
Ketiga orang muda itu bergegas balik ke ruang rapat. Di sana sudah bertambah beberapa lelaki berpakaian necis. Sania menduga orang orang itu adalah petinggi perusahaan yang akan menilai perusahaan mana lebih kompeten menjadi pemenang tender.
Bara dan Roy ambil posisi semula. Sania tetap berjaga di belakang kedua petinggi perusahaan Bara. Sania posisikan diri sebagai juru bicara wakili Bara persentase.
Tak lama hadir bapak tua botak yang mereka jumpai di ruang besar kantor. Kewibawaan terpancar di wajah bapak itu. Ditambah senyum ramah membuat suasana tegang agak mencair.
"Selamat datang dan aku ucapkan terima kasih sudah susah payah membantu kami mengurus proyek baru kami. Di sini ada tiga perusahaan yang kami nilai cukup layak dipertimbangkan maka kami undang ke sini untuk dengar langsung konsep kalian." kata Bapak itu panjang tanpa jeda. Paru-paru bapak ini pasti bagus baru sanggup bicara panjang tanpa tersengal.
"Kita mulai dari PT. Oceanic. Silahkan wakil Oceanic!" juru bicara PT. SHINY umumkan peserta pertama jelaskan semua rencana rancangan.
Wakil Oceanic segera persiapkan diri hingga hubungkan file laptop ke layar besar di depan para peserta. Semua dengar dengan seksama terutama Sania yang haus ilmu. Setiap rancangan punya nyawa sendiri. Tinggal bagaimana hidupkan hidupkan nyawa dari satu plan. Rancangan Oceanic cukup bagus cuma sayang hanya mengandalkan konsep pembangunan moderen. Sama sekali tak menyentuh etnik desa. Padahal pulau B masih termasuk pulau tertinggal yang punya pemandangan sangat indah.
Selanjutnya PT. Jagat Raya. Konsepnya monoton mengandalkan kehidupan malam untuk kembangkan wisata pulau itu. Pulau seluas gitu sangat mubazir kalau hanya diperuntukkan turis nikmati keindahan alam malam hari.
Selanjutnya Sania tampil dengan konsep merakyat mencakup berbagai potensi. Sumber daya alam dan sumber daya manusia terserap dalam konsep Sania.
"Pulau B penduduknya tak banyak karena banyaknya penduduk keluar pulau cari kehidupan layak. Di sini aku tawarkan konsep sederhana yang mencakup potensi alam dan sumber daya manusia. Kita membangun kota mini dan daerah wisata baru. Kita juga bisa ajak investor lain masuk ke pembangunan kota impian. Kita bangun hotel, perumahan serta daerah wisata yang pantas kita garap. Di sini penduduk mengandalkan laut sebagai lapangan kerja maka itu aku sertakan pembangunan pabrik ekspor ikan segar serta pabrikan ikan kaleng. Di tambah kerajinan tangan penduduk lokal yang punya daya jual ke pasaran. Kita bisa rangkul penduduk berkarya lebih luas mengundang turis melirik hasil hand make penduduk lokal. Di situ ada juga tradisi turun temurun menenun kain pakai alat tenun manual. Itu juga bisa menarik minat turis."
"Nona...apa pandanganmu tidak terlalu jauh? Kita hanya bangun kota wisata." tanya salah satu peserta yang masih kurang ngerti makna rencana Sania.
"Begini pak! Kalau hanya mengandalkan keindahan alam mungkin lama-lama orang akan bosan. Kita harus punya daya tarik untuk buat orang itu teringat pada pulau B. Contoh orang akan ingat ikan segar dari sini, kerajinan tangan berupa kain tenun tangan dan hasil karya pernik lain. Penduduk hidup makmur kita pun dapat keuntungan. Kemakmuran penduduk bisa buat putaran uang pulau B merata. Jarak tempuh dari daratan ke pulau B cuma dua jam. Mungkin nanti ada maskapai penerbangan tertarik investasi di sana. Ini melancarkan transportasi."
"Bagus...pemikiranmu cukup dalam. Kau meraup semua dalam satu gebrakan. Tujuanmu bagus ingin para penduduk ikut dapat untung dari pembangunan daerah wisata baru. Kalau lapangan kerja terbuka mungkin orang-orang keluar pulau akan balik kampung. Konsep sangat bagus. Tapi semuanya masih harus kami bahas lagi. Kalian tunggu kabar kami. Dalam beberapa hari akan kami hubungi siapa yang akan kerja sama dengan kami. Terima kasih sudah luangkan waktu datang ke sini." Bapak itu beri kata sambutan terakhir sebelum rapat bubar.
Sania puas dengan presentase yang dia lakukan. Ini sesuai dengan impiannya bangun kota baru tanpa tinggalkan penduduk lokal. Pembangunan harus merata meningkatkan taraf hidup penduduk. Kota bersih dan sehat akan menarik wisatawan mampir sebar duit di kota mini yang bakal dibangun.
Bara dan Roy tak habis pikir bagaimana otak semungil itu mampu hasilkan konsep begitu luas. Sania benar gadis kecil berisi ilmu Kanuragan tingkat Wahid. Siapapun yang pernah jadi guru Sania takkan malu. Muridnya berhasil menyerap semua ilmu dari sang pembimbing.
Roy acungkan jempol puji Sania. Sania hanya balas dengan senyum manis. Ada rasa lega di hati telah selesaikan misi yang telah di nanti cukup lama.
"Konsepmu luar biasa. Sejujurnya tak terpikir oleh kami merangkul penduduk lokal. Semoga kita bisa kerja sama dalam proyek ini. Kita bisa bergandengan tuntaskan proyek ini." Wakil Oceanic menjabat tangan Bara selaku pimpinan PT Angkasa Jaya.
"Kita belum tahu bagaimana keputusan PT. ini. Kita tunggu saja. Setiap saat kami menanti kehadiran anda. Begitu juga di posisi kami. Harap ada ajakan kerja sama juga."
"Senang kenal Pak Bara. Baru kali ini kita jumpa. Semoga ke depan kita bisa lebih sering bertemu."
"Tentu...kami pamit dulu! Masih ada pekerjaan lain." Bara dengan sopannya minta pamit pada dua perusahaan saingan. Kelihatannya kedua pesaing patah semangat tak mampu saingi konsep Sania yang terlalu dahsyat.
"Silahkan!"
Bara beri kode pada Roy dan Sania untuk undur diri sebelum muncul pertanyaan lain dari kedua pesaing berat. Bara sendiri belum percaya Sania mampu buat kota mini segitu detail. Siapa yang bantu bini mudanya masih jadi pertanyaan dalam hati Bara. Sania tak mungkin bisa kerjakan satu konsep sedemikian detail. Bara sendiri tak mampu.
Ketiganya segera balik ke kantor untuk bahas langkah selanjutnya andai menang tender. Bara benar-benar syok berat karya Sania dapat pujian. Sania pantas dipuji karena karyanya memang patut diberi acungan jempol.
Dalam perjalanan pulang ponsel Sania berbunyi. Sania tersenyum kecil setelah tahu siapa yang telepon.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam...apa sih isi otakmu nak? Om kagum padamu. Kamu memang setan duit. Masih bisa kamu ingat cari duit dari penduduk lokal."
"Bukan cari duit om tapi membantu penduduk. Om kan bisa tambah kaya ekspor ikan mentah. Pabrikan ikan kaleng sehat. Sekali dayung tiga empat pulau terlalui. Gimana ? Teken kontrak?"
__ADS_1
"Dasar kamu ini...mau suap om ya!"
"Mana sanggup suap bos besar? Yang ada om suap aku. Minta bubur jagung lagi ya! Kirim ke apartemenku!"
"Iya...besok ajak bosmu teken kontrak! Berapa uang muka?"
"Yang benar om? Yakin kami pemenang tender? Apa tak perlu dirapatkan?"
"Tak mau ya sudah! Om alihkan sama Oceanic!"
"Idihhh...cepat naik darah! Ya mau..Om ganteng. Sembilan puluh persen DP!"
Bara dan Roy yang nguping nyaris mati tersedak ludah sendiri. Gampang saja Sania minta uang sembilan puluh persen uang muka. Itu sama saja sudah lunasi semua anggaran proyek. Apa ada perusahaan sebodoh gitu kasih uang muka segitu besar.
Bara dan Roy saling berpandangan menanti kelanjutan obrolan Sania dengan pemilik PT. SHINY yang menguntungkan Bara. Belum satu jam mereka keluar dari gedung SHINY sudah ada keputusan terhadap rancangan Sania. Seberapa hebat anak ini?
"Om tak batasi biaya. Setiap saat kau perlu dana boleh ajukan asal tak lewat limit. Ok? Om tunggu besok. Kamu harus ikut. Kamu harus jadi penanggung jawab utama."
"Siap. Aku akan buka rekening baru khusus proyek ini. Jangan ingkar penuhi permintaan kebutuhan dana proyek lho!"
"Ya Allah nih anak! Kapan om pernah tipu kamu? Om sediakan seratus untuk tahap pertama. Ok?
"Seratus apa om? Seratus ribu? Seratus juta atau seratus ember.?" goda Sania pada bos PT. SHINY.
"Terserah kamu."
"Ok..seratus ember. Deal.."
"Deal...Oya jangan lupa jaga kesehatan! Kau tampak kurus. Tantemu sakit hati lihat kamu kurus kering."
"Sudah cukup nak! Proyek besar ini sudah cukup bikin kamu pusing. Untuk apa kejar lagi. Jaga diri jangan drop!"
"Ya om...terima kasih! Salam untuk Tante. Jaga kesehatan juga biar jangan tambah botak!"
"Dasar anak asem..Besok om tunggu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.." Sania menyimpan ponsel dengan hati riang. Sudah Sania duga dari awal kalau proyek takkan lari ke mana. Sania sudah survey proyek ini dari tahun belakang. Tak mungkin Sania salah konsep.
"San...kita menang?" tanya Roy hati-hati takut salah dengar. Bara yang sedang nyetir merasakan betapa tubuhnya bergetar menang tender trilliunan dengan mudah. Mimpi seribu kali pun tak sangka akan menang.
"Seperti yang kalian dengar! Aku sudah buang tenaga dan pikiran selama setahun. Kerja kerasku berhasil menang. Kalian tak senang?"
"Aku ingin nangis rasanya. Baru kali ini aku kerja sama untuk proyek sebesar ini. Aku akan rancangan penghijauan sebagus mungkin." ucap Roy terharu plus bangga.
"Oya...jangan menyalahi aturan! Kita tak boleh gembar gembor nyatakan menang sebelum ada pengumuman resmi. Nanti dipikir kita main buka pintu belakang. Cukup kita tahu kita menang." Sania ingatkan Bara dan Roy jaga nama baik perusahaan PT. SHINY.
"Kau benar San...kita harus rayakan kemenangan ini." ujar Roy semangat.
Bara belum bisa komentar belum percaya bisa menang dari perusahaan besar macam Oceanic dan Jagat Raya. Dulu ada PT. BUILD yang angkuh. Ternyata PT itu tak mampu bersaing. Dulu PT itu ada Sania. Sania resign PT itu mulai jatuh rantai tak bisa bergerak. Artinya kuncinya ada pada Sania.
"Pak Bara tak senang kita menang?" tanya Sania sadar Bara banyak diam. Laki itu fokus pada jalan raya tak tahu harus jawab apa.
__ADS_1
"Aku masih syok! Kita butuh karyawan lebih banyak lagi. Apa kantor kita cukup tampung semua karyawan?" Bara terlihat linglung menang tender besar. Nyali Bara terlalu kecil hadapi masalah besar. Baru proyek triliunan sudah buat laki itu hilang akal.
"Nanti kita pikir itu. Persiapkan mental hadapi tantangan lebih terjal. Kalau bapak ragu silahkan mundur! Jangan terbebani oleh pekerjaan!"
"Mana bisa gitu? Kau sudah susah payah buktikan potensimu. Masa hanya gentar langsung mundur." timpal Roy tak suka Bara ragu ragu maju sebagai pemimpin perusahaan.
"Aku tak mau Sania capek. Aku yang harus maju ke depan bukan Sania. Sania cukup duduk manis di kantor." ujar Bara ambigu belum jawab pertanyaan Roy.
"Bukan itu Bara. Semangatmu diperlukan di sini! Sania boleh tak terjun lapangan. Masih ada kita mampu handle proyek ini."
Bara melirik Sania lewat kaca pion dalam. Bara tak rela lihat Sania pontang panting selesaikan proyek. Bara sebagai suami wajib beri kenyamanan pada wanitanya.
"San...kau janji tak ikutan terjun lapangan?" tanya Bara minta kepastian.
"Aku akan datang sekali-kali lihat apa konsepnya sesuai draf. Apa itu juga tak boleh?"
"Boleh asal aku ikut. Kau tak boleh pergi sendiri. Kau wanita punya suami. Tanpa ijin suami tak boleh pergi."
"Tak masalah asal semua berada di jalan hitam. Jangan keluar jalur."
"Baiklah! Kita makan siang dulu! Mau makan di mana?"
"Sea food dekat kantor. Aku pernah coba. Lumayan enak."
"Baiklah! Kita ke sana!"
Bara arahkan mobil ke tempat yang dituju Roy. Sania tak protes perlihatkan dia bukan wanita sok penting. Sudah diajak makan masih pilih sana sini. Sania posisikan diri sebagai macan jinak hari ini.
Bara menghentikan mobil di parkiran restoran khusus sea food yang lumayan ramai. Hari jelang siang tentu banyak orang singgah isi perut.
Bara menggandeng tangan Sania masuk restoran diikuti Roy. Sejujurnya Roy senang Bara temukan tambatan hati jauh lebih baik dari yang dulu. Dari Maya, Arsy dan Nania. Tak satupun bisa saingi keunggulan Sania. Roy hanya boleh kagumi Sania tak boleh timbulkan pikiran negatif lain.
Bara membantu Sania duduk di sampingnya. Roy tahu diri duduk seberangan dengan pasangan ini. Roy beri tanda pada pelayan untuk minta menu.
Sang pelayan membungkuk hormat beri daftar menu sambil menanti orderan dari pelanggan.
"Sania mau makan apa?" tanya Roy perlihatkan menu.
"Cumi bakar dan cap cay udang. Lieve makan apa?" Sania menatap Bara minta pendapat.
"Gurame saos tiram saja."
"Aku kepiting pedas, ikan nila lada hitam. Nasi putih tiga. Minumnya jus orange." Roy ambil keputusan sendiri tanpa minta persetujuan Sania dan Bara. Makan sea food harus minum jus orange untuk bantu kikis efek kolesterol dari makanan seafood yang lumayan tinggi. Terutama cumi-cumi.
"Masih ingin yang lain?" tanya sang pelayan setelah catat orderan.
"Cukup untuk sementara. Terima kasih sudah merepotkan!" ucap Sania ramah.
"Sama-sama nona. Mohon ditunggu."
Sania biarkan sang pelayan melaksanakan tugas lain. Kini tinggal menanti makanan di hidangkan. Sebenarnya Sania masih kenyang karena makan bubur jagung masakan tantenya. Berhubung Roy bersemangat makan siang bersama Sania tak tega menolak.
__ADS_1
"Bar...kapan Rudi bisa masuk kerja?" tanya Roy usir kebisuan.
"Kapan saja. Kita memang butuh orang. Kau rekrut beberapa orang lagi. Nanti aku kasih daftar bagian mana butuh di isi. Kelihatan kita perlu gedung dari papa. Apa pendapat mu Sania? Kita gabung sama papa atau tempati gedung depan kantor papa."