MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Dosa Bara


__ADS_3

Sania buang muka sungkan melihat reaksi Bara setelah sadar telah melupakan kewajiban sebagai suami. Sania mencoba analisa sikap Bara hanya sekedar akting atau memang lupa. Bisa jadi Bara belum menerima Sania sepenuh hati sebagai isteri. Bara sama dengan Bobby anggap Sania pencipta lapangan proyek. Sedih hati Sania memikirkan posisinya tak bisa menyamai Nania di hati Bara.


Bara menanti jawaban Sania atas penyesalannya. Sumpah mati Bara lalai melaksanakan kewajiban suami murni karena lupa. Bukan ada unsur lain.


Sania enggan berkomentar lebih memilih bungkam. Sania mau lihat sampai di mana Bara akan bertanggung jawab telah menikahi seorang gadis muda. Sania termasuk gadis berhati mulia tak masalahkan ***** bengek perhatian suami. Sok manja cari perhatian suami bukan sifat Sania.


Bara makin dirundung rasa bersalah melihat Sania tidak bereaksi walau dia telah minta maaf. Sejuta maaf tak ada guna bila tak dibarengi keikhlasan. Sania perlu bukti bukan hanya omong kosong.


"Ibu Sania..." suara perawat memanggil nama Sania untuk masuk ke ruang praktek dokter spesialis kandungan.


Sania meraih tas selempang kesayangan tak peduli pada Bara langsung masuk ke ruang diikuti perawat. Sesaat Bara terbengong ditinggal sang bini yang ngambek. Bara memaki diri sendiri tak peka terhadap perasaan Sania terabaikan selama ini. Masih untung isterinya Sania, kalau wanita lain di posisi mungkin perang dunia ketiga meledak. Ntah berapa banyak korban gelimang duka.


Dengan langkah gontai Bara ikut jejak Sania masuk ruang praktek dokter. Kalau Bara tak ikut masuk pasti dosanya bertambah selapis. Mengapa Bara tak sadar dari dulu kesedihan Sania tak dihargai sebagai isteri. Pantas setelah hamil Sania tumpahkan kekesalan diabaikan sekian lama.


Bara perhatikan dokter cewek sedang memeriksa Sania. Perut rapi Sania diolesi semacam gel lantas ada alat mirip microphone diletakkan di atas perut Sania sambil diputar-putar.


Di layar monitor tampak bayangan yang tak Bara pahami. Dokter itu tersenyum ramah menunjuk dua titik bayangan di layar.


"Wah si kembar tumbuh sehat! Ini dia mereka! Ayo papa lihat sini! Ini bayi-bayi kalian."


Bara dan Sania serentak fokuskan mata ke arah layar. Keduanya tak paham cuma tampak dua titik bayangan yang katanya bayi mereka.


"Bu Dokter...besok kami akan melakukan perjalanan jauh. Apa isteriku tak ada masalah?" tanya Bara harus yakin Sania bisa pergi.


"Tentu saja boleh asal tak ada keluhan. Yang penting harus rajin makan yang bergizi serta jangan stress. Ingat yang indah-indah saja. Aku akan kasih resep untuk menambah nafsu makan dan vitamin untuk janin. Bu Sania ada keluhan?"


"Tidak dok!"


"Bagus..." dokter itu bersihkan gel di perut Sania dan bantu Sania turun dari brankar tempat pemeriksaan.


Bara segera menyambut Sania dari tangan dokter. Bara membantu Sania duduk di depan dokter untuk dengar wejangan pakar kandungan apa yang terbaik untuk jaga si kembar.


"Apa ada pantangan selama kehamilan?" tanya Bara sok perhatian.


"Sebenarnya tak ada cuma alangkah baiknya hindari makanan yang bisa memicu keguguran seperti alkohol, minuman banyak gas dan makanan mentah. Usahakan makan makanan sehat. Lain tidak ada." sahut dokter ramah sambil melebarkan bibir bentuk senyum manis. Mata dokter itu mengarah pada Bara seakan kagum pada ketampanan suami Sania. Suami ganteng penuh perhatian idaman semua wanita.


Melalui raut wajah sang dokter Sania tahu dokter itu tertarik pada Bara. Tatapan mata adalah jendela hati. Semua tertulis di situ. Tak pelak Sania mendesah jengkel. Amarah pada Bara belum tuntas dia lampiaskan kini rasa kesal berlipat ganda. Sania anggap Bara main mata sama dokter itu.


"Terima kasih dok! Isteriku masih muda belum pengalaman maka kami harus tanya detail. Ini anak pertama kami."


"Bapak hubungi aku setiap saat bila ada kendala. Ini nomor pribadi ponselku. Bapak bisa hubungi aku kalau masih ada dipertanyakan." dokter itu menyodorkan kartu nama diletakkan di atas meja.


"Terima kasih dok!" Bara kegirangan dapat kartu nama sang dokter. Andai terjadi sesuatu pada Sania makan bantuan akan segera datang. Bara mengambil kartu nama itu lantas menyimpan di saku jas.


Sania menggeram dalam hati. Suami tak tahu diri. Bini di depan mata berani genitan sama dokter cewek. Awas kau kakek tua. Pembalasan pasti datang. Tunggu saja hari sengsaramu kakek tua batin Sania mengomel.

__ADS_1


Mata elang dokter wanita ini cukup tajam untuk menilai penampilan setiap orang yang datang konsultasi kehamilan padanya. Banyak yang datang didampingi suami. Yang punya suami berkharisma macam Bara tak banyak. Bisa dihitung dengan jari.


"Bulan depan balik sini cek up lagi. Kita bisa pantau perkembangan si kecil setiap bulan. Andai bapak ada yang ingin tanya silahkan hubungi aku. Any time!" ujar Bu dokter seramah mungkin.


"Terima kasih Bu dokter! Tak mungkin kami ganggu waktu istirahat ibu dan keluarga. Biarlah kita Konsul pada jam praktek!" sahut Bara tak enak dapat fasilitas VIP dari dokter supel itu.


Dokter muda itu tertawa garing perlihatkan barisan gigi rapi putih bersih. Sangat pantas menyandang gelar dokter karena semua yang ada dalam diri Bu dokter itu tampak sehat.


"Masih single pak! Belum ketemu jodoh yang klik!"


Sania terbelalak tak sangka dokter kandungan ini sangat supel berterus terang status jomblo pada orang asing. Kok jadi promosi status jomblo pada keluarga pasien. Ada apa dengan dokter ini? Terangan tertarik pada suami pasien? Dasar dokter tak punya etika. Batin Sania kembali mengomel.


"Oh maaf! Kupikir Bu dokter sudah berkeluarga. Posisi ibu dokter tak sulit dapat jodoh setimpal. Pasti datang." Bara sedikit malu telah lancang korek urusan pribadi dokter isterinya. Tak ada niat apapun di hati Bara selain ingin Sania mendapat pengobatan terbaik.


"Amin...itu nomor ponsel pribadi! Boleh telepon setiap saat. Ok? Ini resep untuk ibu Sania. Semoga sehat sampai melahirkan." Dokter itu ingatkan Bara sekali lagi seraya beri doa buat Sania.


Sania ogah keluarkan suara merasa tak penting ikutan ajang genitan antara suami dan Bu dokter ganjen. Beraninya ajak teleponan di depan isteri orang. Dasar dokter tak punya akhlak. Sania duluan keluar tak peduli Bara mengangguk sopan sebelum pergi.


Dokter itu beri senyum terindah dibarengi Kilauan deretan gigi. Diajak bintangi iklan pasta gigi mungkin dapat apresiasi tinggi. Gigi Bu dokter itu memang super bersih.


Dokter itu periksa catatan keluarga Sania di laporan medis. Nama suami Sania lengkapnya Bara Jaya. Umur tiga puluh empat tahun. Pria matang nikahi wanita muda. Dokter itu yakin Bara banyak dapat kendala dari wanita muda yang emosinya tak stabil. Terutama awal-awal kehamilan. Dokter itu yakin Bara akan telepon dia Konsul emosi Sania. Gampang saja depak wanita muda dari hidup laki mapan macam Bara. Sedikit provokasi dan wejangan maka akan muncul kobaran api di antara pasangan beda generasi itu.


Dokter tak punya moral. Bukannya mengharap pasien sehat sampai melahirkan tapi mengharap yang lain dalam tanda kutip. Sebegitu menarik Bara bagi kaum hawa?


"Sayang...kau pingin makan sesuatu?" tanya Bara setelah mobil meninggalkan rumah sakit.


"Belum lapar...mana kartu nama dokter genit itu?" ketus Sania pakai nada sinis.


"Kok genit? Dia kan baik hati ijinkan kita Konsul selama perlu. Kita harus bersyukur jumpa dokter seramah ini."


"Mana ada dokter selalu bilang nomor pribadi? Mau berbuat maksiat jumpa secara pribadi? Mana kartunya?"


Bara menghela nafas tak ngerti ke mana arah pikiran Sania. Orang sudah baik hati kasih kesempatan Konsul setiap saat dianggap genit. Ibu hamil memang sulit dipahami. Bara berikan kartunya tak mau persulit diri sendiri.


Sania merebut dengan kasar lalu campakkan keluar melalui jendela mobil. Bara tak berani larang selain menghirup udara pengap dalam mobil. Untung ada AC mobil. Kalau tidak Bara bisa sesak nafas dibuat bini judesnya.


"Ganti dokter...aku tak mau gunakan jasa dokter yang matanya melirik laki orang."


"Ok...terserah kamu!" Bara mengalah untuk menang. Tak ada guna lawan ibu hamil. Salah tetap saja menang.


Sania masih belum puas limpahkan rasa kesal pada Bara. Laki itu sudah banyak tertinggal menjalankan tugas sebagai suami. Dulu Sania tak ambil pusing, kini dia punya anak yang harus diperjuangkan. Bara harus sadar punya tanggung jawab pada isteri. Bukan hanya sebagai wadah produksi anak.


"Sudah pesan tiket ke pulau B?"


"Sudah diurus Roy. Aku minta Sekar ikut agar kamu ada kawan."

__ADS_1


"Terserah!" Sania malas tanggapi niat Bara. Yang vital tak terpenuhi sok-sokan kasih perhatian. Dasar laki munafik. Sania gencar cari kesalahan Bara biar ada cela hajar laki tak peka itu.


Keduanya diam sampai ke gedung kantor. Aksi mogok bicara Sania berlanjut tak kasih salam duluan tinggalkan mobil begitu tiba di pelataran parkir. Bara menepuk dada dinginkan hati. Sania ngambek hal wajar. Bara salah sendiri tak pernah beri hak Sania. Uang belanja semestinya. Sebenarnya kesalahan Bara yang paling fatal adalah tak belikan Sania cincin kawin. Cincin kawin Nania masih terpasang di jari sedang cincin bersama Sania terlupakan. Ibu hamil ini menuntut hak sama dengan Nania dapat cincin walau Sania bisa beli sendiri.


Beda pemberian suami dengan cincin beli sendiri. Cincin nikah itu tanda ikatan suci dua hati. Lambang sudah saling memiliki ikatan dua hati. Sayang Bara abaikan hal penting ini.


Di kantor Bara harus interview langsung beberapa karyawan baru untuk masuk jadi pegawai kantor Bara. Seperti biasa Roy dan Bara yang interview langsung. Bara tak mau kecolongan dapat pegawai tak sesuai kemampuan bekerja di kantornya.


Dea melapor sudah ditunggu di ruang rapat untuk tatap muka dengan calon pegawai. Roy sudah duluan hadir di ruang rapat memantau para pendatang baru yang siap ikut bertempur majukan perusahaan.


Bara ditemani Dea menuju ke ruang rapat di mana puluhan pegawai baru sudah duduk rapi menanti dipanggil. Mata Bara melirik sekilas para calon pegawai. Rata-rata wanita muda dan beberapa pria.


Mata Bara nyaris meloncat keluar melihat Arsy berada di barisan pelamar kerja. Bara tak mungkin rekrut Arsy walau tahu wanita itu cukup cerdas di bidang pembukuan. Arsy lulusan luar negeri selevel Bara. Mereka sama-sama kuliah di Australia sampai kisah cinta rumit datang.


Bara tak mungkin satukan Rudi dan Arsy satu kantor. Belum lagi masalah yang akan ditimbulkan Arsy bila dekat dengannya. Bisa-bisa dia disunat Sania sampai burung perkututnya tak bisa berkicau.


Bara pura-pura tak lihat senyuman manis Arsy tatkala dilewati Bara. Arsy yakin Bara takkan menolak kehadiran dia di kantor. Ini kesempatan Arsy rebut kembali haknya. Untuk bisa bersama Bara dia harus berada di sekeliling Bara. Bara tak mungkin lepas dari genggaman Arsy sampai Arsy dapat Bara kembali.


Kisah cinta Bara sangat rumit berliku-liku mirip jalan menuju puncak gunung Himalaya. Sudah punya isteri masih ada kelanjutan sisa kisah masa lalu. Selesai dengan ini muncul yang lain. Mati satu tumbuh seribu.


Bara menghempas diri ke bangku tak percaya Arsy berani unjuk diri di kantor Bara. Apa tujuan Arsy minta kerja di kantornya. Bukankah Arsy kerja di kantor papanya sebagai manajer keuangan?


Roy cepat tanggap kerutan berlapis di kening sahabatnya. Roy bukan orang buta tak tahu kegundahan Bara atas kehadiran Arsy.


Roy duduk di samping Bara menepuk pundak Bara cukup keras. Roy ingin Bara sadar kalau Arsy tak boleh masuk kerja di kantor mereka. Roy tak setuju Arsy kerja. Arsy masuk artinya Bara harus siap ditinggal Sania. Arsy itu brutal pantang mundur.


"Bro...ada planning rekrut mantan?"


Bara menatap Roy dengan tatapan membunuh. Kalau sinar mata Bara bisa keluarkan belati mungkin Roy sudah tewas.


"Kau gila ya? Kau pikir Arsy datang betulan mau kerja? Perusahaan papanya cukup gede. Dia sudah balik pada keluarganya. Ngapain nyasar ke sini?"


"Nah itu kau ngerti! Bini sedang bunting. Jangan main api bro! Arsy hanya masa lalu. Jaga perasaan Sania!"


"Kau pikir otakku karatan? Kasihan Rudi kalau Arsy di sini! Rudi bekerja cukup bagus. Tak mungkinlah kita tikam dia!"


"Ini bukan demi Rudi tapi Sania. Arsy itu tak tahu kata malu. Dia pasti akan lengket seperti lintah. Aku sih bukannya ilfil pada Arsy tapi ngak pingin lihat rumah tanggamu ambruk. Arsy itu orang nekat. Segala trik dia lakukan jerat ente."


Bara menyugar rambut pakai tangan tanda resah. Kenapa berapa hari ini nasibnya apes. Bini asyik ngambek, di tambah munculnya Arsy orang masa lalu. Bara kira kepergian Maya akan bawa kedamaian dalam keluarganya. Nyatanya masih tertinggal seorang lagi jadi duri dalam dagingnya.


"Mana berani aku rekrut Arsy! Sania lagi berulah. Dosaku mulai dicatat satu persatu. Tak kusangka dosaku sangat banyak. Di bawa ke hakim mungkin tak sanggup beri hukuman seabrek padaku."


"Emang ente main gila,?" selidik Roy.


"Main gila? Otak ente kebanjiran tinja!" semprot Bara sewot bikin Roy terbahak-bahak..

__ADS_1


__ADS_2