
Sania tak kalah sabar walau ada rasa sedikit ilfil pada Zainal. Zainal terlalu bangga pada kekayaan pikir bisa jebak orang dalam kekuasaannya. Sania bukan gadis matre langsung mata ijo lihat duit.
Cuma sekarang Sania mesti letakkan rasa kesal di seberang lautan. Sejauh mungkin agar Bara bisa dapat proyek Zainal. Cari proyek bukan gampang di jaman ini. Di mana mana bertaburan para kontraktor siap tampung proyek besar kecil. Sania tak boleh puaskan ego pribadi hancurkan karier Bara.
"Zai...kami akan datang besok. Sekilas kita sudah paham lokasi tanah ini. Setelah dapat denah darimu kita akan tindak lanjuti semua permintaanmu." Bara sudah tak sabar ingin cepat bawa Sania jauh dari tatapan kagum Zainal. Si bundar sudah punya anak bini tapi mata masih doyan ngelaba. Dasar bankir berotak kambing bandot.
"Kau tenang Bar.. Besok akan kujemput nona berbakat ini. Mungkin ada beberapa bangunan bisa kami bahas. Aku juga ada rencana buka cabang di kota lain. Mungkin nona cantik ini bisa handle."
"Tentu bisa. Dia ada di bawah naunganku. Setiap gerak geriknya harus ada laporan padaku." ucap Bara buat Zainal naikkan alis.
Apa arti kata kata Bara kalau setiap gerakan Sania harus lapor padanya. Bara kontrol seluruh hidup anak buahnya itu? Mana ada bos urus setiap gerak gerik anak buah.Di mana ruang pribadi Sania?
"Bos kejam...kasihan nona Sania bekerja di bawah tekanan. Di tempatku juga ada lowongan untuk orang pintar macam nona cantik ini."
"Aduh Zai...jangan rebut pegawai andalanku! Dia cuma bisa rancang bangunan. Tak pandai hitung duit." kata Bara sambil bergurau.
Zainal ikut tertawa seraya beri lirikan genit pada Sania. Sania pura pura tak lihat untuk hindari masalah ke depan. Sania tak boleh kasih point dari awal agar Zainal tahu Sania adalah pegawai profesional, bukan pegawai bisa dirayu pakai uang.
"Ok..ok...kita jumpa besok! Aku ada meeting tak jauh dari sini. Gimana kalau kita makan siang bersama nanti?" tawar Zainal masih ingin tebar pesona seorang bankir tajir.
"Maaf Zai...kami masih ada kerja lain. Lain kali kita pasti makan bersama. Aku yang traktir. Oya terima kasih sudah percayakan proyek buatku."
Zainal menepuk bahu Bara yang jauh ke atas dari sentuhan si bankir. Zainal bulat pendek sedang Bara tinggi kokoh. Kalau dipadukan seperti angka sepuluh.
"Kutunggu traktirannya. Aku percaya pada kinerja mu. Kau profesional. Oya salam untuk binimu. Semoga dia cepat pulih."
"Terima kasih bro. Yok kita pergi!" ajak Bara melangkah ke tempat parkir mobilnya. Sania ikut dari belakang seperti anak itik ikut induk.
Zainal menatap punggung Sania berjalan menjauhi tempat dia berdiri. Zainal tertarik pada gadis muda penuh bakat seperti Sania. Bukan wanita glamor yang hanya pintar minta kartu sakti tanpa limit. Puluhan wanita hilir mudik di hidup Zainal. Rata rata ingin manfaatkan kekayaan Zainal cari hidup nyaman.
Yang berbakat cuma bisa dihitung pakai jari. Tidak seberapa. Isteri Zainal tak open keadaan asal Zainal ada pulang bawa permintaannya itu sudah cukup. Zainal mau berbuat apa di luar dia tak peduli. Resiko punya suami kaya memang gitu.
Mobil Bara bergerak meninggalkan lokasi disusul mobil Zainal yang super mewah. Beriringan kedua mobil keluar dari lahan kosong bakal jadi lahan berguna.
Di dalam mobil Sania segera ambil tisu basah untuk bersihkan lumpur di sepatunya. Alas kaki mobil Bara penuh bercak lumpur dari sepatu keduanya. Sania merasa jijik lihat bercak kuning kehitaman lengket di alas kaki mobil dan sepatunya.
Wanita tetap wanita yang resah akan kotoran. Terlihat jelas Sania resah lumpur di bawah sepatu. Bara tahu isterinya bingung kotor begini harus melanjutkan tugas tinjau lokasi lain. Sebagai bos bisa saja Bara abaikan perasaan Sania karena tugas Sania adalah kerja bukan penampilan. Di sisi lain Bara selaku suami tak tega lihat wajah cantik di sampingnya mendung tebal.
Sania pasti takkan minta tolong pada Bara lakukan sesuatu. Bara mulai tahu sifat angkuh Sania jarang mau keluarkan kata tolong.
Rasa tanggung jawab Bara selaku suami mengusik sanubari Bara. Laki ini mengarahkan mobil ke toko sepatu di pinggir jalan. Toko itu bukan toko sepatu bermerek. Bara rasa Sania takkan masalah dibawa beli sepatu sederhana. Keseharian Sania juga tak berpenampilan mewah. Sania termasuk gadis sederhana tak pamer barang mahal. Bahkan terlalu sederhana. Pakaian juga tak heboh.
Mobil berhenti persis di depan toko sepatu. Sania lemparkan pandangan penuh tanda tanya mengapa lakinya hentikan mobil di toko sepatu. Apa ada yang mau dibeli laki ini? Sejujurnya Sania tak begitu mengenal karakter Bara sesungguhnya. Yang dia tahu Bara sangat sayang pada keluarganya juga selalu dingin. Panas kalau terpancing emosi saja.
__ADS_1
"No sepatu?" tanya Bara menanti reaksi Sania dibawa ke toko sepatu. Sania masih belum ngerti sekali keinginan Bara tampak melongo ditanya no sepatu.
"Maksud bapak?"
"Beli sepatu baru."
Sania melirik sepatunya yang kotor walau sudah bersih sedikit berkat usapan tisu basah. Tapi belum sampai tahap harus ganti sepatu baru. Dilap sedikit lagi juga akan bersih. Sania kira Bara tak perlu buang uang hanya untuk sepasang sepatu.
"Belum perlu pak. Kita cari tempat untuk cuci sedikit saja. Kita buru waktu. Sebentar lagi sudah zhuhur." Sania menolak secara halus. Dalam hati Sania memuji kepekaan Bara sebagai suami siaga. Pantas Nania bisa bertahan walau kanker sudah capai stadium akhir. Rasa cinta Bara yang membuat Nania bisa bertahan hidup.
"Tapi sepatumu sangat kotor." Bara ngotot hendak menyenangkan Sania walau hanya sekedar perhatian kecil. Wanita akan nyaman bila diberi perhatian walau sekecil apapun. Itu sudah wakili kesungguhan pasangan hidup.
"Terima kasih pak! Aku belum perlu sepatu baru. Ayo kita cari tempat untuk bersihkan saja!" ucap Sania tulus dan lembut. Mungkin inilah kalimat Sania buat Bara yang benar keluar dari hati kecil. Sania tersentuh oleh perhatian Bara. Ada rasa kagum mengalir dalam dada. Di balik sikap dingin Bara ternyata ada percikan kasih sayang hangat.
Bara mengangguk melihat Sania bersikeras tak mau dibelikan sepatu baru. Sania memberi senyum tulus pada Bara agar jalankan mobil ke tempat di mana tugas masih menanti.
Bara senang bukan main dapat hadiah senyum tulus dari sang bini yang galaknya minta ampun. Mulut setajam mata pisau silet. Tak urung hati Bara terasa damai. Nania telah mengantar seorang gadis sempurna buat Bara.
Keduanya berdiam diri sampai Bara hentikan mobil di satu tanah kosong kering di tengah kota. Lahannya tak terlalu luas untuk bangunan rumah sakit. Mungkin lebih tepat disebut klinik. Lahan tak sampai seratus meter bagaimana mau dibangun rumah sakit lengkap. Kecuali dibangun bertingkat tingkat.
Mata tajam Sania masih pelajari kondisi tanah juga letak yang tak menguntungkan untuk jadi pusat pengobatan orang sakit.
Bara biarkan Sania puaskan mata supaya bisa keluar inspirasi anak gadisnya. Kini Bara sadar bahwa bininya memang perancang jempolan. Bukan dapat proyek andalkan tampang. Murni dari otak licinnya.
"Pak...kurasa masalah tanah tak masalah. Memang dasarnya keras cuma letak tanah tak strategis. Andai tanah ini ditukar sama tanah Pak Zainal akan makin sempurna. Bank di tengah kota sedang rumah sakit agak ke pinggiran. Suasana lebih tenang untuk orang sakit." Sania keluarkan pendapat setelah edarkan seluruh pandangan ke setiap sudut lahan tanah.
"Saranmu?" tanya Bara
"Bapak ajak bicara pemilik lahan ini dan Pak Zainal. Minta mereka tukar tanah agar hasil maksimal." Sania keluarkan pendapat terakhir.
Bara bengong Sania bisa berpikir sejauh ini. Ide Sania tidak buruk. Mungkin harus dicoba. Keduanya akan dapat keuntungan masing masing. Pak Zainal akan dapat tempat di pusat kota untuk bangun banknya dan Dr. Cipto akan dapat lahan strategis untuk bangun rumah sakit lebih komplit.
Bara ingin sekali memeluk Sania atas ide cemerlangnya. Betul betul gadis pintar. Bobby sudah buta mata hati lepaskan sebongkah berlian langka. Apa Bobby tak menyesal tinggalkan Sania untuk seorang bintang yang milik umum.
"Kita balik kantor dulu. Kita akan bahas di kantor. Matahari sudah tinggi." Bara kasihan juga lihat bini kecilnya mulai kegerahan. Hebatnya tak ada sepatah kata mengeluh dari bibir mungil itu. Pekerja profesional bisa diajak untuk segala medan tersulit sekalipun.
Sania tak berkomentar selain ngekor langkah Bara masuk ke dalam mobil. Rasa adem belum didapatkan karena dalam mobil juga panas. Uap panas cukup menggigit kulit. Bara segera hidupkan AC setelan terdingin. Rona merah di pipi mulus Sania bertanda gadisnya sedang kepanasan.
Ingin sekali Bara mengelus pipi ranum Sania. Namun Bara yakin belum tangannya sampai di pipi itu pasti sudah kena tembakkan bazoka dari mulut tajam Sania.
Bara menahan nafas gregetan lihat pipi berona merah itu. Jiwa kelakian Bara berontak mau rasakan mulusnya kulit wajah sang bini kecil. Andai Sania berbaik hati ijinkan sang suami menyentuh wajahnya mungkin Bara akan terbang ke awang awang. Bangga punya bini bernilai plus.
Sania tak sadar kalau kelakuan dia yang sederhana telah mengusik ketenangan jiwa sang suami yang telah hidup gersang bertahun tahun.
__ADS_1
Bara bukan penjahat kelamin yang tega memaksa kehendak pada Sania. Bara mau Sania datang padanya secara suka rela. Mengakui Bara sebagai suami yang berhak atas dirinya.
Mereka kembali ke kantor tanpa banyak kendala berarti. Sania segera masuk kamar mandi untuk cuci muka dan bersihkan sepatu yang kena lumpur. Tugas selanjutnya tinggal tunggu arahan Bara. Mau nego sama kedua pemilik lahan untuk tukar tanah atau lanjutkan pembangunan. Apapun hasilnya Sania tetap akan beri yang terbaik untuk nama baik kantornya.
Dea tak sabar menanti kehadiran Sania. Jiwa kepo Dea berontak minta dipuaskan oleh rahasia terselubung antara Bara dan Sania.
Sania tahu Dea tak sabaran mau dengar ceritanya mengapa bisa terlibat dalam hidup bosnya. Siapapun akan penasaran karena Bara jarang bahas soal wanita walau ular ular genit datang menggoda. Kini laki itu secara terangan mengaku Sania isterinya. Bukankah berita spektakuler?
Sania kering wajah pakai tisu perlihatkan wajah asli tanpa bedak. Dea perhatikan tak banyak perubahan Sania berbedak dan Sania baru cuci muka. Nyaris sama.
"Ssssttt...gimana hasil survey?" bisik Dea mendorong kursi dekat Sania.
"Aman cuma mungkin ada dikit perubahan. Pak Bara akan bicarakan dengan pemilik lahan dulu. Kita makan siang bersama ya!" ajak Sania aga Dea tak kepo saat kerja. Sania duluan ajak agar si Batak tahu Sania tak mau bahas masalahnya di kantor.
Dea beri tanda ok dengan hati puas. Sania paham benar kehendak Dea bongkar rahasia antara pegawai dan bos besar.
Sania kembali kerja sambil tunggu waktu makan siang. Seluruh konsentrasi Sania curahkan pada tugas. Waktu tender PT SHINY makin dekat. Sania harus buat persiapan lebih matang agar bisa menangkan tender bonafide itu.
Sania tersenyum bangga pada diri sendiri telah rampungkan semua berkas PT SHINY. Tinggal menuju ke hari H.
Perut Sania berbunyi kriuk seperti alarm ingatkan pemilik perut untuk bijak kasih jatah makan siang pada organ vital penunjang kehidupan makhluk hidup.
Perut Dea berbunyi lebih keras lagi sesuai porsi badan yang lebih bongsor. Dea mencolek Sania beri kode sambil menunjuk perut. Sania mangut tanda setuju cari makan siang. Dea bukan lapar perut tapi lapar akan berita Sania dan Bara.
"Kita come on!" bisik Dea tak sabaran.
Sania menoleh ke ruang Bara cari tahu apa laki itu sedang sibuk atau sedang melamun. Bara memang tampan berkharisma. Andai para wanita tergila padanya itu bukan salah para wanita. Bara pantas digilai. Dia punya sesuatu bisa dijadikan modal jerat para wanita.
"Tunggu...aku tanya bos mau makan apa?" Sania langsung menuju ke ruang Bara. Tangan mungil Sania mengetok pintu kaca sebagai tanda hargai sopan santun.
Bara mendongak melihat siapa ganggu konsentrasi kerjanya. Tentu saja bini kecil yang mulai mengusik pikiran Bara. Bara beri kode masuk.
Sania masuk sebagai bawahan sopan terhadap atasan. Sania santun berdiri di depan Bara menurunkan tangan di samping dalam posisi istirahat ditempat tanpa lebarkan kaki.
"Ada apa?" tanya Bara datar.
Sania merutuk dalam hati. Manusia apa di depan ini. Tadi sudah ada rasa kemanusiaan kini mulai pasang sikap kaku lagi. Mood bisa berubah sesuka hati tanpa sebab jelas. Apa salahnya lagi?
"Cuma mau tanya apa bapak mau titip makan siang?"
"Oh...nasi padang jangan terlalu pedas!"
"Ok..minum? Kopi atau teh?"
__ADS_1
"Tidak..cukup air mineral. Kau mau pulang ke rumah malam ini? Nania asyik tanya kamu. Dia tak mau mandi tanpa kamu. Makan juga malas."
Sania termenung ingat Nania. Wanita itu sangat bergantung pada Sania sejak dia menjabat sebagai madunya. Apa Nania tak cemburu ada saingan dalam rumah?