
Rangga dekati Bara dan Sania untuk bangunkan pasangan suami isteri itu. Suhada sudah melewati operasi cukup besar. Jantung alat vital bagi manusia. Salah sedikit nyawa melayang. Beruntung Suhada ditangani dokter handal. Nyawa Suhada terselamatkan.
Tinggal tunggu masa pemulihan. Tidak sampai di situ nasib Suhada, masih ada beberapa rintangan harus dia hadapi. Kematian Amanda dan nasib Ranti.
"Bara...bangun!" Rangga menggoyang lengan Bara pelan. Dua tiga kali digoncang Bara terbangun pasang wajah ngantuk.
"Mas Rangga? Sudah balik?" Bara bicara pelan takut ganggu Sania yang masih lelap dalam pelukan.
"Sudah...bawa Sania dan Lisa pulang. Operasi sudah berhasil."
Bara naikkan lengan baju lihat jam tangan. Sudah lewat jam dua belas tengah malam. Pantas Sania dan Lisa tidur pulas. Ternyata sudah larut malam. Bara tersenyum senang bisa peluk bini walau tidur tanpa kasur. Inilah nikmatnya saling mencintai.
"Papa di mana?"
"Masih dalam ruang operasi. Sebentar lagi akan didorong ke ruang perawatan. Kau ajak nona nona ini pulang. Biar kujaga papa."
"Tanya dulu yang bersangkutan. Kayak tak kenal adik sendiri saja. Batu karang lewat. Masih kalah keras."
Rangga maklumi perasaan Bara yang setiap hari harus dihadapkan sifat keras Sania. Adiknya itu terlalu keras disiplinkan diri. Bilang A tetap A. Tidak ada lanjutan. Rangga sendiri kewalahan bila harus adu mulut dengan Sania. Sania selalu benar. Itu kuncinya.
"Bangunkan dia! Tak baik dia lama di sini. Dia sedang hamil."
"Aku tahu tapi siapa sanggup lawan argumentasinya. Kita tunggu keputusannya."
"Iyalah! Kubangunkan Lisa dulu." Rangga balik badan melangkah ke arah kekasihnya. Lisa masih mendengkur saking nikmat tidur di rumah sakit. Terlalu lelah atau mimpi terlalu indah sampai tak rela bangun."Lis...bangun!"
Suara lembut Rangga mencongkel netra Lisa segera terbuka. Suara yang tersimpan dalam relung hati selalu sedap di kuping. Sekali Rangga bersuara mata Lisa terbuka.
"Mas..." Lisa tersipu malu ketahuan tidur dengan mulut mangap. Rangga tak persoalkan itu malah beri senyum hangat.
"Papa sudah selesai operasi. Kau pulang bersama Bara dan Sania. Mas yang jaga papa." ujar Rangga selembut salju. Suara itu bikin Lisa makin tak rela jauh. Maunya suara itu selalu berdengung di telinga.
"Lisa temani Mas saja!"
"Jangan! Nanti bapak ibu cemas. Mas bisa kok sendiri."
"Cemas apa? Ini rumah sakit. Memangnya kita bisa apa di sini? Mas saja yang pikiran negatif!" rengut Lisa tak senang dicurigai.
"Bukan itu Lis! Besok kau harus ke kantor. Mas tak bisa tinggalkan papa sendirian maka kau harus tangani masalah di kantor."
"Besok begitu terang Lisa pulang. Lisa pasti bisa. Lisa tak tenang biarkan mas sendirian di sini."
"Takut ditikung perawat sini ya!" olok Bara ikut nimbrung.
"Isshhh...ngak gitu kali. Mas Rangga belum istirahat dari pagi. Lisa di sini bisa gantian merawat papa." Lisa malu disidang Bara. Lisa tahu Bara hanya berniat menggodanya. Tapi siapa tahu godaan ada kebenaran. Rangga ganteng putih bersih mirip oppa Korea wajar digandrungi.
"Yakin kau mau temani mas?" Rangga tanya sekali niat Lisa temani dia di rumah sakit. Jujurnya Rangga senang ada penyemangat namun Rangga juga tak bisa abaikan kesehatan gadis pujaan.
Lisa angguk cepat tanpa pikir dua kali. Melebihi gerakan kereta api super cepat. Rangga menyerah tak ingin buat Lisa kecewa dengan niat baiknya. Rangga tak berkata apa-apa lagi. Kini tujuan Rangga pada Sania pula.
__ADS_1
Ibu hamil itu harus banyak istirahat. Tidur seperti kucing meringkuk dalam pelukan majikan bukan tidur nyaman.
"Bara...bawa adikku pulang! Aku ada bersama Lisa."
Bara setuju dengan ide Rangga. Membawa Sania pulang adalah pilihan terbaik. Dengan gerakan lembut Bara mengelus pipi Sania agar tersadar dari mimpi. Bara hati-hati agar Sania tidak kaget.
"Sayang...bangun!"
Suara lembut Bara menyadarkan Sania. Sania menggeliat rentangkan tangan bebaskan tubuh dari rasa kaku. Tidur tak nyaman tapi nyenyak. Apa karena berada dalam pelukan suami tercinta? Berada di tangan tepat yang pahit jadi manis.
"Papa..." seru Sania begitu tersadar berada di rumah sakit. Matanya tajam mengarah pada ruang operasi. Lampu tanda operasi sedang berjalan sudah padam ganti lampu hijau. Artinya operasi telah usai.
Mata Sania mengarah pada Rangga yang tersenyum melihat adiknya masih linglung baru sadar dari alam mimpi. Senyum Rangga melegakan Sania yang panik tadi.
"Duh yang sayang papa!!! Kata orang tak kenal maka tak sayang. Sekali kenal sayang sampai ke ulu hati. Papa sudah aman. Lagi diurus untuk dibawa ke ruang rawat." Rangga menjelaskan salut pada kebaikan Sania. Dulu Sania paling benci Suhada. Sebut nama itu saja Sania ogah. Kini malah menyimpan papa dalam hati.
"Oh syukurlah!" Sania menarik nafas lega.
"Kita pulang ya! Kamu harus istirahat. Kasihan trio kwek-kwek kita tak tidur nyaman." Bara berkata dari samping. Sania menoleh ke arah Bara dengan tatapan tajam. Jelas sekali Sania tak suka diajak pulang. Kondisi Suhada belum pasti bagaimana Sania bisa pergi dengan hati lapang.
"Bara benar dek! Rumah sakit bukan tempat cocok untuk ibu hamil. Di sini ada jutaan bibit penyakit apalagi sedang marak penyakit covid. Mas dan Lisa akan tungguin papa. Kami akan kasih kabar secepat mungkin." Rangga perkuat ide Bara bawa Sania pulang.
Sania tak menampik kebenaran kata-kata Rangga dan Bara. Dia tak seperti Lisa yang bebas lakukan gerakan apapun. Sania terkungkung oleh kehamilan. Kalau Sania tak hamil gerakan wanita ini pasti lebih lincah. Tak ada yang bisa halangi Sania meloncat sana sini.
"Baiklah! Tapi janji kalau papa sudah sadar segera telepon aku." Sania mengalah tak ingin berdebat di tengah malam buta. Semua otaknya masih belum cas. Berdebat malah bikin otak makin panas. Sania juga butuh istirahat penuh.
Tempat tidur tetap tempat tepat untuk rebahkan badan. Sania bangkit dibantu Bara. Bara takut Sania masih belum sepenuhnya kembali ke alam nyata setelah tidur ayam tadi.
"Kalian juga hati-hati. Assalamualaikum..." Rangga juga beri nasehat agar Bara awas jaga Sania.
"Waalaikumsalam..." sahut Bara dan Sania barengan. Pasangan suami isteri itu mantap melangkah tinggalkan rumah sakit.
Malam sudah merangkak jauh. Sebentar lagi fajar akan bergenit perlihatkan cahaya keemasan yang dinanti jutaan umat manusia. Begitu sang Surya perlihatkan terang maka di situlah mulai terjadi denyut kehidupan. Orang berlomba-lomba kejar waktu lakukan aktifitas rutin cari nafkah. Yang malas makin tertinggal tunggu matahari tenggelam seperti hidupnya akan tenggelam.
Rangga merasa lega melihat adiknya patuh bersedia kerja sama pulang ke rumahnya. Kini tinggal dia dan Lisa. Lisa agak grogi ditinggal berduaan dengan bos sekaligus kekasih.
Biasa mereka berdua selalu bahas masalah kerja. Jarang saling curah isi hati, apa lagi sifat Rangga yang kaku kayak kayu mati. Tak ada romantisnya sama cewek sendiri. Datar seolah tak butuh wanita. Padahal Rangga orangnya paling rapuh. Masih tegar Lisa dalam berbisnis. Tanpa Lisa dampingi Rangga tak mungkin melangkah sejauh ini.
"Lis...ayok duduk!" Rangga duduk sambil menepuk bangku besi bersandar di dinding rumah sakit.
"Iya mas! Untung Sania mau pulang. Tadi aku kuatir dia bakal nolak." ujar Lisa sambil tempatkan bokong di samping Rangga.
Rangga mangut, "Sania terlalu keras pada diri sendiri. Dasar hatinya lembut tapi dia tutupi dengan kekerasan palsu. Contoh setelah jumpa papaku dia yang paling kuatir. Kita tahu dia hidup di atas dendam pada papa. Syukurlah semua berakhir! Oya...Amanda telah meninggal!"
Lisa mendekap mulut tak percaya kabar mendadak ini. Amanda wanita berhati hitam meninggal secara tiba-tiba. Apa penyebab wanita itu mati tanpa riwayat penyakit.
"Kok bisa?"
"Dia dipukul sesama napi di penjara. Mungkin dia pikir dia masih ratu sok berkuasa. Hancur seluruh organ tubuh. Jenazahnya masih di rumah sakit umum. Tunggu kita makamkan dia!" ujar Rangga bingung.
__ADS_1
"Ranti sudah tahu?"
"Ntahlah! Aku belum sempat ke sana. Banyak kejadian datang bertubi-tubi. Aku tak tak tahu harus mulai dari mana?" Rangga menyisir rambut pakai tangan tunjukkan kebingungan kelas Wahid. Suhada masih belum sadar, lalu rencana penculikan Suhada dan terakhir Amanda meninggal.
Sebenci Rangga pada Amanda tetap keluarga. Sebagai sesama muslim Rangga wajib laksanakan tugas kuburkan Amanda dengan layak. Wanita itu sudah terima karma. Semoga diampuni segala dosanya.
"Apa rencana mas?" Lisa iba melihat Rangga berantakan diserang masalah keluarga yang sangat pelik. Sampai kapan kisah ini akan tamat.
"Tunggu papa dibawa ke ruang rawat. Kamu tungguin papa dan aku pergi urus Amanda. Kau bersedia?"
Lisa mengangguk tanpa syarat. Gadis ini beranikan diri menyentuh tangan Rangga. Hal ini tak pernah dia lakukan walau sudah jadi kekasih Rangga. Rangga yang kadang menggandengnya secara tak sadar. Tak ada yang lebih. Akhlak Rangga patut dapat acung jempol.
"Aku siap mas!" Lisa melirik tangganya yang berada di atas tangan Rangga. Tak ada reaksi laki itu membalas sentuhan Lisa. Tetap kaku kayak batang kayu.
Di luar dugaan Rangga menarik tangannya lalu memeluk Lisa pakai tangan kiri agar gadis ini merapat ke badannya. Lisa menatap Rangga tak percaya Rangga seberani ini bikin jantungnya berpacu dengan kencang. Degup jantung Lisa maraton melebihi batas kapasitas biasa.
Rangga membalas tatapan Lisa dengan senyum tipis. Rangga sudah buktikan dia lelaki normal suka kulit mulus. Bukan jeruk makan jeruk.
"Tidurlah!" ujar Rangga lembut menekan kepala Lisa menyatu dengan dadanya.
Lisa mendengar dengan jelas detak jantung Rangga. Sedikit lebih kencang dari ukuran orang normal. Ternyata tak cuma Lisa grogi. Laki ganteng di depannya juga grogi. Sama-sama tak pengalaman bercinta. Lisa masih lumayan pernah pacaran satu kali walau berakhir sad ending. Putus tanpa kabar. Pacarnya kabur ntah ke mana tanpa berita sampai kini.
Lisa sedih dalam satu dekade. Tapi bisa move on karena cinta belum tertanam permanen. Kisah cinta tak mulus berakhir gitu saja. Rangga total belum pernah pacaran walau cewek antrian ingin jadi kekasih laki itu. Rangga tak bisa buka hati sebelum jumpa adiknya. Hati Rangga hanya ada satu tekad cari adiknya yakni Santi alias Sania.
Tuhan Maha Pemurah pertemukan mereka walau dalam kondisi kacau. Berkat bantuan Allah setapak demi setapak mereka lalui hingga hari ini.
Kicauan burung tetangga kembali manjakan kuping Sania. Sania memejamkan mata meresapi kicauan yang mengantar dia seakan berada di alam bebas. Bersatu dengan alam tanpa keruwetan kota.
Rasanya ogah buka mata untuk hadapi kenyataan melihat aneka masalah. Lama Sania berdiam diri menikmati kebebasan semu yang ditimbulkan efek kicauan burung.
Hampir setengah jam Sania berdiam diri pura-pura berada di alam hutan. Semua bayangan semu tentang Al bebas dipenuhi pepohonan besar bonus kicauan burung bermain di angan Sania. Wanita ini tetap harus bangun hadapi realita hidup.
Perlahan netra Sania terbuka sempurna. Yang pertama dicarinya adalah sesosok laki yang jadi pelindung dalam beberapa waktu ini. Sayang tempat tidur di sampingnya telah kosong.
Orang yang dia harap akan beri ucapan selamat pagi tak ada di sisi. Sania kecewa tak dapat pelukan hangat dari Bara. Satu pelukan cukup buat semangat Sania menyala berperang dengan pekerjaan dan persoalan keluarga.
Dari pada iba hati terusan Sania bangkit menuju ke kamar mandi. Sebelumnya Sania berkaca di meja rias lihat wajah lesunya. Bayangan wanita cantik dengan pipi mulai tembem tercetak di layar kaca. Sania menyentuh pipinya yang mulai melebar gara tiap hari makan makanan bergizi untuk pertumbuhan janinnya. Efeknya luar biasa, Sania ikut tumbuh subur menimbun lemak.
Sania menghela nafas. Ini akibat hamil. Andai Sania tahan makan demi tampil cantik ini membahayakan kesehatan janin di perut. Sania harus rasional mementingkan kesehatan anak. Setelah melahirkan Sania akan kembali hidup sehat tanpa lemak.
Dengan sisa dikit tenaga Sania masuk ke kamar mandi lakukan ritual bersih-bersih. Badan terasa lebih segar mandi di bawah guyuran shower air hangat. Pegal-pegal bekas tidur semalam terbayar kontan tanpa biaya.
Seusai mandi Sania ke akan setelan rok model depan dan kemeja lengan pendek. Sania sengaja memakai pakaian berbahan katun untuk menyerap keringat. Sejak hamil keringat Sania mengalir keluar dari pori lebih banyak dari biasanya.
Untunglah Sania tak memiliki riwayat bau badan menyengat hidung. Bau Sania tetap harum bercampur sedikit asam. Bara paling suka mengendus bau alami Sania. Hormon produksi ibu hamil merangsang penciuman sang papa lebih peka. Semua yang berbau Sania disukai Bara.
Pakaian Sania menyempit cetak bentuk badan mulai berisi itu. Pinggang Sania melebar tak bisa dikancing roknya. Dari depan tampak tonjolan membentuk bukit kecil merusak pemandangan. Perut yang biasa rata rapi raib ntah ke mana. Pinggang mungil kecil kebanggaan hilang diganti bukit berisi janin.
Sania menarik nafas putus asa. Jadi ibu hamil sungguh ribet. Dari pakaian saja sudah bikin pusing apa lagi yang lain. Sania mau tahu kesulitan apa lagi bakal dibawa ibu hamil.
__ADS_1
Sania terpaksa batalkan pakaian pilihan pertama. Sangat merusak pemandangan. Sania tak bisa umbar rasa ego mau menang sendiri menyakiti janin-janin tak berdosa.