
Sania yakin Allah takkan beri cobaan di luar batas kemampuan seorang manusia. Semua pasti ada waktu indahnya. Sania juga takkan menggunakan cara kotor hancurkan Bobby. Bobby tak pantas mendapat ampunan Sania. Sania tak mau kotori tangan dengan dosa melakukan pembalasan. Biarlah berpulang pada takdir. Siapa menanam dia yang akan menuai. Di dunia ini tak ada yang gratis. Siapa berhutang dia harus membayar.
Azan subuh berkumandang mengajak para umat muslim menunaikan tugas sebagai umat muslim. Sania tak mau ketinggalan segera bangunkan Bara untuk sholat jemaah.
Sania menatap wajah Bara yang tertidur pulas bagai bayi tua tanpa dosa. Bara cukup tampan walau kadang dinginnya bisa membeku Sukma. Cuma akhir-akhir ini Bara mencair menebar sedikit rasa hangat. Mungkinkah kehadiran Sania telah mengubah Bara lebih manusiawi? Hanya Bara sendiri yang bisa jawab.
"Lieve...bangun..." panggil Sania mengelus wajah tampan sang suami. Bara membuka mata mendapatkan Seraut wajah cantik berada posisi sangat dekat. Sania sudah menebar bau harum menyegarkan sedang Bara harus puas dengan muka bantal kelas berat.
"Selamat pagi sayang...tak ingin beri ciuman pagi?" Bara berkata dengan suara berat belum pulih benar dari mimpi.
"Ogah...bau jigong...bisa kena tetanus."
Bara mencubit pipi Sania gemas digoda pagi-pagi. Candaan kecil menyegarkan otak sambut pagi bersejarah. Hari ini Bara akan pindah ke kantor lebih bonafide. Mulai bangun perusahaan agar lebih kokoh.
"Cepat sekali bangun?" Bara bangkit dari tempat tidur menuju ke kamar mandi untuk bersihkan diri sekalian ambil air wudhu.
Sania tak sempat menjawab karena Bara terlanjur di telan kamar mandi. Sania menyiapkan perlengkapan sholat sambil menanti Bara selesai berwudhu. Tak ada yang bisa Sania lakukan selain menyiapkan semua perlengkapan menunaikan sholat pertama hari ini. Sania berdoa semoga hari pertama masuk kantor baru berjalan lancar.
Seusai tunaikan sholat Sania mengajak Bara jalan-jalan ke luar rumah hirup udara pagi belum terkontaminasi polusi akut. Bara dan Sania jarang nikmati liburan karena fokus sekali sama kerja. Apalagi Sania yang terkurung dalam sangkar proyek. Tak ada waktu luang untuknya merasakan liburan santai.
Bara tentu saja dengan senang hati menemani bini muda joging menelusuri jalan seputar komplek tempat tinggal orang tuanya. Cahaya emas mentari mulai genit perlihatkan semburat jingga. Cahaya keemasan sang Surya perlahan tapi pasti menerangi seluruh alam persada.
Sania dan Bara berlari santai seputar komplek merasakan segarnya udara pagi. Beberapa orang ikut berlari segarkan badan sebelum beraktifitas. Ke kantor, ke sekolah ataupun kuliah. Daerah situ mungkin tidak ada yang namanya buruh kasar karena rata-rata kaum kelas atas. Mobil mewah terparkir di pekarangan setiap rumah seakan perlihatkan status sosial pemilik kenderaan roda empat.
Sania cuci mata pantau situasi komplek perumahan mertuanya. Memang sarang orang kaya. Semua penghuni komplek pamer kekuatan status tinggi. Sania tertawa sendiri bayangkan mobilnya yang harganya mungkin satu sepeda motor orang kaya. Mungkin mobil Sania satu-satunya yang perusak pemandangan komplek ini.
"Kenapa ketawa sendiri? Ada yang lucu?" Bara mengerut kening lihat Sania tertawa sendiri. Apa gerangan merangsang tawa Sania hadir tanpa sebab.
"Lieve lihat tunggangan penghuni komplek? Kuda besinya rata-rata capai nilai beratus-ratus juta. Coba Lieve lihat perbedaan di rumah papa! Mungkin ada sesuatu merusak pemandangan mata." ujar Sania tetap berlari kecil. Bara terpaksa berjalan ikuti langkah kecil Sania. Kalau Bara berlari Sania pasti ketinggalan. Langkah Sania terlalu imut untuk disejajarkan langkah panjang sang suami.
"Aku tak ngerti..." Bara belum ngeh apa tujuan Sania omong gitu.
"Tak usah ngerti..." sungut Sania percepat langkah meninggalkan Bara yang masih berpikir keras makna kalimat Sania. Otak Bara belum cas penuh, mungkin lowbat.
Bara biarkan Sania puaskan diri lari santai. Laki ini ikut dari belakang perhatikan Sania menjauh. Tubuh mungil itu lenggak-lenggok sepanjang jalan komplek menggoda setiap laki lewat. Wajah cantik plus tubuh bahenol walau mungil. Bara beruntung dapat barang langka nan mahal.
"Mas Bara...tumben lari pagi?" seseorang memecah konsentrasi Bara terhadap ayunan langkah Sania.
Bara menoleh mendapatkan seorang wanita seumuran dengannya berpakaian training ketat warna kuning terang mengumbar senyum lebar. Wanita ini tampak ceria menikmati sinar ramah mentari pagi.
"Anjeli...apa kabar?" Bara bersikap ramah membalas sapaan ceria wanita dipanggil Anjeli.
"Baik...sendirian?"
"Bersama isteriku...dia sudah ke depan. Ke mana saja selama ini? Kok tak ada kabar?"
"Aku ngajar di perguruan tinggi di Malang. Sekarang aku balik sini rencana mau ngajar di sini saja. Pingin dekat orang tua."
__ADS_1
"Oh...pak Akbar gimana? Apa ikut pindah sini?"
"Kami sudah pisah. Anak ikut Akbar.." sahut Anjeli tanpa beban.
Bara menjadi tak enak hati dengar cerita Anjeli yang tak sedap di hati. Bara seakan buka luka di hati Anjeli. Wanita mana suka bercerai bila tak terdesak.
"Oh maaf! Aku tak tahu itu..." ujar Bara menyesal telah tanya suami Anjeli.
"Jangan sungkan! Kami pisah secara damai. Tak ada konflik. Berapa anakmu mas Bara?"
"Belum ada...masih belum dipercaya jaga anak."
Anjeli tertawa renyah. Tawanya lepas sedap di kuping. Anjeli benar-benar menikmati hidup tak anggap perceraian sebagai beban di pundak. Seorang manusia seharusnya memang demikian bersikap. Jangan semua masalah dijadikan bahan menyakiti diri sendiri. Lepaskan semua kegundahan lanjutkan hidup optimis.
"Kamu atau binimu yang lalai? Ayo genjot terus jangan kendor!" seru Anjeli tanpa malu-malu. Malah Bara yang malu diajar harus semangat cetak generasi baru.
"Kami baru menikah."
"Lho? Bukankah mas Bara sudah lama menikah dengan Nania? Dapat bini baru lagi?" ujar Anjeli besarkan mata tak percaya Bara baru menikah lagi. Apa yang sudah terjadi?
"Nania sudah meninggal. Nah itu isteriku!" Bara menunjuk Sania yang kembali berlari ke arah Bara.
Mata jeli Anjeli menangkap satu sosok gadis bertubuh mungil berlari santai ke arah mereka. Anjeli akui kalau wanita muda yang ditunjuk Bara cantiknya setara Miss universe. Malah ini lebih cantik karena full alami tanpa make up.
"Gila...sejak kapan mas Bara doyan daun muda? Anak SMA ya?" Anjeli tak bisa lepaskan tatapan dari Sania yang segar. Fresh from oven.
"Bukan...dia sudah dewasa cuma profilnya memang kayak anak kecil."
"Sakit bertahun. Jodoh kami sampai sekian!"
"Turut berduka ya! Semoga arwah Nania diterima di sisiNya."
"Amin...Sania sini..kenalkan tetangga kita." Bara melambai pada Sania yang makin mendekat. Nafas Sania ngos-ngosan hampiri suami dan tetangga yang disebut Bara. Rona merah hiasi kedua belah pipi mulus Sania. Blush on alami.
Anjeli menggeleng memuji selera Bara sunting isteri muda belia. Cantik lagi cuma kualitas Sania sebagai pendamping Bara belum teruji.
"Hai nona manis...aku Anjeli..Mas Bara sudah kasih tahu kamu bernama Sania isteri mas Bara." spontan Anjeli ulurkan tangan bersalaman dengan wanita muda di depannya.
Sania menyambut uluran tangan Anjeli dengan pede tak terkejut Bara punya tetangga model Anjeli. Anjeli sudah tunjukkan kelasnya sebagai produk kalangan jet set. Tinggal di daerah ini pasti tak jauh dari kata jutawan.
"Ya aku Sania...senang kenalan Bu Anjeli!" Sania bersikap resmi tanpa tawarkan keakraban tetangga.
Lagi-lagi Anjeli kumandangkan tawa renyah yang makin sedap di kuping. Suaranya empuk cocok jadi host acara televisi.
"Jangan panggil ibu! Nanti ubanku tumbuh! Hilang deh masa keemasan janda kembang!" Anjeli tak ragu ungkap dia janda..
"Oh maaf...gigih melawan waktu toh! Apa jadi janda suatu hal membanggakan?"
__ADS_1
"Tergantung...sebab musabab jadi janda. Dicerai atau menceraikan. Kita harus punya prinsip. Pantang tenggelam dalam duka walau rasanya sakit. Tak ada guna harungi biduk bocor sana sini. Maka itu aku memilih bangga dengan gelar jandaku. Aku malas tambal biduk yang bocor sana sini. Lebih baik kulepas biar karam sekalian."
Sania bukan orang bodoh tak tahu makna dari kalimat Anjeli. Kelihatannya Anjeli tak bahagia hidup bersama suami yang kemungkinan besar penuh kecurangan. Sania tak tahu dari segi apa suami Anjeli melewati batas kesabaran Anjeli. Sania tak punya hak bertanya. Sania memang tak ingin tahu.
"Aku suka ibu berprinsip teguh. Sebagai wanita kita harus punya nilai yang tak boleh dilangkahi. Setiap rumah tangga ada limit tersendiri."
Anjeli tepuk tangan puji kata-kata Sania yang cukup beralasan. Wanita juga manusia punya batas kesabaran. Terusan disakiti pasti suatu saat akan berontak. Out of limit.
"Hei..kalian omong apa? Kok ngelantur.." Bara menjadi tak enak hati Anjeli beri suntikan beracun pada otak Sania. Bara takut Sania ikutan jadi radikal memandang nilai satu rumah tangga. Andai Bara terpeleset sedikit akibatnya pasti fatal.
"Bukan ngelantur tapi bahas ketegaran seorang wanita. Ini jaman emansipasi. Wanita juga punya hak keluarkan pendapat di saat hati tercubit oleh jari nakal. Aku suka ngobrol sama nyonya Bara yang pintar. Kecil cabe rawit. Masih kuliah Sania?"
Sania menggeleng, "Bantu suami di kantor. Ibu ini kerja di mana,?"
"Aku dosen...kau masih muda. Jangan biarkan waktumu terbuang sia-sia! Kejar ilmu selagi muda. Tak ada batasan umur dalam menimba ilmu. Makin banyak kamu timba makin makmur hidupmu." Anjeli memberi nasehat mengira Sania tak lanjutkan kuliah gegara jadi isteri Bara.
"Sania sudah sarjana Anjeli...S2 lagi." tukas Bara tak ingin Sania dipandang rendah oleh Anjeli. Anjeli besarkan mata takjub wanita yang dia kira anak SMA ternyata sarjana.
"Wow...anak ajaib..." Anjeli tak dapat sembunyikan rasa kagum.
"Aku lama selesai kuliah Bu! Ada rencana mau ambil S3 tapi tak ada waktu luang. Terlalu sibuk bekerja. Semoga tahun depan bisa terealisasi."
"Aku suka gadis muda bersemangat. Semoga kau bisa capai jenjang lebih tinggi. Ingat...ilmu adalah akar dari hidup seorang manusia. Ilmu itu tak mesti dari bangku sekolah maupun bangku kuliah. Dari masyarakat kita bisa petik berbagai ilmu lebih ragam. Bahkan yang tak ada diajar di bangku sekolah. Contoh sifat manusia, tingkah laku manusia, keangkuhan manusia juga baik buruk manusia itu. Itu tak ada dalam buku pelajaran. Itu langsung praktek lapangan."
Sania akui kebenaran semua omongan Anjeli. Anjeli pantas disebut dosen karena berwawasan luas. Anjeli amat memahami hidup bermasyarakat yang aneka macam pola. Gelar dosen Anjeli tidak sia-sia. Anjeli memang insan berpotensi. Lugas tak bertele-tele.
Sania sangat hargai manusia berwawasan luas serta tak munafik. Berani ungkap jati diri tanpa takut dihujat. Anjeli malah terangan nikmati status jandanya. Kelihatannya Anjeli tak mau terjebak dalam situasi kacau dalam rumah tangga.
"Wah...ibu dosen jempolan. Aku harus lebih sering ngobrol minta pelajaran mengurai benang kusut di kehidupan kita. Aku percaya ibu punya jurus jitu lawan hiruk-pikuk di masyarakat." Sania tak segan memuji orang yang lebih pintar darinya. Anjeli lebih berpengalaman jawab tantangan hidup.
"Kalian ini mau lari pagi atau buka kuliah umum? Pusing aku dengar topik kalian. Ayo pulang! Hari sudah siang." Bara terpaksa ajak Sania pergi dari hadapan Anjeli. Bara tak mau Sania terkontaminasi pola pikir Anjeli yang sedikit frontal. Sania belum kena radiasi pola pikir bebas. Bara tak ingin Sania seperti Anjeli menganggap rumah tangga bisa diakhir sesuka hati.
"Tuh lakimu tak sabar mau pulang! Aku tinggal seberangan dengan rumah kalian. Agak ke kiri. Cat warna sky blue." Anjeli beritahu Sania di mana bisa cari dia. Anjeli suka pada Sania yang menurutnya cukup pintar. Tak sia Sania punya gelar sarjana S2.
"Iya Bu.." seru Sania sebelum menyusul Bara yang duluan melangkah balik ke arah rumah.
Sania merasa lari pagi hari ini membawa hikmah. Sania bertemu manusia berpotensi besar mampu memilah jalan terbaik jadi ayunan langkah. Tak peduli kadang dalam melangkah jumpa badai besar kecil menghalangi.
Bara duluan tiba di rumah menanti Sania sambil duduk di teras rumah. Mata Bara tak lepas dari sosok baru yang telah merajai pikiran dalam dekade ini. Sania anugerah terindah dari Allah buat Bara.
Sania menyusul Bara duduk di teras masih teringat semua kata-kata Anjeli. Wanita tak perlu takut melangkah selama itu benar.
Bara bisa rasakan Sania masih terpaku pada semua kata-kata Anjeli. Dari sorot mata Sania telah tercantum kalau Sania masih memikirkan Anjeli.
"Sayang...kau tak mau mandi? Hari ini kita harus ke kantor lebih cepat." Bara mencolek Sania agar tinggalkan teras masuk ke dalam rumah.
Sania menatap Bara sekejap mencoba cerna kata-kata Bara. Sania tak punya pilihan selain patuh. Hari ini adalah hari baik buat mereka. Tak boleh diwarnai adu mulut yang bisa usir hoki. Sania bangkit dengan ogahan masuk rumah.
__ADS_1
Sania dan Bara disambut ibu suri rumah Pak Jaya yakni Bu Jaya yang sedang menyiapkan sarapan pagi. Wajah welas itu tampak berseri-seri sepadan dengan udara pagi cerah.
"Assalamualaikum ma!" sapa Sania walau sudah masuk rumah. Menyapa duluan untuk hargai wanita yang telah memberinya suami baik bertanggung jawab.