
Rangga tercengang dengar hasil investigasi Sania terhadap Ranti. Tak pernah terlintas di benak kalau Ranti itu bukan adik kandungnya. Ranti memang beda sedikit dengan mereka namun itu tak bisa jadi patokan mereka bukan bersaudara.
Berita dari Sania cukup pedas di kuping Rangga. Puluhan tahun hidup bersama Ranti tak tahu sama sekali mereka tak ada hubungan darah. Ranti itu anak siapa? Pertanyaan itu muncul di otak Rangga. Mengapa Suhada bisa kecolongan akui anak orang sebagai anak sendiri.
Berbagai dugaan hadir di kepala Rangga. Sania tahu abangnya syok kalau dengar kabar mengejutkan ini. Wajah Rangga berubah pucat setelah tahu rahasia besar ini.
"Itu tak penting. Sekarang mas harus bantu aku ambil kembali hak mamaku. Aku sudah beli saham perusahaan PT. Sunrise. Beberapa hari lagi akan di adakan rapat pemegang saham. Mas harus muncul sebagai pemegang saham mayoritas. Aku punya sembilan puluh lima persen saham."
Rangga terkaget-kaget hadapi rencana Sania. Gadis ini selalu buat rencana tanpa ajak dia diskusi. Sudah matang langsung suruh Rangga jalankan.
"Dek...sedemikian benci kau pada mereka?"
Sania menghela nafas ingin keluarkan semua beban di hati yang telah tersimpan selama lima belas tahun. Sania tahu Rangga tidak tega mengusik keluarga papanya walau telah ditendang keluar rumah.
"Mas...aku takkan bunuh mereka tapi ambil hak aku. Mas jadi presiden direktur ganti Amanda. Suhada biar istirahat saja. Kau beri dia uang bulanan. Aku takkan sita rumah mereka cuma aku takkan ijinkan mereka injak perusahaan lagi. Terserah mereka mau kerja apa!" ujar Sania dengan nada dingin tak punya rasa iba.
"Suhada itu papa kita."
"Maaf! Aku tak punya papa. Jangan sebut orang asing itu papaku! Dia raja tega. Aku sedang selidiki kematian mamamu juga. Ada sinyalir mamamu juga korban Amanda. Tunggu saja kabar dariku."
Rangga menelan air ludah seperti orang bodoh hadapi mafia kelas kakap. Tak disangka gadis muda di depannya mampu bertindak luar biasa rebut haknya. Dari luar Sania tak ubah gadis manis manja. Tak nyana gadis ini seperti ular beracun siap lumpuhkan mangsa.
"Dek..mas tak bisa apapun. Mas takut buat kamu kecewa."
"Mas...aku masih punya sedikit hati tak karamkan Suhada sampai ke dasar laut. Andai aku minta orang lain jadi presiden direktur maka wajah tua laki itu akan hancur. Kau anak Suhada maka orang masih mengira laki itu alihkan aset padamu. Wajah busuknya masih bisa tampil di umum. Atau mas mau aku karamkan mereka sampai tak mampu bergerak." ancam Sania tak main-main.
Rangga akui niat Sania cukup baik tak bikin Suhada malu. Namun Rangga memang buta soal perusahaan. Apa dia mampu tangani satu perusahaan demikian besar? Rangga ragu pada kemampuan sendiri.
"Lalu apa yang harus kulakukan?" akhirnya Rangga mengalah dari pada Sania benar-benar turun tangan kejam pada papanya. Rangga yakin Sania mampu berbuat sejauh itu. Saham segitu besar bisa jatuh ke tangannya. Rangga tak tahu dengan cara apa Sania rampas kembali PT. Sunrise milik mamanya. Yang penting itu sudah terjadi.
"Orangku akan dampingi mas. Mas cukup pidato sebentar ikuti naskah yang akan diberi oleh pendamping mas. Jangan banyak bicara dan tak perlu basa basi sama Amanda ataupun Suhada. Jangan sekali-kali terbujuk rayuan mereka! Mas ingat ya! Mereka harus keluar dari perusahaan mamaku. Itu untuk mas dan Agra!"
Rangga bergidik merasakan setiap ancaman Sania tak ubah algojo siap pancung kepala pembangkang. Rangga tak punya pilihan lain selain ikuti permintaan Sania jadi presiden direktur sementara.
"Baiklah! Aku tak ngerti apapun. Mas harap kau ajar mas."
"Nanti ada orang akan jumpai mas. Darman sudah berada di tanganku. Dia sudah akui semua kejahatan Amanda. Setelah masalah perusahaan selesai aku akan buat perhitungan dengan nenek sihir itu. Tunggu tanggal mainnya." Sania tersenyum sinis.
Capuccino yang diantar pelayan cafe tak menarik perhatian Rangga lagi. Rangga lebih condong analisa mengapa gadis kecilnya berubah jadi monster menakutkan. Rangga hampir tak kenal Sania kalau sudah bahas masa lalu dan rencana menutup pintu rejeki Suhada.
"San...bisakah kau lupakan dendam di hati? Kau anak baik hati. Mengapa mau kotori tanganmu dengan kejahatan?"
"Aku jahat? Apa aku merampok, membunuh, menculik? Tidak bukan? Aku hanya jalankan apa yang harus kulakukan. Minum tuh kopi!"
Rangga benar tak berdaya dibuat Sania. Sania membunuh tanpa pakai senjata. Cara bunuh lebih sadis dari pada bunuh langsung.
__ADS_1
"Mas tak mau melanggar hukum. Kau masih muda. Jalanmu masih panjang. Ingat ajaran Tuhan tak baik menyimpan dendam." Rangga masih coba luluhkan hati Sania tak kuliti papanya sampai terlihat daging.
"Tak sekalipun aku sakiti orang. Aku cuma rebut hak aku. Itupun tidak pakai kekerasan. Semua berdasarkan aturan tak langgar hukum. Mereka jual saham dan aku beli. Apa ada yang salah?" Sania bela diri tak beri sela buat Rangga cari kesalahannya.
"Iya sih! Tapi mengapa mereka jual saham? Apa tak ada campur tangan mu?" Rangga menyelidiki air muka Sania. Sania bukannya gentar malah tertawa ngejek.
"Mereka menipu konsumen. Mereka harus bayar pinalti. Apa aku suruh mereka menipu orang?"
Lagi-lagi Rangga kalah telak tak mampu beri jawaban pas. Dalam hal ini mutlak bukan kesalahan Sania. Sania hanya manfaatkan situasi meraup saham PT. Sunrise semurah mungkin. Dan Sania berhasil
"Terserah kamulah! Mas harap kamu tak berbuat lewat batas."
"Tidak...semua ada hukum dan karma. Sekian masalah perusahaan! Dan sekarang bahas doorsmeer mas. Apa dananya masih ada?"
"Masih...dari mana kau punya dana sangat banyak? Mas harap kau tak menipu orang."
Sania tak marah sedikitpun dituduh secara tak langsung oleh Rangga. Wajar abangnya curiga dari mana asal uang cukup banyak untuk ukuran gadis muda macam dia.
"Satu sen dari kantongku adalah uang halal. Haram bagiku pakai uang hasil jalan kiri. Apa lagi untuk bantu mas dan biayai adikku. Aku masih tahu dosa mas."
"Mas percaya padamu. Kapan kau datang jumpa Agra?"
"Secepatnya. Beri aku waktu."
"Semoga kau tepat janji. Mas lapar. Kita cari makan yok!"
"Apa kau tak lihat makanan sini? Sekutil harganya selangit. Perut mas tak kenyang makan di sini. Mending pulang makan di warung dekat bengkel. Murah meriah bikin kenyang." Rangga tetap bersikukuh tak mau makan di cafe yang sangat mahal menurut dompet Rangga.
Sania tak mau memaksa abangnya harus patuh pada seleranya. Selera makan Rangga betul-betul selera rakyat menengah. Murah tapi harus kenyang. Rangga bertahun hidup dalam keterbatasan menempa mentalnya hidup hemat. Punya uang pun harus hemat. Sungguh cowok luar biasa.
Sifat Rangga dan Suhada bagai langit dan bumi. Suhada lakukan segala cara agar bisa hidup mewah sedang Rangga lakukan segala cara hidup sederhana dengan duit halal. Sania bangga punya Abang bermoral alim.
"Sekarang gimana? Mas mau pulang atau makan bersamaku. Aku traktir." ujar Sania ingin pesan makanan.
"Aku tak kenyang cuma makan seupil. Kerjaku berat." ketus Rangga tetap tak mau.
"Terserah masku yang ganteng. Kita balik saja." Sania bermaksud pergi sambil meraih tas selempang kesayangan.
"Lha...kamu belum makan?" Rangga panik lihat adiknya juga ikutan tak makan di cafe ini. Sania sudah kurus, ditambah malas makan jadilah Sania ikan teri kering.
"Aku gampang. Yok! Bayar dulu mas!"
Rangga mencekal tangan Sania agar jangan pergi. Rangga tak tega lihat adiknya kelaparan gara selera berbeda. Sebagai Abang Rangga harus bertanggung jawab pada adik.
"Kita makan sini!" Rangga mengalah demi perdamaian antar isi perut. Rangga terpaksa ikuti selera Sania yang menurutnya kurang mantap. Demi adik tersayang Rangga rela kesampingkan kebutuhan pribadi. Bertahun mencari Sania, sudah ketemu tak mungkin Rangga abaikan hanya karena perbedaan selera.
__ADS_1
Sania tersenyum manis rasakan betapa bahagia dapat kasih sayang tulus dari Abang tercinta. Sania senang Rangga dahulukan perasaan Sania dari pada kepentingan pribadi. Abang idola. Lisa beruntung bila dapat meraih simpatik Rangga. Rangga laki bertanggung jawab.
Singkatnya Sania dan Rangga berpisah setelah makan. Mereka kembali ke rutinitas masing-masing. Sania balik ke kantor lanjutkan kerja tertunda. Sementara Rangga balik ke bengkel Pak Bur dengan hati gundah. Sania bebankan tugas berat ke pundak harus melawan orang tua sendiri. Rangga tahu niat baik Sania tak permalukan papa mereka. Tapi Rangga tetap tak enak harus hadapi orang tua sendiri.
Rangga juga tak kuasa menolak permintaan Sania. Kalau Rangga tolak mungkin akan terjadi hal lebih ekstrim. Sania bisa saja babat papanya hingga tak berakar sama sekali. Tinggal mati meranggas.
Sore hari Sania memilih pulang ke apartemen untuk lanjutkan kerja. Di tempat orang tua Bara tak ada peralatan untuk lengkapi kerjanya. Sania butuh meja khusus untuk orang gambar rancangan bangunan. Sania harus kejar waktu selesaikan gambar permintaan dua klien Bara. Sania tak mau tanggung-tanggung kalau diberi kepercayaan garap satu proyek.
Sebelumnya Sania memberitahu Bara kalau dia tak pulang ke rumah Pak Jaya. Tentu saja Sania kemukakan alasan mengapa dia tidak balik ke rumah Bara. Bara terdengar kecewa namun tak bisa melarang Sania melanjutkan kerja. Sania terlanjur janji pada klien selesaikan gambar tepat waktu.
Bayangan memeluk tubuh molek Sania ambyar. Padahal Bara sudah persiapkan diri melanjutkan percintaan jilid dua yang lebih dahsyat. Bara merana hanya bisa memeluk guling dingin walau empuk.
Bara benar-benar nelangsa. Ingin menyusul takut dibilang penjahat syahwat. Dekati Sania hanya untuk melepaskan dahaga birahi. Bara mau Sania tahu kalau dia tulus akan jaga Sania walau belum tahu perasaan sesungguhnya. Dia dekat Sania karena suka atau tanggung jawab sebagai suami.
Sania benar-benar tenggelamkan diri dalam tugas. Tak terasa tujuh hari meninggalnya Nania berlalu begitu saja. Sania menyelesaikan tugas tepat waktu. Klien puas dengan rancangan yang di buat Sania. Otomatis kedua proyek jatuh ke tangan Bara. Nama perusahaan PT. Angkasa Jaya mulai diperhitungkan dalam dunia pembangunan. Yang bangga tentu saja Pak Jaya. Putra sulungnya mulai kembali harumkan nama keluarga. Pak Jaya sadar ini tak luput dari campur tangan Sania. Pak Jaya yakin menantunya bukan wanita lemah yang hanya seorang insinyur biasa.
Pancaran mata Sania yang tajam sudah wakili kecerdasan wanita ini. Namun Pak Jaya belum berani mengorek siapa Sania sesungguhnya. Takut menantunya tersinggung.
Pagi mendung semendung suasana hati keluarga Suhada. Rapat pemegang saham yang dinanti akhirnya tiba juga. Amanda, Suhada dan investor lain hadiri rapat yang menentukan nasib PT. Sunrise.
Amanda dan Suhada menunduk lesu menunggu apa yang akan terjadi pada mereka. Siapa yang bakal jadi pemilik sah PT. Sunrise masih jadi pertanyaan.
Keangkuhan yang biasa bergantung di wajah Amanda tertutup kabut kelabu. Dandanan menor Amanda tak dapat sembunyikan kecemasan di wajah wanita culas ini. Di otaknya ntah bermain pikiran cara kotor apa lagi hadapi pemilik baru perusahaannya.
Kebisuan membungkus ruang rapat PT. Sunrise sampai seorang laki paro baya masuk diikuti dua orang yang lebih muda.
Serentak seluruh pengikut rapat hujamkan mata ke arah tiga orang yang masuk ruang rapat. Suhada kaget sampai terbangun dari tempat duduk melihat anak muda berpakaian necis jas warna hitam pekat dipadu celana senada. Anak muda itu ganteng berkharisma memukau Suhada dan Amanda.
"Selamat pagi..maaf kami datang terlambat. Saya perkenalkan diri sebagai pengacara Pak Rangga pemilik baru PT. Sunrise. Silahkan Pak Rangga." Pak Utomo selaku pengacara dampingi Rangga mempersilahkan Rangga ambil posisi di depan.
Rangga melemparkan pandangan ke seluruh ruangan meneliti wajah pengikut rapat satu persatu. Mata Rangga jatuh pada Suhada yang masih tak percaya anak yang dia abaikan menjadi pemilik baru perusahaannya.
"Erlangga...kaulah nak?" ujar Amanda cepat kuasai diri. Gaya sok lembut Amanda kontan timbul seperti gabus kosong timbul dari air.
"Ya aku Erlangga...panggil aku Rangga. Selamat pagi bapak dan ibu yang kuhormati. Di sini aku kukuhkan bahwa perusahaan ini telah berpindah kepemilikan. Perusahaan akan jalan seperti biasa namun ada beberapa bagian akan di revisi. Minggu depan akan diumumkan peraturan baru sesuai dengan permintaanku!" ujar Rangga wibawa abaikan gaya centil Amanda.
"Selamat datang Pak Rangga! Kami akan tetap jaga kerja sama dengan perusahaan ini selama masih berada dalam komitmen bersama." salah satu peserta rapat menyambut Rangga dengan baik.
"Terima kasih." Rangga merendah perlihatkan gaya pemimpin rendah hati.
"Sebelum kita bahas lebih jauh di sini aku selaku pengacara umumkan posisi Presiden direktur dijabat langsung Pak Rangga. Dengan ini maka gugurlah hak Bu Amanda sebagai pemimpin. Wakil dan staf selanjutnya akan diatur ulang." pengacara Rangga umumkan posisi Rangga sebagai pemilik saham terbesar.
Amanda kontan berdiri dari bangku tak terima diturunkan dari jabatan sebagai pemilik posisi tertinggi. Harga dirinya terhempas berkeping-keping hancur tak bersisa.
"Erlangga...aku mamamu! Teganya kau permainkan mama!" seru Amanda berang.
__ADS_1
"Bu...kita di sini bahas perusahaan bukan masalah keluarga. Masalah pribadi bahas di rumah. Kita harus profesional. Tak boleh ada praktek nepotisme karena ini perusahaan menyangkut hidup mati ratusan karyawan."