MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Jumpa Camer


__ADS_3

Suasana ruang kerja kembali kondusif. Sania kembali fokus pada mega proyek PT SHINY. Sania sudah berjanji akan lakukan segala cara dapatkan proyek besar ini. Manusia hina macam Bobby tak pantas diberi panggung. Sania akan lakukan segala cara gagalkan niat Bobby menangi tender ini.


Penghinaan Bobby cukup lukai hati Sania. Sania akan balas perlahan sampai Bobby sadar resiko mainkan ketulusan hati seorang wanita.


Tengah hari kantor dibubarkan karena weekend kantor Bara hanya kerja setengah hari. Sania siap siap singgah ke rumah Lisa sesuai janji pada sahabat sehati itu.


"Duluan ya San...Aku kabar darimu." Dea pamit duluan.


"Iya kak..malam nanti sudah ada kabar. Aku akan wa kakak. Ingat kak! Masih banyak jalan menuju ke Roma."


"Terima kasih. Byee..jumpa senin nanti."


"Selamat malam minggu."


Dea berlari kecil menuju ke tangga. Tujuan wanita ini jelas ingin cepat jumpa anaknya di rumah. Punya anak bayi tentu bangkitkan gairah kerja harus cari uang sebanyak mungkin untuk biaya hidup di kota besar yang tak kecil.


Sania simpan senyum setelah Dea hilang dari pandangan mata. Belum usai Sania menata perasaan hati sudah muncul makhluk menyebalkan ganggu retina mata gadis ini. Sang Raja Singa.


"Pulang bareng?" tawar Bara gallant.


"Tidak pak. Aku mau ke rumah temanku yang sudah kuanggap keluarga. Mereka harus tahu aku mau nikah sama kulkas lima pintu."


"Kulkas lima pintu? Siapa lagi? Kau kurang kerjaan ya suka kasih sebutan aneh pada orang. Eiittt..tunggu! Menikah sama kulkas artinya aku dong!" Bara dibuat kesal lagi.


Sania menahan tawa melihat Bara terpancing emosi. Baru sadar dikerjain gadis muda ini lagi.


"Baru sadar ya pak?"


"Sadar gigimu..kamu ini suka cari pasal sama aku. Senang ya jadi preman dalam rumah tangga?"


"Preman? Sangat tragis nasibku dianggap tukang palak sama suami. Tapi kayaknya aku belum palak bapak deh! Belum asah pedang samurai buat palak suami sendiri." Sania cengar-cengir goda laki tua menurut versi Sania.


"Aku pasti lebih pendek umur dari Nania. Atau kau sengaja bikin aku cepat mati biar bisa jadi bos di sini."


"Phuuiiihhh...amit amit! Jauh dari anganku! Aku bukan malaikat elmaut suka habisin nyawa orang. Jangan coba coba bikin cerita versi bapak sendiri! Ingat julukan ku terbaru! Dukun sunat..Ingat itu!" Sania bangkit menantang Bara karena telah ganggu wilayah aman. Sania tak mau Bara punya pikiran dia ingin harta laki itu.


Bara menelan air liur kaget melihat garangnya Sania bila dituduh tak sesuai fakta. Badan boleh kecil tapi nyali setinggi tiang listrik.


"Kamu suka iseng sih!"


"Iseng dalam batas wajar tanpa menuduh. Kalau bapak jadi aparat hukum di negara kita jadi kacau. Bapak pulang saja. Mbak Nania perlu teman."


"Aku mau jumpa keluargamu sekaligus melamarmu secara resmi."


"Resmi apa? Mana orang tuamu? Dulu gimana sih ngelamar mbak Nania? Via calo ya?"


Dada Bara mau meledak rasanya diledek habisan oleh gadis bau kencur di mata Bara. Bau kencur tapi lidah setajam pisau silet. Kena gores langsung berdarah.


"Aku mau kenalan sama keluargamu." ralat Bara tak mau kalah malu diledek Sania.


"Bilang dong! Ayo...keluargaku resmi bukan keluarga abal abal. Jadi tak usah ragu. Dan terpenting mereka makhluk hidup berakhlak."


"Kata katamu seperti menyindir aku bukan makhluk hidup. Hidupku bakal sengsara dirongrong sama anak bayi berlidah tajam." keluh Bara putus asa.


Sania pura pura kasihan pada nasib Bara yang bakal sengsara. Gadis ini menepuk bahu Bara seolah turut berduka. Bara makin mau muntah darah diperlakukan kayak anak kecil oleh Sania. Ditambah Sania pasang tampang penuh rasa prihatin. Makin klop rasa kesal Bara.


"Yang sabar pak! Kantor sudah sepi. Ayo pergi! Nanti kita dituduh selingkuh pula."


"Sania..." seru Bara mengejar Sania yang sudah duluan kabur ke lantai bawah.


Bara ingin jitak kepala penuh akal bulus itu. Bara akan jadi mangsa Sania jadi bahan olokan. Makin pasang wajah dingin makin bangkitkan niat Sania goda laki itu.


Sania masuk ke dalam mobil mungilnya tanpa menunggu Bara. Sania jalankan mobil diiringi tatapan ingin membunuh dari Bara. Bara ingin ******* Sania jadi tepung. Diterbangkan ke langit supaya sirna.

__ADS_1


Bara menyusul Sania dari belakang dibarengi rasa dongkol setinggi gunung Himalaya. Gunung tertinggi sedunia. Kira kira begitulah rasa dongkol Bara.


Mobil melaju membelah jalan raya sampai tujuan. Jalan tak begitu macet karena masih siang.Sebentar lagi pasti jalanan akan dipenuhi tumpukan kenderaan ingin pulang cari kenyamanan.


Mobil Sania berhenti sampai di rumah Pak Bur. Mobil Bara menyusul dari belakang berhenti di depan pagar rumah sederhana Lisa. Sania yang sudah biasa singgah di rumah tersebut tanpa ragu langsung masuk ke pekarangan rumah. Bara masih terpaku tak berani ikut masuk tanpa aba aba Sania.


Etika tetap harus dijunjung di manapun kita berada. Sania hanya calon isteri bukan tuan rumah. Bara memilih menunggu di luar pagar sampai Sania sadar undang dia masuk.


"Mau jadi orang negro?" tanya Sania pada Bara. Matahari sedang bersinar dengan garang memanggang setiap benda yang terkena cahayanya. Semua dilibas tanpa pilih bulu. Bara termasuk incaran sang Surya biar kulit tampak eksotis.


"Undangan paling aneh?" omel Bara cepat cepat masuk halaman rumah Lisa. Kepala Bara mulai panas dibelai sang matahari.


"Manja...ingat pak tani kepanasan di sawah!"


Bara tak mau debat dengan Sania karena pasti akan kalah. Mulut Sania seperti petasan produk terbaru. Tenaga masih kuat. Sekali meledak bikin kuping sakit.


Sania mengetok pintu rumah sambil melirik Bara dengan ekor mata. Bara tampak tenang perlihatkan wibawa seorang pemimpin. Ntah pemimpin keluarga atau pemimpin kantor. Pokoknya Bara adalah pemimpin Sania dalam segala hal.


Pintu rumah Lisa terkuak. Seraut wajah manis nongol menyambut kehadiran keduanya. Mata Lisa nyaris keluar lihat Sania datang bersama seorang cowok ganteng walau dikit tua.


"Assalamualaikum manis..." sapa Sania riang. Hati Sania sangat senang bisa jumpa sahabat kentalnya setelah berhari tak jumpa.


"Waalaikumsalam...ayo masuk! Sudah ditunggu papa dan mama." Lisa bergeser dari pintu beri ruang pada Sania dan Bara melangkah masuk.


Sania nyelonong masuk tanpa malu sedangkan Bara masih segan dikit. Sekarang dia berada di rumah orang, rumah di mana dia akan minta ijin nikahi gadis muda. Walau Bara sudah pengalaman namun tetap ada rasa gugup menyelinap dalam hati.


Pak Bur sudah menanti kehadiran Sania dari tadi sesaat Lisa kasih kabar Sania mau datang minta restu menikah. Pak Bur cukup kaget dengar Sania akan segera menikah padahal gadis ini baru mengalami goncangan cukup besar ditinggal nikah oleh Bobby.


Pak Bur langsung menyambut Bara dan Sania begitu masuk ke dalam rumah. Mata tua Pak Bur meneliti Bara dari atas sampai bawah bak detektif kondang sedang selidiki penjahat kelas wahid.


Bara agak kaku ditatap nanar oleh Pak Bur. Bara tak ubah tiang listrik tak bergerak mematung tak berdaya. Dibutuhkan tapi tak dihargai.


"Pak..ini Pak Bara.." Sania perkenalkan Bara halau rasa kaku.


Bara patuh tanpa komentar. Bara seperti anak SD berbuat salah sedang diinterogasi guru. Kalau salah tinggal menunggu hukuman dirotani atau diskor selama seminggu.


"Kalian ngobrol! Aku dan Lisa akan bikin minuman." Sania beri kode pada Lisa agar ke dapur biar Bara bicara dengan Bapak Lisa.


"Kau gila tinggalkan mereka. Papa gak setuju kamu kawin karena putus asa. Jangan melarikan diri dari masalah San!" bisik Lisa


"Aku menikah dengan beberapa alasan. Pak Bara bisa lindungi aku dari ancaman Bobby dan bininya yang gila. Ranti datang ke kantor serang aku." Sania jujur bercerita pada Lisa kejadian Ranti serang dia di kantor Bara.


Lisa mendesah marah, "Gila..perempuan stress. Sudah rebut calon suami orang bikin ulah lagi. Lalu kau gampar?"


"Apa model aku main gampar? Aku malah minta dia gampar biar dia rasakan dinginnya sel penjara. Aku pasti akan tuntut dia walau kabur ke neraka kalau main tangan."


"Setuju...kita bikin apa nih? Kopi atau teh?"


"Kopi saja. Pak Bara perlu kopi untuk tenangkan diri. Sumpah dia pasti grogi hadapi bapak. Oya ibu mana?"


"Beli buah untuk kamu."


"Ibuku yang baik.."


"Kamu ke depan saja. Jangan jangan Baramu sudah mati di skakmat papa."


Sania tertawa geli bayangkan bos macam Bara mati kutu di hadapkan pada calon mertua. Mungkin nyali Bara menciut kecil di tanya ini itu oleh Pak Bur. Atau keringat dingin basahi tubuh.


"Biarkan dulu! Kasih kesempatan dia ngobrol sama papamu. Pembicaraan antara sesama laki lebih baik kita tak usah ikut campur. Nanti kita tinjau bengkel bapak ya."


Lisa mengangguk seraya seduh kopi untuk Pak Bur dan Bara. Harum kopi menyeruak seluruh ruangan. Sania mengendus harum kopi meresap dalam dalam ke rongga hidung.


"Kau mau?" tawar Lisa

__ADS_1


"Tak usah. Takut tak bisa tidur nanti malam. Antar ke sana saja gih! Redam rasa gugup Pak Bara. Kasihan dia kalau bapak pasang tampang militer terusan."


"Duh...sakit hati doi diplonco papa! Perhatian banget ya!"


"Jelas..calon bojo toh!"


"Ada kemajuan...mulai ada lidah Indonesianya."


"Indonesia banget! Merah darahku, putih tulangku."


"Ciisss..ngaku doang! Coba makan cabe yang banyak. Masa makan salad, roti keju dan cream cream bau susu. Mual aku!"


"Selera jangan dijadikan patokan nasionalis seorang manusia! Yang penting kesetiaan kita. Aku ikut bangun Indonesia kok walau dibayar."


"Maumu.."


"Antar kopinya non! Keburu dingin" Sania mendorong Lisa ke ruang tamu untuk suguhkan kopi hasil olahan gadis itu.


"Iya..cerewet!" Lisa segera angkat nampan berisi kopi ke ruang tamu.


Bara dan Pak Bur terlibat pembicaraan serius. Tak ada wajah tegang antara dua laki beda usia itu. Malah mereka tampak akrab dalam bahasa tubuh. Pak Bur perlihatkan wajah cerah tak berkerut macam minta disetrika lagi.


Lisa meletakkan kopi lalu bergegas balik ke dapur lapor penampakan terkini. Situasi aman terkendali.


"Ssssttt...Baramu hebat! Sudah taklukkan singa ganas. Mereka ngobrol dengan akrab. Aman deh kamu!"


"Syukurlah! Ada makan siang?"


"Ada...mama sudah masak orderanmu. Sambal pakai satu cabe selebihnya tomat. Takut kamu sakit perut kata mama. Aku minta nasi liwet mama menolak alasan capek. Aku jadi curiga anak mama kamu atau aku sih?" gerutu Lisa bikin Sania cekikan. Sikap Lisa persis anak kecil tak dapat mainan idaman. Manyun.


"Kamu anak adopsi sedang aku anak kandung. Ya beda dong!"


"Harus kusewa detektif cari kebenaran kasus ini. Pinjam uangmu ya! Aku lagi bokek tak punya penghasilan lagi."


"Ckckck..pengangguran sejati." Sania lemparkan pandangan iba pada Lisa. Ejekan Sania bukannya disambut amarah malah Lisa pasang wajah sedih.


"Kasihanku aku San. Anak pungut tak punya penghasilan. Pinjami aku sepuluh trilliun buat beli laki biar bisa jaga aku di sisa hidupku." Lisa berdrama untuk usir kegalauan hati.


"Baiklah Marimar! Kupinjami ente seratus trilliun."


"Benar???"


"Bohong...dari mana gue duit sebanyak itu? Kita ke depan yok! Kasihan Bara!"


"Ok.."


Sania menggandeng Lisa balik ke ruang tamu. Pak Bur sedang ha ha hi hi dengar cerita Bara. Cerita apa bisa bikin pak tua itu demikian gembira. Sudah nyambung ceritanya kedua laki itu toh.


Sania bersyukur Bara bisa akrab dengan Pak Bur. Kalau dilihat sifat kaku Bara sangat sulit adaptasi dengan orang lain. Syukurlah rasa takut Sania tak terjadi. Bara pandai baca situasi kendalikan keadaan jadi berbalik.


"Nak Sania sini! Nak Bara sudah utarakan niat besarnya melamar kamu. Bapak serahkan padamu. Kamu sudah dewasa bisa putuskan sendiri." Pak Bur langsung omong gitu begitu Sania dan Lisa datang.


"Sania mantap masuk ke dalam keluarga Pak Bara." Sania tak mau bikin sejuta argumen yang bisa sulut keraguan dalam hati Pak Bur.


"Ya syukurlah! Kita tunggu niat baik keluarga nak Bara ke sini!" Pak Bur menarik nafas lega Sania sudah ada yang jaga. Walau Sania tak ada hubungan darah dengan keluarganya namun Sania sudah dianggap anak sendiri oleh Pak Bur.


Sania hidup tanpa sanak keluarga di kota maka keluarga Pak Burlah jadi keluarga Sania saat ini. Wajar kalau Bara melamar Sania pada keluarga ini.


"Terima kasih pak! Besok kami akan datang melamar secara resmi." janji Bara sungguh sungguh. Tidak sia sia dia beranikan diri datang pada keluarga angkat Sania. Ternyata mereka keluarga baik bisaa maklumi kondisi Bara.


"Nak Bara makan siang bersama ya! Sebentar ibu Sania pulang. Kita makan sama sama. Ayo minum kopinya!"


"Terima kasih." sahut Bara sambil lirik Sania yang tersenyum manis. Kenapa Sania makin manis hari ini? Bara tak bisa bohongi diri sendiri terpesona oleh kecantikan alami Sania. Di mata Bara gadisnya makin cantik. Sanggupkah Bara bercerai kalau Nania betul sembuh kelak?

__ADS_1


Sangat jahat kalau Bara berharap Nania jangan sembuh selamanya biar Sania tetap ada di sampingnya seumur hidup. Mereka takkan berpisah selamanya sampai maut memisahkan. Harapan Bara bukan harapan jelek karena itu termasuk niat baik.


__ADS_2