
Lisa mencubit pinggang Rangga agar laki itu tak terpancing rayuan Suhada. Dari cara kekerasan hingga pura-pura lembut. Trik keluarga Suhada sudah terbaca di otak Lisa. Kali ini Rangga harus bertahan sampai titik darah penghabisan. Andai Rangga iba hati maka sia-sialah semua usaha Sania menggali kebenaran masa lalu.
Untunglah Rangga tak sebodoh Lisa. Laki ini ingat semua pengorbanan Sania memberi pelajaran pada manusia-manusia serakah ini. Rangga harus tegas supaya Amanda tak semena-mena terhadap orang lain.
"Maaf pa! Sudah kubilang kalau masih ada pemegang saham lebih besar dariku. Aku tak mungkin serahkan aset orang lain. Dia sudah kucurkan dana cukup besar untuk stabilkan perusahaan ini. Kalian lepaskan saham wajar dibeli orang. Rekanan pemegang saham juga jual karena tak mau terseret kasus kalian. Jadi aku minta maaf tak bisa penuhi permintaan kalian." Rangga berusaha beri pengertian pada papanya.
Suhada mangut kecil memahami posisi Rangga. Dipikir secara akal sehat memang Rangga tak mungkin punya banyak dana talangi perusahaan. Di belakang Rangga pasti ada tulang punggung lebih kuat.
"Dasar anak durhaka...mau kamu ke manakan kami ini? Kirim ke panti jompo? Papamu sudah tua, biar dia nikmati sisa hidup jadi orang besar apa susah bagimu?" bentak Amanda masih pertahanan gaya kolonial menjajah orang.
"Papa sudah tua. Istirahat saja di rumah! Tak perlu pikir perusahaan lagi. Anggap saja aku penerus papa. Orang masih akan memandang respek karena yang warisi aku. Coba kalau orang lain? Nama papa hancur berantakan."
"Beri papa waktu berpikir." Suhada melemah.
Dari balik pintu tiba-tiba masuk beberapa orang termasuk aparat kepolisian. Pengacara Sania terpaksa undang pihak berwajib mengingat Amanda gunakan jasa preman. Pengacara Sania tak mau kecolongan membahayakan jiwa Rangga.
Bangsa preman lebih sering gunakan otot daripada otak. Mereka dilatih untuk berbuat kasar untuk memuluskan tujuan mereka. Siapa yang sanggup bayar itulah tuan mereka.
"Selamat siang bapak dan ibu. Kami di sini mewakili Pak Rangga menjelaskan tuduhan penggelapan saham. Lebih baik kita jelaskan di kantor polisi biar bisa diusut tuntas. Klien kami menipu atau kalian yang fitnah." Pengacara Sania langsung to the point untuk hemat waktu.
"Aku pengacara pihak Bu Amanda. Pak Rangga ini anak Bu Amanda. Tiba-tiba menjadi pemilik saham keluarga tanpa ijin orang tua. Apa ini bukan penggelapan?" pengacara Amanda tak mau kalah unjuk gigi di forum yang kembali bergejolak.
"Lebih baik kita serahkan pada pihak kepolisian usut perkara ini! Apakah klien anda pernah diancam serahkan aset perusahaan? Saham ini didapat klien kami secara legal. Bukan warisan. Ok..kita ke kantor saja. Pak polisi silahkan kawal kami!" Pengacara Sania rasa tak ada guna adu mulut sama pengacara Amanda kalau hanya berandai-andai. Paling tepat serahkan pada pihak berwajib selidiki asal usul saham Rangga.
Wajah Amanda dan Suhada berubah warna tak menyangka kasus ini merembet panjang. Padahal tujuan mereka hanya gertakan karena tahu Rangga orangnya lembut hati. Nasi terlanjur jadi bubur. Kasus ini bergulir memanjang ke arah lain. Bisa jadi Suhada dan Amanda akan berkumpul keluarga ikut Ranti nginap di hotel gratis.
Hukum tetap hukum. Setiap tindakan tak terpuji tetap ada konsekuensi. Bertindak tanpa perhitungan beginilah jadinya. Makin terperosok dalam jurang kehancuran. Amanda menggali lubang kematian untuk diri sendiri.
Rangga tak bisa berbuat apapun karena kasus ini telah sampai di tangan pihak berwajib. Kini hanya menunggu kelanjutan proses yang pasti akan makan waktu lama.
Rangga tak berani kabari Sania soal ini. Rangga berpesan pada pengacara Sania agar tak ganggu adiknya. Sania sedang hamil muda butuh ketenangan. Rangga takut Sania syok bila tahu Suhada melangkah terlalu jauh merebut perusahaan.
Di rumah keluarga Jaya tampak Sania duduk santai di teras depan nikmati teh sendirian. Jarang sekali Sania dapat kualitas time seperti ini. Dari gadis remaja hingga menjadi Bara belum pernah sesantai ini. Sania merasa seperti tuan Puteri dilayani puluhan pelayan setia padahal cuma dilayani seorang pelayan tua dari keluarga Bara.
Bik Usi menemani Sania seloyoran di bangku berbusa lembut. Pelayan tua itu ikut senang rumah majikannya akan hadir anak-anak lucu. Bertahun-tahun keluarga ini sepi karena semua sibuk kerja. Bara tinggal di tempat lain bersama wanita yang dia pilih. Orang tua Bara tak setuju Bara nikahi Nania maka hubungan keluarga jadi renggang.
Sania hadir tampil sebagai jembatan penghubung antara anak dan orang tua. Jembatan putus tersambung makin kokoh berkat insinyur handal Sania. Ditambah bonus dua pilar penyanggah yang bakal jadi pewaris semua kekayaan keluarga Jaya.
Suara kicauan burung yang senantiasa membangunkan Sania berkicau lebih merdu hari ini. Burung-burung ikut menyemarakkan kebahagiaan keluarga Jaya. Sania merasa damai berada di tempat tepat. Mungkin di sinilah dia harus tambatkan biduk yang selama ini berlayar tanpa arah. Terombang-ambing di lautan maha luas.
"Bik...siapa pemilik burung bersuara merdu itu?" tanya Sania pada pelayan yang setia menjaga nyonya mudanya atas perintah Bu Jaya.
"Oh itu...punyaan Pak Slamet. Dia itu pencinta burung. Rumahnya banyak banget burung. Aneka jenis. Nyonya muda suka?" Bik Usi tersenyum perlihatkan gigi yang mulai rontok. Gigi depan hilang satu.
Sania tertawa lucu lihat tampang lugu Bik Usi. Bik Usi orangnya lebih ramah dibanding Bik Sur penjaga rumah Bara. Bik Sur lebih serius dalam keseharian sedang Bik Usi tampak welas penuh senyum.
"Suka suaranya. Kita serasa tinggal di alam bebas ditemani kicauan puluhan burung. Apa burung-burung itu bebas?"
__ADS_1
"Ya ngaklah! Di sangkar dan kandang besar. Kapan-kapan bibik ajak nyonya kunjungi rumah pak Slamet. Nyonya muda boleh lihat sendiri."
"Benarkah?"
"Benar...pak Slamet peramah. Asli orang Jawa. Isterinya sudah meninggal dua tahun lalu. Sekarang dia tinggal bersama anaknya."
"Oh..." Bibir Sania membentuk huruf O menggemaskan.
Bik Usi tak habis-habisnya mengagumi kecantikan majikan mudanya. Wanita secantik Sania biasa hanya ada dalam tv ataupun di majalah. Bik Usi kini melihat langsung wanita cantik bini tuan mudanya. Rasa bangga dan kagum bersatu dalam sanubari pelayan setia itu.
"Nyonya muda pingin makan apa? Biasa orang hamil muda suka rujakan. Nyonya muda tak ngidam itu?"
"Bik...panggil aku Sania! Nyonya muda terlalu ribet. Jangan persulit lidah bibik! Kasihan kalau dipaksa bekerja keras."
"Mana boleh gitu? Bisa di marah nyonya besar lho!"
"Aku merasa sangat tua dipanggil nyonya. Cukup Sania ya! Oya...gimana rasa rujak? Enak gak?"
"Enak Non Sania...isinya buahan disiram bumbu kacang dan gula Jawa. Besok bibik bikinkan untuk non Sania. Mau?"
Sania menelan air ludah bayangkan betapa segar buahan diberi bumbu kacang. Belum merasakan bagaimana rasa yang namanya rujak Sania sudah bayangkan nikmatnya buahan itu. Rasanya Sania tak sabar ingin segera manjakan lidah dengan rujak.
"Apa tak bisa sekarang Bik?" Sania menggebu ingin cicipi buahan segar rekomendasi dari Bik Usi. Selera orang hamil memang lain. Ditawarkan harus segera ada.
"Tapi kita tak punya stok buah non!" Bik Usi merubah panggilan dari nyonya muda ke nona Sania. Bik Usi mana berani manggil Sania langsung nama asli tanpa embel-embel nyonya ataupun non. Panggilan itu cerminkan status seorang manusia. Belum nikah dipanggil nona, sudah menikah berubah jadi nyonya. Begitu juga panggilan untuk majikan laki. Tuan ataupun Bapak. Selalu ada gap antara majikan dan bawahan. Gitulah hukum alam.
"Ada non...kepingin banget ya!" tanya Bik Usi iba pada bumil muda itu.
Sania mangut masih bayangkan kesegaran para buahan menyelinap ke perut lalui kerongkongan. Satu persatu buahan akan meluncur masuk ke perut penuhi selera bumil. Masih mending Sania tidak ngidam aneh-aneh bikin susah orang. Tak jarang bumil ngidam ekstrim bikin susah suami.
"Bibik bilang sama nyonya besar ya! Mungkin nyonya besar tahu di mana jual rujakan enak."
"Jangan bik! Tak baik nyusahin orang tua. Biar kutelepon Lieve minta dibeliin. Dia toh papanya anak-anak. Harus tanggung jawab." Sania melarang Bik Usi menyusahkan mertuanya. Menjadi bumil tak harus manja.
"Gitu ya! Udara mulai panas non. Kita masuk yok! Non istirahat di ruang tamu saja."
"Bibik masuk saja. Aku suka duduk di sini dengar kicauan burung. Bibik pergi kerja yang lain. Aku tak apa ditinggal sendiri."
Bik Usi belum percaya Sania bersedia duduk sendiri tanpa ada kawan. Melamun sendirian tentu membosankan. Apa yang mau dilihat kalau hanya ada pagar tinggi kokoh halangi pemandangan keluar rumah. Bunga-bunga di taman juga tak seindah taman di rumah Bara.
"Pergilah Bik! Aku tak apa. Kalau bosan aku akan masuk." Sania yakinkan Bik Usi untuk lanjutkan aktivitas. Menjadi bumil tak perlu sok manja. Sania tak ingin hamil anak Bara dijadikan alasan untuk bermanja lupakan tujuan utama dalam hidupnya. The show go on walau telah dapat berkah.
Sania masih betah duduk di teras sambil menikmati kicauan burung tetangga sebelah. Otak Sania terasa plong dimanjakan oleh kicauan alam. Bukan hingar-bingar musik. Sania memejamkan mata meresapi keindahan koor dari paruh paruh burung. Sania belum melihat bentuk burung-burung tersebut namun kicauannya buat Sania jatuh cinta.
Cukup lama Sania bersantai di teras sampai Bu Jaya datang menegur menantu kesayangan untuk masuk. Matahari sudah berada di atap rumah pancarkan sinar cukup terik. Untunglah masih ada angin sepoi membelai kulit Sania hadirkan sedikit rasa adem.
Bu Jaya menarik sudut bibir membentuk senyum lembut. Sania adalah prioritas utama di rumah. Wanita muda ini sedang mengandung penerus keluarga Jaya. Di mana-mana orang tua akan bahagia bila muncul penerus keluarga.
__ADS_1
"Sania...yok masuk! Matahari di atas kepala. Tak baik untuk ibu hamil." Bu Jaya mengusap pipi Sania agar bangkit dari sofa besar yang dari tadi menampung tubuh mungil itu.
Sania buka mata dapatkan sang mertua berdiri di hadapannya diselipi senyum manis di bibir. Sania membalas senyum mertua tak kalah manis. Lama-lama keluarga Jaya akan diserang ratusan semut bila senyum manis tak lekang dari bibir sekeluarga.
"Ma..."
"Yok...duduk di dalam biar adem. Kata bibik kamu pingin makan rujak ya!"
Ternyata Bik Usi melapor pada majikan kalau sang menantu ngidam rujak. Wanita hamil dan rujak bak amplop dan perangko. Tak bisa terpisah jauh. Wanita hamil kebanyakan ingin makan makanan asam-asam sebagai pelepas hasrat terpendam.
"Iya...Sania diceritakan kalau rujak terbuat dari campuran buahan."
"Iya...ada aneka rujak. Kapan-kapan mama ajak kamu ke gerai khusus jual aneka rujak biar kamu bisa cicipi aneka rujak. Sekarang kita masuk. Sebentar lagi azan Zuhur. Siap-siap sholat Zuhur!"
"Iya ma.." Sania tak menolak diajak masuk ke dalam rumah.
Sania agak malasan sejak tahu dirinya hamil anak Bara. Keinginan bekerja pupus dari hati padahal biasanya Sania paling semangat bila diajak bahas proyek. Kini hasrat itu menguap bak bensin kena udara panas.
Kedua wanita beda generasi masuk ke dalam rumah beriringan. Bu Jaya beri proteksi berlebihan pada Sania. Bu Jaya tak ingin terjadi sesuatu pada kandungan Sania. Hamil muda rentan terjadi keguguran bila tak dijaga baik. Bu Jaya tak mau ambil resiko itu.
Di meja tamu sudah tersedia satu gelas jus jeruk segar untuk sang menantu. Udara panas begini cocok didinginkan segelas minuman segar pelepas dahaga.
"Diminum...mama sengaja peras sendiri biar bersih." Bu Jaya menunjuk gelas berisi perasan jeruk pada Sania.
Sania merasa tak enak hati merepotkan semua orang di rumah. Sania bukan type orang manja minta dilayani terusan. Sania justru sangat mandiri tak harap belas kasihan orang.
"Ma..jangan gitu! Sania merasa tak sopan menyusahkan mama."
"Huusss...ini untuk cucu mama. Makan dan minum banyak biar mereka tumbuh sehat. Jangan diet! Ini berbahaya bagi ibu hamil. Janinmu bisa kekurangan gizi apa lagi cucu mama dua. Harus makan dobel."
Sania bergidik bayangkan tubuhnya melar bagai balon diisi angin. Lemak tempel sana sini bergelambir menjuntai ke bawah. Wajah menggelembung mirip muka babi. Sania merinding bulu kuduk sampai berdiri.
"Astaghfirullah.." Sania mengucap karena berpikir terlalu jauh. Akhirnya ngeri sendiri membayangkan akibat rajin makan.
"Kenapa sayang?" Bu Jaya kaget Sania mengucap kata astaghfirullah. Ada apa gerangan? Sania tak suka jus jeruk atau kata-kata Bu Jaya salah.
"ACH ngak ma...Sania ngeri bayangkan tubuh segede anak gajah." Sania tak berani katakan mirip babi karena binatang itu haram bagi umat Islam.
"Kalau hamil gemuk itu sehat. Artinya gizimu tercukupi. Mau kerempeng anakmu tak sehat?" dakwa Bu Jaya takut Sania jaga penampilan abaikan asupan gizi untuk bayinya.
"Ngak gitulah ma! Jangan gendut! Lieve bisa kabur punya bini gentong lemak!"
Bu Jaya menuntun Sania duduk di sofa lalu sodorkan jus jeruk agar diminum sang mantu. Bu Jaya mau lihat dengan mata sendiri Sania mendapat gizi cukup.
Sania tak menolak dimanja mertua. Sania bersyukur dapat mertua baik. Ntah untuk bayinya atau memang tulus pada Sania.
"Sayang...Bara bukan orang gitu! Dia pasti terima kamu apa adanya. Kau gemuk juga karena mengandung anaknya."
__ADS_1