial.


Sania membaca bismillah dalam hati lalu mendorong pintu kaca menimbulkan suara derit. Rangga mengangkat kepala melihat siapa yang masuk tanpa ketok pintu. Lisa selalu ketok pintu minta ijin walau berstatus pacar Rangga. Lisa memisahkan masalah pribadi dan kantor. Di kantor Lisa hanya asisten Rangga. Tak boleh keluar jalur.


"Adek..." seru Rangga bangkit dari kursi melangkah panjang menyambut Sania. Rangga merentangkan tangan berharap Sania siap melabuhkan diri dalam pelukannya.

__ADS_1


Sania menyerahkan diri pada Rangga tak malu pada Lisa yang ikut terharu pertemuan Abang adik itu. Secara diam-diam Lisa menyusut air mata yang menetes tanpa bisa dicegah.


"Mas...maafkan Sania pergi tanpa pamit!"


"Mas yang minta maaf telah menyakiti hatimu. Ranti tetap di penjara sesuai keinginanmu. Dia bersalah harus tanggung jawab. Mas takkan bela dia lagi." Rangga mengecup ubun kepala Sania penuh rasa syukur. Adik yang hilang bertahun akhirnya kembali lagi. Rangga takut Sania menghilang kayak dulu sampai lima belas tahun.


"Lupakan itu! Sania tak peduli sama Ranti. Ada saatnya dia harus belajar hormati hak orang."


"Iya...iya...kau tampak kurus sayang!" Rangga menjauhkan badan Sania dari pelukan untuk melihat lebih jelas kondisi ibu hamil itu.


Sania tertawa senang akhirnya ada yang bilang dia tambah kurus. Selama di Belanda Sania makan segala makanan. Tidak pantang daging, justru tiap hari Sania makan bistik sapi. Padahal sebelum hamil itu musuh Sania. Sejak hamil selera makan Sania berubah ekstrem. Boleh dibilang mirip karnivora. pemakan semua jenis makanan.


"Betul mas? Sania kurus?" tanya Sania gembira.


Rangga manggut, "Makan yang banyak biar bayimu sehat."


Lisa ingin ketawa di antara rasa haru. Sania justru tampak gemuk di bandingkan sebelum pergi. Ibu hamil mana ada yang tabah kurus. Berat badan akan naik seiring bertambah usia kandungan. Apalagi Sania hamil anak kembar. Beberapa bulan lagi bentuk tubuh Sania akan menyamai bentuk gentong.


"Sania takut gemuk. Ntar dibilang gajah bunting." rengut Sania tak ingin kehilangan tubuh proporsional. Ini keinginan lazim seluruh wanita di dunia ini. Langsing, berkulit mulus idaman kaum hawa.


"Kurus atau gemuk kau tetap adikku tersayang. Ayo duduk! Mau minum apa?" Rangga membimbing Sania duduk di sofa lembut warna cream.


Rangga duduk sebelahan dengan Sania tak ingin jauh lagi. Kalau orang tak tahu mereka kakak adik pasti mengira mereka pasangan kasmaran. Sikap Rangga mesra banget tak ubah jaga pacar tersayang.


Lisa mendehem cemburu pada keakuran kakak adik itu. Rangga tak mesra padanya walau status mereka sudah meningkat jadi sepasang kekasih. Rangga masih menganut sistem pacaran jaman baheula. Tak boleh terlalu dekat sebelum halal.


"Air jeruk peras. Jeruk asli ya! Sania tak mau sirup jeruk." order Sania menanggapi tawaran Rangga.


Bagi Rangga itu bukan soal. Tinggal perintah pada asisten tercinta maka segala beres. Rangga ingin memanjakan Sania selagi duduk bersama. Bila Sania pulang ke tempat Bara maka Sania milik Bara sepenuhnya.


"Lis...tolong ya! Sania pingin jus jeruk." ujar Rangga lembut.


Hati Lisa sejuk walau belum cicipi segarnya jus jeruk. Rangga meminta dia sediakan jus dengan sopan tanda hargai Lisa. Dengan suka rela Lisa mengangguk melaksanakan perintah pacar sekaligus bos tersayang.


"Ok...tunggu ya! Sekalian cemilan?" tawar Lisa sok perhatian pada bumil muda itu.


"Boleh?"


"Tentu...untuk Sania cantik semua boleh."


"Gitu ya! Aku mau rujak kacang, es teller, cap cay seafood dan ikan bakar."


"Apa sanggup kamu habiskan? Itu menu makan siang nona. Sudah lapar?" Lisa tak sangka Sania order makanan tak sesuai waktu. Pagi-pagi makan rujak dan es teller. Apa tak sakit perut?


"Tadi nawarin sekarang bilang untuk makan siang. Aneh! Seleraku ya itu! Makan siang beda lagi."


"Iya deh! Bumil selalu menang. Awas kalau tak makan!" Lisa sinari Sania dengan tatapan setajam silet. Sania tertawa kecil lihat Lisa keberatan disuruh beli makanan terlalu jauh. Sekitar kantor di mana mau cari rujak. Apa lagi masih pagi gini. Toko rujak mungkin belum buka.


"Ngak usah deh! Aku cuma minta sepotong cheese cake tanpa keju." Sania menahan langkah Lisa yang berniat keluar dari ruang Rangga. Tentu saja harus beli makanan keinginan ibu hamil.

__ADS_1


Lisa tertegun dapat orderan baru. Minta cheese cake tanpa keju. Sania sudah stress atau sedang permainkan dia. Cheese itu keju. Minta kue keju tanpa keju. Itu sama saja cukur rambut Lisa sampai botak. Di mana cari kue keju tanpa keju?


__ADS_2