
Sania terlibat pembicaraan soal bisnis alat berat dengan perusahaan Jerman. Pak Jaya beruntung perusahaan itu berniat mengepak sayap lebih lebar menanam modal di Indonesia. Pak Jaya kecipratan rezeki dipercaya perusahaan itu menjalankan usaha mereka.
Pak Jaya masih ragu menerima limpahan bisnis cukup menggiurkan namun punya resiko tinggi. Modal dari bisnis ini cukup besar, Pak Jaya harus nyali untuk menjalankan kepercayaan perusahaan besar asal Jerman.
"Pa..bisnis ini sangat potensial cuma dibutuhkan kepercayaan. Pertama papa tak boleh merusak image main kotor. Kita boleh cari keuntungan tapi tak boleh gunakan uang perusahaan itu ke tempat lain. Fokus kembalikan modal mereka." Sania langsung to the point bicara seakan wakili perusahaan itu buat perjanjian.
Pak Jaya angguk benarkan kata-kata Sania. Dalam berbisnis yang paling vital adalah kepercayaan. Sekali berbuat curang maka tamatlah bisnis yang dibangun.
Fadil duduk ikut bergabung dalam obrolan Sania dan papanya setelah puas menjahili abangnya. Fadil ingin beri peringatan pada Bara hargai Sania. Sania terlalu baik dibodohi suami plin plan macam Bara. Masa lalu dijadikan kenangan indah dan harus dirawat hingga detik ini.
Fadil tak bosan menatap wajah cantik Sania. Sampai detik ini Fadil masih kesal mengapa harus Bara jadi suami Sania. Kenapa bukan dirinya yang duluan kenal Sania. Namun takdir sudah duluan gariskan Sania harus jadi isteri Bara. Fadil tak bisa mengubah kenyataan tapi bisa menjaga Sania setulus hati.
"Papa yakin mampu handle kepercayaan perusahaan itu?" Fadil perlihatkan keseriusan ikut nimbrung dalam obrolan. Di sini nampak kedewasaan Fadil. Sikap konyolnya ditanggalkan saat ini.
"Papa yakin tapi tetap kamu yang harus tampil. Sania kan bisa bantu jadi perantara." Pak Jaya melirik Sania harap menantunya siap jadi jembatan penghubung.
"Sania siap bantu asal papa dan Fadil sudah yakin. Di Jerman ada keluarga Sania. Mereka pasti akan turun tangan bantu Fadil bila datang ke sana."
"Cewek atau cowok?" tanya Fadil mengedip nakal.
Sania tersenyum lihat sikap konyol Fadil muncul lagi. Ternyata sikap konyol Fadil sudah mendarah daging. Baru sedetik lalu serius kini keluar watak aslinya.
"Cewek...pintar bahasa Sunda dan Indonesia. Umur dua puluh lima, jomblo akut, seorang hakim di Jerman." Sania promosi kawannya masih termasuk kerabat jauh.
Fadil bersiul ingat status guidenya di Jerman. Masih muda tapi berprestasi. Apa produk keluarga Sania hasilkan bibit unggul semua?
"Cantik ngak?"
"Cantik itu relatif. Tergantung mata yang menilai. Cantik dari luar kulit atau inner beauty? Menurutmu gadis blasteran cantik ngak?"
Fadil mencoba kumpulkan ingatan membayangkan gadis campuran bule dan lokal. Lebih kuat gen mana?
"Aku tak bisa nilai sebelum jumpa! Kasih penilaian harus sesuai fakta."
"Good...Clue untukmu dia mirip Angelina Jolie. Bukan hasil pisau operasi tapi pemberian Tuhan. Minusnya di Nasrani."
Fadil besarkan mata bayangkan sosok wanita secantik Angelina Jolie. Tak usah dipikir panjang sudah bisa kasih nilai sembilan. Tapi tunggu dulu. Bisa jadi Sania sedang menggodanya. Tampang Inem dibilang tampang Angelina.
"Jebakan Batman?" pancing Fadil ragu cerita Sania. Kali aja dibumbui biar Fadil tertarik.
"Kita video call?" tantang Sania memancing rasa ingin tahu Fadil. Laki itu pasti penasaran mau lihat tampang orang yang akan jadi pemandunya di Jerman nanti.
"Apa tak merepotkan?" Fadil meringis gugup.
"Ayok kita kenalan sama orang baik hati yang mau nolong kita! Hitung-hitung silaturahmi dengan kerabat Sania." timpal Pak Jaya tertarik pada gadis berbakat cerita Sania. Pak Jaya selalu bangga pada generasi muda yang punya potensi. Bukan yang hanya tahu tas mahal, kosmetika mahal dan tukang koleksi pakaian mewah.
"Ok..." Sania mengeluarkan ponsel dari tas selempang kesayangan.
Fadil dan Pak Jaya tak habis pikir bagaimana sosok Sania ini. Wanita lain berlomba beli tas mahal gerogoti uang suami dia malah tiap hari tenteng tas yang kusam. Apa tas Sania punya sejarah berharga hingga wanita ini tak rela tikar tasnya dengan tas lebih ok untuk seorang isteri bos besar.
Ponsel Sania tersambung dengan panggilan no luar negeri. Seraut wajah bertampang bule muncul di layar beri senyum manis pamer barisan gigi putih bersih. Mata warna hazel bersinar terang kena pantulan cahaya lampu dalam ruangan.
"Halo darling...hoe is het met u?"(apa kabar?) terdengar sapaan dalam bahasa Belanda.
"Huh..bule kesasar! Lupa orang Indonesia ya?"
Tawa derai merdu di kuping terdengar jelas dari ponsel. Tawa wanita bertampang bule itu garing memanjakan kuping.
"Iya sayang...apa kabar?" bahasa Indonesia versi orang barat terdengar kaku di kuping. Tak semerdu tawanya.
"Baik...kau gimana?"
"Aku? Baru keluar dari ruang sidang. Kasus perkosaan!"
"Selesai?"
__ADS_1
"Belum...sidang pertama. Masih panjang. Si laki mau tanggung jawab tapi keluarganya menolak."
"Lho??? Kumaha ieu?(gimana ini)"
"Kisahnya rumit! Ada apa call me? Aku tahu kamu tak penting tak cari aku."
"Belajar bahasa mamamu lagi sis! Jelek tata bahasamu." ejek Sania mengulas senyum di bibir.
"Tunggu aku ada waktu datang ke negeri mama!"
"Tak usah tunggu ada waktu. Aku tahu kamu tak pernah ada waktu. Kawin sama orang sini saja. Badanmu tak bau keju lagi."
Tawa renyah kembali manjakan kuping dua laki beda usia itu. Dari tawa saja saudara Sania sudah merebut simpatik Fadil. Wanita itu pasti orangnya asyik bisa diajak guyonan. Bekerja sama dengan orang demikian takkan bosan.
"Aku masih kicil belum mau kawin."
"Kecil sis...bukan kicil. Maka kubilang pulang kampung mamamu biar pintar dikit. Mulutmu tersumbat keju sih!"
"Tunggu aku datang! Kamu kapan datang ke Netherlands?"
"Mungkin akhir tahun. Oya aku mau minta tolong kamu kawal keluargaku selama tinggal di Jerman. Mereka akan buka bisnis dengan orang Jerman. Kau mau bantu?"
"Tapi Minggu depan aku baru free dari kasus. Sekarang banyak sidang."
"Ok...mungkin berangkatnya juga Minggu depan. Aku kasih kontak kamu ke mereka. Jaga mereka dengan nyawamu lho! Jangan kamu nikahi ya!" olok Sania kerling Fadil sambil beri senyum menggoda.
"Muda atau tua?"
"Muda dan handsome...jangan jatuh cinta! Ini orangnya!" Sania mengarahkan hp ke wajah Fadil yang memerah digoda Sania. Ada malunya juga playboy cap kerupuk.
"Wow...anak kicil! Very handsome.." seru wanita itu girang bisa lihat tampang orang yang akan jadi bebannya.
Fadil melongo disebut anak kecil. Maya wanita itu katarak berat. Laki dewasa dibilang anak kecil. Ini melukai harga diri Fadil selalu lelaki terganteng sekompleks perumahan.
"Halo guy...aku Janetta." Ternyata wanita itu bernama Janetta. Janetta melambaikan tangan di layar ponsel.
"Hai..aku Fadil! Senang kenalan!"
"Sama-sama...bahasa aku tidak bagus. Jangan ketawa ya!"
"Bagus kok!" Fadil basa basi padahal jujur bahasa Janetta kaku. Khas Indonesianya orang bule.
"Oh terima kasih! Aku tunggu kamu datang ke Jerman ya! Aku akan ajak kamu Jerman."
"Terima kasih. Maaf merepotkan nanti."
"Tak apa...aku senang jumpa orang Indonesia! Aku belum pernah ke Indonesia."
"Datanglah! Aku pula jadi guide kamu nanti. Indonesia sangat banyak tempat wisata. Semua indah."
Sania pegel pegang hp sementara Janetta dan Fadil ngobrol keluar dari tujuan semula. Sania menarik tangan Fadil untuk pegang ponselnya. Mau ngobrol seharian juga ok. Asal tak menyusahkan orang lain.
Fadil tahu diri minta pamit dari Janetta. Janetta cukup menarik untuk diajak jadi kawan ngobrol. Soal kepintaran tak usah diragukan. Pancaran sinar mata Janetta sudah wakili kecerdasan wanita itu. Ditambah profesi tak lazim seorang wanita jadi hakim. Sebelas dua belas dengan Sania. Pintar berprestasi.
"Ok sis...kukasih kontakmu ya biar bisa ngobrol lama."
"Ok...jaga diri darling! Jangan lupa hubungi aku kalau ada masalah!"
"Ok.. Byee.."
Keheningan melanda sejenak. Semua terdiam masih terpesona oleh wanita peranakan yang tak lupa bahasa ibunya. Lahir dan besar di luar negeri tak menyurutkan Janetta belajar bahasa ibunya.
"Aku ke atas dulu. Oya ini no kontak Janetta! Save ya!" Sania membuka no kontak Janetta lalu perlihatkan pada Fadil.
Tanpa ragu laki itu menyimpan no ponsel Janetta di kontak. Janetta cukup menarik perhatian Fadil.
__ADS_1
Semua lega jalan menuju ke kesuksesan menjadi dealer perusahaan alat berat dari Jerman makin terbuka. Pak Jaya bangga betul pada menantu jempolan. Masih muda tapi otak lebih bijak dari orang tua
"Siap magrib kita makan malam. Mamamu sedang siapkan makan malam!" Pak Jaya ingatkan Sania untuk turun makan malam.
"Iya pa..." sahut Sania sebelum naik ke lantai atas.
Sania masuk kamar tak melihat Bara. Yang ada hanya bekas pakaian Bara teronggok di sofa. Kelihatannya Bara sedang mandi.
Angin senja berhembus mendesak masuk kamar Sania dan Bara. Harum tanaman dari halaman ikut membelai hidung Sania. Sania suka mencium kesegaran bau tumbuhan sejak hamil. Perasaan Sania juga bertambah sensitif. Biasanya Sania bisa kontrol emosi dalam segala Medan. Tapi kini sedikit tak diusik, hati Sania kontan menyala. Panas melulu.
Sania menutup jendela berjaga dari serangan nyamuk. Menjelang senja pemangsa darah manusia akan berkeliaran cari tempat yang ada bau darah. Donor secuil darah bagi nyamuk tak masalah tapi efeknya bisa binasakan manusia. Bisa terjangkit malaria ataupun demam berdarah.
"Lagi ngapain?" sepasang tangan kokoh melingkari pinggang Sania dari belakang. Harum maskulin Bara menyeruak ciptakan rasa damai di hati. Sania suka bau Bara setelah mandi.
"Cabut tiket vampire kecil masuk kamar kita!"
Bara tertawa dengar kalimat lucu Sania. Contoh orang berwawasan luas kreasi kalimat jadi lebih sedap di kuping.
"Tak takut dimusuhi?"
"Ngapain berteman sama vampire?"
"Hhhmmm..apa Fadil masih isengi kamu?"
"Iseng gimana? Cuma gombalan keriting? Tak masuk buku. Oya...tadi sudah kukenalkan Janetta pada Fadil!"
"Janetta? Siapa?" tanya Bara tanpa melepaskan pelukan Sania.
"Saudaraku di Jerman. Dia yang akan kawal Fadil dan papa selama di Jerman. Aku rindu keluargaku di Belanda. Kapan kita ke sana?"
"Kau punya keluarga di Belanda? Bukankah Rangga abangmu di sini?"
"Aku pernah cerita kalau aku punya keluarga di Belanda. Dari sebelah mamaku. Lupa atau tidak menyimak?"
"Mungkin aku terlalu fokus pada Rangga lupa kamu masih ada keluarga lain. Kalau proyek kita sudah capai tahap finishing kita ke sana. Sekalian bulan madu yang tertunda. Aku ingin nikmati hari-hari bersamamu tanpa gangguan."
"Kapan proyek kita kelar? Proyek pulau B tiga tahun ke depan belum tentu kelar. Finish tujuh puluh lima persen kita akan teken kontrak lanjutan. Mungkin anakmu sudah masuk sekolah kita takkan punya waktu."
"Pasti ada hari itu. Kita pergi ke tempat di mana kau suka."
"Iya Lieve...aku mandi dulu ya! Sebentar lagi magrib."
"Pergilah! Ibu hamil tak baik mandi sore." Bara melepaskan Sania untuk pergi bersihkan diri dari segala kotoran. Aktifitas seharian membuat badan lengket. Curahan air hangat mampu melemaskan otot-otot tegang.
Selepas sholat Isya Sania langsung buka laptop periksa persiapan berangkat ke pulau B. Sania mau pastikan tak ada berkas tertinggal untuk lancarkan tugas perdana proyek pulau B. Sania orang telaten serta teliti. Hal sekecil apapun takkan bisa lewat dari kerlingan matanya.
Pakaian Sania dan Bara sudah tersusun rapi dalam koper. Persiapan ke pulau B fix seratus persen. Bila ada umur panjang mereka akan berangkat pakai pesawat kecil yang layani rute ke pulau B. Pesawat hanya diisi dua belas penumpang. Sejenis pesawat capung.
Mata Sania mencari keberadaan Bara. Tadi Bara bilang diskusi dengan Pak Jaya mengenai tawaran perusahaan dari Jerman. Sania merasa lebih bagus Bara mengetahui permasalahan perusahaan papanya. Bara ada bagian dari perusahaan itu. Bara adalah pewaris Pak Jaya selain Fadil.
Lama Bara tak datang. Diskusi mungkin berjalan alot. Bara pasti punya pandangan tersendiri mengenai tawaran perusahaan di Jerman. Untung rugi masih harus dimasukkan dalam diskusi.
Sania tak sanggup menahan rasa ngantuk yang menggila. Berkali-kali Sania menguap tanda harus memanjakan mata ajak istirahat. Mata Sania termasuk mata manja tak bisa diajak begadang. Sania selalu tidur tepat waktu bila tak ada kerja mendesak. Apa lagi hamil begini, badan lebih cepat lelah.
Sania memilih berlayar ke pulau kapuk mencari mimpi indah. Bermimpi hidup bahagia bersama Bara dan anak-anak manis. Tak peduli jenis kelamin anak-anaknya. Yang penting terlahir selamat dan sehat. Harapan alamiah setiap ibu hamil.
Jam sepuluh malam bincangkan dengan Pak Jaya dan Fadil capai titik kesepakatan. Bara tak sabar naik ke lantai atas mencari bini mungil. Bara sudah bayangkan peluk tubuh mungil yang janjikan rasa hangat.
Bara tersenyum sendiri bayangkan ocehan Sania yang kadang memicu rasa kesal. Sekesal apapun Bara tetap rindukan tubuh mungil yang telah mengukir kisah indah dalam hidup Bara. Sania bagai malaikat di keluarganya.
Bertubuh kecil namun menyimpan power sedahsyat bom nuklir. Sekali meledak bisa hancurkan satu kota. Kota hati Bara maksudnya.
Sebelum Bara capai pintu kamar ponsel di saku celana Bara bergetar tanda ada panggilan masuk. Bara mengeluarkan ponsel dengan rasa penasaran. Siapa telepon malam hari gini. Kurang kerjaan apa?
Nafas Bara nyaris berhenti lihat nama yang tertera di layar. Orang yang paling ingin dia hindari.
__ADS_1