
Bu Bur masih jual mahal tak mau open pada Pak Bur yang sudah kerahkan gombalan termuktahir versi Pak Bur. Padahal dalam hati Bu Bur berbunga bunga dirayu suami pagi hari. Siraman air cinta sejukkan hati yang membara gara suami disukai janda tua.
"Sudahlah San! Kamu tolong jaga Lisa dan Ibu. Bengkel bapak percayakan pada Rangga!" Pak Bur memelas sedih.
"Enak saja mau kabur sama janda peot gitu! Siapa kawani mama kalau malam pingin pipis?" semprot Bu Bur besar suara. Matanya melotot segede jengkol.
Sania dan Pak Bur hendak tertawa namun ditahan agar wanita paro baya itu tak tersinggung. Bu Bur gampang saja diprovokasi. Pak Bur bikin skenario kecil saja di langsung beri reaksi keras dari bersangkutan.
Pak Bur dapat angin untuk redakan emosi sang bini tercinta. Pak tua ini pindah duduk di samping bininya sambil merangkul bahu montok Bu Bur. Sania jadi malu lihat kemesraan Pak Bur pada bini.
"Sampai kapanpun papa takkan duakan mama. Cukup ada mama, Lisa dan sekarang tambah Agra. Bukankah keluarga kita sudah lengkap? Untuk apa kita ajak orang lain yang bikin rusuh rumah kita. Papa sudah hidup damai begini. Untuk apa cari penyakit. Mama seharusnya bangga pada papa. Setua gini masih ada yang suka. Artinya suami mama tampan."
"Ciiisss..ge er banget! Sudah..mama mau bikin nasi goreng." Bu Bur kasih kode keras sudah maafkan sang suami namun gengsi untuk mengaku. Jalan satu satunya katakan isi hati adalah bikin nasi goreng kesukaan sang suami.
Pak Bur dan Sania tersenyum melihat sosok bertubuh montok itu masuk ke dapur. Sania menarik nafas lega bisa bantu selesaikan konflik kecil di keluarga Lisa. Bu Susi hanya kerikil kecil ingin mengganjal langkah Pak Bur capai keluarga sakinah. Untunglah iman Pak Bur teguh tak tergoda ***** duniawi.
"Aman pak!" kata Sania tersenyum.
"Terima kasih nak! Ibumu terlalu cinta maka tak rela bapak membagi hati. Ini bisa jadi pelajaran buat kalian orang muda. Jangan terbawa amarah dan emosi! Kalian akan hancur total bila tak bisa berpikir waras." nasehat Pak Bur layak orang tua bagi Sania.
Sania akan menyimpan kejadian pagi ini sebagai pelajaran berharga di kemudian hari. Emosi takkan selesaikan masalah. Dengan kelembutan malah cepat tuntaskan masalah. Kuncinya saling memahami dan saling percaya.
"Sania bangunkan Agra dulu ya!" Sania bangun dari sofa menuju ke kamar Agra. Sania kangen juga pada lajang kecilnya setelah tak jumpa berapa hari.
Sania membuka pintu kamar adiknya perlahan takut bikin kaget sang adik. Ternyata lajang itu sudah bangun. Lajang ini sudah rapi siap siap hendak sekolah.
Agra beri senyum manis pada Sania sebagai ungkapan rasa sayang. Agra tahu Sania selalu sibuk namun kasih sayang Sania tak diragukan. Sania berusaha penuhi segala kebutuhan Agra walau semahal apapun.
"Hai.." sapa Sania lembut. Agra ulurkan tangan hendak salim pada sang kakak sebagai rasa hormat. Hal sepele ini akan bawa makna besar bagi masa depan Agra. Dari kecil Agra sudah tahu sopan santun maka sampai tuapun akan melekat dalam otak.
"Mbak..kapan Agra tidur sama mbak? Agra rindu sama mbak."
Sania memeluk tubuh ringkih Agra erat erat untuk redakan kerinduan di hati lajang kecil itu. Agra jarang dapat pelukan hangat dari seseorang yang bisa beri kasih sayang utuh. Di panti semua pengasuh memang baik namun tak mungkin beri perhatian penuh karena penghuni panti bukan satu dua orang. Yang masih kecil tentu dapat porsi perhatian lebih banyak. Yang sudah besar tetap disayang dalam batas tertentu.
Agra punya kakak kandung maka wajar lajang ini ingin dimanja seperti anak lain. Malam dikawani tidur, ngobrol berjam soal sekolah dan pelajaran di kelas. Agra ingin ada yang mendengar ceritanya.
"Nanti malam kita pulang rumah mbak. Ajak mas Rangga ya."
"Benar mbak? Tidak ingkar lagi?"
"Mbak janji...Mbak akan jemput kalian selepas kantor. Agra bawa baju sekolah dan buku pelajaran. Kita berangkat sekolah dari rumah mbak. Ok?"
"Ok." Agra memeluk Sania dengan hati riang. Harapan kumpul bersama kakak nan cantik akhirnya tercapai.
"Kita sarapan! Oya kakak boleh minta rambut Agra sehelai?"
Lajang kecil ini angguk sambil keheranan. Anak sekecil Agra mana tahu untuk apa rambutnya yang tak ada nilai. Tapi bagi Sania itu adalah penentuan yang akan membuat dia ambil keputusan besar terhadap Ranti. Andai Ranti tak ada hubungan darah dengannya maka Sania tak segan hancurkan Ranti hingga remuk di jurang.
"Mbak mau simpan rambut adik mbak untuk jadi obat rindu bila Agra tak disamping mbak."
__ADS_1
"Kok rambut? Kita bisa selfie bareng. Mbak bisa lihat foto Agra."
Sania mengelus pipi Agra dengan lembut. Pipi masih licin itu terasa menenangkan hati Sania. Menyentuh Agra saja bisa bikin hati tenang. Bagaimana rasanya bila kelak punya anak sendiri. Pasti lebih menyenangkan lagi.
Sania tetap menarik rambut Agra walau lajang kecil itu sudah beri solusi lebih bagus untuk obati rasa rindu pada Agra. Sania butuhkan rambut Agra untuk buat perbandingan dengan DNA Ranti. DNA mereka pasti ada kecocokan walau tak seratus persen. Ada sembilan puluh persen sudah bisa dipastikan Ranti adalah saudara sedarah mereka.
"Ayo sarapan! Siap ke sekolah!"
"Ya mbak. Jangan lupa janji mbak ya!"
"Janji...kita shopping nanti."
"Beli sepatu ya!"
"Sepatu? Emang belum dibeli mas Rangga?"
Agra menggeleng. Sania mendecak kesal pada abangnya yang ingkar janji. Rangga janji akan beliin Agra sepatu ternyata hanya janji kosong.
"Ya sudah kita beli! Mas Rangga tak bisa diandalkan."
"Ya mbak!"
Sania menggandeng Agra menuju ke ruang makan. Sarapan lezat nasi goreng pasti sudah terhidang. Bu Bur mulai cair kena semburan gombal Pak Bur. Wajah kuyu Bu Bur perlahan sirna berubah cerah. Apalagi Agra datang minta sarapan.
Sania perhatikan reaksi keluarga sakinah ini. Yang ada rasa adem bikin tenang hati. Andai ada tangan jahil ingin aduk keluarga ini sampai kacau maka itu adalah tangan setan.
Bu Bur masih malu malu kucing layani suami ambil sarapan pagi. Namun rasa sayang tak dapat disembunyikan dari sinar mata wanita paro baya itu. Inilah cinta sejati dari seorang bini. Puluhan tahun berlalu namun pancaran mata masih mengandung sejuta kasih.
Sania bersyukur Bu Bur sangat sayang pada Agra. Agra tak ubah anak kandung bagi Bu Bur yang rindu anak laki. Ditambah sikap santun Agra bikin keluarga Pak Bur makin sayang pada adik Sania itu.
"Ayo sarapan dulu! Nanti telat ke sekolah. Tuh Rangga sudah tunggu dari tadi." kata Pak Bur menunjuk Rangga yang sudah berdiri di luar pagar rumah.
"Kenapa tak diajak masuk?" Bu Bur bergerak menuju keluar hendak ajak Rangga sekalian ikut sarapan.
Sania membantu Agra ambil sarapan biar Rangga menunggu terlalu lama. Kasihan juga abangnya yang setia harus bolak balik jemput Agra tiap hari. Untunglah Pak Bur maklum posisi Rangga yang harus bertanggung jawab terhadap sang adik.
Bu Bur balik dengan tangan kosong. Rangga mungkin menolak sarapan bersama di rumah Bu Bur. Laki itu terlalu banyak perasan sentimen. Niat baik orang dianggap merepotkan orang. Rasa percaya diri Rangga hancur karena kelakuan ayah bejat.
"Rangga sudah sarapan katanya." lapor Bu Bur lebih mirip mengadu.
"Dia cepat bangun sejak ada Agra di sini. Bapak suka lihat Rangga lebih semangat kerja." kata Pak Bur ingat Rangga tak dingin macam es balok. Sudah mau bercanda walau masih kaku. Kekuatan tali bersaudara mampu mengubah dunia seseorang. Rangga sudah menemukan apa yang dia cari otomatis gairah hidup makin menyala.
"Semoga dia betah ya!" doa Bu Bur suka pada Rangga yang sekarang.
"Amin...Agra sudah siap makan? Kita berangkat. Jangan bikin abangmu menanti lama!" ajak Sania kasihan pada Rangga yang seperti satpam penjaga rumah.
"Agra sudah siap mbak! Pa..ma..Agra berangkat sekolah ya!" Agra menyalami Pak Bur dan Bu Bur takzim.
Bu Bur mengelus kepala Agra lembut lalu mengecup pipi lajang kecil itu sebagai tanda kasih.
__ADS_1
"Belajar yang rajin. Jangan bertengkar sama kawan dan cepat pulang! Mama masak semur ayam untukmu. Agra suka kan?"
"Suka.. assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.."
Sania dan Agra segera keluar menemui Rangga yang masih setia menunggu kedua adiknya. Apa Rangga akan beri perhatian sama buat Ranti? Ranti juga adik Rangga sebelum ada hasil test DNA. Sania berharap Ranti bukan kakak kandungnya biar dia takkan merasa bersalah ambil tindakan pada kelicikan Ranti.
"Sudah lama mas?" sapa Sania mengerling mobil Rangga yang putih bersih. Tak ada abu ikut numpang di mobil warna bersih itu. Rangga sudah pasti rajin rawat mobil barunya.
"Lumayan juga...Kita cepat pergi! Hari ini mas banyak kerja. Agra jangan ke mana mana kalau mas telat jemput."
"Siap bos...tapi uang jajan lebih dikit dong! Tambah seribu." pinta Agra harap Rangga toleransi bagi uang jajan.
"Emang berapa uang jajan mu dek?" Sania penasaran Rangga beri Agra berapa duit untuk jajan.
"Dua ribu mbak." sahut Agra buat Sania terbelalak mata.
"Dua ribu? Wah lewat amat deh mas! Kulit kacang aja seribu. Belum lagi isinya." protes Sania buat Agra bersorak. Harapan punya uang jajan lebih makin dekat. Sania lebih royal dibanding Rangga si manusia kutub.
"Ada yang mau kulit kacang? Anak kecil tak boleh banyak jajan. Bu Bur sudah pesan tak boleh kasih Agra banyak duit. Ntar jajan tak sehat." Rangga pakai alasan Bu Bur untuk menjatah uang Agra tetap dua ribu. Rangga takut Agra beli jajanan tak sehat yang bisa pengaruhi kesehatan anak itu.
"Iya sih tapi jangan dua ribu! Agra bisa beli apa?"
"Buat nabung...bukan buat jajan. Cepat naik sebelum macet!" Rangga buka pintu mobil untuk Agra tak peduli protes Sania. Rangga harus jaga Agra agar tetap sehat karena mereka numpang sama orang lain. Kalau Agra sakit tentu merepotkan Bu Bur. Itu yang dihindari Rangga.
Sania menepuk jidat melihat Rangga tergesa gesa antar Agra ke sekolah. Abangnya pasti punya alasan terburu pagi ini. Sudah dijelaskan Rangga banyak kerja hari ini. Sania tak boleh menahan Rangga yang ingin tunjukkan kualitas pekerja keras.
Sania masuk ke mobil mungilnya melaju ke tempat dia mengais rejeki. Kantor Bara tempat persinggahan selanjutnya. Sania juga banyak kerja hari ini. Dia harus selesaikan sketsa pembangunan bank enam lantai.
Bara cuma kasih tempo tiga hari rancangan harus ada. Bos arogan model kekinian. Sania tak bisa nolak karena itu memang tugasnya. Dia dipekerjakan memang untuk bikin rancangan bangunan.
Bara tak beri kelonggaran walau Sania punya status bini Bara. Pekerjaan dan masalah pribadi dipisahkan dalam tugas. Sania terima tugas dengan senang hati walau diberi deadline.
Sania singgah di toko bakery beli roti untuk makan siang. Sania tak berniat keluar makan siang demi tuntaskan amanah Bara. Saatnya tunjukkan kualitas Sania sebagai pegawai berkualitas.
Kehadiran Sania disambut Fadil di depan kantor. Pemuda itu tersenyum manis begitu Sania turun dari mobil. Dandanan Fadil trendy cerminkan anak muda masa kini. Bau harum minyak wangi Fadil lebih lembut di banding bau minyak Bara. Wewangian Bara lebih maskulin sedang Fadil memancarkan harum sejenis bunga. Fresh tak menusuk hidung.
"Hai...selamat pagi say!" sapa Fadil menjejerkan langkah masuk ke kantor Bara. Sania tak tahu apa yang bakal terjadi lagi pagi ini. Kehadiran Fadil pasti akan bawa bencana buat Sania. Bara sangat tidak suka kehadiran Fadil di kantornya. Ntah karena Fadil mengganggu waktu kerja Sania atau tak suka sang adik ganggu bini mudanya.
"Tak jera dimusuhi abangmu?" tanya Sania tanpa hentikan langkah naik ke lantai atas. Fadil ikut tanpa peduli omongan Sania. Pemuda ini sama sekali tak gentar hadapi abangnya. Berjuang untuk cinta bukan dosa. Fadil berhak mencintai walau ditolak Sania. Mencintai Sania itu urusan Fadil. Tak ada sangkut paut dengan siapapun.
"Kau sudah sarapan?" Fadil terus mengejar Sania sampai ke meja kerja gadis itu. Sania masih bisa disebut gadis karena belum melakukan ritual malam pengantin dengan Bara. Segel Sania masih utuh belum tersentuh.
"Sudah...jangan buat ulah ya! Hari ini aku sibuk banget." Sania mulai hidupkan PC komputer untuk mulai kegiatan.
Tugas yang diberi Bara harus segera siap untuk beritahu Bara dia memang pekerja ulet. Sania tak mau mengandalkan posisi sebagai bini Bara tunda tugas. Di kantor dia adalah pegawai Bara seperti yang lain. Di rumah barulah dia berpangkat bini muda Bara.
"Serius amat. Kawanmu toh belum datang!" Fadil menarik kursi duduk sejajar dekat dengan Sania. Fadil mau tahu tugas apa diberi Bara pada Sania.
__ADS_1
Sejujurnya Fadil masih ragu kemampuan Sania dalam bidangnya. Sania cantik bisa membius laki. Bekerja di kantor Bara karena jual tampang atau memang punya kemampuan mumpuni. Fadil ingin membuktikan sendiri bakat Sania yang sebenarnya.