MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Bertengkar


__ADS_3

Mungkin saatnya Bara bangkit dari keterpurukan selama bertahun-tahun. Kini telah hadir malaikat pintar menebar cahaya terangi jalan hidup Bara. Selamat tinggal masa lalu kelam. Sinar terang telah datang buka lembaran baru.


Seusai makan Bara dan Sania pamit balik ke kantor. Sebelumnya Sania memesan makanan untuk Roy. Sania yakin Roy tak sempat pergi makan siang karena ada ondel-ondel norak sedang ganggu di kantor.


Sejujurnya Bara kurang senang Sania menaruh perhatian pada Roy. Bara takut perhatian kecil berkembang jadi besar seperti balon ditiup makin besar. Lama-lama meledak ciptakan sensasi mengejutkan. Bara tak mau kisah lama terulang lagi.


Bara dan Sania balik ke kantor setelah pamitan sama Pak Jaya. Laki paro baya itu masih ada pekerjaan menanti belum bisa balik kantor. Kedua orang muda itu siakan waktu langsung balik kantor.


Dugaan Sania tak meleset kalau ondel-ondel norak itu masih betah menggeram di kantor Bara. Sania bisa bayangkan betapa pusingnya Roy ladeni orang yang obrolan tak berujung pangkal. Selalu anggap diri sendiri adalah manusia paling penting.


Sania tak habis pikir mengapa kelompok Bara dkk hidupnya penuh sensasi. Tidak Arsy, Rudi, Bara dan Nania. Untunglah Roy masih berada di tahap normal. Apa sejenis kutukan bagi orang tak hargai tata Krama dan etika sebagai umat beragama?


Sania tak mau masuk ruang Bara karena mau hemat energi. Kalau ngobrol dengan Maya bisa pancing emosi Sania. Sania paling tak suka orang suka agungkan diri sendiri. Apa lagi model Maya yang hidupnya penuh kepalsuan. Jangan kisah hidup, seluruh badan juga palsu. Apa yang bisa dihargai dari orang kayak gitu. Sia-sia buang waktu di badan orang kayak gitu.


"Lieve...ini makan siang Pak Roy! Berikan pada Pak Roy." Sania berikan tas berisi makanan untuk Roy pada Bara.


"Aku harus tinjau pembangunan Pak Zainal. Kau di kantor saja ya!"


Sania mengangguk. Sania masih ada janji urus masalah alat berat Pak Jaya maka tak ingin turun lapangan. Sania harus fokus untuk presentase di PT. SHINY agar tampil maksimal.


Sania kembali tekuni kerjanya sambil menanti data dari Pak Jaya. Sania harus berikan yang terbaik pada keluarga Pak Jaya yang sudah beri kepercayaan padanya. Sania melihat di dalam ruang Roy memberikan makan siang pada Maya. Mungkin satu perhatian pada teman. Sania tak boleh kesal pemberiannya tak dihargai Roy. Seharusnya Sania pesan dua porsi untuk kedua orang yang tertinggal di kantor.


"Ssssttt...San..siapa badut itu?" tanya Dea menunjuk Maya pakai bibir.


"Calon nyonya baru kalian!" gurau Sania bikin Dea kheki. Satu kantor tahu Sania adalah isteri Bara mengapa muncul calon nyonya lagi.


"Calon nyonya kw berapa?"


"Santai saja...masih banyak calon nyonya kalian. Kita tunggu drama menarik tak lama lagi. Aku tak sabar mau lihat berapa wanita datang mendaftar jadi calon nyonya."


"Ciss..sungguh wanita tak tahu diri. Berani ngaku calon nyonya padahal Pak Bara sudah punya nyonya jauh lebih ok." omel Dea tak terima Sania terkucil oleh wanita-wanita pendamba Bara.


"Biarin saja kak! Santuy saja! Aku sih tak ambil pusing mau sejuta wanita datang pun ngak masalah. Bara itu cuma satu. Punya aku."


Dea mengacung jempol puji sikap Sania tak mudah terprovokasi oleh wanita lain. Sania wanita berkelas mana mau brutal kayak orang tak berpendidikan.


Bara, Maya dan Roy keluar dari ruang kerja Bara. Ketiganya beriringan hendak turun ke lantai bawah. Bara menatap Sania minta pengertian hendak pergi ke satu tempat. Seperti biasa Sania tanggapi dengan dingin. Sania harus terbiasa sikap Bara yang tak mampu tegas pada teman lama.


Bara tak sadar sikap ini akan jadi bumerang kehilangan yang paling berharga dalam hidup. Kesabaran setiap manusia ada batasnya. Sania masih hargai posisi Bara sebagai atasan maka memilih diam.


Hp Sania berbunyi masih chat di aplikasi wa. Sania melihat layar ponsel tertanda chat dari Bara.


\=Aku antar Maya balik ke hotel dan langsung ke lapangan bersama Roy. Nanti sore aku jemput kamu. Kita pulang ke rumah.\=


Sania mematikan ponsel tanpa niat membalas chat dari Bara. Mengapa Bara tak berani langsung katakan di depan Maya. Takut Maya salah sangka atau jaga perasaan Maya. Sungguh laki plin plan.


Satu jam ke depan Sania disibukkan oleh tugas dari Pak Jaya. Sania langsung pesan sendiri dari Jerman peralatan berat orderan Pak Jaya. Puji syukur semua berjalan lancar bahkan dapat kemudahan soal pembayaran. Pak Jaya cukup bayar setengah dari total nilai uang. Setelah barang tiba baru lunasi. Suatu berkah tak terhingga dari Yang Maha Kuasa.

__ADS_1


Sania langsung meneleponi mertuanya beri kabar gembira ini. Tugas pertama dari Pak Jaya berhasil dijalankan dengan baik merupakan prestasi baru buat Sania.


"Assalamualaikum pa...ini Sania!"


"Waalaikumsalam...gimana? Sukses?"


"Alhamdulillah berhasil. Besok papa tinggal transfer setengah dananya. Setelah peralatan merapat baru papa lunasi."


"Ya Allah...apa boleh gitu?"


"Perjanjian memang gitu. Mereka sudah kirim semua data via email. Langsung ke email papa. Mereka tahu sama perusahaan papa kok. Sudah berapa kali beli alat berat."


"Ya betul..kamu bisa bahasa Jerman?"


"Alhamdulillah bisa...kalau papa ada keperluan lain boleh kabari Sania."


"Ya Allah...nyatanya anak papa pintar. Malam ini makan di rumah ya. Kita bahas masalah kantor untuk kalian. Kantor kalian sungguh tak memadai tampung banyak karyawan. Gabung di kantor papa biar setiap saat kamu bisa bantu papa handle kesulitan soal bahasa."


"Itu tanya Pak Bara dulu! Sania tak berani ambil keputusan."


"Pak Bara? Kamu masih panggil dia bapak?"


"Di kantor tetap gitu peraturan pa! Saling hormati." sahut Sania kalem tak masalahkan status tak penting. Yang penting isi dalam. Sehebat apapun penampilan tapi cuma cangkang kosong tak ada nilai sama sekali.


"Ya papa paham...semoga Bara bisa tumbuh besar di tanganmu. Dia itu paling susah menolak orang dekat. Itu yang telah hancurkan hidupnya."


"Semoga tak ada kejadian kedua kali." gumam Sania ragu karena sikap Bara tak bisa tentukan arah benar..


"Waalaikumsalam.."


Sania merasa hatinya kosong setelah dengar penjelasan papa Bara. Dugaan Sania tak meleset kalau Bara tak punya kompas hidup. Tak tahu arah tujuan pasti bila berhadapan dengan teman masa lalu. Seharusnya Bara sudah bisa move on buka lembaran baru setelah kematian Nania.


Sorenya Bara tak datang menjemput Sania. Sampai kantor ditutup Bara juga tak muncul. Jangankan muncul satu pesan pun tak muncul di ponsel Sania. Sania kecewa terlalu mengharap Bara berubah. Nyatanya Bara tetap utamakan wanita-wanita dari masa lalu. Sania tak ada apa-apa dibanding sama orang masa lalu Bara.


Sania mengirim pesan pada Pak Jaya kalau dia banyak kerja tak bisa pulang ke rumah Pak Jaya. Sania memilih pulang ke apartemen menenangkan hati. Sania perlu tenaga dan pikiran waras untuk presentase di kantor PT.SHINY. Persetan Bara.


Sania memesan makan malam via ojek online. Tak ada guna mengharap pisau tumpul berubah tajam bila ada gerakkan bersihkan diri dari karatan. Hati Sania yang mulai hangat kini mendingin lagi. Sania kembali terpuruk oleh kelakuan lelaki.


Jam sepuluh malam pintu apartemen Sania dibuka orang. Sania menduga itu pasti Bara. Tak ada orang yang tahu kode sandi kamarnya selain Rangga dan Bara. Sania menghela nafas tak tertarik menyambut pecundang yang tak pernah dewasa. Sania pura-pura tidur saking kesal pada laki bodoh itu.


Bau harum maskulin Bara tercium di hidung Sania. Ternyata laki ini sudah mandi menebarkan bau lelaki jantan. Andai Bara tak ingkar janji mungkin Sania akan dengan senang hati menyambut Bara.


"Sania...sudah tidur?" tanya Bara lembut di kuping Sania. Hembusan nafas panas Bara menerpa kulit leher Sania. Perasaan asing menyeruak di dada. Jantung Sania berdegup kencang terbawa arus gairah.


Sania cepat menepis perasaan aneh yang hadir berdekatan dengan suami tololnya. Pesona Bara memang luar biasa. Sania tak boleh lemah terbawa suasana.


Bara melihat bulu mata lentik Sania berkejap tahu isterinya belum tidur. Sania sedang ngambek Bara ingkar janji tak jemput dia pulang.

__ADS_1


"Maafkan aku! Kami terjebak di proyek. Hp lowbat tak bisa teleponi kamu. Aku pulang tempat mama katanya kamu tak datang. Aku ke sini cari kamu." ujar Bara tak peduli Sania dengar atau tidak.


Bara yakin Sania dengar. Bara tak ingin isterinya salah paham memikirkan yang bukan bukan karena adanya Maya. Apa lagi Sania masih muda. Gampang tersulut emosi.


Sania tetap tak bergeming walau Bara cerita kesulitan di lapangan. Bara pikir Sania anak SD mudah dibodohi. Andai ponselnya lowbat bukankah ada hp Roy. Segitu sulitkah kabari keluarga di mana dia sesungguhnya. Sania yakin ini ada hubungan dengan Maya. Bara tak tega biarkan Maya sendirian.


Melihat Sania tak jawab Bara memilih ikutan tidur di sisi Sania. Bara memeluk Sania dari belakang karena Sania tak sudi menatap Bara walau sekilas mata. Bara sama saja dengan Bobby tak bisa bebaskan diri dari godaan mata.


Sania terbangun oleh azan subuh memanggil umat Islam melaksanakan sholat pertama di pagi buta. Sania segera bangun untuk menunaikan tugas utama muslim taat. Sania tak bangunkan Bara karena masih kesal pada laki itu.


Sania buka jendela kamar mencari udara segar pagi hari. Sania penuhi paru-paru dengan oksigen yang belum tercemar banyak polusi. Angin dingin menampar wajah mulus Sania datangkan rasa adem sesaat.


Langit masih lembaran kelam belum ada cahaya mentari. Bahkan bintang masih tampak satu dua hiasi langit gelap. Sania memejamkan mata harap terang cepat datang. Mengapa hidup Sania selalu kelabu. Padahal Sania tak pernah berbuat jahat pada orang. Justru Sania cukup banyak ulurkan tangan membantu orang. Kapan Sania bisa nikmati hari tenang tanpa gangguan tangan jahil.


Azan berakhir sadarkan Sania untuk segera ambil air wudhu. Sania tak peduli pada Bara yang masih molor tak terusik oleh gema suara azan dari mesjid terdekat. Sania menilai iman Bara masih tipis belum sadar kalau dia makin jauh dari agama.


Sania melaksanakan sholat sendirian. Setelahnya Sania baca ayat suci untuk menenangkan hati jelang penentuan tender proyek raksasa yang dia idamkan dari tahun lalu.


Bara terbangun oleh suara lembut Sania baca ayat suci Alquran. Lama Bara menatap Sania yang duduk bersimpuh di lantai sambil lantunkan ayat-ayat penenang Sukma. Bara terkesima tak sangka Sania sangat fasih baca Alquran. Sania terlalu sempurna jadi seorang wanita. Betapa bodoh Bara kalau tega main gila lagi.


Sania akhiri lantunan memuja isi kitab Al-Qur'an. Tanpa memandang pada Bara wanita ini membereskan perlengkapan sholat serta menyimpan kitab suci umat Islam di atas meja.


Bara perhatikan gerak gerik Sania sambil menghela nafas. Kelihatannya Sania masih marah walau Bara sudah jelaskan panjang lebar mengapa dia tak datang.


"San...kenapa tak ajak aku sholat?"


"Sholat itu tak perlu diajak karena butuh kesadaran sendiri. Orang tak hargai agama mana mungkin sadar kalau berbohong itu dosa."


"Ya ampun...aku sudah katakan mengapa aku tak jemput kamu. Mengapa masih marah?"


"Marah? Apa aku marah teriak kayak orang tak waras? Bapak terlalu tinggi memandang diri sendiri. Orang lain itu tak penting bagi bapak. Hidup saja dari masa lalumu. Selamanya bapak akan terlelap dalam mimpi buruk."


Seharusnya Bara sadar betapa tajamnya lidah Sania. Mengeluarkan kalimat dengan nada rendah tapi hasilnya bisa hujam ke jantung.


Bara turun dari tempat tidur hampiri Sania yang mematung tak jauh dari suaminya. Sikap kaku Sania muncul lagi seperti pertama Bara jumpa dengannya.


"Maafkan aku! Tak seharusnya aku tak datang. Kami benar terjebak di proyek. Ada sedikit kesalahan di penggalian. Aku dan Roy kawal sampai kedalaman tepat. Kami harus antar Maya balik ke hotel maka telat pulang."


"Maya...sebegitu pentingkah dia sampai kau bawa ke proyek?" tanya Sania dengan suara menggeram. Mata Sania yang belo terbuka besar memancarkan sinar tajam.


"Dia matian minta ikut lihat proyek. Ada Roy kok!" Bara mundur dipelototi mata bulat penuh amarah itu.


"Aku salah menilai mu. Kau tak pernah ambil hikmah dari masa lalumu. Aku paling tak suka lelaki tak berprinsip. Kita pisah saja. Aku tak sanggup lihat kamu tetap menoleh ke masa lalumu yang konyol. Roy dan Rudi jauh lebih pintar darimu. Mereka bisa move on. Dan kamu apa?" tanya Sania tetap jaga volume suara tak ganggu tetangga.


"Aku cuma kasihan pada Maya. Dia baru bercerai. Hatinya pasti hancur."


Sania tertawa geli dengar Bara kasihan pada wanita lain sementara orang patut dapat perhatian justru diabaikan.

__ADS_1


"Kau tak perlu kasihan padaku bila kita bercerai. Aku tetap akan bekerja untukmu tapi murni sebagai karyawan. Cukup sekian. Jangan ajak aku berdebat lagi!" Sania memilih masuk kamar mandi cuci muka untuk dinginkan hati.


Bara terpana melihat ketegasan Sania. Betul-betul wanita berhati besi. Gampang dia ucapkan cerai di pagi buta. Bara tak sangka Sania akan semarah ini.


__ADS_2