
Sania terkekeh dengar harapan Putri. Pacaran belum jelas pingin punya anak kembar. Sania tahu kalau Putri sedang dekat dengan Rudi. Sania tidak menyangkal keduanya banyak perbedaan. Putri orangnya ceplas ceplos dan Rudi suka makan dalam. Satu lagi masalah Rudi yakni dia duda satu anak. Apa Putri bisa menerima kekurangan Rudi?
"Amin...sekarang kita mulai kerja. Gimana perkembangan kantor sejak aku pergi?" Sania meneliti kedua wanita garda depan PT. Angkasa Jaya.
"Aman...cuma Pak Bara menolak beberapa proyek takut tak bisa selesaikan yang sudah ada." sahut Dea lebih ngerti dari Putri. Dea langsung berhubungan dengan Bara sedang Putri mengerjakan bagian Sania.
"Baiklah! Untuk sementara kita ikuti keinginan Pak Bara. Dia juga kurang sehat. Nanti setelah dia masuk kantor baru kita kaji proyek baru. Oya kak Dea! Coba cek orderan besi ke pulau B. Apa sudah dikirim ke sana?"
"Baik..." Dea melangkah dengan ringan menuju ke mejanya untuk memenuhi permintaan Sania. Walau hamil Sania tetap energik tak perlihatkan kekurangan ibu muda hamil.
"Put...kau lacak proyek yang ditawarkan bulan lalu apa sudah ditender perusahaan lain. Kirim ke emailmu."
"Ok..." Putri tak kalah sigap melaksanakan permintaan Sania. Tugas sudah menanti. Pertempuran sudah dimulai setelah lewati banyak kendala. Back to work.
Sania masuk ke ruangnya mengerjakan bagiannya. Sania tak boleh biarkan Angkasa Jaya terpuruk hanya karena Bara kena musibah. Nasib para karyawan tergantung pada hidup mati perusahaan. Sania serius tangani semua proyek agar berjalan lancar.
Di tengah Sania fokus memantau monitor komputer ponselnya berbunyi. Benda tipis di atas meja berbunyi diiringi getaran minta perhatian. Sania luangkan waktu melihat siapa menelepon. Nama Rudi terpapang di layar.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam...kau di mana?"
"Di kantor...ada apa? Kok panik?" Sania menangkap nada suara Rudi bergetar kencang.
"Aku ke ruangnya bersama Roy. Ini gawat."
"Kutunggu." Sania mematikan ponsel dengan perasaan tak enak. Ada sesuatu menggoncang hati Sania setelah menerima telepon Rudi. Kejadian apa lagi melanda mereka. Apa belum cukup kejadian hampir merengut nyawa Bara.
Tak butuh lama Roy dan Rudi sudah berada di ruang kerja Sania. Wajah keduanya tegang seperti baru pulang dari Medan perang.
Sania berusaha tenang tak ikutan larut dalam kecemasan. Andai semua kalut persoalan bukan kelar malah tambah ribet.
"Duduklah! Jangan tegang! Ntar mati penasaran. Kasihan Sekar dan Putri! Jadi janda sebelum dinikahi." canda Sania berusaha tegar walau dalam hati deg-degan.
Rudi dan Roy duduk di kursi depan meja Sania sambil menelan air saliva. Mereka salut pada keteguhan mental Sania tak tampak kuatir padahal mereka sudah gregetan.
"San...ini soal Arsy!" ujar Rudi takut-takut bersuara.
"Kenapa lagi ulat bulu itu?"
"Papa Arsy bikin konferensi pers nyatanya bahwa Kintan anak Bara maka Arsy matian mau minta tanggung jawab Bara. Bara menolak tanggung jawab memicu amarah Arsy. Arsy jadi nekat habisin Bara. Mereka mau bilang Arsy tak bersalah hanya menuntut hak anaknya." cerita Rudi melirik reaksi Sania.
"Menurutmu?"
"Kintan anakku. Keluargaku sudah test DNA dengan darahku juga darah Abangku. 99 persen mirip denganku dan 87 persen mirip darah abangku. Kami tak ragu Kintan anakku. Tapi mengapa keluarga Arsy berani umumkan hal ini?"
Sania mengetuk meja ikut memikirkan motif keluarga Arsy bikin suasana jadi heboh. Mau meringankan hukuman Arsy atau ada motif lain?
"Cuma umumkan itu?" tanya Sania tetap cool.
Roy tak habis pikir mental Sania terbuat dari apa. Tak ada tampak rasa cemas muncul di wajah cantik itu. Dia dan Rudi sudah panas dingin, Sania malah Santuy seakan tak ada masalah.
"Menuntut keadilan bagi Arsy dan nyatakan manusia bejat kayak Bara tak pantas berdiri di dunia bisnis. Meminta para investor cabut kontrak dengan Bara terutama pada PT. SHINY. Bara tak pantas memegang kontrak proyek pulau B." kata Rudi gusar.
"Oh itu...buntutnya jatuh ke proyek. Ok..kita layani mereka selama kamu yakin Kintan tak ada hubungan dengan Bara."
__ADS_1
"Sejuta persen Kintan anakku. Apa kau tak lihat wajahnya mirip denganku? Bara pulang ke tanah air setengah tahun Arsy hamil dua bulan. Dari mana anak Bara? Apa Bara kirim bibit anak lewat jasa pengiriman?" sungut Rudi kesal anaknya diragukan statusnya.
Roy dan Sania tak dapat tahan tawa dengar ocehan geram Rudi. Harga diri Rudi terusik anaknya dicap anak orang lain. Dari mana ide fitnah Bara sampai segitunya. Nyali mereka cukup hebat berani beberkan cerita jauh dari kenyataan.
"Santai Kak Rudi! Fakta tak bisa dijungkir balik. Fakta Jan purba saja bisa digali kebenaran apa lagi kita semua masih bernafas. Kita mulai dari klaim mereka Kintan anak Bara. Mereka pasti punya bukti test DNA. Aku akan telusuri rumah sakit mana keluarkan hasil test itu. Soal proyek itu gampang. Pak Elmo bukan orang gampang terpengaruh isu. Aku jamin itu." ujar Sania yakin Pak Elmo takkan goyah kerja sama dengan Bara.
"Semoga saja. Lalu gimana perusahaan lain? Nama Bara sedang cacat sekarang." buru Roy kuatir pemilik proyek lain akan terpengaruh.
"Ini kita harus tanya kak Rudi. Siap tampil secara terbuka lawan kebohongan keluarga Arsy?" Sania menatap Rudi minta ketegasan.
"Siap dong! Kita harus bergerak cepat sebelum isu ini meluas. Aku akan ajak seluruh keluargaku jadi saksi Bara. Dan kau juga Roy! Kau yang berada di Australia bersama kami." Rudi menyenggol perut Roy pakai tangan. Roy mengelak geli. Anggukan Roy menjawab permintaan Rudi.
"Terima kasih atas kerja sama kalian bersihkan nama Bara. Ini demi kita semua. Demi semua karyawan sini." Sania bangkit dari kursi memberi hormat pada Roy dan Rudi. Kepala Sania menunduk sembilan puluh derajat hargai kesetiaan kedua teman Bara.
Roy menjadi tak enak hati dapat penghormatan dari isteri bos mereka. Sikap rendah hati Sania bikin mereka hilang akal.
"Jangan gitu San! Ini demi kita semua. Aku tak mau jadi pengangguran lagi. Tuh! Sekar bisa tendang aku kalau nganggur cuma duduk di cafe. Sekarang apa langkah kita?"
"Kumpul bukti Kintan anak kak Rudi dan kita buat konferensi pers balas mereka. Penipuan publik untuk cari keuntungan pribadi. Aku rasa keluarga Arsy manfaatkan Arsy untuk mengambil alih proyek Bara. Mereka sebenarnya tak peduli nasib Arsy. Hanya kebetulan ada sela jatuhkan Bara ya mereka coba-coba adu nasib. Kalau gagal paling Arsy lagi jadi kambing hitam." Sania menganalisa rencana keluarga Arsy bila memang benar Kintan bukan anak Bara. Mereka berani jelekkan nama Bara tentu dengan perhitungan matang.
"Kasihan juga Arsy. Bila kita keluarkan bukti maka dia makin dihina. Hukuman makin berat." Roy mengenang nasib Arsy makin terpuruk bila sempat terbuka bobrok keluarganya. Arsy yang bakal disalahkan bila terbongkar konspirasi memojokkan Bara.
"Aku punya usul. Kalian jumpai Arsy sebelum segalanya terlambat. Kasih tahu niat keluarganya dan akibat buruk bila kita balas. Dia akan hancur tak bersisa." Sania kemukakan usul baru. Sania mau lihat sampai di mana otak Arsy bekerja. Mau kerja sama dengan mereka atau ikutan gila dengan keluarganya.
Roy dan Rudi tak percaya pada pendengaran mereka. Sania demikian murah hati mengajak Arsy kerja sama agar jangan hancur lebih parah. Hukuman berat sedang menanti karena telah nekat menusuk Bara. Ditambah kebohongan publik perparah hukuman.
"Kau serius San?" tanya Roy kagum pada kebaikan Sania. Suami nyaris tewas di tangan wanita jahat masih terbuka hati membantu Arsy jangan sampai tenggelam ke dasar laut.
"Demi Kintan. Kelak Kintan dewasa tak terbeban punya ibu kandung jahat."
"Jangan bawa namaku? Dan jangan lupa rekam semua pengakuan Arsy. Jika perlu rekam Arsy secara live biar kita bisa buka di konferensi pers nanti. Aku mau tahu mafia proyek mana sedang main? Aku tak beri ampun pada orang yang halalnya jalan busuk cari keuntungan." Sania meremas kedua tangan geram pada trik kotor para pebisnis jahat.
"Tenang San...ingat kamu sedang hamil. Tak baik merusak mood untuk manusia berhati picik. Kamu orang baik. Tuhan pasti membantu jalanmu dan Bara." doa Roy
"Amin..." sahut Sania berharap doa Roy manjur.
"Aku pulang sebentar ambil dokumen DNA Kintan. Habis itu baru ke kantor polisi." Rudi bangkit hendak mulai debut bersihkan nama Bara.
"Bareng saja. Dari rumahmu langsung ke kantor polisi. Kita bisa tunjukkan bukti pada pihak berwajib kalau keluarga Arsy lakukan fitnah." Roy ikuti Rudi bangkit.
"Jangan beber bukti dulu sebelum bicara sama Arsy! Lihat reaksi Arsy! Andai Arsy satu paket dengan keluarganya maka kalian lapor pencemaran nama baik dan beri bukti. Kalau Arsy mau kerja sama kita tak boleh melaporkan Arsy. Bisa jadi dia hanya kambing hitam." Sania menahan Roy ingin beri bukti langsung pada pihak berwajib. Dalam hal ini mereka haris super hati-hati. Pihak lawan pasti punya perhitungan sendiri baru berani tampilkan kesalahan Bara.
"Baiklah! Kau memang hebat San! Setiap langkah kau perhitungkan dengan tepat. Aku angkat topi." Roy tak malu angkat tangan salut pada Sania.
Sania tertawa pahit. Hari gini masih grasa grusu artinya cari mati. Pion sudah melangkah maka langkah ke depan harus dihitung agar jangan mati konyol. Mau menang harus melangkah hati-hati. Jangan sempat tergelincir.
"Kalian hati-hati." Sania meminta Roy dan Rudi jaga diri.
Kedua cowok itu serentak mengangguk. Mereka keluar melaksanakan misi menyelamatkan nama baik Bara juga kelangsungan perusahaan. Sania hanya bisa berharap Arsy bersedia kerja sama untuk hindari konflik makin panjang.
Sania angkat ponsel meneleponi Bu Jaya pantau kondisi Bara. Sania belum mau langsung telepon Bara agar laki itu tak kaget. Bara baru saja sembuh dari syok dan luka cukup parah. Sania tak ingin jadi janda secepat itu.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam nak! Ada apa?"
__ADS_1
"Lieve di mana?"
"Di kamarnya. Baru saja sarapan. Kau tak perlu kuatir. Bara baik saja." lapor Bu Jaya riang.
Sania bersyukur mama Bara belum tahu nama Bara sedang dicoreng arang hitam. Lebih bagus mertuanya tak tahu apa-apa dari pada ikutan sakit.
"Syukurlah Ma! Sania tak pulang makan siang. Jaga Lieve ya! Minum obat tepat waktu."
"Tenang ..suamimu anak baik dan patuh. Tidak nakal..."
"Iya ma... Assalamualaikum." Sania menarik nafas lega Bara belum tahu masalah barunya. Tampaknya Bara sudah jadi target sejak dapat banyak proyek. Tangan-tangan setan gerilya hendak mencekik Bara hingga tak bisa bernafas.
Sania meletakkan ponsel di atas meja sambil merenung. Kenapa hidupnya selalu terbelit masalah? Masalah keluarganya sudah titik terang kini timbul pula dari pihak Bara. Sungguh memusingkan Sania. Sania harus tegar berkepala dingin baru bisa selesaikan setiap kejadian beruntun.
Ponsel Sania berbunyi lagi. Kali ini datang dari Pak Elmo sebagai pemilik proyek Pulau B. Kelihatannya Pak Elmo sudah dengar berita tentang Bara. Sania tak bisa mengelak harus hadapi walau sepahit empedu.
"Assalamualaikum...Om..."
"Waalaikumsalam...gimana kau nak? Masih kuat?"
"Kuat...ini hanya trik kotor ingin jatuhkan Bara. Ayah biologis Kintan turun tangan handel rumor ini. Om jangan terpengaruh!"
"Om percaya pada Bara! Om cuma takut kamu kaget. Minggu depan ulang tahun PT. SHINY. Om rasa kau harus maju ungkap semuanya agar tak ada simpang siur lagi. Semua ingin jatuhkan Bara. Jadikan moments pesta kita untuk dapat kepercayaan semua orang."
"Om rasa itu perlu?"
"Perlu nak! Om sudah mau balik Belanda. Tantemu sudah tak betah di sini."
"Om mau tinggalkan Sania sendiri di sini?"
"Tidak nak! Kamu sudah punya Bara, Rangga dan Agra. Mereka akan jadi penopang hidupmu. Kau mampu kok! Om percaya kamu sudah bisa berdiri di atas kaki sendiri."
"Agra harus ikut ke Belanda. Om janji rawat dia?"
"Tentu...Tantemu senang bila Agra mau ikut ke Belanda. Hidupnya akan lebih baik."
"Baiklah! Om atur saja! Undang semua relasi penting dan seluruh karyawan PT Angkasa Jaya."
"Ok...apa perlu bantuan Om tangani kasus Bara?"
"Sania bisa. Om tak perlu ikut campur."
"Baiklah! Berdiri atas kebenaran ya nak! Om tunggu kabar darimu."
"Iya Om! Salam untuk Tante."
"Ok... assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..."
Keheningan kembali melanda. Sania menyimpan benda pipih di atas meja. Benda itu berdiam diri sama seperti pemiliknya. Sania mulai berpikir untuk tampil sebagai Sania yang sesungguhnya. Bukan Sania yang mengharap belas kasihan orang. Kata-kata Pak Elmo terngiang di kuping Sania harus unjuk gigi agar tak ada yang ganggu keluarganya lagi.
Sania telungkupkan kepala ke meja beralas kedua tangan. Kepala Sania terasa sedikit berat diserang masalah berbelit-belit. Apa kesabaran Sania belum cukup diuji oleh Yang Maha Kuasa. Kalau Sania kejam tak susah selesaikan masalah pakai cara keji. Namun sebagai umat beragama Sania ke depankan rasa kemanusiaan. Cuma sayang niat baik Sania dibalas kejahatan berturut-turut.
Sania tertidur di meja tanpa wanita ini sadari. Monitor komputer masih menyala tak halangi Sania istirahatkan otak sejenak.
__ADS_1