MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Membalas


__ADS_3

Ntah berapa lama Sania tertidur. Bunyi ponsel memaksa Sania akhiri waktu istirahat dadakan itu. Ponsel pinter berulang mencari perhatian Sania agar dilirik.


Sania terpaksa meraih ponsel lalu geser layar menyambut orang yang menelepon.


"Assalamualaikum..." sapa Sania dengan suara serak.


"Waalaikumsalam..tertidur ya!"


"Kok tahu?"


"Suaramu suara ngantuk. Aku bawa kabar bagus. Arsy sudah ngaku dia dipaksa papanya dan Bobby untuk bikin nama Bara cacat. Tujuan mereka proyek pulau B. Arsy sadar setelah kami beri penjelasan. Dia beri pengakuan secara resmi di depan polisi bahwa Kintan anak Rudi. Tak ada sangkut paut dengan Bara. Sudah kami rekam. Arsy minta maaf padamu telah lukai Bara. Dia siap dihukum berat atas kebodohan sendiri. Gimana? Kita bikin konferensi pers?"


"Terima kasih Pak Roy. Kita undang semua media untuk bersihkan nama Bara. Semua harus berakhir. Bobby berkali-kali usik ketenangan aku. Sudah waktunya beri pelajaran padanya. Kalian hubungi media dan buat pernyataan soal Bara dan Arsy. Aku malas muncul. Kalian tangani saja. Bobby bagianku!"


"Bobby itu licik! Biar kami urus laki jahat itu. Kalau perlu kita buat babak belur."


"Jangan pakai kekerasan! Ntar kita kalah terjerat hukum. Kita akusisi perusahaannya. PT. Build kita buat tinggal nama kosong."


"Akusisi satu perusahaan itu perlu dana besar. Dari mana dana sebesar itu? Kita baru belajar berdiri, belum mampu jalan jauh." Roy tahu persis keuangan Bara yang pas-pasan untuk bangun proyek. Bara belum ada lebih kecuali dibantu Pak Jaya.


"Saranmu?"


"Rebut semua proyeknya. Build akan mati perlahan. Untuk apa perusahaan kosong? Lebih bagus kita bangun perusahaan kita agar lebih kokoh. Kalau kau tak mau ikut konferensi pers pulang saja. Biar aku dan Rudi yang tangani. Jangan pikir apapun! Temani Bara di rumah. Tunggu kabar dari kami saja."


"Soal Bobby biar kupikirkan. Terima kasih Pak Roy. Kalian memang teman Bara."


"Dari dulu kami memang teman. Semoga cepat kelar biar proyek kita lanjut."


"Tak sabar ingin balik ke pulau B?"


"Ngak juga. Aku cuma harap kita bisa berkarya dengan tenang, aman dan sentosa. Proyek pulau B menantang adrenalin ku. Aku harus buktikan aku mampu."


"Bagus...semangat baja. Balik ke pulau minus Sekar ya!"


"Ya jangan! Aku butuh tangan kanan yang cocok. Kebetulan Sekar cocok dengan pola kerjaku."


"Halalkan dulu dong! Jangan asal bawa!"


"Boleh asal Sekar mau. Besok juga siap."


"Huh...mau kamu saja! Urus dulu masalah Arsy. Aku akan bantu kamu bicara dengan Sekar. Kak Rudi tak sekalian halalkan Putri? Aku nikahkan kalian serentak."


Roy tertawa ngakak digoda Sania. Mungkin ini hiburan di sela rasa tega. Menikah tak segampang balik telapak tangan. Bilang mau nikah langsung nikah. Harus ada persiapan mental dan materi. Tanpa perhitungan matang sama saja menimbun laut. Takkan pernah selesai.


"Aku siap menikahi Sekar asal Sekar tak keberatan hidup bersama orang tak punya macam aku. Rudi lain. Dia punya backing vokal kuat. Suaranya nyaring."


"Aku yakin Sekar dan Putri tak pandang harta kalian. Cukup kalian jujur dan setia. Itu kunci keutuhan satu rumah tangga. Aku tunggu kesanggupan kalian lamar dua koncoku."


"Siap...tunggu tanggal mainnya! Sekarang kau pulang temani Bara. Kalau bisa dia tak perlu tahu masalah ini. Biar kita yang klarifikasi. Ok?"


"Ok..."


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Hubungan terputus. Sania menarik nafas lega. Untung Arsy masih waras tak mau berjalan lebih jauh. Cukup mentok di kesalahan sekian. Sania tak bisa berpikir hukuman apa pantas untuk Arsy. Kalau diteruskan hukuman penjara seumur hidup atau hukuman mati menantinya. Arsy terbukti melakukan pembunuhan berencana. Barang bukti lengkap di tempat.


Sania berberes pulang ke rumah Bu Jaya ikuti saran Roy. Di kantor Sania juga tak bisa konsentrasi bekerja. Pikiran Sania bercabang memikirkan nasib Bara dan Arsy. Bara masih lumayan tinggal pemulihan sedang Arsy tunggu sidang. Hukuman berat sedang menantinya. Arsy korban cinta.

__ADS_1


Sania pamitan dengan Dea dan Putri sebelum turun ke lantai bawah. Sania beralasan hendak pulang makan siang bersama Bara. Sania tak ingin bahas masalah Arsy dan Bara di saat ini. Kepalanya sudah cukup berat. Sania tak ingin menambah beban di kepala lagi. Takutnya jadi copot.


Sania pulang dengan taksi online. Janji dijemput Fadil terpaksa batal karena Sania pulang mendadak. Dan lagi jam gini Fadil pasti lagi sibuk. Sania tak ingin merepotkan Fadil memilih pulang sendiri.


Langit sudah mulai cerah sedikit walau matahari masih malu-malu munculkan diri. Awan mendung masih bergelantungan menanti saat curahkan hujan basahi bumi. Sania bergegas pulang sebelum hujan benar-benar turun.


Dari jauh satu mobil warna abu rokok ikuti taksi yang membawa Sania pulang. Mobil itu menjaga jarak aman mengawal Sania sampai ke rumah. Dalam kondisi begini Sania butuh pengawalan ekstra. Bobby mulai hilang akal berbuat semena-mena untuk capai maksud tujuan. Segala cara kotor mulai dilancarkan serang Bara. Ntah niat Bobby meraih Sania kembali atau rebut proyek PT. SHINY.


Di salah sudut kota tampak seorang lelaki sedang merokok di ruang tamu. Asbak di meja sudah penuh puntung rokok. Wajah laki itu kusut Masai tak cerminkan seorang pemilik perusahaan besar. Matanya cekung tanda tidak tidur dengan baik. Helaan nafas berat terdengar seret keluar dari mulut terselip batang rokok.


Dialah Bobby yang terpuruk makin dalam atas ulahnya sendiri. Isteri kebanggaan masuk penjara, perusahaan megahnya morat marit tak tentu. Dana di perusahaan mulai kosong karena tak ada proyek masuk. Bobby sudah terbiasa mengandalkan Sania cari proyek menjadi bingung tatkala proyek hilang tak muncul satupun.


Bobby menyesal anggap remeh Sania. Dia pikir Sania akan tetap bersamanya dengan sedikit bujuk rayu. Tak disangka Sania membuat keputusan besar tinggalkan Bobby menikahi Bara. Bara yang ketiban durian runtuh. Namanya berkibar di bawah bimbingan Sania.


Ponsel Bobby yang tergeletak di atas meja berdenyut tanpa suara. Tampaknya Bobby sengaja buat nada silent untuk hindari kebisingan. Bobby meraih ponsel lihat siapa yang telepon. Bobby geser layar angkat orang yang menelepon.


"Halo...ada apa?" ketus Bobby tak bersahabat.


"Apa kau tak tahu pihak Bara buat konferensi pers bantah semua tuduhan kita. Si bodoh Arsy telah akui kalau Kintan bukan anak Bara. Kelihatannya pihak Bara bikin perjanjian dengan Arsy. Arsy patuh pada mereka. Apa langkah kita selanjutnya? Gue takut mereka tuntut balik pencemaran nama baik."


"Itu urusan kalian! Aku tak ikut campur." tukas Bobby judes.


"Mana bisa? Kita telah janji sama-sama hadapi Bobby. Kau dapat kembali Sania dan aku dapat proyeknya. Jangan ingkar!"


"Sori...namaku tidak tercantum dalam tuduhan kalian. Selesaikan sendiri. Aku pusing."


"Awas kau Bobby! Di saat kau perlu kami kau datang mengemis. Kini kita dalam masalah kau mau cuci tangan. Kita lihat bagaimana aku balas semua kelakuanmu."


"Terserah...aku tidak terlibat. Pandai-pandailah cuci dosa kalian!" Bobby menutup ponsel tanpa beri kesempatan pada orang di seberang menjawab.


Bobby tidak peduli semua ocehan keluarga Arsy. Bobby bukannya tak tahu kalau pihak Bara serang balik bawa fakta lebih konkrit. Arsy tak mau kerja sama menyudutkan Bara itu bikin mereka kalah. Tawaran bantuan untuk keluarkan Arsy dari penjara ternyata tak mempan menarik perhatian Arsy.


Bobby tak tahu tawaran apa diberi pihak Bara hingga Arsy bersedia ungkap kebenaran yang bebaskan Bara dari segala tuduhan. Bobby makin karam tak berhasil tenggelamkan Bara. Untunglah Bobby pintar tak unjuk muka waktu buat konferensi pers tuduh Bara memilki anak dengan Arsy.


Di rumah Bu Jaya. Sania berhasil tiba di rumah dengan selamat tanpa gangguan. Sania segera masuk mencari Bara. Sania mau lihat apa Bara tahu soal tuduhan keluarga Arsy.


Seperti biasa suasana rumah sepi adem. Semua pembantu berada di belakang sedang Bu Jaya tak tampak batang hidung. Mungkin wanita paro baya itu sedang sibuk di dapur sediakan makan siang.


Sania ringankan langkah ke dapur mencari sosok Bu Jaya. Ternyata dapur kosong tanpa penghuni. Dapur bersih bau sabun wewangian apel. Udara jadi segar karena aroma dari apel yang alamiah.


Sania memutar badan mencari penghuni lain untuk dijadikan tempat cari info di mana tuan rumah. Sania menyusuri pintu samping menuju ke daerah basah tempat cuci pakaian dan jemur pakaian.


Untunglah ada bibik sedang menggosok pakaian di kamar kecil. Sania ayunkan langkah hampiri bibik untuk cari tahu ke mana penghuni rumah.


"Bik..."


"Eh nona muda! Baru pulang?"


"Iya Bik. Mama mana? Kok sepi?"


"Oh nyonya besar? Sudah pergi keluar beli buah anggur. Katanya untuk nona muda. Mau bikin salad gitu!"


"Oh...terima kasih Bik! Kalau mama pulang bilang aku ada di atas bersama Bara."


"Iya..."


Sania lega dapat info tepat. Sania terharu pada perhatian mama Bara padanya. Wanita itu selalu tulus padanya, apa lagi sekarang dia sedang mengandung penerus keluarga Jaya. Perhatian Bu Jaya berlipat ganda. Semua makanan kesukaan Sania jadi prioritas utama.


Sania naik ke lantai atas menemui suaminya. Kesehatan Bara makin membaik melegakan Sania. Tak lama lagi Bara sudah bisa kembali ke kantor asal kondisinya tetap stabil seperti ini.

__ADS_1


Sania mengetok pintu kamar sebelum masuk. Sania tetap ikuti sopan santun hargai privacy Bara walau itu juga kamarnya.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..." terdengar sahutan dari balik pintu.


Sania memutar handel membuka pintu. Tubuh mungil Sania lolos masuk ke kamar menemukan Bara duduk di sofa memegang laptop.


Bara meletakkan laptop di samping sofa menyambut Sania dengan senyum lebar. Wajah Bara cerah menanda sudah mulai pulih mendekati fit sempurna.


"Baru pulang? Pergi tak pamit." sungut Bara pura-pura marah.


Sania meletakkan tas selempangnya di lemari di mana biasa tas itu tersimpan. Tas itu menyimpan semua barang pribadi Sania. Ke manapun Sania pergi tas itu selalu ngekor.


"Tadi kulihat Lieve enak tidur. Tidak tega bangunkan. Ada enakan?"


"Lumayan. Besok Lieve mau ke kantor. Bosan duduk di rumah."


"Tunggu cek up sekali lagi baru ke kantor. Luka di dalam itu berbahaya. Salah-salah infeksi."


"Mari duduk sini! Lieve rindu."


"Sania mandi dulu. Badan terasa lengket-lengket keringat."


"Ngak pake lama ya! Bangun tidur isteri hilang lagi. Lieve pikir kamu kabur lagi."


"Capek kabur terusan! Buronan asli malah enak-enak di tempat tidur."


"Sadis amat tuduh suami buronan. Apa tak ada kalimat lebih manis dari itu?"


Sania tertawa sambil buka lemari pakaian cari pakaian santai untuk dipakai di rumah. Pakaian kantor terlalu ribet dibawa pakai di rumahan. Mana lagi pakaian Sania sudah mulai sempit karena seiring waktu perut Sania membesar.


Pilihan Sania jatuh pada daster berbahan katun. Pakaian sederhana tampilkan kesederhanaan seorang ibu rumah tangga.


Sania bersihkan diri sekaligus dinginkan otak dari masalah Arsy. Semoga Roy dan Rudi mampu tangani keruwetan yang ditimbulkan keluarga Arsy. Herannya mengapa orang tak puas mencelakai Bara. Kesalahan apa telah dibuat Bara hingga dapat kemalangan berturut-turut.


Bangkit sedikit sejuta masalah muncul. Dapat isteri lebih baik, puluhan wanita datang menggoda. Nasib apa sedang dilakoni Bara. Karma baik atau karma buruk? Sania hanya bisa berdoa semoga Bara terhindar dari bencana lebih besar. Sudah cukup sekian kemalangan beruntun.


"Sayang...kok lama banget mandinya? Tidur di kamar mandi?"


Sania mendengar teriakan Bara dari luar kamar mandi. Sania segera akhiri ritual bersih-bersih. Sekali lagi Bara teriak Sania akan sumpal mulut itu pake handuk basah. Kuping Sania terasa pedas diteriaki lakinya. Masih satu ruang pakai teriak-teriak kayak Tarzan kota.


Sania keluar kamar mandi membawa wangi sabun. Aroma sabun Sania lembut membelai hidung Bara. Aroma yang selalu digilai Bara.


"Tarzan kesasar ya!" olok Sania ayunkan langkah ke meja toilet untuk menyisir rambut indahnya.


Bara perhatikan setiap gerakan Sania dengan hasrat terpendam. Sudah cukup lama Bara puasa ritual suami isteri. Sania pergi ke Belanda sebagai buronan Bara disambut Bara terluka oleh Arsy. Mana sempat memanjakan diri dengan acara mesraan.


"Sayang...cepat sini!" Bara menepuk sofa kosong di sisinya.


"Sabar kenapa? Aku belum memaafkan Lieve! Antara kita belum selesai." Sania jual mahal tak mau patuhi permintaan Bara. Sania bukan orang bodoh tak tahu suaminya sedang pingin dimanja. Dari sorot mata Bara sudah tertulis rindu pada Sania kelas wahid.


"Apa lagi? Bukankah Lieve sudah minta maaf? Gimana baru kau maafkan?" ucap Bara memelas mohon belas kasihan.


Sania duduk di tepi ranjang menatap Bara sekilas lalu geleng kepala.


"Tak ada...hanya aku belum mood maafkan Lieve!"


"Ya Allah...kok lebih sakit dari luka jahitan? Dicuekin bini." keluh Bara menopang dagu putus asa.

__ADS_1


"Itu hadiah buat laki berotak mesum. Semua wanita ditanggapi. Anak bini ditinggal demi kejar mantan. Gimana rasanya ditinggal? Enak kan?" Sania perlihatkan senyum sinis.


"Sayang..sudah Lieve bilang itu cuma karena kasihan. Lieve toh telepon Roy dan Rudi untuk ikut. Siapa sangka itu jebakan untuk hancurkan kita."


__ADS_2