
Di situ hanya Dhenok yang tak bahagia Sania jadi bini muda Bara. Harapan jadi pengganti Nania pupus sudah. Cinta layu sebelum berkembang. Dhenok sengaja berpakaian sexy untuk goda Bara yang gersang tak dapat asupan gizi ranjang dari Nania. Nyatanya muncul kandidat jauh lebih ok darinya. Muda berprestasi pula.
"Kita sudahi masalah keluarga Pak Bara. Tugas kita hanya berdoa semoga keluarga Pak Bara dijauhkan dari keributan." Doa Tio harap dukungan semua teman.
"Amin." Semua ikut berdoa tulus.
Sania dan Bara tiba di apartemen Sania. Kedua suami isteri itu segera naik ke lantai sembilan tempat Sania tinggal. Sania masih galau pernikahan mereka terekspos keluar. Sania takut orang akan salah padanya.
Bara menggenggam tangan Sania erat erat beri kekuatan hadapi gosip yang sudah pasti akan sakiti hati Sania. Seharusnya sejak awal Sania sudah harus sadar ini resiko menjadi yang kedua. Beban mental seakan hantam wanita kedua dalam keluarga.
Sania membuka pintu apartemen langsung masuk ke dalam. Hawa dingin menyambut kehadiran kedua pasangan itu. Bara tak berani ajak Sania bicara duluan takut bikin keadaan makin kacau.
"Duduklah pak! Aku mandi dulu." Sania tinggalkan Bara sendirian di ruang tamu.
Sania mau dinginkan otak setelah hadapi beban berat di pikiran. Sania bukan takut dapat tekanan dari orang tapi tak sanggup beri beban pada Nania. Hubungan mereka tersiar di luar otomatis Nania akan terbawa. Nania yang nikahkan mereka maka orang akan berpikir Nania akan segera mati.
Bara tak kalah kesal telah berani bertindak vulgar yang akan coreng nama baik Sania. Sebenarnya cepat atau lambat hubungan mereka akan terekspos. Sekarang apa mau dikata. Nasi telah menjadi bubur. Diulang juga tak mungkin balik jadi nasi.
Bara menanti di ruang tamu sampai terkantuk. Bara nyaris tertidur di sofa. Sania mandi atau tidur di kamar mandi.
Mau tak mau Bara mengetok pintu kamar mandi Sania. Tak ada sahutan sama sekali. Bara jadi kuatir langsung dobrak pintu kamar mandi dari kaca itu.
Bara terhenyak lihat Sania tergolek lemas di bathtub. Kepala gadisnya terkulai nyaris menyentuh air. Untung Sania tak tenggelam dalam bak mandi itu.
Tanpa pikir panjang Bara ambil handuk membungkus tubuh telanjang Sania. Bara angkat tubuh tak berdaya Sania ke kamar tidur. Di situ Bara keringkan badan Sania. Bara mengambil baju piyama dari lemari lalu pakaikan ke Sania.
Bara saksikan langsung betapa moleknya tubuh sang isteri. Putih mulus tanpa noda. Andai Sania dalam kondisi fit mungkin Bara takkan bisa tahan *****. Sayang Sania sedang pingsan.
Bara menepuk pipi Sania perlahan untuk bangunkan bini mudanya. Sania tak juga sadar. Bara jadi panik.
"Ya Allah... cobaan apa ini?"
Bara ambil inisiatif bawa Sania ke rumah sakit. Bara tak mungkin menduga apa penyebab Sania pingsan. Terpenting selamatkan jiwa Sania dulu.
Bara segera angkat Sania turun ke lantai bawah untuk lanjut ke rumah sakit langganannya. Nania sering keluar masuk rumah sakit maka Bara sangat dikenal di sana.
Dalam perjalanan ke rumah sakit Bara dapat telepon dari Bik Sur kalau Nania tiba tiba drop dan muntah muntah. Kondisi Nania sangat buruk butuh bantuan.
"Ya Allah...apa lagi?" Bara makin panik. Belum kelar satu bini, bini satu lagi ikut drop. Yang mana harus diselamatkan dulu.
Bara segera angkat ponsel teleponi seseorang untuk bawa Nania ke rumah sakit. Bara tak mungkin putar balik ke rumah jemput Nania.
"Halo Roy...tolong aku!" seru Bara dengan cepat.
"Tolong apa? Cariin cewek cakep?"
"Jangan canda! Nania drop. Tolong bawa ke rumah sakit! Aku tunggu di sana."
"Baik...kau di mana kok tak jemput sendiri?"
"Sania pingsan. Aku dalam perjalanan ke rumah sakit. Please bro!"
"Ok..OTW.."
"Thanks.." Bara menarik nafas lega Roy bersedia urus Nania. Pekerjaan Bara jadi ringan dikit.
Ternyata tak gampang punya dua isteri. Tanggung lebih besar dari suami punya satu bini. Bara sudah rasakan gimana harus berbagi perhatian. Bara dituntut adil terhadap dua wanitanya. Bara tak boleh abaikan Nania walau dia sakitan. Justru Bara harus beri perhatian lebih buat Nania.
Nania telah berjasa memberinya isteri yang baik dan sempurna. Bara harus lebih sayang lagi pada Nania.
Sania langsung di tangani dokter di IGD. Kondisi Sania tidak terlalu berat. Cuma Sania mengalami rasa cemas berlebihan akibat trauma masa lalu. Sania hanya mengalami Atrofi otak di mana seseorang alami depresi akibat tekanan yang ditimbulkan masa lalu.
__ADS_1
Bara bersyukur setelah dengar penjelasan dokter. Baru saja selesai dengar penjelasan dokter untuk penyakit Sania datang Roy membawa Nania dalam kondisi buruk.
Bara segera sambut Nania dari tangan Roy. Bara tak mau dianggap abaikan Bini tua demi bini muda.
Para dokter sudah tahu kondisi Nania karena sudah hafal keadaan Nania. Wanita itu ditangani seperti biasa sesuai prosedur penderita kanker.
Bara minta dua wanitanya dirawat satu ruang agar bisa menjaga mereka sekaligus. Satu laki dua bini sakit. Sungguh kisah menggelikan.
Roy menarik Bara keluar dari ruang rawatan setelah keduanya aman di tempat tidur masing masing. Roy penasaran bagaimana Bara bisa bawa Sania yang sedang sakit.
"Jelaskan!" bentak Roy tak suka Bara main gila dengan pegawai barunya. Sania memang lihay dalam bidangnya tapi itu bukan alasan Bara berkhianat dari Nania.
"Apa yang harus kujelaskan?"
"Tuh cewek Bobby!"
"Itu bini gue juga! Kami sudah menikah atas restu Nania. Nania yang comblangi kami."
"What? Are you crazy?"
"Itu fakta. Sania itu bini muda gue. Bukan gadis Bobby lagi. Ingat itu!"
Roy memejamkan mata berusaha percaya pada cerita Bara. Selama ini Bara selalu setia pada Nania walau Nania sakitan. Bara tak pernah buat skandal bikin hati Nania terluka.
Kini Bara mengaku sudah nikahi anak gadis mantan pacar Bobby. Berita ini terlalu pedas di kuping Roy. Tak sangka Bara akan buat skandal spektakuler.
"Semoga kau adil bro! Jangan terpaku pada daun muda!"
Bara tertawa pahit Roy mengira dia bahagia dapat isteri muda nan cantik. Sampai detik ini Bara belum rasakan bagaimana rasa pengantin baru bersama Sania.
"Kau kira Sania jinak merpati? Dia landak berduri akan serang setiap musuh dekati dia." ujar Bara penuh kegetiran.
"Gitulah! Sania pandai lindungi diri sendiri. Dia hanya baik pada Nania. Aku seperti orang berpenyakit kusta. Tak boleh dekat dengannya." ujar Bara mimik sedih.
Roy bukannya kasihan pada Bara malah tertawa geli pada nasib sahabatnya. Punya bini cantik tak bisa disentuh, cuma jadi pajangan.
"Dia ada karena sayang pada Nania?"
Bara angguk putus asa. Roy makin senang Bara dapat musibah. Roy senang ternyata Sania bukan gadis hanya ingin harta Bara. Walau sekarang Bara tak kaya tapi status Bara tetap pewaris keluarga Jaya yang terkenal kaya raya.
"Aku matian tahan diri tak untuk sentuh dia. Jiwaku merana saking lama puasa." kata Bara menyedihkan.
"Arsy? Bukankah bisa kau ajak smackdown di ranjang!"
Bara menendang tungkai kaki Roy dengan jengkel. Segitu rendahkah harga Bara di mata Roy? Roy pikir Bara bajingan yang suka sebar ****** sana sini?
Roy mengaduh ditendang Bara. Keduanya seperti anak kecil sedang berantem rebut mainan.
"Arsy hanya masa lalu. Aku dekat dengannya karena Kintan. Sekarang Kintan juga di rumah sakit. Mau dioperasi jantung."
"Rudi tahu?"
"Sania yang paksa Arsy hubungi Rudi. Aku juga kena ceramah panjang kali lebar dari mulut mungil berbisa Sania. Sania bilang aku telah rebut hak Rudi sebagai ayah kandung Kintan. Pokoknya aku kena getah dari masalah Arsy. Arsy tak berkutik bila kena kuliah gratis gadisku. Sania memang sempurna." puji Bara bangga pada Sania.
"Kalau gitu aku masih punya kesempatan dekati gadismu. Siapa tahu dia takluk padaku yang lebih ganteng." gurau Roy buat Bara mendelik. Roy jangan bermimpi dapatkan gadisnya. Bara takkan rela serahkan Sania pada siapapun.
"Mimpi lhu! Cepat atau lambat aku akan belah duren. Aku yakin."
"Aku juga akan rajin ngerayu dia. Sebelum perutnya melendung artinya aku ada kesempatan." Roy makin senang goda Bara. Di mata Bara tersimpan rasa cinta pada gadis muda itu.
Sebenarnya Roy kasihan pada Bara terjebak dalam janji orang meninggal. Bara tak bisa abaikan Nania walau Nania tak bisa kasih Bara kebahagiaan. Bara sama sekali tak cinta Nania. Perhatian Bara lebih ke tanggung jawab seorang teman daripada seorang suami.
__ADS_1
"Hai...Nania kolaps lagi?" seorang laki berpakaian putih datang hampiri Bara dan Roy.
Dokter Frans adalah dokter spesialis kanker yang tangani Nania selama ini. Nania sudah jinak di tangan dokter Frans. Laki kurus tinggi itu turunkan kacamata karena tak dapat tanggapan Bara.
"Any problem bro?"
"Ach tidak dok! Mari periksa Nania! Dia muntah muntah sampai lemas." Bara ajak Dr. Frans masuk ke ruang perawatan.
Dr.Frans segera masuk lihat kondisi Nania. Nania tampak pucat sekali. Wajah tirus Nania makin tak sedap dipandang karena pucat tak berdarah.
Dr.Frans menghela nafas prihatin kondisi Nania yang makin buruk. Ntah berapa lama lagi Nania sanggup bertahan. Sel kanker sudah kuasai seluruh tubuh wanita itu.
"Biar dirawat berapa hari di sini. Kondisinya tak bagus." keluh Dr.Frans patah arang. Dr.Frans iba pada Nania namun dia hanya seorang dokter. Tuhan yang bisa tentukan ke mana arah penyakit Nania.
"Tolonglah Nania dok!" Bara merangkap kedua tangan di dada mohon bantuan Dr.Frans.
"Aku akan berusaha. Semua berpulang pada Allah." Dr.Frans menepuk bahu Bara beri spirit. "Eits...kasihan anak gadis ini! Pingsan atau tidur? Mana penjaganya?"
Mata Dr.Frans beralih ke Sania yang berada di bed kiri Nania. Dr.Frans dekati Sania menyentuh nadi gadis ini cari tahu mengapa Sania terbaring diam.
"Pingsan tapi tak ada masalah besar. Mana keluarganya? Orang pingsan ditinggal sendirian. Sungguh tak bertanggung jawab." omel Dr. Frans iba lihat Sania terbaring tanpa keluarga.
Roy tertawa cekikan lihat Bara tak bisa menjawab kata kata Dr. Frans. Roy suka Bara bingung jelaskan siapa gadis pingsan di samping Nania. Roy merasa waktunya Bara rasakan gimana kalau punya dua permaisuri.
"Tuhlah! Keluarga gadis ini brengsek. Orang sakit dibiarkan pingsan sendirian." Roy bantu kompor Dr. Frans biar keluar kata lebih pedas.
"Aku akan cari siapa keluarganya! Rasanya ingin kuhajar keluarga tak bertanggung jawab. Sangat berbahaya orang pingsan dibiarkan sendiri. Gadis secantik gini tak di open."
"Hajar saja dok! Aku akan bantu. Cuma aku mau tanya apa penyakit gadis ini tak bahaya?"
"Seperti tidak. Nafas teratur, denyut nadi juga bagus. Nampaknya gadis ini baru alami syok berat. Aku cari berkas gadis ini dulu. Aku akan telepon keluarganya." Dr. Frans hendak beranjak pergi.
Bara cepat mencekal tangan Dr. Frans agar jangan lanjutkan cari keluarga Sania.
"Tak usah dok! Dia itu isteriku." Bara mengaku agak segan.
"What? Gadis ini juga binimu? Wah wah...hebat! Dua bini sekaligus sakit. Ini peristiwa langka." Dr. Frans terpana juga kagum pada nasib Bara. Satu isteri sedang sakit dapat pengganti daun muda.
"Jangan menggodaku dok! Aku lagi apes dua bini sakit." Bara memelas minta dikasihani. Dr. Frans takjub pada kejadian aneh ini. Pakai ilmu pelet apa Bara bisa dapat bini muda nan cantik. Bara sendiri tak muda lagi. Mungkin selisih umur mereka cukup jauh.
"Anak kuliah?"
"Bukan. Karyawan kantor. Nania yang nikahkan kami. Dia masih sangat muda sedikit berdarah panas. Tapi dia sangat sayang pada Nania. Aku tak ubah abu di matanya. Hanya ada Nania di hati bini muda aku itu." Bara jelaskan agar Dr. Frans tak berpikir negatif terhadapnya.
"Peristiwa langka. Bini tua muda akur. Aku salut padamu. Semoga langgeng ya!"
"Amin...gimana Nania dok? Apa harus di kemoterapi lagi?"
"Tubuh Nania sudah tak sanggup terima kemoterapi lagi. Dia sudah terlalu lemah. Paling kasih anti nyeri lewat infus. Kita berdoa saja." Dr. Frans menepuk bahu Bara beri semangat agar jangan patah arang.
Bara mengangguk lemah. Dari nada bicara Dr. Frans kesembuhan Nania sudah sangat jauh. Tahap penyakit Nania sudah lewat batas maksimal. Untuk sembuh total tak ada harapan. Kini tinggal bagaimana Nania nikmati sisa hidup.
Roy ikut sedih dengar penuturan Dr. Frans. Bagaimanapun Nania adalah teman kuliah waktu di Australia. Cuma waktu itu Roy tak ikutan dalam kisah cinta ribet sesama teman setanah air. Roy freelance tak terjun dalam kisah berakhir tragis sesama teman.
Kini Nania terbaring tak berdaya lawan kanker di badan. Bara sudah bantu Nania berjuang walau akhirnya tetap pahit.
Roy sangat ngerti bagaimana Bara biayai semua pengobatan Nania sampai korbankan perusahaan. Titik akhir tetap kalah. Setidak Bara sudah tunaikan kewajiban sebagai suami yang sayang isteri. Bara tak dapat disalahkan walau kelak Nania duluan menghadap Illahi.
"Bukankah kau bilang Sania adalah cahaya Nania? Biarkan mereka habiskan waktu berdua lebih lama. Ini akan membantu Nania bersemangat." Roy juga kasih spirit agar Bara tak putus asa.
"Sania sangat sibuk sampai untuk diri sendiri tak ada waktu."
__ADS_1