
Roy merasa plong satu masalah Bara terselesaikan. Wanita mana lagi akan datang mengusik hidup Bara yang tak pernah sepi dari godaan. Apa karena Bara terlahir lebih ganteng atau memang nasibnya tertulis harus hidup di bawah bayangan wanita penggoda.
Roy berdoa semoga perjalanan cintanya tak serumit Bara. Dijauhkan dari godaan wanita pencinta materi.
Roy berjalan ke parkiran mobil menoleh ke belakang menatap gedung kantor Bara. Ini yang terakhir gedung ini dihebohkan oleh para pelakor. Ke depan Roy akan minta satpam ceking keperluan wanita-wanita yang datang cari Bara. Untuk berjaga-jaga hindari kejadian melukai hati Sania.
Roy jalankan mobil menuju ke cafenya untuk pantau perkembangan cafe selama dia tak ada. Roy percayakan cafe pada anak buah yang dianggap setia. Sejauh ini laporan masih aman. Berjalan normal.
Bara pulang ke rumah dengan wajah lesu. Semangat hidupnya terbang ntah ke mana. Terbang menyusul Sania yang tak tahu rimbanya. Fadil bukan lajang gampang disogok. Kalaupun dia tahu di mana Sania tak mungkin dia kasih tahu Bara. Dari awal Fadil memang tak suka cara Bara perlakukan wanita-wanita yang dianggap bagian dari masa lalu. Semua orang punya masa lalu, ntah itu manis atau pahit. Cuma harus pandai memilah yang baik dan buruk. Bara tak pernah ambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpanya. Tetap ingin tampil sebagai super Hero.
Kejadian hari ini cukup buat bangun dari mimpi buruk. Bukannya dapat pujian tapi dapat zonk. Kehilangan sesuatu yang paling berharga. Bara pantas diberi makan tulang biar tercekik sampai mampus.
Bara pulang dengan wajah lesu tak bergairah. Keceriaan yang biasa bergema di keluarga Jaya kini sirna. Yang ada hanya suasana sepi mencekam. Tak ada tawa renyah Bu Jaya dan ocehan tak jelas Fadil. Sania tak ada siapa bakal digombalin?
Jangan penghuni rumah, cicak di dinding saja malas mengeluarkan suara khas mereka. Dingin sunyi senyap bak di daerah kuburan. Bara mengedarkan mata ke sekeliling ruangan di rumah. Seperti ada selapis aura suram membungkus seisi ruangan.
Bara ingin menangis tapi berhubung gengsi masih setinggi langit air mata tak jatuh ke bawah. Diam mengalir ke dalam dada. Menyesak dada sendiri.
Bara naik ke lantai atas dengan lunglai tak bertenaga. Langkah Bara terhenti di depan pintu. Bara tak sanggup masuk ke kamar tempat dia dan Sania sering habiskan waktu. Sania telah menciptakan jutaan kenangan pada Bara. Asam, pahit, kecut dan manis bercampur jadi satu. Semua punya nilai tersendiri di hati Bara.
Lama Bara termenung di depan pintu. Mimpi yang terlalu buruk. Kapan mimpi ini akan berlalu? Maukah Sania kembali ke pelukannya? Benak Bara penuh dengan pertanyaan dan harapan.
"Bara..." terdengar panggilan dari lantai bawah. Bara mengenali itu suara Pak Jaya.
Tak ada alasan bagi Bara abaikan panggilan orang tuanya. Dengan langkah berat Bara temui papanya. Ceramah apa lagi akan dilontarkan papanya. Semua sedang menyalahkannya.
Pak Jaya duduk sendirian di ruang tamu tak banyak berubah selain raut wajah sedikit kuyu. Bara merasa sangat berdosa menyeret orang tua dalam kesedihan kehilangan menantu kesayangan.
"Ya pa..." Bara mendekati Pak Jaya duduk berseberangan cari tahu apa yang akan dibincangkan.
"Papa, mama dan Fadil akan berangkat ke Jerman tiga hari lagi. Rencana semula papa dan Fadil yang pergi tapi di rumah tak ada Sania maka papa ajak mamamu. Papa takut mamamu masih syok ditinggal Sania. Kau harus jaga diri tak bikin ulah lagi. Sadar punya isteri sempurna dan anak-anak. Papa tak banyak beri nasehat lagi. Kau sudah besar bisa pilih yang terbaik. Siapapun yang kau kami tak larang tapi ingat menantu kami hanya Sania." Pak Jaya pertegas sikap keluarga bila Bara matian akan kembali pada Arsy. Arsy tidak di terima di keluarga Jaya.
Bara menekan jidat pusing memikirkan sikap keluarganya. Dari mana muncul dugaan keluarganya kalau dia akan lebih berat ke Arsy dari pada Sania. Bara sudah cukup sedih ditinggal Sania. Muncul pula dugaan Bara akan memilih Arsy. Makin sakit hati Bara.
"Bara takkan kembali pada siapapun kecuali Sania. Bara tak pernah anggap Arsy sebagai pacar atau calon isteri. Bara hanya beri perhatian selaku teman. Teman doang!" Bara pertegas sikap tak mau dianggap tak bisa move on dari mantan kekasih.
"Itu urusanmu! Kami sudah lelah lihat kamu terlalu hayati peranmu pada wanita-wanita yang tak pantas. Punya isteri sebaik Sania tak puas. Mungkin kamu suka wanita-wanita nakal tak kenal kata moral?"
Bara menghembus nafas geram mengapa tak ada yang percaya dia sayang pada Sania. Arsy atau siapa pun hanya teman. Dengan cara apa baru Bara bisa dapatkan kepercayaan dari keluarga lagi.
"Pa...Bara bersumpah tak ada niat apapun pada Arsy. Sekarangpun Arsy sudah kularang dekati aku dan kantor. Dia dan pegawai kantorku sengaja jebak aku biar tampak buruk di mata Sania. Bara cukup sakit hari ini. Jangan kalian tekan aku lagi! Katakan di mana Sania! Bara akan pergi menjemputnya."
Pak Jaya tertegun dengar cerita Bara. Arsy sungguh luar biasa bikin skenario jerumuskan Bara ke dalam jurang sengsara. Namun Pak Jaya tak gampang percaya Bara. Bara harus dapat pelajaran agar bisa lebih hargai Sania. Biarlah Sania tenangkan diri di persembunyian sambil tunggu perubahan sikap Bara.
"Sania ada kirim kabar dia baik saja. Tapi tak bilang dia di mana. Kami tak tahu Sania persis di mana. Waktu video call tampak dia di luar negeri." Pak Jaya buka sedikit clue untuk tenangkan Bara. Pak Jaya tak mungkin menekan Bara sampai anaknya stress mikirin Sania. Sebagai orang tua Pak Jaya hanya ingin beri pelajaran pada Bara.
"Kenapa tak panggil Bara?" tanya Bara dengan bibir bergetar menahan rasa sedih. Sedemikian marahkah Sania padanya sampai tak mau omong dengannya. Andai waktu bisa diputar Bara memilih tak open pada Arsy. Tapi apa mau dikata. Semua terlanjur hitam di mata Sania.
"Sania omong dengan mamamu. Dia belum siap jumpa kamu. Dia masih ingin pertimbangkan akan lanjut hidup denganmu atau memilih sudahi pernikahan kalian."
Hati Bara tersayat silet tajam. Perih sampai ke jantung. Begitu tegakah Sania bilang ada rencana ingin pisah darinya. Sedangkal itukah rasa percaya Sania padanya. Bara akui Sania wanti-wanti Bara untuk hindari Arsy ataupun wanita manapun. Sania trauma oleh pengkhianatan Bobby. Tapi Bara bukan Bobby.
"Sania omong apa lagi?" lirih Bara tak berdaya dikucilkan Sania. Mungkin inilah nasibnya. Nasib orang yang junjung tinggi rasa persahabatan. Persahabatan palsu berujung pembunuhan karakter.
__ADS_1
"Tak ada...dia cuma ingin sendiri."
"Tapi dia sedang hamil. Siapa akan merawat dia?"
"Itu kami tak usah kuatir! Sania punya perawat khusus. Pergilah mandi dan sholat! Minta petunjuk agar hatimu tutup bagi para pelakor!" sinis Pak Jaya masih belum percaya pada penyesalan Bara.
"Pa...kok ikutan kucilkan Bara? Bara sudah bilang tak ada hubungan apapun dengan Arsy."
"Buktikan dulu! Papa mau bersiap mandi." Pak Jaya pergi tinggalkan Bara tanpa beri kesempatan Bara menjawab.
Mata Bara nanar melihat sosok tua yang masih gagah pergi tinggalkan kesan masih marah. Bara meremas tangan ingin lampiaskan rasa sesal. Berteriakpun tak ada guna. Tak ada belas kasihan dari keluarga. Semua memusuhinya.
Hidup Bara hancur. Hari-hari bahagia bersama Sania terasa singkat. Banyak kenangan indah terselip di antara lembaran hari-hari tersebut. Akankah semua segera berakhir?
Bara mandi dan sholat mohon pengampunan dari Yang Maha Kuasa. Laki ini memohon agar bini kecilnya dikembalikan utuh pada dirinya. Biasanya sholat bersama Sania dan selalu khusyuk diakhiri salam takzim dari Sania. Mengapa semua itu sirna?
Bara tidak turun makan malam. Tak ada yang datang memanggil Bara ikut makan malam. Seisi rumah seakan menyalahkan Bara atas kepergian Sania. Tak ada rasa belas di hati orang itu.
Menahan lapar bukan masalah tapi menahan rasa rindu pada Sania sangat menyiksa Bara. Bara hanya duduk bersandar pada kepala tempat tidur mengenang bau Sania yang selalu bikin dia mabuk kepayang.
Rindu yang sangat menyiksa. Berkali-kali Bara menghela nafas. Dada sesak di seakan dunia kehilangan oksigen murni. Rindu ini membunuhku batin Bara menjerit.
Ingin rasanya Bara menjerit luapkan amarah. Namun tak ada suara keluar dari bibir bebas nikotin itu. Sejuta kata maaf takkan kembalikan Sania.
Ponsel Bara berbunyi membelah kesunyian kamar. Dengan ogahan Bara lihat siapa telepon mengganggu otak yang sedang miring.
"Halo...ada apa?" ketus Bara tak bersahabat.
"Cerewet...ada apa?" Bara ulang bertanya tujuan Roy cari dia.
"Gue sudah dapat cctv di pub. Bukan hanya Dhenok yang bantu Arsy tapi ada orang lain."
"Emang ente dapat apa?"
"Ada rival ente di sana. Dia punya andil di kasus ini. Yang rekam di pub bukan Dhenok. Dhenok hanya tukang kirim ke Sania. Waktu tadi di parkiran memang Dhenok yang rekam Arsy peluk ente. Rencananya akan dikirim ke Sania juga."
"Sania di luar negeri."
"Wa aktif kok! Aku tadi chat dia masuk tapi tak dibalas. Hanya di read saja."
"Kok aku telepon dan chat tak masuk."
"Ente di blokir bro! Wanita itu makhluk kasat mata tapi paling mengerikan kalau sudah ngambek. Kalau sudah keluar kata pokoknya habislah kita!"
"Ach..Sania...gitu amat dia!" keluh Bara sedih.
"Jangan salahkan dia! Wanita itu perasaannya halus apalagi bini ente bunting. Tamatlah ente!"
"Bukannya kasih angin segar malah bikin sesak nafas. Gue hampir mati nahan rindu." Bara tak malu akui rindu pada Sania.
Roy tertawa garing haruskan Bara jauhkan ponsel dari kuping. Roy tampak bahagia tak kuatir nasib Sania. Apa penting bagi Roy kuatir bini orang? Bini orang kok susah?
"Rasain bro! Sudah Rudi bilang jauhi Arsy ente tak percaya. Eh..kok gue lupa topik penting kita. Gue mau bilang Bobby terlibat dalam kasus ini. Cctv terekam dia sedang rekam kalian dari samping."
__ADS_1
"Gila...apa tujuannya?" Bara tak percaya Bobby muncul lagi kacaukan hidupnya. Belum cukup sabotase proyeknya kini muncul ganggu rumah tangganya.
"Baru berapa hari ditinggal Sania otak jadi karatan. Tujuannya sederhana. Sania..kalau ente pisah sama Sania dia tentu ingin masuk ke dalam hidup Sania lagi. Bobby sadar Sania adalah maskot perusahaannya. Tanpa campur tangan Sania perusahaan itu di ambang kehancuran."
"Bobby...aku takkan maafkan dia! Tempuh jalur hukum."
"Bro...kau rela Arsy dan Dhenok ikut di penjara?"
"Apa boleh buat? Hukum tetap hukum. Aku takkan maafkan mereka. Gara-gara mereka macan kecilku kabur."
"Ok...akan kuhubungi pengacara yang sering bantu Sania. Dia pengacara jempolan. Ente jangan nyesal antar Arsy ke penjara!"
"Peduli amat! Memang situ tempat paling nyaman untuk penjahat brengsek model Bobby."
"Kok cuma Bobby? Di situ ada Dhenok dan Arsy. Yang kasihan Dhenok. Jadi tameng peluru Bobby dan Arsy. Apes amat tuh anak!"
"Siapa suruh dia bodoh?"
"Bodoh karena cinta. Dia mencintai ente dari dulu bro. Semuanya halal asal di atas nama cinta. Ente juga tampak bodoh karena cinta. Jadi budak cinta Sania."
"Dia bini gue...wajar dapat cintaku!" rutuk Bara kesal disudutkan Roy.
"Iya..iya...bini ente. Oya...besok gue ke pulau B. Gue ajak Sekar ya!"
"Sialan ente...Sekar itu anak baik. Jangan kau rusak!"
"Yang rusak dia siapa? Ini tugas negara! Dia harus catat semua pengarahan si bule. Gue sumpah akan hormati Sekar! Calon bini harus dikawal sampai malam pengantin. Belah duren di malam sejarah lebih asyik."
"Aku tak percaya padamu. Bawa Putri sekalian. Dia lebih ngerti pola kerja Sania. Putri akan banyak bantu Sekar."
"As you wish bro! Aku akan kabari Sekar ajak Putri. Soal Bobby tunggu aku balik dari pulau B."
"Kau fokus saja. Urusan Bobby biar kutangani. Aku kenal pengacara itu kok. Oya..thanks bro! Ente selalu ada untukku."
"Itu gunanya teman! Gue juga mau terima kasih sudah diajak tunjukkan skill pada tempat tepat. Doakan semoga proyek besar ini berjalan sukses."
"Amin..."
"Eh gue ada sesuatu untukmu. Ente pasti senang. Ntar gue kirim. Dari Putri..sudahan ya! Gue mau makan!"
"Ok...by the way trims."
"Sama-sama."
Pembicaraan terhenti. Disusul bunyi Ting dari ponsel. Mata Bara terbelalak melihat sosok yang dirindukan terpapang di layar ponsel. Sania bergaya di hotel mewah dekat pantai berpasir putih. Sania memakai kemeja warna biru muda plus celana panjang warna biru tua. Tak ketinggalan kacamata Ray-Ban bertengger di hidung menambah keanggunan Sania.
"Sania...di mana kamu?" desis Bara sambil mengusap layar ponsel. Diusap malah pindah layar berganti chat wa Roy.
Di bawah foto Sania tertulis kalimat dari Roy.
\=Bini ente...cantik dan anggun. Gue mau kok jadi suami sirinya\=
Bara merutuk candaan Roy. Harus Bara akui Sania makin cantik selepas pergi dari Bara. Tak ada tanda Sania bersedih pergi dari suami sah. Mungkin Sania malah bersyukur terbebas dari suami mesum penuh skandal cinta.
__ADS_1