
Tak pernah terbayang oleh Suhada anaknya akan alami kepahitan ini. Merebut calon suami orang demi nama besar dan terakhir harus menelan pil pahit dikhianati. Bobby terang-terangan akan menikahi mantan pacar walau hanya untuk proyek. Tepatnya demi harta.
Amanda menangis sedih tak sangka kejayaan mereka telah berakhir. Keangkuhan selama bertahun runtuh seketika. Namun Amanda tak berpikir dari mana kemegahan selama lima belas tahun ini?
Semua hasil kejahatan dan kelicikan yang dia rancang menyebabkan dua anak jadi piatu. Mama Sania dan mama Ara jadi korban ketamakan Amanda dan Suhada. Sudah saatnya mereka bayar kejahatan mereka sendiri.
"Kita tunggu rapat dewan direksi akhir bulan ini. Siapa yang tampil bawa saham terbesar. Paling tidak kita masih punya dua puluh lima persen." ujar Suhada di tengah putus asa. Suhada tak punya pilihan lain selain menunggu pemilik saham terbanyak muncul di perusahaan. Semoga orang itu bisa diajak kerja sama tanggulangi kerugian pihak investor.
"Ranti bagaimana? Dia dan obby harus keluar dari rumah itu dalam minggu ini bila tak sanggup beli rumah tersebut." rengek Amanda masih memikirkan nasib anaknya.
"Kita saja tak mampu selamatkan diri bagaimana bisa bantu anti. Biarlah semua ini jadi PR Bobby! Andai Ranti tak ngotot menikah dengan Bobby kita tak mungkin terpuruk sampai begini."
"Apa hubungan dengan Ranti? Kita yang alah menipu investor kenapa Ranti disalahkan?" teriak Amanda kesal Suhada bawa nama Ranti dalam kehancuran perusahaan.
"Ini karma kita telah menyakiti hati anak orang. Kita tak jaga perasaan anak gadis orang. Anak itu begitu tekun bantu Bobby akhirnya tersepak gara keegoisan kita." ucap Suhada tak terpengaruh amarah Amanda.
"Itu urusan Bobby. Anak itu hanya pegawai kecil. Bermimpi jadi nyonya besar. Mimpi kelewat tinggi."
"Mimpi atau tidak toh dia sudah menang. Tak perlu terjebak dalam permainan Bobby. Kini aku baru sadar kalau kesalahanku cukup banyak. Anak-anakku yang lain ntah di mana? Erlangga, Santi dan Agra. Ini karma bagiku. Terakhir aku apapun tak punya." keluh Suhada mengenang anak-anaknya yang lain.
"Mungkin sudah mati. Untuk apa urus anak tak berguna. Sekarang cari jalan selesaikan masalah kita. Aku akan cari janda kaya untukmu. Kau harus nikahi dia."
"Lalu kau bunuh lagi?" tanya Suhada dengan mata merah. Suhada sudah terlalu lama ikuti semua rencana jahat Amanda. Suhada tak sanggup lagi menyakiti orang lain. Tangannya sudah berlumuran dosa. Jangan ada darah lagi mengalir di sela tangannya.
"Tambah sekali apa salah? Toh kita sudah terlanjur salah. Sebaik apapun kita tetap berdosa."
"Dasar perempuan gila." rutuk Suhada tak mau dengar ocehan penuh dosa Amanda. Suhada bangkit dari kursi berjalan keluar kantor mencari ketenangan di tempat lain. Makin berdebat sama Amanda yang muncul hanya ide gila.
Amanda jengkel ditinggal tanpa keputusan oleh Suhada. Wanita ini marah tak ada jalan keluar bagi mereka. Penjara sedang menanti dan kehilangan perusahaan. Belum lagi masalah Ranti. Kepala Amanda serasa mau pecah.
Amanda membanting asbak rokok di meja hingga hancur berkeping. Marah, kesal, jengkel, benci berbaur satu dalam hati wanita culas ini.
Di rumah sakit Rudi kedatangan keluarga yang nyaris hilang dari ingatan. Papa, mama, abang dan kakak ipar Rudi datang melihat kondisi Kintan yang baru siap dioperasi.
Puji sukur kondisi KIntan stabil dan operasi berjalan sukses. Kini Kintan bisa hidup normal seperti anak lain tak perlu bergantung pada selang oksigen.
Sampai Kintan siap operasi Arsy tak muncul di rumah sakit lihat keadaan anaknya. Untunglah keluarga Rudi mau datang jadi penyanggah semangat Rudi.
Papa Rudi memeluk anaknya penuh kerinduan. Begitu juga sang mama. Sebesar apapun salah anak sebesar itu juga kata maaf dari orang tua.
Rudi menangis dalam pelukan sang mama. Rasa rindu pada sang mama meledak saat tubuhnya merengkuh tubuh kecil sang mama. Mama Rudi ikut nangis terharu bisa jumpa Rudi walau dalam suasana tak bagus.
"Rudi salah ma..Rudi salah ma!"
'Kami semua sudah maafkan kamu! Kamu selama ini di mana? Kami mencarimu tapi tak ketemu. Kau sembunyi dimana?"
"Rudi malu jumpa kalian bekerja serabutan cari sesuap nasi. Nama Rudi juga terlanjur jelek. Perusahaan mana berani rekrut Rudi."
"Sudah..sudah..kau bisa balik kerja di kantor papa. Abangmu sudah maafkan kamu. Ya kan Bud?" Sang mama menatap Budi abang Rudi.
Budi mengangguk iyakan kata kata sang mama.
"Rudi sudah dapat kerja di kantor Bara. Biarlah Rudi usaha dulu di tempat Bara. Rudi cuma mau titip Kintan karena Arsy sudah tak peduli pada Kintan."
"Bara? Apa dia tak marah padamu?" tanya Budi surprise dua musuh buyutan bisa kerja sama.
"Bara sudah lupakan masa lalu! Isterinya juga baru meninggal kemarin. Harusnya keluarga kita datang ke rumahnya."
__ADS_1
"Baiklah! Kita ke sana nanti malam. Omong-omong aku mau lihat Kintan. Dia tentu sudah besar ya!" ujar mama Rudi bersinar ingat cucu pertama mereka. Budi dan isterinya belum dikaruniakan anak maka anak Rudi jadi cucu pertama.
"Kintan sudah dibawa ke ruang perawatan. Tinggal tunggu siuman. Ayo kita lihat dia!"
Rudi mengajak keluarganya menjenguk Kintan yang masih belum sadar dari obat bius. Kintan ditempatkan di kamar kelas dua mengingat keuangan Rudi tak memadai. Seharusnya Kintan dirawat di ruang kelas satu mengingat kondisi jantungnya yang belum bisa kena goncangan berat.
Mama Rudi terpesona melihat sosok manis terbaring di atas brankas rumah sakit. Badan Kintan kurus dan pucat. Berapa berat cobaan yang diberi Yang Maha Kuasa pada anak sekecil ini. Semoga cobaan ini seger berakhir.
Isteri Budi tak dapat tahan rasa haru melihat tubuh seringkih itu harus menanggung beban penyakit berat. Ingin rasanya Karen memeluk tubuh mungil itu. Memberi rasa hangat seorang ibu.
"Dia cantik..Cucu mama cantik. Mulai saat ini kita yang akan rawat dia. Jangan biarkan wanita jahat itu dekati Kintan lagi!"
"Rudi akan segera urus hak asuh Kintan. Arsy tak mau Kintan lagi."
"Bagus...Papa akan urus semuanya untukmu! Saatnya kau tata hidupmu Rudi! Lupakan masa lalu kelam! Pindahkan cucu opa ke kamar VIP! Papa yang akan bayar semua biaya rumah sakit." Papa Rudi tak kalah bahagia akhirnya bisa bawa pulang cucu kandungnya.
"Tidak usah pa! Rudi sudah bayar biaya operasi Kintan. Tinggal pemulihan saja."
"Bagus tapi tetap harus di kamar kelas VIP. Ayo Bud kau urus Kintan pindah kamar!"
"Baiklah! Kintan juga anakku. Mulai sekarang Kintan akan punya keluarga komplit." janji Budi mengharap bisa merawat Kintan agar Karen punya teman.
"Papa setuju. Karen bisa rawat Kintan selama Rudi pergi kerja. Kau bersedia Karen?" tanya Papa Rudi dengan mata berbinar Budi punya rencana sendiri untuk Kintan.
"Karen mau.. biar Kintan bersama kami. Aku pasti akan jaga gadis kecil ini. Aku mau jadi mamanya." kata Karen dengan hati berbunga. Anak Rudi masih mengalir darah keluarga Budi. Tak ada salah bila angkat Kintan jadi anak angkat ganti Arsy yang berulah.
Rudi terharu pada sambutan keluarganya. Rasa hangat menjalar di hati yang telah lama beku. Rudi pernah salah berjanji takkan ulangi kesalahan sama. Kini dia bisa tenang membantu Bara untuk menebus rasa salah pada laki itu.
Secara tak langsung Rudi punya andil hancurkan Bara. Andai dia dan Arsy tak selingkuh maka Bara takkan menikah dengan Nania. Bara takkan menderita harus tanggung aib orang. Bara hancur karena Nania. Rudi dan Arsy adalah pangkal kesuraman Bara.
Rudi tak sabar ingin kasih tahu Sania tentang kabar baik dari keluarganya. Sambutan hangat serta rangkulan Karen untuk Kintan akan ringankan langkah Rudi mulai hidup baru. Semua berhak bahagia.
Acara tahlilan di rumah Bara cukup ramai dibanjiri tetangga serta kolega Pak Jaya. Lantunan ayat ayat suci bergema di rumah itu mendoakan arwah Nania agar tenang di alam sana.
Sania melihat beberapa wanita berebutan berdiri di samping Bara jadi pendamping laki itu menyambut tamu. Termasuk Arsy di dalamnya. Arsy tak tahu betapa bencinya keluarga Jaya padanya. Bara terpuruk karena tingkah Arsy. Jauh kemungkinan Arsy bisa masuk ke keluarga Jaya.
Sania justru hindari keramaian memilih tempat paling sudut jauh dari perhatian orang. Tubuh mungilnya tak jadi pusat perhatian orang sekitar. Sania merasa nyaman tak jadi santapan mata para pelayat. Sania belum yakin akan dibawa ke mana pernikahan antara dia dan Bara.
Janji pada Nania kini jadi bumerang buat Sania. Mampukah dia bertahan di sisi Bara yang dikerubuti puluhan semut merah. Bara laksana sebutir gula jadi rebutan para semut nakal.
"San.."
Sania tersenyum manis dipanggil Roy. Roy ambil tempat di samping Sania sambil sodorkan teh hangat usir dingin. Asap masih mengepul dari mulut cangkir keramik bawaan Roy.
"Kenapa sembunyi?"
"Sembunyi? Ngaklah! Aku cuma hindari keramaian. Bukan sifatku jual tampang."
Roy tertawa kecil dengar jawaban Sania sedikit ketus. Gadis muda macam Sania kadang suka kesal tak jelas bila mood tak bagus. Roy tahu Sania tak mau dekat Bara karena banyak semut semut nempel pada suaminya. Sania sengaja hindari cari masalah di masa berkabung gini.
"Kau lihat suamimu?"
Sania angguk,"Primadona para ular betina."
"Dari dulu Bara memang pujaan para cewek. Kau tak boleh kalah set dari wanita wanita tak punya cermin itu! Kau harus dampingi Bara keluar dari kemelut yang sudah lama membelit dia. Saatnya Bara hidup tenang."
"Miskin amat sampai tak mampu beli cermin!" ejek Sania.
__ADS_1
"Gitulah wanita sekitar Bara! Saat Bara punya Nania mereka mundur, ditambah Bara jatuh satu persatu hilang. Kini Bara sudah kembali pada keluarga artinya Bara sudah kembali jadi putra mahkota. Bara akan warisi kerajaan Jaya."
Sania tertawa sinis diungkit soal harta. Harta bisa mengubah segalanya. Jaman ini uang adalah segalanya. Asal ada uang hitam bisa jadi putih begitu juga sebaliknya. Tapi Sania tak tertarik pada limpahan harta Bara. Bagi Sania kedamaian adalah segalanya.
"Mataku hitam tak ijo.."
"Aku tahu...kau gadis istimewa. Kau mampu cetak uang dengan kepintaranmu. Nania hebat membawakan Bara seorang gadis istimewa. Sebagai sahabat Bara aku doakan kalian langgeng."
"Kita lihat nanti! Oya...gimana perkembangan perumahan Pak Wandi. Aku betul sibuk tak sempat kontrol langsung."
"Kau tenang saja. Aman terkendali." bohong Roy ingat pesan Bara kalau Sania tak boleh tahu kendala di lapangan.
"Syukurlah! Besok aku akan jumpa Pak Zainal dan Dr. Cipto. Semoga kita bisa dapat kedua proyek itu. Aku juga fokus garap tender PT SHINY. Minggu depan kita sudah harus presentasikan proposal kita."
"What? Kau mau maju garap Mega proyek incaran semua perusahaan kontraktor?"
"Iya. Kenapa?"
"Gila itu bukan proyek Abal Abal. Nilainya trilliunan. Kau mampu?" Roy tak percaya Sania mampu handle proyek sebesar itu. Tubuh kecil mungil mungkinkah hasilkan karya spektakuler?
"Belum dicoba bagaimana tahu? Aku sudah persiapkan diri dari tahun lalu. Aku sudah empat kali ke lokasi."
Roy tak dapat sembunyikan rasa takjub pada gadis ajaib di depannya. Badan semungil gitu namun semangat selebar angkasa.
"Kau yakin gol?"
"Insyaallah...kita harus berjuang untuk hasilkan karya terbaik. Kita berencana tapi Allah yang tentukan." sahut Sania pede.
"Jangan lupa libatkan aku! Aku juga mau bangun kota baru. Urusan gaji kita bisa nego."
"Bosnya bukan aku tapi Lieve."
"Lieve? Bos barumu?"
"Oh maaf..maksudku Pak Bara." tukas Sania malu umbar panggilan sayang untuk Bara tanpa sadar. Pipi Sania berona merah padahal Roy tak tahu apa apa soal panggilan sayang Sania pada Bara.
"Lha kok malu?" Roy bingung lihat Sania tersipu malu.
"Siapa malu? Aku cuma panas." kilah Sania tak mau akui perasaan malu yang muncul mendadak.
"Oh..kita duduk di luar?"
"Tak usah...aku mau cepat tidur! Besok sudah masuk kantor. Pak Bara biar di rumah sampai tujuh hari masa berkabung."
"Kau benar. Banyak hal harus kita kerjakan. Kantor Bara jadi kecil bila karyawan bertambah. Eh..si Rudi jadi kerja di tempat Bara?"
"Jadi...tadi aku sudah jumpa dia di rumah sakit. Anaknya sedang dioperasi. Sampai sekarang belum ada kabar."
"Semoga lancar. Maaf aku harus ingatkan kamu jaga perasaan Bara! Jangan terlalu dekat dengan Rudi! Bara masih trauma soal masa lalu."
"Batas teman kerja. Tak lebih. Pak Bara sudah bisa keluar dari masa lalu. Percayalah padaku! Rudi juga takkan ulang kesalahan sama. Sesuatu yang dipaksakan hasil tak sempurna."
Roy mangut kecil benarkan kata Sania. Segala sesuatu yang dipaksakan hasilnya tak pernah bagus. Rudi sudah rasakan akibat berbuat curang pada sahabat sendiri. Akhir kisah tetap tragis. Semoga Rudi ambil hikmah dari kesalahan masa lalu.
"Semoga begitu. Bara akan rekrut beberapa pegawai baru. Apa pendapatmu?"
"Kalau dibutuhkan ya harus! Kuharap Pak Roy bersedia jadi pegawai tetap. Karya pak Roy sangat indah. Aku suka sekali taman bunga yang ditata pak Roy di rumah Pak Bara."
__ADS_1