MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Berita Buruk


__ADS_3

Bara mana bisa melawan Fadil soal dunia rayu merayu. Burung di dahan saja bisa terbang turun dengar gombalan dahsyat Fadil.


Bara mendecak kesal pada sang adik yang tak lihat sikon ngerayu kakak ipar sendiri. Apa Fadil tak tahu pemilik sah Sania masih bernafas lancar di depan mata. Main gombal melulu.


"Sudah jangan bercanda lagi. Sekarang kita balik ke topik utama. Coba Sania jelaskan semua persyaratan di kertas ini." Pak Jaya menyodorkan kertas pada Sania.


Untuk hormati sang mertua Sania terima kertas itu. Sania sudah baca dari email yang dikirim dari Jerman.


"Itu bukan persyaratan tapi mengajak kerja sama untuk selanjutnya. Sania ada mengajukan kerja sama menjual produk mereka di sini. Maka itu mereka kirim semua cara-cara untuk menjadi main dealer produk mereka. Mereka siap kirim beberapa jenis barang sebagai langkah awal. Setelah laku transfer uangnya."


"Ya Allah...bagaimana kamu bisa tembus pemasaran mereka yang terkenal ketat? Tiap kita beli harus uang cash. Sekarang ajak kerja sama? Tentu saja papa mau." sahut Pak Jaya tertawa senang.


"Akan Sania atur. Papa harus ke Jerman untuk tinjau langsung pabrik mereka. Sampai di sana akan ada orang sambut kalian."


"Kamu ikut saja. Papa lebih nyaman kalau kau ikut. Papa kan ngak ngerti bahasa Jerman."


Sania melirik Bara minta pendapat. Sania hormati Bara sebagai suami, tanpa ijin Bara mana mungkin Sania berani pergi walau bersama mertua.


Bara tahu Sania tak berani mengiyakan juga tak berani membantah. Sania berada di posisi sulit saat ini. Tak enak menolak juga tak berani beri jawaban tanpa dapat restu Bara.


"Untuk sementara Sania tak bisa pergi. Kami baru saja dapatkan proyek PT. SHINY. Mungkin kami akan sibuk beberapa hari ke depan rekrut pegawai baru." jelas Bara menggegerkan seisi rumah. Siapa sangka perusahaan kelas teri Bara bisa golekan tender proyek megah yang jadi impian para kontraktor.


"Allahuakbar...papa tak salah dengar?" Pak Jaya coba yakinkan diri tak salah dengar anaknya berhasil angkat derajat keluarga.


"Alhamdulillah kami berhasil cuma jangan gembar gembor dulu karena akan timbul fitnah. Kami juga ingin diskusi soal gedung sama papa. Apa kami boleh sewa gedung papa?" Bara bertanya pada sang papa.


"Untuk apa sewa? Pakai saja..gabung juga boleh. Papa malah senang kalau kalian gabung. Papa bisa minta pendapat sama Sania setiap saat."


"Lebih baik pisah gedung karena ada orang reseh selalu berkicau kalimat abnormal. Bara minta ijin pakai gedung depan kantor papa." Bara berkata sambil lirik Fadil yang mesem sadar disindir abangnya.


"Oh tentu...papa akan urus sampai beres! Kau bikin papa bangga Bara! Tak disangka kamu bisa naik kelas."


"Sudah pasti pa! Apa papa tak lihat siapa gurunya? Kakak ipar tercinta. Kalau harap mas Bara merangkak sendiri jamin sampai kiamat masih bengong baca buku sejarah lama." sindir Fadil kucilkan nilai Bara.


"Fadil...tak baik omong gitu. Kita bersyukur abangmu bisa bangkit lagi. Yang berlalu biar berlalu. Kita buka lembaran baru." ujar Bu Jaya bijak.


"Mama betul Bara. Binalah rumah tanggamu bersama nak Sania! Buang semua lembaran kelam. Oya..Sania! Tolong urus masalah papa ya!"


"Siap..." Sania angkat tangan siagakan di kening.


Semua tertawa senang. Berkat Sania cahaya terang banjiri seluruh rumah. Enyahlah kesuraman masa lalu. Ke depan fajar akan menyingsing lebih cerah.


"Sudah hampir sore. Sania pamit mau bersihkan diri." Sania pamit hendak mandi sambut magrib yang sebentar lagi berkumandang.


"Kak..tak mandi pun kakak sudah bersih. Aku siap jadi daki di badan biar nempel terus." seru Fadil mulai lagi gombalan maut. Kali ini Bara tak tinggal diam. Laki ini maju jitak kepala adiknya. Fadil lari terbirit-birit hindari pukulan lanjutan Bara.


Bara mengejar Fadil sampai pemuda itu kabur ke belakang. Bara merasa rayuan Fadil sudah lewat batas. Asal jumpa Sania selalu menggombal layak perayu ulung. Bara takut Sania bakal jatuh cinta pada adik sendiri.


"Lieve...gitu saja marah! Fadil cuma bercanda. Kalau dia niat buruk masa gombal di depanmu. Itu usilin Lieve!" Sania mencoba redakan kekesalan Bara.


Kedua orang tua Bara salut cara Sania dinginkan hati Bara. Sania tentu tak ingin kedua Abang adik bertengkar karena dia.

__ADS_1


"Ayok siap-siap sholat magrib!" Bara menarik tangan bininya tinggalkan ruang tamu naik ke lantai dua. Kedua orang tua Bara menatap Sania penuh penghargaan. Sudah cantik pintar pula. Menantu idaman.


Seusai sholat Isya Bara dan Sania kurung diri dalam kamar hendak menyatukan visi agar tak terjadi miskomunikasi lagi. Sania mau Bara jujur ceritakan semua masa lalu bersama wanita-wanita di masa lalu. Sania bukan ingin korek masa lalu Bara tapi ingin Bara jujur soal wanitanya.


Keduanya duduk berdampingan menyandarkan diri pada kepala tempat tidur cari posisi rilex. Sania sudah mengenakan baju piyama warna abu warna kesukaan Bara. Bara sendiri memakai baju kaos oblong serta celana training.


"Well...kita mulai?" tanya Sania setelah yakin sudah capai posisi paling santai.


"Mulai apa?" Bara pura-pura bego.


"Cerita soal Maya, Arsy dan siapa lagi?"


Bara menarik Sania ke pelukan tak mau ungkit masa lalu yang tak sehat. Untuk apa bahas tragedi tak mengena di hati.


"Bukankah sudah kubilang Maya itu teman lama. Aku beri perhatian dalam batas sebagai teman. Tak lebih. Percayalah padaku! Aku sudah lelah berpetualang. Aku sudah merapat di dermaga teduh. Tak ingin berlayar lagi." ujar Bara tak mau perburuk hubungan mereka yang sudah mulai membaik.


Bara memeluk Sania rapat rapat tak ingin kehilangan lagi. Soal perasaan lama kelamaan pasti akan tumbuh sendiri. Sebenarnya Bara tak sadar sikap ingin jadi pahlawan bagi semua teman akan melukai hati wanita yang telah warnai hidupnya. Kalau saja Bara pandai jaga hati Sania semua akan berjalan lancar sebagaimana semestinya. Rasa iba tak berkesudahan akan antar Bara ke jurang kehancuran.


"Aku akan berusaha percaya padamu tapi ingat kalau sekali saja aku tangkap kamu bercanda dengan kebohongan tak ada kata maaf. Aku hargai kejujuran tak terima kebohongan. Maka itu aku beri kesempatan pada Lieve untuk berpikir ulang. Mau kembali pada masa lalu atau merajut hari depan bersamaku."


"Tentu saja bersamamu! Aku bukan bajingan yang tak bertanggung jawab. Aku telah merenggut mahkotamu mana mungkin tinggalkan kamu." ujar Bara sambil membelai pipi Sania yang berada dalam dekapannya.


"Sebatas tangung jawab? Aku orangnya sangat mandiri tak butuh segala omong kosong." Sania agak kecewa pada jawaban Bara yang masih penuh keraguan untuk pertahankan Sania sebagai isteri.


"Sania..sekarang cuma ada . kamu dalam otakku. Aku bersumpah takkan main mata dengan wanita manapun. Kau boleh tinggalkan aku bila tertangkap main gila. Aku yakin kau adalah anita terakhir dalam hidupku. Tak usah pikir orang lain. Kita sambut esok penuh harapan. Kau adalah malaikatku."


Ntah kenapa Sania belum bisa percaya pada janji Bara. Sania masih menangkap keraguan di dalam nada Bara. Tapi Sania tak ingin berdebat. Kebenaran pasti akan terungkap seiring waktu.


Bara yang ingin memiliki malam indah bersama Sania mana mau biarkan malam berlalu tanpa kesan. Bara ini mengangkat Sania ke atas tubuhnya biarkan Sania menindih tubuhnya. Sania menggeliat manja tahu maksud suaminya lakukan hal konyol.


"Mau apa?"


"Ya mau menelanmu bulat-bulat." ujar Bara dengan mata sayu. Sania mendorong wajah Bara yang dekat sekali dengan wajahnya.


"Mau mesum ya! Aku tak mau. Nanti sakit lagi. Yang dulu perihnya sampai berapa hari." sungut Sania tak beri kesempatan pada Bara untuk berbuat mesum.


Sania tak tahu kalau makin dia meronta makin menambah gairah Bara yang sudah naik ke otak.


"Kujamin tak sakit lagi. Kalau sakit akan kuhentikan. Aku akan memberi rasa nikmat bukan rasa sakit. Kau bisa teriak kalau tak suka." bujuk Bara belum menyerah bujuk Sania untuk tunaikan tugas sebagai isteri.


"Tapi.." Sania masih ragu untuk menyerah.


"Tapi apa? Kau sudah bangunkan singa liar yang kelaparan. Kau harus tanggung jawab sudah bangkitkan gairahku. Kau isteriku maka kau yang harus layani aku. Tak mungkin toh aku minta orang lain gantiin kamu." bisik Bara makin tak sabar ingin laksanakan ritual suci suami isteri.


Apa yang dikatakan Bara mengandung kebenaran. Sania sebagai isteri wajib melayani suami. Dosa hukumnya bila menolak hasrat suami yang sedang naik gairah.


Bara tak biarkan Sania terlalu lama melamun. Wanita muda ini sudah tak berdaya dalam dekapan Bara. Rugi kalau tak dilanjutkan. Sekali Bara tarik kepala Sania menunduk langsung jatuh pada bibir kasar Bara.


Bara sebagai senior memberi pelajaran berharga pada Sania untuk jadi isteri baik. Keahlian Bara menaklukkan wanita muda macam Sania cukup profesional. Terbukti Sania tak melawan lagi tatkala Bara berhasil kuasai lapangan perang.


Sania lupa segalanya dalam rengkuhan Bara. Segala bayangan buruk berubah jadi malam indah penuh warna. Sania tak malu mendesah rasakan setiap sentuhan Bara. Lakinya sangat lembut memasuki Sania takut Sania trauma pada pengalaman pertama.

__ADS_1


Detik demi detik serasa indah sampai akhir capai titik harapan. Bibit dari Bara tertanam dalam rahim Sania yang mungkin bakal cipta generasi baru. Bara dan Sania terlempar kembali ke alam sadar setelah harungi awang-awang kenikmatan.


Bara puas sekali bercinta dengan Sania. Ada rasa haru dan bangga memiliki isteri sempurna.


"Terima kasih sayang. Kau indah.." bisik Bara untuk nyatakan rasa penghargaan. Bara bukan laki romantis namun tetap punya perasaan untuk hargai usaha Sania menyenangkan suami. Ada suami langsung ngorok bila selesai bercinta dengan isteri. Itu sama saja menganggap isteri sebagai alat pemuas nafsu doang. Tak ada rasa simpatik di hati hargai nilai isteri.


"Aku ngantuk Lieve.." Sania masih segan walau sudah dua kali menjadi partner Bara bertarung di ranjang. Bagaimanapun Sania masih baru dalam urusan ranjang. Belum profesional.


"Tidurlah! Aku di sini bersamamu." Bara mengecup kepala Sania tanpa melepaskan pelukan. Betapa nyaman bisa rasakan kehangatan hakiki bersama wanita tepat. Tak ada niat lain di hati Bara untuk bersama wanita lain. Waktunya sudah tamat bersama wanita lain. Kini cuma ada Sania.


Keduanya segera tidur setelah lelah bercinta. Mereka tidur berpelukan songsong esok pagi. Sania harap esok penuh harapan baru diwarnai kisah manis.


Tengah lelapnya Sania dan Bara merajut mimpi ponsel Bara berbunyi. Sania yang duluan terbangun cari tahu siapa begitu iseng telepon tengah malam merusak mimpi orang. Di layar tertera nama Roy.


Sania tersentak kaget mengapa Roy telepon tengah malam. Kejadian luar biasa apa buat laki itu tak tahu diri ganggu waktu istirahat orang.


"Assalamualaikum..ada apa telepon jam gini?" tanya Sania sambil menguap. Mata Sania masih berat untuk diajak kerja sama.


"Mana Bara?"


"Kalau orang kasih salam harus dijawab dulu. Tak pernah belajar agama ya?"


"Oh maaf.. waalaikumsalam..ini Sania! Maya di rumah sakit karena bunuh diri. Dia kecewa Bara menolaknya."


"Lalu? Kenapa kau bisa tahu dia bunuh diri?" tanya Sania dingin tak tersentuh hati walau Maya sekarat. Kalau Maya niat sekali bunuh diri tak mungkin bisa hubungi orang untuk nyatakan dia kecewa. Sungguh sangat buruk aktingnya.


"Ya ampun Sania..Maya sudah sekarat kamu masih tak iba. Dia teleponi aku minta pamit dan sampaikan pada Bara kalau dia kecewa."


"Oh..secara logika bila mau mati ngapain kabari orang dia mau mati. Itu namanya ancaman buat Bara. Sungguh cara tak profesional. Aku tak termakan cara licik macam gitu." Sania sedikitpun tak iba hati malah merasa lucu melihat kekonyolan orang tak punya rasa malu gitu.


"Sania..apapun pemikiranmu tinggalkan dulu. Panggil Bara sebentar!"


"Kau juga terharu pada kenekatan Maya mau hancurkan rumah tanggaku? Ternyata kau dan Bara sama-sama laki tolol terjebak pada sejarah buruk. Ok..ini Bara!"


Sania mencolek Bara yang tertidur lelap setelah lelah harungi samudera cinta bersama Sania. Sudah lama Bara tak rasakan percintaan. Kini telah sirami padang gersang sisanya rasa sejuk. Bara tentu saja terlena.


"Lieve..bangun.." ujar Sania lembut takut kagetkan Bara.


Bara buka mata tampilkan muka bantal plus mata sayu. Laki ini terheran lihat Sania bangunkan dia di tengah malam buta.


"Ada apa sayang? Minta ronde kedua?" olok Bara menarik Sania ke pelukan.


"Maya bunuh diri tak terima kau tolak."


"Apa? Sungguh gila perempuan itu. Siapa kasih kabar?"


"Roy..dia tunggu kabarmu. Telepon balik." Sania menyodorkan ponsel Bara yang berada di tangannya.


Bara menerima ponselnya dengan ragu. Bara takut Sania salah sangka lagi bila dia buat gerakan panik. Hubungan mereka baru saja dipulihkan apa harus retak lagi karena wanita lain.


"Maaf aku lancang angkat panggilan dari ponselmu. Aku lihat dari Roy." Sania cepat beri klarifikasi sebelum Bara berpikir yang bukan-bukan dia isteri posesif suka usilin ruang gerak suami.

__ADS_1


"Tak apa..aku tak punya rahasia. Kita pergi lihat Maya? Aku serahkan padamu. Maya adalah teman dan kau adalah isteri. Aku pilih dengar pendapatmu. Aku tak mau ada salah paham antara kita."


__ADS_2