
Roy tersenyum bangga Sania suka pada karyanya. Padahal dia menata taman di rumah Bara hanya iseng. Waktu Roy lihat halaman depan rumah Bara kosong hanya dihiasi tanaman kering tak terurus maka muncul jiwa seni Roy menata halaman jadi taman indah.
Mata Sania sangat awas bisa tahu bahwa penata taman adalah orang profesional. Karya Roy patut diberi acungan jempol. Begitu berkarakter hadirkan kenyamanan bagi yang melihat.
"Aku akan ada bila sesuai bidangku. Aku mau diajak kerja di mega proyekmu bila gol. Aku tak sabar ingin rasakan tantangan dari proyek raksasa. Aku ingin jadi penata tata ruang bagian penghijauan."
"Aku jamin akan serahkan tugas penting ini padamu bila proyek ini gol." janji Sania sungguh-sungguh. Sania hargai tangan dingin Roy. Sarjana berbakat macam Roy sangat sayang kalau disiakan.
Roy angguk-angguk senang dapat kepercayaan Sania. Ntah kenapa Roy merasa Sania beda dengan wanita-wanita Bara yang lain. Gadis ini sederhana namun sangat berisi. Bukan tong kosong nyaring bunyinya. Roy ibaratkan Sania padi yang makin merunduk karena berisi.
"San..aku pamit dulu ya! Sudah malam. Besok aku harus ke proyek Pak Wandi."
Sania mangut tak tahan langkah Roy mengingat laki itu sedang bertanggung jawab pada proyek Pak Wandi. Bara sedang suasana berkabung tak mungkin muncul lama-lama di lokasi proyek. Bara harus di rumah paling tidak sampai tujuh hari.
"Hati hati di jalan Pak Roy!"
Roy bangkit merenggang pinggang sekejap lalu balik badan menatap Sania.
"Kau bisa panggil Rudi kakak kenapa sampai padaku jadi bapak? Apa tampangku boros?" protes Roy merasa di anak tirikan Sania.
"Maaf! Aku hormati anda sebagai teman dekat Pak Bara."
"Tak bisa..kau harus panggil aku kakak juga. Aku masih jomblo dari mana datang anak segede kamu?" Roy manyun persis anak TK.
"Siap kak Roy yang ganteng!"
Perlahan tapi pasti senyum merekah di bibir laki itu. Satu senyum puas dapat pengakuan dari gadis secantik Sania. Niat Roy pada Sania bersih tanpa ada neko-neko macam Fadil. Fadil memuja Sania tak peduli status Sania adalah kakak ipar.
"Ok..adik manis. Kak Roy pulang. Jaga Bara untukku!"
Sania acungkan jempol janji akan penuhi permintaan Roy. Tanpa diminta Sania akan jaga Bara dari tangan tangan nek lampir. Sudah cukup kisah sedih Bara. Lembaran baru sudah terbuka. Tinggal di isi hal hal bermanfaat.
Acara tahlilan berakhir. Tamu-tamu satu persatu tinggalkan rumah mewah Pak Jaya. Hanya tinggal beberapa teman dekat masih betah ngobrol di ruang tamu. Sania melihat para pelayan mulai aktifitas bereskan sisa pengajian.
Sania tak mau mengganggu Bara memilih naik ke atas cari nyaman. Hari ini terlalu lelah maka Sania segera bersihkan diri ingin larut dalam mimpi. Semoga dapat mimpi indah setelah lalui hari penuh duka.
Baru saja Sania hendak rebahkan diri di tempat tidur tiba-tiba pintu kamar dibuka orang. Sosok tinggi besar masuk langsung hampiri Sania yang sudah berada di tempat tidur.
Setiap langkah Bara mendekat buat jantung Sania berpacu lebih cepat. Sania masih takut berdekatan dengan suaminya itu. Tubuh Sania belum bisa menerima kedekatan Bara.
Bara bisa rasakan kalau bini mudanya ketakutan didekati. Bara bukanya mundur malah maju. Bara sengaja menggoda Sania yang mulai gemetaran. Tangan Sania meremas pinggiran selimut perlihatkan tampang bodoh pada Bara.
"Kau takut pada suamimu?" bisik Bara setelah dekat. Bara sengaja mengunci tubuh Sania dengan kedua tangan walau tak menyentuh Sania.
"Siapa takut?" Sania berusaha tenang walau jantung berpacu lebih kencang.
Bara tertawa ngejek,"Tuh nafasmu kayak baru diajak lari estafet. Tidurlah! Kau pasti capek hari ini."
Sania menarik nafas lega Bara tak bertindak nakal lebih jauh. Andai Bara menuntut haknya sebagai suami tak ada alasan bagi Sania untuk menolak. Secara hukum dan agama dia adalah isteri sah Bara. Menolak melayani suami hukumnya dosa.
Perlahan Bara jauhi Sania menuju ke kamar mandi. Laki itu mungkin bersihkan diri sebelum tidur. Bara orangnya rapi tak bau kecut seperti kebanyakan laki berbadan besar. Bara malah wangi keluarkan bau maskulin laki sejati.
Sania tak mau memikirkan sosok Bara lebih lama. Jangan-jangan nanti dia sendiri terjebak dalam gairah. Bara sangat menarik. Wanita manapun siap rebahkan diri dalam dada bidang suaminya. Sania yang menolak justru jatuh dalam kehidupan Bara.
Sania menepis pesona Bara tenggelamkan diri dalam selimut. Sania memejamkan mata hendak menutup kisah hari ini. Besok akan muncul kisah baru yang belum tahu bagaimana bentuknya.
__ADS_1
Sania tersentak tatkala ada sepasang tangan kokoh memeluknya dari samping. Sania merasakan hawa panas dari ******* nafas hangat Bara. Sania mati kutu tak berani bergerak yang bisa memicu munculnya gairah antara mereka.
Sania diam saja merasakan bibir Bara mendarat dikeningnya. Sania harus pura -pura tidur tak beri kesempatan pada Bara berbuat lebih jauh.
"Selamat malam sayang!" Sania mendengar dengan jelas Bara mengucapkan kalimat indah pengantar tidur. Sania jamin malam ini dia akan tidur nyenyak.
Kicauan burung pagi kembali membangunkan Sania. Sania melirik jam digital di dinding. Hampir jam empat pagi. Sania cepat cepat bangun tanpa peduli ganggu tidur Bara. Sudah saatnya Bara bangun laksanakan sholat subuh.
Bara terbangun karena gerakan kasar Sania. Tak ada lembutnya gadis ini bangunkan suaminya. Maunya diberi kecupan mesra atau sentuhan intim.
"Sudah bangun?" tanya Bara masih ngantuk. Matanya masih berat diajak aktifitas.
"Waktu sholat lieve.."
"Oh...aku masih ngantuk!" sahut Bara ogahan. Sania menarik hidung Bara gemas dengar jawaban tak cerminkan seorang muslim.
Bara mengaduh memegang hidung korban kekejaman isteri muda. Andai hidung Bara hasil oplasan mungkin sudah berantakan kena serangan macan manis. Beruntung hidung mancung Bara asli produk dari Tuhan.
"Bangun atau.."
"Atau apa? Mau perkosa aku? Aku pasrah..silahkan!" Bara bikin gerakan pasrah merentangkan tangan kiri kanan telentang tak bergerak.
Sania makin gemas pada tingkah Bara yang makin nyeleneh menggoda imannya. Sania mencubit pinggang Bara saking gemas dikerjain bapak tua sok abg.
Cubitan Sania cukup keras bikin Bara mengaduh kesakitan. Bara mengelus pinggang korban KDRT bini muda nan sadis.
"Aduh sakit!" seru Bara pura-pura sakit cari perhatian Sania. Sania mencibir tak termakan akting murahan Bara. Tak mungkin hanya satu pelintiran jari bisa lukai kulit badak Bara.
"Cisss..akting figuran murahan! Ayo bangun!" Sania belum putus asa menarik Bara dari tempat tidur untuk laksanakan sholat.
"Sudah bangun dari semalam." ucap Bara kalem membuat Sania belalakkan mata. Arah pembicaraan Bara menjurus ke hal mesum. Tak urung pipi Sania merubah merah padam.
Sania turun dari tempat tidur tak hiraukan tawa renyah Bara. Bara makin tak sabar untuk memiliki Sania lahir batin. Secepatnya harus terlaksana sebelum gadisnya berubah pikiran kabur dari ikatan pernikahan mereka.
Bara ikut bangun ambil air wudhu sholat bersama Sania. Pagi yang berharga antara suami isteri itu. Mereka saling hormati sebagai pasangan tanpa harus ngotot hubungan intim.
Sania mencium tangan Bara seperti biasa. Sania melakukan hal lazim antara suami isteri dengan hati tulus. Tanpa ada paksaan. Bara pantas dapat penghormatan karena dia juga hormati Sania sebagai wanita. Tak memaksa kehendak demi *****.
Bara mengecup ubun-ubun Sania sebagai balasan ciuman Sania di tangan. Saat ini Sania dan Bara tak ubah seperti suami isteri umumnya. Sania perlihatkan ketaatan seorang isteri sedang Bara tunjukkan kasih sayang. Tulus atau tidak hanya Bara yang bisa jawab.
"Lieve...hari ini aku mau jumpa Pak Zainal dan Dr. Cipto." kata Sania masih duduk di atas sajadah.
"Kau bisa pergi sendiri?"
"Jangan kuatir! Aku Sania adalah pekerja ulet. Mungkin agak telat pulang."
Bara berusaha maklum keinginan Sania Raup kedua proyek tersebut. Semangat Sania tak diragukan. Bara makin kenal siapa Sania walau masih banyak pertanyaan belum terjawab. Sania sangat misterius, kadang hangat, kadang kejam tak punya perasaan. Namun gadis ini tetap pancarkan sinar positif yang disukai orang sekeliling.
"Hati-hati di jalan! Kau bawa mobilku saja. Mobilmu masih di kantor."
"Tak usah. Aku naik taksi ke kantor ambil mobil. Lieve jangan ke mana ya! Di rumah saja."
"Kenapa?" Bara heran Sania melarangnya keluar rumah. Apa rencana gadis ini?
"Lieve harus tunggu teman yang ngasih belasungkawa. Jangan biarkan orang mengatakan Lieve melupakan orang sudah pergi gara punya bini muda."
__ADS_1
"Itu hanya pemikiranmu. Tak banyak yang tahu kita menikah. Aku janji akan jadi suami setia menanti bini cari rejeki. Atau aku harus masak sambut isteri yang lelah bekerja?" olok Bara harap Sania terhibur.
Sania segera bangun berkacak pinggang tanpa lepaskan mukena di badan. Sania bergaya ibu muda bertampang galak sedang ngamuk.
"Jangan cuma masak! Cuci baju. gosok baju, bersihkan kamar mandi." ujar Sania galak anggap Bara pembantu gratis yang bisa dianiaya.
"Iya nyonyaku! Aku minta bayaran. Minta panjar dulu." Bara bangkit menyergap Sania secepat kilat. Sania tak sempat menghindar dari sergapan kilat suaminya.
Bara mengangkat wajah Sania menghadap wajahnya. Wajah Bara agak tinggi memaksa laki ini menunduk untuk dapat ambil jatah pagi.
Bara tak segan mengecup bibir ranum yang selama ini menggoda mata Bara. Bara sudah pernah rasakan bibir rasa ceri yang akibatkan Sania pingsan. Bara belum kapok ingin coba lagi cicipi bibir ranum itu lagi.
Ini kesempatan bagus mencoba di saat perasaan Sania sedang bagus. Bibir Sania lembut sekali berbau harum mints. Bara makin berani karena Sania tak menolak ciuman darinya.
Sang profesional sedang melatih amatiran merasakan bagaimana rasanya ciuman yang berasal dari orang yang berhak. Bara tak siakan kesempatan langka ini menguasai bibir Sania menjelajahi isi mulut mungil gadis itu.
Sania hanyut dalam pelukan Bara menikmati ciuman panjang dari suami tak tercinta. Bara ******* bibir Sania cukup lama hingga Sania tak sanggup menahan diri. Oksigen di otak berkurang drastis bikin gadis ini hilang akal sehat.
Bara melepaskan ciuman sambil tersenyum. Tangan Bara menyentuh bibir mungil yang baru saja tenggelam dalam bibir kasarnya. Bibir mungil itu memerah bengkak.
Sania tak kuasa menatap Bara yang masih rasakan kemenangan taklukkan Sania pagi ini. Bibir mungil Sania masih terasa melekat di hati.
"Kau manis...terima kasih panjar pertamamu! Aku akan rajin untuk dapat gaji penuh nyonyaku!" bisik Bara perlahan.
Pipi Sania mungkin bukan warna merah lagi. Tapi merah padam saking malu dicium Bara seusai sholat. Ini ciuman kedua mereka. Yang pertama Sania kaget sampai trauma. Kali ini Sania bisa nikmati kebersamaan mereka.
"Dasar mesum..." Sania memukul dada bidang Bara. Bara menangkap tangan mungil itu dekatkan ke dada agar Sania tahu Bara juga bahagia pagi ini.
"Aku cuma mesum sama kamu. Biasakan dirimu dengan suami."
Sania menarik tangan dari dada Bara lalu cubit pinggang laki itu kencang. Bara mengaduh kesakitan. Kali ini Bara tak berakting sebab gerakan tangan Sania cukup berbahaya. Kuat menggigit daging.
"Sakit..." Bara menggosok pinggangnya pakai telapak tangan untuk redakan rasa perih.
"Siapa suruh genit?"
"Genit kamu suka kan?"
"Siapa suka? Lieve yang suka mencuri kesempatan."
"Laporkan ke polisi aku mencuri cium bini sendiri! Besok lapor pula aku perkosa bini aku." guyon Bara bikin Sania salah tingkah. Pagi-pagi dingin gini bahaya bahas hal hal berbau intim. Setiap saat mereka bisa lepas kontrol bablas ke arah lain.
"Aku mau mandi siap-siap ke kantor. Jangan usil lagi!" Sania berusaha menjauhi Bara yang nampaknya belum puas hanya dapat jatah ciuman.
"Kita mandi sama ya!"
"Pak Bara..." seru Sania kencang.
"Ssssttt...jangan teriak pagi buta gini! Nanti dikira aku aniaya bini. Aku kan cuma minta ijin! Kali saja dibolehin." Bara masih mengharap Sania berubah pikiran mau mandi bareng.
"Aku mau sewa rudal dari Korea Utara tembak otak Lieve biar tak mesum. Atau Lieve mau rasakan rudal balistik dari Rusia?"
"Semua ngak mau. Aku juga punya rudal. Sekali tembak akan hasilkan Bara kecil. Mau coba?"
Sania menutup kuping tak mau dengar ocehan delapan belas tahun ke atas. Bara tertawa ngakak lihat reaksi malu Sania. Sedemikian polos kah Sania tak sanggup di ajak bercanda soal hubungan intim. Apa Bobby juga tak mampu taklukkan Sania hingga tak dapat jatah berharga dari Sania.
__ADS_1
Sania hidup cukup lama di luar negeri. Kehidupan sana bebas tak hargai nilai kesucian. Tak perlu pacaran atau menikah boleh berhubungan intim. Yang penting suka sama suka. Tak ada beban.
Selaput keperawanan hanya satu kata kiasan tak bermakna bagi mereka penghamba hidup bebas. Bara sudah lalui hari hari itu. Berhubungan intim tanpa ikatan. Bara dan Arsy tak ubah suami isteri saling memberi kenikmatan ranjang. Bara tak tahu dengan siapa Arsy berhubungan pertama kali. Bara merasa tak berhak tahu karena itu masa lalu Arsy.