
MC yang bawa acara tiba-tiba memanggil nama Sania untuk undi hadiah utama berupa satu unit mobil SUV keluarga. MC tersebut cuap-cuap memohon Sania bersedia naik ke pentas untuk mengundi pemenang hadiah pertama.
Bara menyentuh tangan Sania agar penuhi permintaan MC yang beri kehormatan pada Sania. Kini Sania pemegang perusahaan SHINY maka wajar semua kemegahan dilimpahkan pada Sania.
"Pergilah! Hati-hati naik pentas." Bara ingatkan Sania hati melangkah. Bukan cari muka tapi demi debay dalam perut wanita itu.
Sania bangkit seraya rapikan pakaian untuk tampil sempurna di mata para undangan. Sania bukan unjuk gigi namun jaga image seorang pengusaha sukses.
Setiap pasang mata menatap Sania yang melangkah anggun naik ke pentas. MC berwajah tampan segera menyambut Sania ulurkan tangan mengiringi Sania menuju ke tengah pentas. Di tengah pentas tersedia meja kecil terletak wadah kaca penuh dengan gulungan kertas berisi angka-angka undian. Angka yang keluar itulah pemenang.
"Silahkan nona Sania! Semoga tangan nona akan bawa rezeki buat seseorang." MC itu tak puas-puas ngoceh undang perhatian.
Sania masukkan tangan ke dalam wadah sambil ucap bismillah. Siapapun yang dapat semoga jadi berkah.
Sania mengangkat gulungan kertas kecil ke atas untuk tunjukkan tak ada kecurangan. Para tamu undangan tepuk tangan menanti kabar baik pemenang undian. Semua pasti berharap nomor mereka yang kena sentuhan tangan bos SHINY yang baru.
"Buka...buka..." seru MC ramaikan suasana. Seruan sang host itu disusul seruan dari bawah pentas.
"Buka...buka...."
Sania melempar senyum manis menggoda semua yang hadir. Perlahan Sania buka gulungan kertas dan melihat jelas empat angka ditulis pulpen hitam. MC kepo miringkan kepala intip angka di tangan Sania sambil tutup mulut. Gaya centil sang MC buyarkan rasa tegang.
"Bismillah...Nomor 0824." seru Sania baca angka yang tertera di kertas.
Suara dengung kasak kusuk terdengar sana sini. Masing-masing coba cocokkan angka yang disebut Sania dengan no undangan mereka.
"Ayo...siapa yang datang naik ojek pulang dengan mobil? Maju sini!" canda sang MC lagi.
Suara tawa kembali terdengar riuh. Kelompok Bara di bawah pentas ikut cari siapa yang menang. Akhirnya seorang cowok berpakaian rapi berdiri dengan wajah malu-malu. Dengan sedikit grogi cowok itu maju ke depan menuju ke pantas.
"Sugeng..." seru Bara takjub. Pegawai setianya dapat berkah sangat besar. Tak disangka hadiah utama jatuh pada pegawai Angkasa Jaya.
"Untung banget tuh anak! Akhirnya bisa cari pacar." sungut Rudi iri hati.
"Huusss...apa hubungan mobil dengan pacar?" Putri senggol Rudi yang mulutnya asal bunyi.
"Jelas ada. Punya mobil lebih gampang gaet cewek. Modal motor ketinggalan kereta."
"Itu bukan cinta namanya. Matre..." ketus Putri tak suka Rudi remehkan kaum hawa. Tak semua cewek gila harta. Harta bisa dicari selama kita sehat dan rajin. Cinta tulus tak bisa dicari walau pakai dolar sekarung.
"Sori...bukan itu maksudku." Rudi segera sadar telah salah omong. Tanpa sadar Rudi telah lecehkan wanita. Bayangan Arsy yang gila harta masih melekat di benak Rudi. Tak heran Rudi samakan semua cewek gila harta.
"Kalau pacaran pakai ukuran harta itu bukan cinta. Tapi penjaja cinta. Apa beda sama psk?" rengut Putri buang muka tak mau lihat tampang Rudi.
"Sori non! Aku bukan bilang kamu. Kamu anak baik. Jangan ngambek dong!" rayu Rudi tak enak dicueki cewek yang mulai dekat dengannya.
"Siapa ngambek? Emang ada guna ngambek sama embek mata dolar?"
Rudi menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bicara sama cewek harus hati-hati. Keseleo lidah dikit buntutnya panjang. Sania yang terkenal berlidah tajam ternyata ada kawannya. Teman satu team. Cewek-cewek mulut beracun.
"Sori neng..aku terbawa masa lalu! Ayo senyum! Teman sekantor kita dapat durian runtuh. Kita harus ikut senang dong!"
"Senang aja sendiri!" Tukas Putri tetap tak ada kata damai.
"Runyam..." desis Rudi menepuk dada. Perih.
Alamat pulang sendiri. Datang berpasangan pulang merana sendiri. Nelangsa.
__ADS_1
Di atas pentas Sania menyalami Sugeng yang merupakan teman sekantornya. Sekarang Sania bos besar dan bini bos perusahaan. Cara memandang Sania juga harus beda. Panggilan juga akan berubah.
"Selamat ya Kak Sugeng!"
"Sama-sama...Terima kasih!"
Sania menyerahkan kunci mobil secara simbolik. Tangan Sugeng bergetar menerima hadiah yang sangat berarti dalam hidupnya. Tidak sia-sia dia datang ke pesta yang seharusnya tak jadi bagian mereka. Pihak SHINY murah hati undang semua pegawai Angkasa ternyata untuk berbagi rezeki.
"Tepuk tangan untuk pemenangnya!" seru MC rempong.
Gemuruh tepuk tangan membahana. Sugeng perlihatkan kunci mobil dengan wajah cerah. Tepat kata MC. Datang dengan ojek pulang dengan mobil. Sugeng memang datang di antar ojek online. Pulangnya bawa mobil.
"Terima kasih!" Sugeng bungkuk hormat pada para tamu dan pada Sania.
"Nah...bapak ganteng ini sudah bisa urus SIM kuadrat. Yang pertama Surat ijin mengemudi dan yang kedua surat ijin menikah. Selamat bapak ganteng. Oya siapa namanya,? Masa kita tak tahu juara kita hari ini?" goda MC rempong genit ria.
"Sugeng..." sahut Sugeng dengan wajah merah. Sania tertawa kecil lihat Sugeng dikerjain MC.
"Wah...arti nama yang bagus. Selamat...selamat selamanya!" MC pinter itu langsung bisa artikan nama Sugeng.
"Ok...terima kasih nona Sania! Silahkan istirahat! Dan Pak Sugeng...jangan lupa kirim KTP biar kita urus surat mobil! Mobil bulat dikirim ke bapak. Percayalah utuh dengan bannya!" MC itu menepuk bahu Sugeng bikin lawak.
Sania melambai sebelum turun ke bawah. Sugeng dengan Galant tuntun Sania turun ke bawah. Sania bukan orang asing bagi Sugeng. Mereka berjuang bersama majukan Angkasa. Angkasa makin terbang tinggi ke langit.
Sugeng mengantar Sania kembali pada pemilik sah yakni Bara. Kelompok Bara tentu saja rekan kerja Sugeng menyambut Sugeng dengan hati riang. Rezeki Sugeng akan bawa perusahaan makin maju.
"Wah yang ketiban durian runtuh! Selamat ya!" Roy menyalami Sugeng dengan senyum sumringah.
"Terimakasih...Saya berterima kasih pada Pak Bara yang ijinkan kami datang." Sugeng bungkuk pada Bara.
"Jangan padaku tapi pada Nyonya kalian! Dia yang atur kalian datang! Selamat ya Geng! Kau pantas dapat hadiahnya."
"Sudahlah jangan gitu! Itu rezeki dari Allah! Bukan kamu tetap ada yang lain akan terima! Oya...aku agak lelah! Aku mau cepat pulang istirahat!" Sania mulai perlihatkan mimik wajah kuyu. Bara paham kalau Sania tak bisa disamakan dengan Sania dulu. Beban di depan perut Sania cukup berat.
"Baiklah kita pulang sayang! Pamitan sama Pak Elmo dulu! Tak baik kita pergi tanpa pamit." Bara edarkan mata cari pengusaha besar itu. Pak Elmo sedang ramah tamah dengan tamu di tengah pesta.
"Bukankah itu gayaku?" ucap Sania seraya tertawa kecil.
Bara menggeleng tak terpengaruh pada sikap konyol Sania. Pak Elmo bisa maklumi sikap Sania tapi bagaimana dengan Bara. Dia bisa dicap orang tak tahu diri. Bekerja sama tapi tak hargai investor. Belum lagi jadi om Sania yang harusnya jadi orang tua Sania di tanah air.
Bara tinggalkan Sania melangkah pergi mencari Pak Elmo. Sania duduk di kursi lepaskan penat di kaki. Lama berdiri Sania merasa kakinya linu. Untung Sania tak pakai high heels. Bisa bengkak kaki mungil bumil itu.
Rangga curi kesempatan duduk di samping Sania setelah Bara pergi. Rangga cukup repot cari Sania untuk kasih kabar papa mereka sudah pulang rumah. Sania raib di telan bumi. Ponsel tak bisa dihubungi. Bara saja tak tahu ke mana Sania kabur apa lagi dia.
"Dek...apa kabar?" tanya Rangga lembut.
"Mas Rangga...baik mas! Mas marah Sania pergi tanpa kasih kabar?" Sania meneliti air muka Rangga. Sania temukan titik kecewa di wajah itu.
"Mau marah sama siapa? Orang yang mau dimarahi kabur. Tak baik selalu hindari masalah dengan jalan kabur. Mas harap ini yang terakhir. Kalau ada masalah kita pecahkan bersama."
"Iya mas! Maafkan Sania!" Sania memelas merasa bersalah. Rangga meraih kepala Sania masukkan ke dadanya. Rangga sangat rindu pada Sania hilang tanpa kabar.
"Mas tak bisa tidur mikirin kamu. Agra juga sedih kau pergi sebelum jumpa dengannya. Dia pikir kau tak balik lagi."
"Agra ada datang?"
"Ada...sama Bu Bur! Papa ajak dia tinggal bersama dia tolak. Agra terlanjur nyaman bersama keluarga Lisa."
__ADS_1
"Ranti gimana?" Sania teringat kakak tanpa hubungan darah.
"Sudah di rumah. Mas tak tega buka jati dirinya. Dia cukup terpuruk. Dia tinggal menunggu hari melahirkan. Kau dendam padanya?"
Sania angkat kepala dari dada Rangga buang nafas sesak di dada. Tak gampang memaafkan orang yang telah bikin hidupnya sengsara. Tapi Ranti juga berjasa buka kedok Bobby sesungguhnya. Berkat kebodohan Ranti Sania terhindar dari cinta palsu Bobby. Sania mendapat cinta kasih tulus dari laki lain walau duda.
"Beri Sania waktu mas! Sania tidak dendam lagi. Cuma untuk jumpa Ranti rasanya belum sanggup. Waktu itu pasti datang tapi ntah kapan."
"Mas tunggu kesiapan kamu. Mau jenguk papa?"
"Mau tapi jangan jumpa Ranti!"
"Ranti di rumah tak pernah keluar. Jumpa papa ya jumpa dia! Gini saja! Mas akan atur kalian jumpa di tempat lain."
Sania mengangguk setuju usul Rangga. Sania bukannya tak mau bertandang ke rumah Suhada. Rumah itu banyak bawa kenangan buruk bagi Sania. Sania pernah tinggal di sana beberapa tahun sebelum pindah ke rumah baru. Sikap licik Amanda butakan semua orang. Semua pikir Amanda wanita baik hati bisa terima madunya dengan ikhlas. Tak disangka ada udang di balik batu.
"Besok Minggu. Bolehkah Agra tidur bersamaku malam ini?"
"Malam ini kamu istirahat saja. Besok akan kuantar Agra ke tempat mu. Kita butuh ngobrol."
"Soal apa lagi mas? Jangan muncul pertanyaan aneh-aneh! Otak kecilku masih kurang waras."
"Mas mau tahu kenapa kau sembunyikan semuanya dari mas. Mas seperti orang bodoh takut kamu salah langkah tipu uang Bobby atau Bara. Mas tak adik kesayangan mas hidup dari uang tak halal."
Sania tertawa kecil tak bisa bayangkan kegundahan Rangga lihat dia gampang beli seluruh saham Sunrise. Otak Rangga pasti melenceng jauh anggap Sania tak beda dengan Ranti.
"Sania akan cerita tapi bukan sekarang. Tunggu Sania urus peralihan SHINY. Sunrise tetap berdiri sendiri. Itu mutlak milik mas. Kalau Bara mau Angkasa akan digabung ke Shiny. Tapi itu tergantung Bara. Sania tak ingin memaksa."
"Bara belum tentu mampu handel perusahaan raksasa macam SHINY. Dia masih perlu adaptasi. Tak semua orang otaknya sebagus kamu. Kalau mas disuruh jadi bos SHINY pasti Mas tolak. Mas tak mampu."
"Terserah Bara! Melahirkan nanti perhatianku pasti terpecah. Mungkin SHINY harus diperkecil agar Sania punya waktu untuk keluarga. Sania tak mungkin ke sana kemari urus perusahaan."
"Memangnya perusahaanmu bawahi berapa anak perusahaan?"
"Sepuluh. Hotel, properti, alat berat, tambang, elektronik, rumah sakit dan beberapa lain."
Rangga menatap Sania tak percaya otak sekecil ini mampu tangani beberapa perusahaan dengan produk berbeda. Boleh dibilang Sania terlalu tamak ingin kuasai semua bidang. Dari mana nyali Sania berani maju bertarung dengan perusahaan besar lain.
"Otakmu isinya apa dek? Jangan-jangan kamu robot canggih produk Jepang!"
Sania terkekeh dengar Rangga tak percaya dia bisa handel semua ini. Rangga tak tahu keluarga Mulder merupakan team solid jalankan roda perusahaan. Semua tulus tak iri hati. Bahkan banyak yang tak ingin ikut berbisnis. Ada yang milih jadi dokter, pengacara dan ilmuwan. Sania lah inti dari SHINY yang mendunia.
"Robot bisa hamil?" ejek Sania bikin kuping Rangga gatal.
"Kamu ini...tuh lakimu datang! Kalau ada masalah bicarakan dengan kepala dingin! Jangan kabur lagi ya!"
"Siap mas!" Sania bikin tanda respek pada Rangga. Rangga mangut terima janji Sania.
Bara hentikan langkah tepat di depan Sania dan Rangga. Bara tak cemburu walau Sania dekat dengan Rangga. Abang kandung sendiri dicemburui. Di simpan di mana otak Bara.
"Lieve sudah pamitan sama om kamu. Kita pulang sekarang." Bara ulurkan tangan minta Sania ikut dengannya.
"Pulanglah! Besok mas datang." Rangga mendorong Sania ikut suaminya. Rangga bukan orang tolol tak tahu Bara kangen pada adiknya. Sania menghilang tentu saja sebagai suami Bara panik.
"Iya mas! Temui Sania di apartemen. Malam ini kami nginap di sana. Barang Sania masih di sana."
Bara kaget Sania punya rencana sendiri tidur di apartemennya. Bara ingin Sania pulang ke rumah orang tuanya di mana selama ini mereka tinggal. Bara yakin Bu Jaya sudah kangen pada menantu kesayangan. Wanita paro baya itu pasti dirundung rasa kecewa Sania tak pulang ke rumah mereka.
__ADS_1
"Sayang ..kita pulang bareng papa dan mama ya! Mereka rindu padamu!" bujuk Bara harap Sania merubah pikiran.
"Barang Sania di apartemen. Sania ada belanja sedikit untuk Agra dan teman-teman semua. Besok malam kita tidur di rumah mama. Semalam doang! Boleh ya?" Sania memohon merangkap tangan di dada.