
Sania tahu Bara berada di posisi sulit memilih antara isteri dan teman. Sania bukannya tak punya hati tak punya rasa kemanusiaan namun akting Maya bunuh diri terlalu buruk. Sania tahu Maya lakukan itu cari perhatian Bara. Sania harus membunuh rasa cemas Bara terhadap Maya.
"Baiklah! Kita pergi lihat dia! Ingat...ini hanya demi rasa kemanusiaan. Di hotel mana gundikmu itu nginap?" Sania menyerah dengan rencana tersendiri. Sania mau buka kedok Maya agar Bara dan Roy sadar sedang dipermainkan wanita itu.
"Maya bukan gundikku. Dia temanku. Dia nginap di hotel." Bara menyebut nama hotel mewah tempat Maya menginap berapa hari ini.
Sania tak peduli ocehan kesal Bara dituduh punya gundik Maya. Maya hanya masa lalu. Itu yang dipegang Bara.
Bara dan Sania segera mandi wajib karena telah lalui malam indah ritual suami isteri. Sania tak peduli rambut panjangnya tampak basah bisa timbulkan tanda tanya orang. Sania peduli amat sama pikiran orang. Toh dia punya suami halal. Wajar lakukan hubungan intim.
Sebelum berangkat ke rumah sakit tempat Maya dirawat Sania meneleponi seseorang untuk minta dikirimi rekaman cctv di hotel tempat Maya menginap. Sania merasa Maya terlalu mengada-ada buat acara bunuh diri segalanya. Lalu hubungi Roy kasih tahu dia bunuh diri. Bukankah lelucon lucu? Bunuh diri kok laporan.
Bara dan Sania akhirnya berangkat juga ke rumah sakit. Mereka tak sempat pamitan karena semua penghuni rumah sudah lelap terbuai mimpi. Keadaan sekeliling sudah sepi tatkala mobil Bara melaju ke arah tujuan. Sania melirik jam digital di layar ponsel. Pukul satu dini hari. Ada saja cara Maya menarik perhatian Bara. Ini bisa jadi ujian buat Bara tentukan pilihan. Maju bersama Sania atau balik ke masa silam. Semua tergantung Bara tentukan pilihan sendiri.
Sesampai di rumah sakit Bara hubungi Roy cari tahu di mana Maya di tempatkan. Bara cukup panik mendengar Maya dirawat namun laki ini tak bisa perlihatkan kepanikan itu di depan Sania. Bara ingat ancaman Sania akan angkat kaki bila Bara tak bisa tentukan sikap.
Maya di tempatkan di ruang VIP khusus untuk orang kaya. Maya cukup banyak duit untuk hidup santai dilayani para suster plus cari perhatian Bara. Dengan cara ini Maya bisa jerat Bara dengan rasa bersalah telah memilih wanita lain.
Roy menjaga Maya dengan muka kuyu kelelahan. Laki ini sport jantung dengar kenekatan Maya akhiri hidup ditolak Bara. Maya sungguh konyol permainkan hidup sendiri demi laki yang dia cintai.
"Bagaimana Maya?" buru Bara begitu masuk ruang rawat Maya. Maya tampak tertidur setelah berhasil ditolong para medis. Wajahnya biasa tak berubah pucat walau baru saja melakukan percobaan bunuh diri.
"Sudah aman...semua racun sudah dikeluarkan." ujar Roy sambil lirik Sania yang berdiri agak menjauh. Tanggapan Sania dingin tak tunjukkan rasa simpati walau Maya hampir meninggal.
"Syukurlah! Mengapa dia bodoh? Dia punya segalanya. Untuk apa kejar aku?" keluh Bara tak habis pikir mengapa otak Maya bisa mampet. Pendek sekali antena di kepala. Signal hanya satu mili tak mau jangkau luas.
"Jangan dibahas! Apa yang harus kita lakukan? Aku takut dia nekat lagi. Telepon suaminya saja! Mereka kan belum bercerai." usul Roy takut kejadian ini terulang lagi.
"Aku keluar sebentar. Silahkan kalian tentukan langkah selanjutnya." Sania bosan dengar rencana jangka panjang Roy. Kedua cowok ini takut Maya akan bikin ulah bunuh diri lagi.
Sania sengaja cari info apa yang telah Maya lakukan mencoba bunuh diri. Pertama tentu cari dokter yang merawat Maya. Sania bukan orang bodoh gampang dikelabui oleh ular berbisa macam Maya. Cara Maya banyak kejanggalan untuk cari perhatian Bara.
Sania menuju ke IGD di mana Maya pertama kali dapat pertolongan. Para medis di situ tentu ngerti apa yang telah terjadi.
Sania melihat suasana ruang IGD sepi tak ada pasien darurat. Para perawat juga sedang santai duduk istirahat setelah capek layani orang sakit. Sania beranikan diri hampiri para perawat yang sedang ngantuk itu.
"Assalamualaikum..." sapa Sania pada salah satu perawat muda.
"Waalaikumsalam...apa yang bisa kami bantu?" sahut perawat itu ramah.
"Maaf ganggu! Tadi kakak aku baru dari sini. Yang percobaan bunuh diri itu. Apa yang dia lakukan?"
Perawat muda itu tertawa kecil merasa lucu oleh pertanyaan Sania. Tak ada rasa gugup di wajah manis itu.
"Bunuh diri? Gak kok! Perutnya cuma terisi Coca cola campur permen Mentos. Mungkin dia minum Coca cola lalu makan permen Mentos maka bereaksi gembung. Gak bisa mati cuma perut begah karena kedua bahan itu dicampur bikin reaksi berbusa. Sudah aman kok! Tenang saja mbak! Kakak mbak gak apa apa. Mau pulang juga boleh."
Sania mangut kecil sudah ngerti permainan Maya bikin semua sport jantung. Cara sangat murahan gitu hendak dilakonkan di depan mata Sania. Sekali lihat Sania sudah tahu Maya sedang bersandiwara.
__ADS_1
"Sus...aku boleh minta tolong?"
"Apa yang bisa kulakukan mbak?"
"Kakakku itu sudah sering berbuat konyol gini. Aku mau kasih pelajaran biar dia tak ulangi kebodohan ini."
"Oh gitu ya! Lalu apa yang bisa kulakukan?"
"Gini sus! Nanti kita ke ruang perawatannya. Suster bilang saja lambungnya sudah terluka parah harus dioperasi. Katakan operasi ini cukup riskan bisa saja dia mati di meja operasi."
Mata suster itu terbelalak kaget dengar permintaan Sania yang melanggar kode etik medis. Seorang petugas medis mana boleh bohongi pasien.
"Mana boleh gitu mbak?"
"Please...ini satunya cara biar dia jera melakukan hal konyol ini. Kalau tidak kami akan capek terusan dia bertingkah bodoh. Tolonglah Sus!" Sania memohon merangkap kedua tangan di dada.
Suster itu masih ragu ikuti permintaan Sania. Tujuan Sania memang baik tapi itu salah me nakuti pasien. Namun jika kejadian berulang suatu saat pasti akan memakan korban betulan.
"Baiklah! Ayok kita ke sana!"
"Terimakasih." Sania mempersilahkan perawat itu berjalan ke ruang rawat Maya.
Sepanjang koridor ruang rawat VIP sepi. Suasana sangat tenang tanpa suara bising. Sania yakin semua pasien sudah istirahat cari kesembuhan.
Sania dan perawat masuk ke ruang rawat Maya bersamaan. Sania ambil posisi agak jauh dari Maya beri kesempatan perawat itu cek up Maya. Pertama perawat muda itu cek cairan infus apa berjalan baik. Aman.
"Ach ibu sudah sadar. Bagaimana keadaan ibu?" tanya perawat itu ramah.
"Perutku sakit sus. Kepala ku pusing." keluh Maya lemah.
"Oh gitu ya! Ibu yang sabar. Lambung ibu terluka parah harus dioperasi. Kalau tak segera ambil tindakan ibu bisa bahayakan jiwa sendiri. Nyawa bisa melayang." ujar suster itu kalem.
"What? Cuma segini bisa mati? Aku tak mau mati." ketus Maya buat Sania ingin terbahak-bahak.
"Bukankah tadi ingin mati. Sekarang sudah ada jalan menuju akhirat malah takut. Kamu ini tolol atau bego?" sindir Sania merasa menang di atas angin. Sekali gertak langsung keluar musang berbulu domba.
"Kau..." tunjuk Maya ke arah Sania yang tertawa cekikan. Gampang sekali tangkap musang tak pintar itu.
Bara dan Roy kontan lemas merasa kesal dipermainkan Maya. Kedua laki ini bukan bodoh tak tahu sedang dibodohi Maya. Sia-sia ikut cemas pada kondisi Maya.
"Ibu istirahat saja. Jangan berbuat konyol lagi! Hargai nyawa sendiri. Semua orang akan mati tapi jangan pilih jadi algojo buat diri sendiri." nasehat sang perawat muda bijaksana.
"Suster betul...cara kotor hanya bawa akibat buruk! Sekali berbohong seumur hidup orang takkan percaya." timpal Sania ikutan nasehati Maya.
"Ya sudah...ibu istirahat ya! Kalau ada apa-apa panggil kami. Besok dokter akan buat analisa baru untuk ibu." perawat itu berniat pergi setelah bantu Sania beri pelajaran pada Maya agar kelak hargai nyawa sendiri.
Sania serahkan penilaian pada Bara bagaimana sosok Maya sesungguhnya. Bara orang bodoh tak ngerti makna sandiwara Maya. Tapi Bara tak keluarkan kalimat yang bisa sakiti hati Maya. Bara anggap diri sendiri adalah pahlawan buat teman mana tega ngejudge teman lama.
__ADS_1
"Maya...kamu istirahat ya! Kami pulang dulu. Semoga besok dokter beri jawaban memuaskan." ujar Bara datar. Bara sedih dan kesal dipermainkan Maya. Untung Bara bijak tak tinggalkan Sania kejar Maya. Andai Bara terpancing pergi sendiri maka Sania pasti akan ucapkan sayonara.
"Bara...kau tega tinggalkan aku? Aku hampir mati karena ingat kamu." kata Maya sendu tak rela Bara pergi.
"Maya...aku punya isteri. Tak mungkin aku temani kamu. Orang bisa salah sangka hubungan kita."
"Kau benaran mau lihat aku mati?"
"Tentu tidak..kau lupa anak-anakmu di rumah? Kasihani mereka. Pulanglah ke Amerika! Di sana ada keluargamu."
"Tapi aku cinta padamu. Muller tak ada apa-apa dibanding kamu." seru Maya dengan nada tinggi. Roy cepat-cepat memegang wanita ini agar jangan teriak mengganggu pasien di kamar lain.
"Ssssttt jangan berisik! Ini rumah sakit! Bara benar Maya! Biarkan Bara hidup bahagia bersama Sania. Mereka adalah pasangan serasi. Satu tua dan satunya muda." Roy membujuk Maya sekalian sindir Bara.
"Aku tak keberatan berbagi Bara. Wanita ini tetap jadi isteri Bara tapi aku bini tua. Dia masih muda pantas di posisi bawah."
Sania merasa otak Maya sudah rusak akibat minum Coca-Cola terlalu banyak. Gampang saja dia hina Sania jadi selir Bara sementara dia ratunya. Sania mana Sudi berbagi suami pada wanita yang anggap hubungan intim hanya suatu hal lumrah.
"Tante...kalau kau suka pada Bara silahkan kejar tapi ingat! Aku tak sudi berbagi suami. Wanita sejuta umat macam kamu bisa saja mengidap penyakit kelamin. Aku tak mau ambil resiko terinfeksi. Otakmu mungkin terendam minuman dan permen ya!" Sania sengaja buka sedikit rahasia Maya agar jangan dibodohi terusan. Maya mengira dia saja yang pintar.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku sebelum kau minum Coca-Cola dengan Mentos kau lakukan apa? Mau lihat rekaman cctv hotel? Seorang gigolo masuk kamarmu. Masih ciuman mesra sebelum pisah. Lalu pesan Coca-Cola dan permen Mentos untuk berakting bunuh diri. Setolol apa kamu ini?" Sania buka kartu Maya saking geram penghinaan yang dilontarkan Maya. Andai Maya tak anggap remeh Sania mungkin Sania takkan permalukan Maya. Maya yang duluan bunyikan genderang perang. Sania tak gentar angkat senjata perangi kelaliman.
Wajah Maya berubah warna Sania buka semua kartu matinya. Sedikitpun Maya tak sangka sedang berhadapan dengan wanita jauh lebih cerdas darinya. Maya sangka Sania hanya gadis muda bodoh gampang dibujuk.
"Jangan fitnah! Aku bisa tuntut kamu! Kau tahu siapa aku?" seru Maya dengan wajah seram.
"Tahu...wanita tak punya moral. Punya anak dan suami tapi masih kejar suami orang. Jangan asyik operasi wajah! Operasi hatimu biar lebih baik."
Habislah Maya jumpa Sania si mulut tajam. Maya tak mungkin lawan Sania dalam berargumentasi. Sania punya segala cara jatuhkan lawan bicara apalagi Sania punya bukti untuk tendang Maya ke comberan.
Bara dan Roy makin kecewa pada Maya tega permainkan perasaan mereka berdua. Roy dan Bara tulus kuatir kondisi Maya sebagai kawan lama. Ternyata semua hanya sandiwara Maya cari perhatian Bara.
"Bara lihat isterimu yang kurang ajar! Beraninya dia fitnah aku yang hampir mati karena rindu padamu." rengek Maya berusaha cari perhatian Bara.
"Istirahatlah! Semoga kamu cepat sembuh." Bara terlanjur kecewa memilih tak ladeni ocehan Maya. Bara percaya Sania tak sembarangan bicara bila tak ada fakta.
"Bara...kau tega? Bukankah kau bilang akan ada bila aku perlu? Aku perlu kamu sekarang."
"Bukankah aku sudah datang? Cuma kau harus ingat kalau aku sudah punya keluarga. Jauhilah aku! Ayo kita pulang sayang!" Bara meraih tangan Sania dengan mantap keluar dari ruang rawat Maya.
Sania tersenyum penuh kemenangan bak jendral besar menang peperangan. Sania sudah berhasil menangkan perhatian Bara. Hati Sania sedikit tenteram Bara mulai bisa move on dari lintah pengisap darah yang kegatalan.
Roy juga tak kalah kecewa pada Maya tega merampas kepercayaan seorang teman. Perbuatan konyol Maya tak hanya ganggu waktu istirahat Roy tapi juga bikin jantung laki ini lari maraton. Roy hampir jantungan dengar Maya sekarat. Nyatanya semua hanya akting.
"Maaf May..aku juga mau pulang. Istirahat ya! Besok aku masih harus kerja. Ingat umur! Kita bukan remaja yang boleh ngambek sesuka hati. Lihat Sania! Dia masih muda tapi bijak. Selamat malam."
__ADS_1
Roy juga pergi setelah menahan rasa dongkol tak dapat diukur pakai takaran manapun. Tinggallah Maya mendesah jengkel sandiwaranya cepat terbongkar oleh kecerdasan Sania. Ternyata wanita muda di samping Bara tak mungkin ditundukkan. Wanita itu juga punya power bisa kendalikan pihak tertentu. Buktinya dia bisa dapatkan cctv hotel dengan gampang. Sekuat apa power wanita muda ini. Maya takkan menyerah biarkan Bara dan Sania hidup tenang.
Bara bungkam dalam perjalanan pulang ke rumah. Sania tahu Bara kecewa pada teman lamanya. Bara beri perhatian malah dipermainkan. Sedih hati Bara.