MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Shopping


__ADS_3

Bara tertawa kecil melihat gertakan kecil sudah buat Sania ketakutan..Bara belum gila hendak memaksa gadis kecil melakukan sesuatu di luar keinginan. Bara mau Sania menyerah secara suka rela. Sania juga sedang datang bulan mana mungkin Bara nekat.


"Kelihatannya kita harus lebih sering gini agar kita bisa saling mengerti. Kau wangi..bau badanmu memabukkan." Bara mendesah cium wangi tubuh Sania yang pancarkan harum lembut. Sudah sore namun wewangian di tubuh Sania masih segar. Tak ada bau kecut sedikitpun.


Sania kurang suka dirayu Bara pakai gaya jaman kakeknya. Kuno tak ada kemajuan ikut arus jaman moderen. Pendek kata Sania tak mau melibat diri dalam hidup Bara yang sangat rumit. Ada Nania yang dinikahi karena amanah dan mantan pacar yang nempel kaya perangko.


"Pak..aku ada janji sama teman mau belanja. Aku harus pulang ke tempat Lisa dulu. Nanti kemalaman."


"Kau janjian sama Lisa?" tanya Bara menyelidiki sama siapa bini kecilnya akan jalan. Bara tak rela bini kecilnya jalan sama laki walau hanya sebatas teman. Ego laki Bara terusik barang miliknya diganggu orang lain.


Sania terpaksa angguk untuk hindari pertanyaan lebih banyak. Bara tentu takkan banyak tanya bila Sania janjian pergi sama Lisa. Andai bilang sama Rangga pasti laki itu akan berulah.


"Iya..belanja kebutuhan wanita. Bapak pulang saja kawani mbak Nania."


Bara angguk melepaskan Sania tepati janji pada Lisa. Sania cepat cepat rapikan pakaian yang kusut kena tangan pengacau si Bara.


Bara memberi senyum dama pada Sania agar wanitanya yakin dia tak seseram tampang. Justru hatinya sangat lembut tak bisa lihat orang lain dalam kesusahan. Andai Bara orang kejam tentu sudah meninggalkan Nania yang hanya bikin repot. Namun Bara berkomitmen jaga Nania sampai akhir hayat.


"Pak..aku pergi ya! Hati hati nyetir. Assalamualaikum.." Sania angkat kaki dari ruang Bara. Bara mengulurkan tangan minta Sania salami tangannya.


Sania tak menampik kesopanan suami isteri. Memang seharusnya Sania hormati Bara sebagai suami walau di antara mereka hanya perjanjian.


Sania meraih tangan Bara lalu cium tangan laki itu. Tangan Bara satu lagi mengelus kepala Sania pelan. Keduanya melakoni sikap pasangan suami isteri seharusnya. Saling mengasihi dalam tindakan.


"Hati hati di jalan. Jangan pulang malam!"


Sania angguk lalu pergi dengan langkah ringan. Ada sesuatu perasaan aneh mengalir di hati Sania. Satu rasa yang dapat dilukis dengan kata kata. Pokoknya ada rasa adem menjurus rasa bahagia.


Sania berangkat menuju ke tempat Lisa untuk jemput Rangga dan Agra. Sania sudah tak sabar ingin habiskan waktu bersama saudara kandungnya. Inilah waktu paling dinanti Sania seumur hidup. Menjalin rasa persaudaraan walau waktu itu Agra belum masuk karena Sania tak tahu ada Agra.


Setiba di rumah Lisa, dua cowok sedarah Sania sudah duduk di teras rumah Lisa. Rangga dan Agra menanti Sania dengan hati gelisah. Takut gadis ini ingkar janji lagi. Rangga tak tahu seberapa sibuk adiknya tapi selalu ingkar tak tepat janji.


Lisa yang temani kedua saudara Sania kelihatan kecewa atas kehadiran Sania. Jarang jarang bisa duduk ngobrol sama Rangga, dapat kesempatan cuma sesaat. Maunya Sania datang satu jam ke depan. Harapan tinggal harapan. Orang yang diharapkan Rangga dan Agra muncul juga.


Sania melebarkan senyum dekati ketiga orang yang sedang ngobrol dengan asyik. Hati Sania bahagia bisa laksanakan janji yang telah terlewatkan berapa kali. Agra langsung bersorak senang atas kehadiran Sania.


"Yok berangkat!" seru Agra full energi. Sania mengelus kepala Agra layak kakak perhatian.


"Sudah pamitan sama mama kalian?"


"Sudah dari tadi. Ayoklah mbak! Nanti main sebentar sudah malam." Agra tak sabaran menarik tangan Sania segera naik ke mobil. Lajang kecil ini sudah tak sabar ingin belanja bersama kakak perempuan. Sania pasti lebih royal pada adik ketimbang Rangga yang pelitnya minta ampun.

__ADS_1


Rangga bukan pelit tapi tak ingin Agra berubah menjadi anak suka foya foya. Hidup mereka tak gampang tanpa didampingi orang tua. Mereka harus berhemat untuk capai hari depan lebih bagus. Rangga wajib didik adik adiknya agar tragedi memilukan tak bersarang pada kedua adiknya.


Rangga mengangguk hormat pada Lisa sebelum masuk ke mobil putihnya. Agra sudah duluan masuk ke mobil mungil Sania. Lajang kecil itu tentu berusaha menarik perhatian Sania agar dapat jatah belanja lebih banyak.


Mobil Sania duluan melaju diikuti Rangga dari belakang. Sejujurnya Rangga ngeri lihat pola hidup Sania yang royal. Dari mana gadis itu mendapat uang cukup banyak. Kadang muncul pikiran negatif di otak Rangga. Adiknya itu berjalan di jalan hitam menyesatkan. Menipu uang bos bos besar dengan tampang cantiknya atau korupsi di kantor. Sejauh ini hanya analisa Rangga tanpa bukti.


Rangga tak mau main tuduh tanpa bukti. Bisa bisa dia kehilangan adik tercinta lagi. Sangat tidak mudah menemukan Sania, Rangga tak mungkin biarkan Sania raib tanpa kabar. Rangga akan cari tahu asal usul dana di rekening Sania yang lumayan banyak.


Mereka berhenti di salah satu mal ternama. Pengunjung tak begitu banyak mungkin masih takut takut pada pandemi virus covid 19. Hanya terlihat beberapa pengunjung hilir mudik tenteng belanjaan.


Mungkin kalau tak penting orang takkan luang waktu berkumpul di pusat perbelanjaan yang beresiko terjangkit virus cukup berbahaya itu. Diam di rumah adalah pilihan terbaik.


Sania meminta Agra menggunakan masker untuk ikuti protokol kesehatan. Sania sendiri juga kenakan masker sekedar berjaga jaga.


Rangga cuek bebek tak mau disuruh kenakan masker. Laki ini tak nyaman harus tutupi tampangnya yang bernilai lumayan tinggi di mata cewek.


"Masku yang ganteng! Tidak pakai masker akan diusir dari mal. Ini pakai. Mas aku tetap ganteng kok! Ya kan Gra?" Ledek Sania hidupkan suasana agar abangnya tak kaku kayak kayu balok. Tak ada lenturnya sebagai makhluk hidup.


"Covid takut padaku!" sanggah Rangga masih pertahankan sikap batang kayunya.


"Huusss...tak boleh takabur! Allah tak suka umatnya angkuh. Ayo pakai!" Sania pakaikan masker ke wajah ganteng Rangga tak peduli penolakan Rangga. Berdebat terus malah malnya tutup. Sekarang kegiatan mal masih dibatasi waktu tak boleh buka setelah lewati waktu ditetapkan.


Rangga kalah sama dua suara bising adik adiknya. Mau tak mau pakai masker tanpa bantahan lagi. Rangga takkan menang lawan dua kurcaci yang jadi pelita hidupnya. Asal adiknya senang berenang di lautan api pun Rangga tak keberatan. Gitulah kira kira gambar rasa sayang Rangga pada dua pelitanya.


Pertama Agra minta beli sepatu sesuai janji Sania. Tak ada kata tidak dari mulut Sania. Sekedar sepatu takkan bocorkan kantong Sania. Selusin pun sanggup dia beli. Pundi pundi Sania masih penuh karena kerja kerasnya. Sania sudah pintar cetak uang semasa masih kuliah. Otak cemerlang Sania tahu mana yang bisa hasilkan duit segunung maka tak heran duit Sania banyak.


Rangga hanya berpangku tangan perhatikan kegembiraan Agra dan Sania di toko sepatu. Sania memilih tapi Agra tak suka, giliran Agra suka malah sang kakak tak suka. Begitulah seterusnya makan waktu lama.


"Kalian ini mau beli sepatu atau bikin onar di toko orang. Pilih satu sudah." Rangga terpaksa turun tangan tengahi dua adik nakalnya. Di mata Rangga kedua anak itu sama besarnya. Kekanakan.


Agra cepat cepat mengambil sepatu warna hitam berlogo Adidas. Sementara Sania menunjuk sepatu putih berlogo Nike. Masih pertahankan ego masing masing.


"Agra tak boleh pakai sepatu putih ke sekolah mbak! Harus seragam hitam." Agra keluarkan pendapat supaya pilihannya digolkan Rangga.


"Kau dengar dek? Anak sekolah ya harus ikuti peraturan." Rangga dukung Agra karena pilihan anak lajang itu tepat guna.


"Beli juga ini untuk Agra pergi jalan jalan. Aku suka modelnya. Agra ganteng pakai ini."


"Tenang mbak..adik mbak tetap ganteng tanpa sepatu. Di kelas Agra dijuluki Kim Bun Indonesia. Cewek pada jatuh cinta." Agra bergaya sambil sisir rambut pakai tangan.


Sania tertawa geli lihat kepedean Agra. Tampang mereka bertiga bisa disebut good looking karena dari bibit sama. Sania cantik sedang kedua cowok keluarganya ganteng.

__ADS_1


"Mbak saja jatuh cinta." gurau Sania menyenangkan Agra. Hidung si lajang berkembang lima kali besar dapat pujian dari kakak cantiknya. Rangga mesem mesem bahagia ikut rasakan perasaan senang kedua adiknya.


"Yok kita bayar! Cukongnya mas Rangga." kata Sania sambil merangkul lengan kokoh sang abang. Rangga menepuk dada pakai tangan kiri setelah tangan kanan dirangkul adik tercinta.


"Iya mas akan bayar. Tapi cuma bayar satu. Apa kalian tak lihat harga sepatunya?" ujar Rangga kalem sambil menunjuk label harga di sepatu. Agra cepat cepat intip label itu, mulut kecil Agra ternganga lebar kaget lihat harga sepatu pilihannya.


"Gila...sepatu gini sampai dua juta lebih? Bisa beli sepuluh pasang di pasar dekat panti." kata Agra jujur selama ini harga sepatu mereka sangat murah. Pihak panti mana sanggup beli sepatu mahal karena yang butuh bukan satu dua anak. Harus bagi rata.


"Aduh...mahal tentu lebih tahan. Itu sudah harga normal untuk merek itu. Beli saja asal Agra suka! Mbak mau bayar waktu yang telah berlalu. Mbak akan kerja lebih rajin agar adik mbak tercukupi. Ayo bayar bos Rangga! Habis ini kita beli es krim."


Rangga terenyuh dengar janji Sania pada Agra. Seorang gadis ringkih punya niat cukup besar bahagiakan sang adik. Dia sebagai abang tertua bisa apa? Rangga meraba kantong celananya yang berisi kartu ajaib Sania. Rangga tahu saldo di kartu itu bisa beli seluruh sepatu di toko ini tapi Rangga tak mau ajar Agra boros.


"Gra...beli satu saja ya! Kita harus nabung untuk biaya kuliah Agra. Kita harus hemat." bujuk Rangga pada Agra. Agra tunjukkan jari jempol tak keberatan. Rangga bangga pada adik penuh rasa pengertian.


Rangga membelai kepala Agra tak bisa sembunyikan rasa bangga seorang abang. Adik terdidik tahu diri.


Sania saksikan bagaimana patuhnya Agra pada Rangga. Rangga tak perlu tarik urat untuk bujuk Agra hanya boleh miliki satu pasang sepatu. Cukup kalimat bernada bujukan. Dasar Agra anak baik. Kata kata Rangga dihargai tanpa adu mulut.


Transaksi sukses. Selanjutnya Sania ajak Agra beli es krim sesuka lajang kecil itu. Sania ingin Agra makan lebih banyak biar tumbuh sehat. Masa masa Agra saat ini adalah masa pertumbuhan. Butuh asupan makanan bergizi dan protein tinggi.


Agra minta es krim rasa coklat sedang Sania rasa vanilla. Rangga tak usah ditawari pasti akan nolak. Es krim makanan anak anak mana bisa menggugah selera laki segede Rangga.


Rangga hanya pantau keceriaan kedua adiknya makan es krim. Keduanya bercanda persis anak seumuran. Sania dan Agra sama konyolnya.


Seusai makan es krim mereka belanja Snack untuk mereka santap malam nanti. Agra borong makanan kecil kesukaannya. Tampaknya Agra hendak balas dendam pada makanan yang jarang di dapat saat tinggal di panti. Rangga juga pelit kasih uang jajan. Agra mana bisa jajan makanan enak di sekolah dengan uang dua ribu. Paling dapat sebungkus biskuit mungil.


Puas belanja ketiganya berencana pulang ke apartemen Sania. Mereka akan tidur di sana sesuai janji Sania. Agra paling antusias ingin cepat sampai rumah kakaknya. Rasa ingin tahu Agra merajai seluruh hati. Bagaimana tinggal di gedung bertingkat tinggi.


Agra terkagum kagum memandangi gedung bertingkat tinggi di hadapannya. Ntah apa yang terbayang di otak kecil Agra. Takut atau penasaran tinggal di gedung berlapis lapis rumah. Sania biarkan Agra kagumi gedung tempat tinggalnya. Agra hanya bergaul sekitar panti. Masih banyak perihal di luar tak dia ketahui. Peradaban moderen belum racuni kemurnian akal anak kecil ini.


Agra belum kenal game online, internet serta pergaulan bebas anak jaman kini. Agra masih murni anak didikan panti yang lugu dan sopan. Tugas Rangga dan Sania adalah jaga Agra agar jangan jatuh dalam pergaulan bebas.


"Dek...mau magrib. Kita masuk?" Rangga tiba tiba muncul dari belakang buyarkan pesona Agra.


"Ayok! Oya...sebentar! Aku lapor kehadiran kalian sama satpam dulu. Biar tak ada salah sangka. Kalian naik dulu bawa belanjaan."


Agra dan Rangga saling membahu bawa berkantong kantong belanjaan. Sania sendiri pergi ke bagian pos satpam lapor kehadiran Rangga dan Agra. Sania tak mau ada pikiran negatif yang akan pengaruhi nama baiknya sebagai gadis alim.


Niat baik Sania tentu saja dapat respon baik dari petugas penjaga gedung. Tak lupa Sania selipkan uang rokok pada petugas setia penjaga keamanan gedung. Uang tak seberapa namun berarti bagi mereka yang miskin. Uang hadiah Sania bisa jadi uang belanja untuk keluarga esok hari. Sania terkenal dermawan di kalangan satpam gedung. Sania sering bagi bonus pada setiap satpam asal dia pulang malam. Kini Sania berbagi rejeki lagi.


Sania teruskan langkah menuju ke kamarnya di lantai sembilan. Sania yakin Agra dan Rangga sudah berada dalam kamarnya. Rangga sudah tahu kombinasi nomor sandi kamar Sania. Ini kali kedua Rangga ke tempat Sania adiknya.

__ADS_1


__ADS_2