MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Kintan


__ADS_3

Pak Satpam ketawa nyengir persis kuda sedang birahi. Sania melangkah pergi tinggalkan Dea bersitegang dengan Satpam. Sania yakin antara kedua orang ini takkan ada yang ngalah. Dea si Batak keras serta si Madura sangar. Klop deh dua kubu punya kekuatan dahsyat wakili dua suku berbeda.


Sania tinggalkan pesanan para rekan di meja biar masing masing cari pesanan sendiri. Sania sisihkan pesanan sang suami tak tercinta. Nasi Padang tak pedas.


Para rekan berebutan cari pengisi perut selera masing masing. Pekik gembira warnai waktu makan siang di lantai bawah. Semua puas dapat apa yang diharap.


Sania ikut senang memilih bawa makanan untuk bos sekaligus suami tak tercinta. Ini debut pertama Sania melayani Bara selaku bini laki itu. Kelihatannya sederhana nun makna yang ditimbulkan sangat berarti bagi Bara. Dilayani makan oleh bini muda.


Sania bawa piring plus sendok garpu ke ruang Bara. Tanpa ketok pintu Sania masuk ke ruang Bara.


Laki itu melirik Sania sekilas lalu kembali menekuni kerja. Sania ternyata tak semenarik PC komputer. Sania kalah saing dari barang mati itu.


Sania kecil hati tak dianggap oleh sang suami. Mau lirik atau tidak takkan pengaruhi hubungan mereka. Sejauh mana melangkah hubungan mereka tetap akan jalan di tempat. Tak ada kemajuan.


Setelah makanan tertata rapi di meja, Sania mengundurkan diri balik ke meja kerja.


"Kau sudah makan?" pertanyaan Bara stop ayunan langkah Sania.


Sania menoleh lalu angguk tanpa keluarkan suara. Bara tidak puas direspon pakai gerakan. Biasa bibir mungil Sania tak ragu lontarkan jawaban. Kadang bisa bikin leher tercekik.


"Sakit gigi?" tanya Bara lagi.


"Sariawan pak!" sahut Sania ogahan.


"Sariawan kambuhan. Tadi pagi masih kencang adu mulut."


Dengar Bara omong gitu Sania jadi teringat kata kata Dea sebut perang bibir. Sania merasa geli bayangkan adu bibir dengan bibir kasar Bara. Gimana lah rasanya bila bibir mereka bertemu. Akankah bawa sensasi tersendiri atau Sania akan pingsan saking takut.


Sania tak munafik pernah ciuman dengan Bobby. Wajar sepasang kekasih saling tukar air liur untuk lancarkan salah satu indera manusia. Sania tidak merasa sesuatu luar biasa. Biasa saja. Malah Sania tak suka bau mulut Bobby yang kadang ada bau nikotin dan alkohol.


"Bapak silahkan makan!" Sania gugup tak bisa jawab secara baik.


"Sini..!" bentak Bara keras.


"Ada apa lagi? Sariawan pak!"


"Dekat sini! Aku mau periksa sariawan di mulut bini kecilku. Takut ada infeksi bahaya."


Sania menepuk bibir sendiri nyesal asal bunyi. Kini Sania terjebak perangkap di buat diri sendiri. Bara sudah bergerak dekati Sania. Laki bertubuh besar itu enak saja memegang dagu Sania hadapkan ke wajahnya.


Dua pasang manik mata bertemu saling menatap tanpa ada suara. Mata bening Sania berkilau seolah bintang kecil nyasar di situ. Bara tercekat merasakan getaran hebat di relung hati. Perasaan apa ini? Cukup lama Bara tak rasakan gejolak aneh di hati.


Bara bukan anak muda lagi yang berbunga bunga tatkala jumpa pujaan hati. Bara sudah matang berkelana di dunia percintaan. Bara pernah punya Arsy dan terakhir Nania. Tapi kedua wanita itu tak sanggup membuat jantung Bara harus bekerja dua kali lebih cepat. Berpacu dalam pesona gadis muda maha cantik.


Lama sekali Bara memegang dagu Sania terpesona oleh Kilauan bintang nyasar di mata Sania. Kini Bara tempatkan diri dalam bahaya. Siaga satu. Bara mulai jatuh cinta pada bini mudanya.


"Pak... daguku sakit " kata Sania menyerupai bisikkan.


Bara tersentak. Secara reflek laki ini melepaskan dagu Sania mundur selangkah. Bara sendiri bengong mengapa dia bisa berbuat bodoh larut dalam pesona Sania.


"Maaf. Pergilah!" usir Bara pelan. Bara berusaha netral kan jantungnya yang berpacu dalam pesona Sania. Dada Bara menyala membara sesuai nama sendiri.


Bara butuh bantuan pemadam kebakaran untuk dinginkan hasrat hati yang terlanjur membara.


Sania cepat cepat ambil langkah seribu sebelum bosnya berbuat lebih konyol. Sungguh memalukan lakukan hal intim di kantor walau hanya sekedar menyentuh. Sekedarnya saja efek sungguh luar biasa. Bagaimana bila berlanjut lebih jauh.


Dea yang sudah lihat bagaimana Bara menggoda Sania maklumi hasrat Bara pada Sania. Sania terlalu cantik untuk dianggurkan. Punya bini secantik Sania hendak dilewatkan? Kalau iya artinya Bara sudah bisa disejajarkan dengan biksu Shaolin.


Sania duduk kembali ke mejanya dengan wajah merah merona. Jantung Sania tak kalah berantakan. Jantungnya berdegup bak baru diajak lari maraton sepuluh kilometer. Capek banget.


"Ssssttt...Pak Bara makan siang bonus kerlingan manis dari bini cantik." goda Dea buat Sania makin malu.

__ADS_1


"Jangan ngaco! Pak Bara sedang hukum aku. Jangan sebar berita ini! Tak ada yang boleh tahu hubungan kami."


Dea bikin gerakan kancing mulut dengan gaya lucu. Dea yang lebih berpengalaman tentu saja paham kalau bos mereka mulai tertarik pada Sania sebagai wanitanya. Bukan sebagai bini dalam perjanjian.


"Dia lakimu. Wajar toh gerilya pada bini cantik!" goda Dea buat Sania makin malu. Ingin rasanya Sania berubah jadi burung unta tanamkan kepala di tanah tutup malu.


"Awas kalau ngaco lagi. Kujamin makan siangmu cukup nasi putih." ancam Sania bikin Dea cekikan. Dea tahu Sania cuma bergurau. Gadis sebaik Sania mana tega turun tangan kejam pada rekan terbaiknya.


"Yup..." Dea angkat tangan nyerah.


"Cerewet..kerja!"


"Siap nyonya bos!"


Sania mendelik dipanggil nyonya bos oleh Dea. Kalau orang lain dengar kan tak enak. Untunglah ruang mereka hanya ditempati mereka berdua. Candaan ini cukup buat mereka berdua.


Ketenangan kerja terusik oleh suara teriakan nyaring seorang wanita. Dea dan Sania sama sama tarik nafas lihat siapa yang datang usik ketenangan mereka.


"Bara...Bara..." lengkingan nyaring warnai ruang lantai dua.


Arsy langsung hendak masuk ke ruang Bara. Dea secepat kilat hadang Arsy tak boleh menyalahi peraturan kantor. Tak boleh sembarangan masuk ruang bos tanpa ijin.


"Maaf Bu Arsy...silahkan tunggu! Aku tanya Pak Bara dulu!" Dea tak ijinkan Arsy masuk.


Arsy mendorong Dea secara kasar. Sikapnya tak sabaran ingin jumpa Bara. Tingkah Arsy kelewatan mirip orang bar bar keturunan raja Viking orang kejam jaman.


"Biarkan dia masuk ke dalam! Tak ada guna lawan karnivora tak punya perasaan." kata Sania meminta Dea ijinkan Arsy jumpa Bara.


Sania sengaja ijinkan Arsy masuk untuk lihat bagaimana reaksi laki itu jumpa mantan pacar tak tahu diri. Ini juga untuk test kesetiaan Bara pada para bini.


Arsy nyelonong masuk tergesa gesa. Wanita itu langsung menubruk Bara memeluk laki itu erat erat. Arsy menangis di pelukan Bara.


Sania nonton adegan haru biru tanpa ekspresi. Bara memang tak balas pelukan Arsy. Kedua tangan Bara bergantung di kiri kanan tanpa niat balas pelukan Arsy. Sania beri nilai pada Bara cuma sayang nilai tak bisa ditambah karena Bara tak menolak di peluk.


"Kini kak Dea bisa paham mengapa aku tak mau masuk lebih dalam kehidupan bos kita?" desah Sania pelan sembunyikan rasa kecewa.


Bara melepaskan pelukan Arsy membimbing wanita itu duduk di kursi. Bara menepuk bahu Arsy lembut beri semangat. Ntah apa topik bahasan kedua orang itu. Arsy betul betul kelihatan sedih.


Bara tak abaikan perasaan Sania. Laki ini lihat reaksi Sania yang dingin. Wajah Sania membeku tak pancarkan cahaya cerah seperti biasanya. Apa gadis itu cemburu pada Arsy? Bara bersyukur kalau mampu obrak abrik sarang di kalbu Sania. Artinya Sania punya rasa padanya.


Bara tinggalkan Arsy menuju keluar mengarah ke meja kerja Sania. Sania pura pura tak lihat kehadiran Bara menahan rasa jengkel pada laki yang tak mampu menahan diri terhadap mantan pacar.


"San..ikut aku!" ajak Bara


Sania mendongak menatap Bara tajam, "Apa aku perlu campur tangan masalah keluarga bapak?"


"Ngawur! Ikut saja!" Ujar Bara sedikit keras. Bara tak mungkin bentak Sania di depan Dea. Ini akan lukai harga diri gadis itu. Perasaan seorang gadis sangat peka. Salah omong bisa bisa Sania angkat senjata deklarasi perang.


Sania menghela nafas. Bara mau libatkan Sania dalam masalah dia dan Arsy. Sania takkan bodoh beri dukungan pada Arsy untuk ikut ramaikan istana Bara. Arsy siap jadi selir selanjutnya?


"Bapak urus saja selir kesayangan! Aku tak tertarik komentar kehidupan raja cabul." gerutu Sania.


Bara menarik nafas penuhi rongga paru dengan oksigen agar bisa bernafas lega. Sania bukan gadis gampang dirayu. Butuh energi segunung untuk hadapi gadis bermental baja itu.


"Dengar dulu. Kintan kritis di RS. Jantungnya kumat."


Hati Sania mencelos. Ternyata ini yang buat Arsy histeris mau jumpa Bara. Kintan punya bapak kenapa Bara yang dituju. Apa bapak anak itu tak berfungsi sebagai orang tua.


"Kenapa bapak? Bukankah dia ada bapak kandung?" tanya Sania tajam. Sania bukannya tak simpatik tapi langkah Arsy cari Bara sudah salah total. Bara bukan bapak kandung Kintan. Tak berhak tentukan hidup mati Kintan. Orang berhak justru diabaikan.


"Mengapa tak ada rasa iba di hatimu?"

__ADS_1


"Justru bapak salah! Bapak sok ingin pahlawan kesiangan. Bapak ingin disebut gentleman rebut pamor bapak kandung Kintan? Andai bapak di posisi bapak kandung Kintan bagaimana perasaan bapak? Hancur tak dihargai. Kalian dua memang serigala berkulit buaya."


Dea dan Bara melongo. Sejak kapan muncul peribahasa baru. Serigala berkulit buaya. Kalimat sangat sadis gambarkan profil seseorang.


"Apa bukan serigala berbulu domba?" tanya Bara tolol.


"Domba terlalu manis dipakai untuk kalian manusia buaya."


"Sania...jangan gitu! Ayo masuk dulu ikut dengar cerita Arsy!"


"Ogah...urus sendiri."


"Kintan butuh biaya operasi sangat besar. Arsy butuh dana untuk biaya operasi anaknya."


"Maksud bapak?"


"Arsy minta pinjam uang kantor." kata Bara melemah.


"Terserah! Itu uang bapak tapi jangan sentuh dana Pak Wandi. Itu full untuk garap proyek. Dana segar dari Pak Wandi bukan untuk bapak bawa foya foya." Sania berdiri tantang Bara yang berniat tarik dana untuk bantu Arsy.


"Bukan foya tapi demi nyawa Kintan."


"Silahkan! Aku resign dan batalkan proyek Pak Wandi. Aku tak mau jadi kambing hitam urusan asmara kalian."


Bara kaget dengar kata kata Sania yang mematikan. Bara tahu Sania bisa hentikan proyek Pak Wandi mengingat hubungan baik Sania dengan Pak Wandi.


Sania bukan hanya sekedar mengancam tapi jelas ketegasan terukir di wajah itu.


"Bagaimana nasib Kintan?"


"Itu urusan bapak dan selingkuhan bapak." ujar Sania makin tak bersahabat.


"Sania...mohon maklumi keadaan. Nyawa Kintan sedang dipertaruhkan."


"Bapak selamanya takkan dewasa. Hormati sedikit hak orang. Kasih tahu bapak kandung anak ini. Jadikan dia nahkoda hidup Kintan. Bukan bapak yang bukan apa apa." Sania melemah malas berdebat dengan laki tak berprinsip.


"Baiklah! Kita bicara sama Arsy dulu. Ayo masuk!"


Kali ini Sania patuh ikut Bara masuk ke ruangan. Arsy masih nangis Bombay di sofa. Sania perhatikan dandanan Arsy yang tak mirip orang sedang berduka. Pakaian setengah meter masih melekat di badan. Make up juga full glowing walau dikit berantakan gara curahan air mata buaya.


"Arsy...coba telepon Rudi kasih tahu kondisi Kintan!" nasehat Bara pada Arsy.


"Laki itu? Dia cuma salesman kecil. Bisa apa?" bentak Arsy tak senang. Matanya mengarah pada Sania yang berdiri di samping Bara. Sania tak gentar dihujani peluru tajam dari tatapan Arsy. Sania sudah pakai rompi anti pelakor setengah meter. Tak tembus peluru lagi.


"Salesman dia tetap bapak kandung Kintan. Mengapa dulu kalian produksi Kintan tak pikir panjang lebar akibat bodohi orang lain? Kalian yang kurang ajar imbasnya ke Kintan." ucap Sania dingin.


"Apa hakmu kritik aku? Aku ini calon isteri Bara kalau Nania mati. Ingat itu!"


"Ingat..ingat ada orang betah hidup dalam halusinasi! Sekarang telepon Rudi dulu! Kita selesaikan masalah Kintan."


"Tidak mau. Rudi tak bisa lakukan apapun. Bukankah kalian baru dapat banyak proyek? Uang segitu tak jadi masalah bukan? Cuma dua milyar." Arsy berterus terang tanpa malu.


Sania besarkan mata kaget Arsy masuk terlalu jauh dalam hidup Bara. Laki ini dapat proyek saja dia ngerti. Siapa telah lancang buka rahasia perusahaan pada wanita ini.


Sania lemparkan pandangan menuduh pada Bara. Siapa lagi lapor pada wanita ini kalau bukan Bara sendiri. Sania merasa Arsy telah melampaui batas sebagai sahabat Bara tepatnya mantan pacar.


"Kau ke sini karena Bara dapat proyek? Coba ke dokter mata cek seberapa ijo mata ente. Dengar baik baik! Aku tak peduli seberapa banyak uang Bara mengalir ke dompetmu di masa lalu tapi jangan harap satu senpun. Ini uang proyek. Uang halal untuk biayai keluarga. Bukan untuk dihambur ke wanita tak jelas."


Sania tak berbasa basi jaga image Arsy lagi.


"Kau..." Arsy maju hendak tampar mulut lancang Sania.

__ADS_1


Bara cepat menahan tangan Arsy jangan sampai mendarat di pipi mulus gadisnya. Hati Bara ikut sakit bila gadisnya disakiti.


"Arsy...tahan diri! Ingat Kintan. Telepon Rudi ajak ke sini! Kita cari jalan keluar bersama. Sania benar. Uang yang ada memang uang proyek. Tak bisa diganggu sampai proyek selesai."


__ADS_2