MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Sania Berkepribadian Ganda


__ADS_3

"Maaf May..jujur aku jadi takut padamu. Hubunganku dengan Sania mulai membaik. Kumohon jangan ganggu aku lagi. Aku cukup pusing dibuat olehmu." Bara tak sungkan suarakan isi hati. Bara memilih kehilangan sahabat dari pada hilang anak bini.


Maya tertawa keras mengejek playboy kondang jaman dulu bertekuk lutut pada seorang wanita muda. Bara takut kehilangan untuk kedua kali setelah kepergian Nania.


"Aku mau minta maaf padamu dan Sania. Isterimu adalah wanita hebat. Dia telah buka hatiku untuk melihat kebaikan suamiku. Suamiku telah datang menjemputku pulang ke State. Sebelumnya kami mau honeymoon di Bali selama seminggu. Aku mau undang kalian makan malam bersama. Aku juga undang Roy dan Rudi."


Bara menarik nafas lega. Batu sandung dalam rumah tangganya tersingkir satu. Tak ada lagi pengacau bakal porak poranda mahligai keluarganya. Bara tak ingin Sania mengandung dalam suasana penuh ancaman dari wanita-wanita Bara.


"Alhamdulillah Maya...aku ketakutan kau telepon. Sania sedang hamil maka aku harus proteksi perasaannya. Kuharap kau maklum."


"Wow...selamat ya! Akhirnya datang juga hari bahagia ente. Sania masih muda. Emosi ibu hamil tidak stabil. Cepat terpancing walau bagimu itu bukan hal penting. Dia akan cari kesalahanmu sekecil apapun. Bau badanmu bisa bawa petaka."


"Yang benar May?" Bara teringat kejadian hari ini mood Sania berubah-ubah. Ternyata wanita hamil itu cukup menyita perhatian.


"Kamu yang sabar ya! Trisemester pertama adalah masa rawan. Gampang keguguran. Kalau kau jenguk bayimu harus super lembut, jangan main kasar. Ada yang tak boleh berhubungan selama tiga bulan pertama."


"Kau pengalaman banget!"


"Aku kan sudah punya anak bego! Pokoknya jaga binimu baik-baik. Jauhkan dia dari Arsy! Arsy masih mengincar dirimu."


"Arsy? Sudah lama tak jumpa dia. Anaknya sudah diambil alih Rudi. Aku sudah terbebas darinya."


"Syukurlah! Oya..kukirim alamat restoran tempat kita jumpa. Jangan lupa ajak Sania! Aku mau terima kasih padanya."


"Aku akan usahakan bawa Sania. Eh..yang kau bilang harus puasa di ranjang itu serius?"


"Serius...boleh tapi perlahan. Bagusnya sih puasa."


"Berkarat onderdilku dong!"


Maya terbahak-bahak dengar suara kuyu Bara. Baru nikmati kebersamaan tak lama harus menahan nafsu lagi. Lama-lama Bara bisa invalid menahan gejolak nafsu.


"Yang sabar Bara! Kutunggu kehadiran kalian. Bilang Roy dan Rudi bawa pasangan masing-masing."


"Bilang sendiri...kedua anak itu susah diatur. Kayaknya belum ada pasangan."


"Okelah! Biar kusampaikan sendiri. Bara..sekali lagi maaf sudah menyusahkan kamu."


"Sama-sama...jumpa nanti!"


Sambungan terputus. Bara kembali fokus ke jalan menuju lokasi proyek. Dari lubuk hati terdalam Bara doakan semoga Maya dan suaminya langgeng hingga anak cucu. Satu persoalan tuntas dari hidup Bara. Anggap saja masalah Maya tutup buku. Kasus selesai. Ke depan tak ada lagi pengacau bernama Maya.


Bara benar-benar lega Maya kembali pada suaminya. Sebagai sahabat dan mantan pacar Bara hanya bisa berdoa tak ada lagi kata-kata cerai dari mulut Maya.


Sebelum senja Bara sudah sampai di rumah tepati janji pada Sania. Nasehat Maya terngiang di telinga Bara mengenai perubahan perangai ibu hamil. Bara harus persiapkan mental ikuti arus perubahan mood Sania.


Bara bergegas jumpai bini mungil begitu sampai di rumah. Rasa rindu merajai seluruh hati padahal berpisah tidak sampai setengah hari. Sania telah berhasil bertatah di hati Bara. Menguasai seluruh pikiran laki itu.


Sania tak ada dalam kamar. Ke mana larinya wanita muda yang berhasil merampas seluruh hati Bara.


Bara berlari ke bawah mencari wanita pujaan itu. Di ruang tamu dan ruang keluarga tak tampak batang hidung ibu hamil itu. Bara melanjutkan langkah mencari ke dapur. Suasana dapur juga sepi tak ada kegiatan memasak.


Bara panik muncul pikiran buruk. Mamanya juga tak tampak. Ke mana penghuni rumah ini. Kenapa kosong melompong?


" Ma..." seru Bara tak sabar.


Bu Jaya muncul dari kamarnya berdandan rapi. Kelihatannya wanita parobaya itu baru siap mandi. Wajah segar tak tampak ada masalah dalam rumah. Hati Bara sedikit lega tak ada yang urgen.


"Kenapa teriak?" Bu Jaya berkata sambil rapikan pakaian di tubuh.

__ADS_1


"Sania mana?"


"Kayaknya di balkon...tadi minta teh manis! Binimu kesurupan setan rujak. Habiskan lima porsi rujak yang asamnya minta ampun. Gigi mama ngilu lihat dia makan." Bu Jaya terkenang bagaimana Sania bantai rujak yang diorder melalui online. Sania makan seperti baru keluar dari tahanan. Lima porsi dimakan sendiri tanpa bagi pada penghuni rumah.


Yang lain pasti memilih mengalah pada ibu hamil. Selera ibu hamil memang lain dari yang lain. Aneh bin ajaib.


"Apa tak bahaya dia makan rujak segitu banyak?" Bara tak luput dari rasa kuatir.


"Selama yang minta bayinya semua aman. Pergilah lihat dia!"


"Terima kasih ma.." Langkah Bara bergeser ke lantai atas cari pujaan hati. Bara mencari di tempat yang dituju mamanya.


Benar kata Bu Jaya kalau Sania berada di balkon. Wanita itu tertidur di bangku rotan dilapisi busa lembut. Wajah Sania damai tanpa delikan tajam yang buat Bara putus asa. Sania tak ubah anak kecil tanpa dosa dalam tidurnya.


Bara perhatikan wajah cantik Sania tanpa berniat bangunkan wanitanya. Ibu hamil akan lebih sehat bila banyak istirahat. Janin akan tumbuh sehat.


Bara tinggalkan bininya pergi ke kamar untuk bersihkan diri. Bara ingat kata Maya ibu hamil bisa masalahkan bau badan suami. Jangan sampai Sania komplain bau badannya. Alamat ditendang Bara dari kamar.


Bara usai mandi belum tampak gejala Sania akan bangun. Senja mulai jatuh hadirkan kekelaman yang perlahan akan menjadi gelap. Udara berhembus sepoi basah membelai setiap benda yang dilaluinya.


Senja selalu setia hadir setiap hari menunggu sang raja malam mengganti tugas sang mentari jaga bumi ini. Di saat senja datang semua anggota keluarga berkumpul setelah seharian lelah bekerja sesuai bidang masing-masing.


Satu persatu penghuni keluarga Jaya berkumpul dalam satu wadah. Keluarga ini tetap kompak walau pernah terjadi salah paham di masa lalu. Bara sudah membayar kesalahan di masa lalu dengan hadirkan menantu jempolan kepada orang tuanya.


Bara terpaksa bangunkan Sania tatkala azan magrib berkumandang memanggil umat Islam segera melaksanakan kewajiban. Ibu hamil juga pamali tidur di saat matahari sedang tenggelam. Itu mitos orang jaman. Benar atau tidak lebih baik diikuti.


"Sayang....sudah senja! Ayo bangun!" bisik Bara lembut di sisi kuping Sania.


Sania beri reaksi membuka mata. Sosok orang yang paling diharap terpapang nyata di depan mata yang masih sayu itu. Senyum lebar menghiasi wajah cantik Sania puas dibangunkan pangeran tampan.


"Peluk..." pinta Sania manja langsung dipenuhi sang suami. Bara memang mengharap bisa memeluk wanita muda di depan mata. Setiap detik Bara merindukan wanitanya.


"Wangi..." Sania menghirup bau badan Bara yang baru mandi.


Bara lega Sania tak rewel masalahkan bau badan seperti kata Maya. Bara was-was kalau bininya berubah seperti siang tadi. Bikin Bara ketar-ketir tak tahu harus berbuat apa layani ibu hamil yang cerewet.


"Sudah mandi?" tanya Bara tanpa lepaskan pelukan.


"Belum...besok saja mandi!" ujar Sania santai seakan bersihkan diri itu tak penting.


Mulai lagi Bara membatin. Ini berbeda dengan Sania biasanya. Sania sebelum hamil paling rajin mandi bahkan seperti jadi hobi. Kotor dikit mandi, pulang dari luar mandi. Bangun pagi langsung mandi. Sekarang kok malas mandi.


"Ok..kita sholat ya! Sudah magrib.."


Sania mengangguk setuju. Bara membantu Sania bergeser dari sofa. Dengan telaten Bara menuntun Sania masuk ke kamar ambil air wudhu. Sania mengerjit alis merasa ada yang salah. Mengapa Bara perlakukan dia bak orang cacat tak bisa berjalan sendiri. Apa karena dia hamil?


"Lieve...aku bisa kok! Emang aku jompo?" Sania keberatan diperlakukan kayak orang sakit. Dia hanya hamil bukan sakit.


"Kamu baru bangun tidur. Takut masih linglung. Oya...tadi Maya telepon mau undang kita makan. Dia sudah dijemput suaminya. Besok mereka berangkat ke Bali. Maya ingin jumpa denganmu sebelum berangkat." Bara sampaikan undangan Maya. Sania mau hadiri undangan Bara atau tidak terserah Sania. Bara tak mau Sania tertekan jumpa Maya yang sudah banyak bikin masalah.


Sania tersenyum senang Maya sudah menyadari kesalahan mencari kepuasan dari tempat tak tepat. Tempat yang paling nyaman tentu bersama orang yang telah kita kenal luar dalam. Maya mengharap pria romantis, pilihan jatuh pada Bara. Maya tak tahu Bara jauh lebih kaku dari suami Maya. Tak pintar merayu mengarah ke sikap dingin. Bahkan Sania pernah kasih julukan kulkas lima pintu pada lakinya. Untunglah sekarang kebekuan sikap Bara mencair dikit.


"Kita pergi...aku mau ucapkan selamat buat Bu Maya." Sania antusias hendak jumpa Maya sebelum bertolak ke Amerika. Setelah jumpa hari ini ntah kapan bisa jumpa lagi. Jarak Indonesia Amerika bukan satu dua jam. Naik pesawat harus tempuh ribuan mil.


"Baiklah! Kita sholat dan bersiap-siap! Kau tak capek kan?"


"Tidak..." sahut Sania semangat.


"Good...kita pergi!"

__ADS_1


Sania sangat semangat hendak jumpa Maya. Wanita ini sampai lupa sedang hamil anak Bara saking gembira Maya menemukan kebahagiaan. Babak akhir hidup seorang wanita adalah berlabuh di dermaga kokoh yang mampu beri sandaran. Maya telah menemukannya. Semoga Sania segera menyusul melabuhkan bahtera pada dermaga Bara.


Sania berdandan secantik mungkin. Sania mau tampil wah di depan Maya sekedar beri ultimatum Bara sudah memiliki wanita jauh lebih sempurna dari Maya. Aura ibu hamil memancar mempesona setiap kerlingan mata cowok. Sepintas Sania tak mirip ibu hamil, lebih mirip gadis remaja sedang tumbuh mekar menggoda para pejantan.


Bara terpana terpesona oleh kecantikan isteri sendiri. Seorang wanita berpenampilan elegan dalam balutan busana warna putih gading berlengan panjang. Busana Sania cukup sopan walau sedikit ekspos lekuk tubuh tanpa lemak. Perut Sania masih rata belum menonjolkan bukit kecil.


Bara menelan air ludah terpancing gairah ingin menjadikan Sania lawan bertarung di ranjang. Sania terlalu manis untuk dilewatkan.


"Lieve..." panggil Sania buyarkan angan nakal Bara.


Bara tersipu malu ketangkap basah bergairah pada bini mungilnya. Sania halal untuknya namun tetap ada rasa malu mengharap di saat tak tepat.


"Kau sangat cantik tapi apa tak masalah pakaianmu sedikit ketat. Gimana dedek bayi susah bernafas?" Bara cari alasan tak rela orang pelototi tubuh bohay bininya.


"Tak masalah Lieve..tidak terlalu ketat kok! Cuma mungkin aku sedikit gemuk maka tampak ketat. Ayoklah! Aku tak sabar mau jumpa Bu Maya. Aku penasaran dengan tampang suaminya."


"Dia itu profesor. Dosen kami dulu."


"Pasti pintar...dulu aku pernah bercita-cita jadi dosen tapi terlanjur jatuh ke konstruksi. Ya pasrah aja deh!"


"Mungkin itu takdirmu terbaik. Andai kau jadi dosen maka kita tak pernah bertemu. Kau di mana dan aku di sini. Nasib baik pertemukan kita. Kita syukuri saja."


Sania benarkan kata-kata Bara. Semua yang terjadi semua kehendak Yang Kuasa. Tak ada yang bisa lari dari garis nasib yang sudah tertulis sejak kita dilahirkan.


"Kita minta ijin sama papa dan mama dulu sebelum pergi."


"Tentu sayang. Kau bini bijak. Semoga anak kita sepintar dan sebijak kamu."


"Amin..."


Bara pasrah andai Sania berubah temperamen lagi. Sekarang ini Sania normal layak Sania tanpa kendala. Satu jam ke depan ntah perangai model apa muncul dari sosok yang seperti manusia berkepribadian ganda. Sebentar waras sebentar nyusahin. Mood ibu hamil.


Bara dan Sania pamitan pergi penuhi undangan Maya. Pak Jaya dan Bu Jaya tak henti kagum pada kecantikan menantu mereka. Untunglah Fadil tak ada di rumah. Anak itu sedang bertugas ke luar daerah jalankan tugas dari kantor. Kalau Fadil ada pasti muncul sejuta gombalan bikin Bara meloncat tinggi. Bisa-bisa kena hipertensi.


Keduanya naik mobil disetir Bara. Keduanya tampak serasi terpaksa. Umur Bara jauh di atas Sania tetap munculkan gap di mata orang. Sania cantik dan Bara tampan itu cukup daulatkan mereka sebagai pasangan sempurna.


Dalam perjalanan ponsel Bara berbunyi. Bara pasang headset agar tak ganggu dirinya nyetir. Pegang hp waktu nyetir membahayakan pengemudi juga pengguna jalan lain. Rawan kecelakaan.


"Halo...ada apa bro?"


"Ente datang ke undangan Maya?"


"OTW bro...kau datang?"


"Datanglah! Kupinjam karyawan ente untuk tutup malu. Malu dicap jomblo lapuk."


"Siapa?"


"Coba tebak? Yang pasti tak maluin tampil di umum!"


"Sekar?"


"Seratus...ini dia orangnya tersipu malu. Apa gue halalin aja ya!"


"Main halal...sudah sunat belom?"


"Sialan ente...disunat lagi habis tak bersisa. Pakai apa gue manjakan bini gue? Itu senjata andalan gue."


Bara tertawa geli dengar Roy sewot digoda. Tampaknya Roy serius ingin jadikan Sekar sebagai tambatan hati. Biasa Roy kritis terhadap wanita. Roy tak mau terjebak cinta kacau macam dia dan Rudi maka hati-hati jatuhkan pilihan.

__ADS_1


"Dasar ente tak punya ********. Di depan cewek omong tak sopan. Kabur tuh cewek!"


__ADS_2