MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Ranti Melahirkan


__ADS_3

Sania dan Agra main PS terbaru dengan riang. Tak disangka Agra yang biasa culun cukup lihay kuasai permainan canggih itu. Sania malah kurang paham kurang ngeh permainan anak sekarang. Sania mana sempat main game dengan tugas sekarung. Selesai di sini muncul laporan dari sana. Tak ada seharipun Sania bisa santai nikmati masa muda. Masa Sania habis untuk bisnis.


Sedang asyik kedua Kaka adik itu main Lisa muncul mengetuk pintu kamar yang terbuka. Lisa tetap lakukan prosedur sopan walau itu teman sendiri.


"Masuk Lis! Kayak orang lain saja." seru Sania masih terpesona lihat Agra demikian mahir kuasai game.


"San...bisa bicara sebentar?" tanya Lisa melirik Agra. Tampaknya ada sesuatu penting akan disampaikan Lisa sampai Agra tak boleh tahu.


Sania menepuk bahu Agra sekejap lalu ikut Lisa keluar dari kamar ke ruang tamu. Sania melihat koper sudah kembali rapi artinya misi Lisa cari jam untuk dirinya tuntas. Sania tak masalahkan hal itu asal calon kakak iparnya puas.


"Ada apa? Urgen banget!"


"Mas Rangga telepon tadi Ranti sudah lahiran. Tapi..." Lisa ragu lanjutkan kalimat bikin Sania penasaran.


"Tapi apa? Bayinya punya tanduk Lucifer?"


"Kok omong gitu San? Itu anak Ranti meninggal. Katanya kurang gizi dan tidak dikontrol dengan baik. Sudah duluan meninggal sebelum lahir."


"Innalilahi wa Inna ilaihi rojiun. Kok bisa?" Sania kaget tapi cepat kuasai diri agar jangan syok. Sedikitpun Sania tak sangka Ranti akan terima nasib demikian malang. Baru kehilangan ibu kini kehilangan anak. Apa ini hukuman bagi orang berhati jahat? Sebagai orang beragama Sania tak boleh menghujat orang dalam kemalangan.


"Aku juga belum ngerti sepenuhnya. Mas Rangga cuma kasih kabar itu. Kita ke rumah sakit?" Lisa bertanya berharap hati Sania terbit rasa simpatik pada Ranti.


Sania hempaskan diri ke sofa bingung tak tahu harus bagaimana. Menerima semua salah Ranti pergi menjenguknya atau keraskan hati tetap membangun rasa benci yang terlanjur bertahta di dada.


Lisa diam menanti reaksi Sania. Lisa tak ingin memaksa. Biarlah hati nurani Sania yang gerakkan langkah wanita muda ini. Sania juga lagi hamil, butuh ketenangan. Tak boleh ditekan.


"Kita pergi. Kita antar Agra pulang ke rumahmu dulu baru pergi berdua. Kita tak tahu berapa lama di sana. Agra pasti bosan."


Lisa bersorak dalam hati akhirnya Sania luluh mau pergi lihat kondisi Ranti. Ini awal baik untuk bentuk keluarga utuh lagi.


Lisa segera ajak Agra berkemas tak lupa bawa hadiah mahal dari Sania. Jam tangan Rangga dibiarkan tinggal di tempat Sania karena itu hak Rangga. Lisa tak dianggap sok berkuasa ambil sesuatu yang bukan haknya. Dia dan Rangga belum resmi menikah maka belum berhak ambil keputusan atas nama Rangga. Lisa tahu diri tak lewat batas.


Sania yang bawa mobil berhubung Lisa tak bisa bawa mobil walau punya pacar montir jempolan. Rangga tak pernah tawarkan ajar Lisa bawa mobil. Sebagai gadis tahu diuntung Lisa tak masalahkan itu. Malah Lisa bangga jadi ratu di antar ke mana-mana oleh Rangga. Tinggal minta sang kekasih langsung bergerak.


Agra di drop ke rumah Pak Bur. Bu Bur suka cita putra kesayangan pulang dengan selamat. Wanita paro baya ini selalu takut Sania ambil alih kehidupan Agra. Kalau Agra hidup di bawah asuhan Sania otomatis mereka akan berpisah. Bu Bur belum siap kehilangan Agra yang sudah dianggap anak sendiri.


Untunglah sampai detik ini Agra masih dipercaya padanya. Bahkan tak ada yang ungkit akan jauhkan Agra darinya.


Lisa dan Sania bergegas ke rumah sakit lihat kondisi Ranti yang pasti luluh lantak. Ibu mana tak sedih kehilangan buah hati. Anak lahir dalam kondisi meninggal artinya tak sempat hirup udara kotor bumi. Malaikat kecil itu tega tinggalkan duka di hati ibu yang telah sudah payah mengandungnya sembilan bulan. Mungkin Allah sudah gariskan nasib anak itu hanya numpang hidup beberapa bulan di rahim Ranti bikin ulah menyenangkan hati wanita itu sesaat. Sania tak berani ambil kesimpulan apa yang sedang terjadi pada hidup Ranti. Ranti sedang menuai karma atas kelakuan buruk terhadap adik sendiri.


Tak perlu waktu lama kedua wanita itu tiba di rumah sakit. Lisa hubungi Rangga tanya posisi tempat Ranti dirawat. Ternyata Ranti sudah dibawa ke ruang perawatan. Ranti melahirkan secara normal bukan operasi Caesar. Sayang seribu sayang anak Ranti tak selamat. Mungkin ini takdir Ranti.

__ADS_1


Sania dan Lisa tiba di ruang rawat Ranti. Sania merasa ragu untuk masuk jumpa musuh bebuyutan yang telah melukai hatinya. Kapan Sania bisa maafkan semua kesalahan Ranti.


"San...yok!" Lisa memahami perasaan Sania menepuk bahu Sania agar kuat untuk maju ke depan.


"Apa gue sanggup?" bisik Sania pelan


"Sanggup...kau harus kuat demi dirimu sendiri. Sudah saatnya move on."


"Insyaallah.. bismillah.." Sania mengusap wajah ijinkan Lisa buka pintu ruang Ranti.


"Assalamualaikum..." sapa Lisa sebelum masuk.


"Waalaikumsalam.." terdengar sahutan dari dalam. Sania kenal itu suara Bara.


Jantung Sania bergetar melihat kondisi Ranti terbaring di atas brankar dengan rupa pucat pasi. Mata panda terlukis jelas di sekitar mata. Sekilas dilihat bukan seperti Ranti si bintang top pujaan seluruh orang di tanah air. Di atas brankas hanya ada seonggok tubuh kurus berwajah pucat.


Rangga, Bara dan Suhada duduk tak bersuara di bangku sofa dekat jendela. Ukuran sofa itu pas-pasan cukup untuk ketiga laki dewasa itu. Tiga pasang mata itu jatuh pada dua wanita yang baru masuk.


Mata Suhada berbinar melihat anaknya yang hilang bersedia datang menjenguk kakaknya yang penuh dosa. Suhada ingin sekali memeluk Sania namun ada rasa segan di hati. Mereka sudah banyak salah pada Sania. Menzholimi Sania hingga hancur. Untunglah kini Sania bangkit berdiri lebih tinggi dari mereka. Sania sudah mendapat apa yang seharusnya miliknya bahkan lebih dari itu.


"Sayang...kau datang?" sapa Bara bangkit menyambut Sania penuh cinta.


Bara membimbing Sania duduk di tempat bekas duduk dia. Sikap lembut Bara pada Sania tak luput dari ekor mata Ranti. Andai dulu dia tak kacaukan rencana pernikahan Sania dan Bobby. Yang jadi isteri Bobby adalah Sania. Bobby si laki brengsek. Ranti terlalu tamak lihat harta. Pikir Bobby kaya raya bisa penuhi semua gaya hidupnya. Terakhir dapat zonk.


"Ranti...ini Sania adikmu juga!" Rangga perkenalkan Sania pada Ranti.


Keduanya sudah saling kenal dalam kisah berbeda. Dulu mereka saling kenal sebagai musuh. Dan kini mereka harus berkenalan sebagai saudara.


"Aku minta maaf Sania! Semua kesalahan aku padamu tak termaafkan! Aku telah terima hukuman setimpal. Mungkin ini adzab untuk orang berdosa. Aku malu padamu Sania. Bodohi kamu, fitnah kamu. Apa aku kakak yang baik?" Ranti berusaha bangun hendak bicara panjang pada Sania. Namun gerakan Ranti terbatas karena baru melahirkan.


Sania masih dingin tak tanggapi semua kata-kata Ranti. Tidak semudah itu lupa semua tingkah arogan Ranti. Dalam ruangan itu tak ada yang berani merayu Sania untuk maafkan Ranti. Tidak semua masalah selesai dengan sepatah kata maaf.


"Ranti...kau istirahat dulu! Nanti setelah sehat kau bicaralah dengan Sania. Antara kalian sudah terlalu banyak salah paham. Harus diluruskan." Rangga menengahi tak sanggup melihat Ranti makin terpuruk.


"Bukan salah paham mas tapi memang salah besar. Kalau Sania membenciku seumur hidup juga bukan salahnya. Aku terlalu angkuh dengan segala kemudahan hidupku. Mengira semua gampang kuraih pakai nama besar bintang. Apa itu bintang top? Apa itu harta? Semua itu setan yang butakan hatiku! Aku ini kakak model apa? Hancurkan hidup adik sendiri demi hidup mewah." seru Ranti geram pada diri sendiri. Nafsu telah butakan hati nurani melukai adik sendiri.


Rangga kuatir kesehatan Ranti dan emosi Ranti yang tak stabil. Jangan-jangan nanti ikutan Amanda stress berakhir kematian.


Sania melirik Ranti sejenak berusaha lihat itu sandiwara Ranti cari simpatik atau tulus. Tidak susah bagi Ranti akting sedih. Dia bintang top biasa berakting di layar kaca. Pura-pura nangis dan sedih sudah jadi makanan wanita itu. Sania bukan orang mudah terhasut oleh satu akting.


"Aku tidak rugi ditinggal kawin oleh Bobby. Laki brengsek itu tak pantas jadi suamiku. Aku bersyukur bisa bebas dari laki bejat itu. Aku malah berterima kasih kau bantu aku buka kedok setan itu." Ujar Sania tenang. Sania bilang demikian untuk tenangkan Ranti. Sania tak anggap Ranti bersalah soal Bobby. Ranti malah berjasa bongkar sifat busuk Bobby.

__ADS_1


"Iya...Bobby tak pantas untukmu Sania! Kau terlalu baik. Aku akan menuntut cerai darinya. Aku juga tak harap kau maafkan aku! Tapi aku tetap minta maaf. Dosaku sudah tak terhitung. Kau mau datang aku bersyukur. Harusnya kau maki aku biar hatiku puas. Kau diam gini malah buat aku makin merasa bersalah." Ranti menatap langsung ke mata Sania yang bening. Di sana janjikan kedamaian. Tak ada riakan culas seperti matanya.


"Aku sedang hamil tak mau buang energi marah tak karuan. Baik buruk seorang akan dibalas oleh Yang Maha Kuasa. Kita petik amal baik saja. Semoga kau sadar bahwa hidup ini bukan hanya untuk huru hara dan berfoya-foya. Hari kita tidak tamat dalam satu hari. Masih berjilid-jilid kisahnya. Mau berada di jalan terang atau gelap terserah kita sendiri." ujar Sania menyindir secara langsung pola hidup Ranti yang agungkan nafsu duniawi.


"Aku tahu aku salah...semoga ke depan aku dapat pencerahan. Aku akan belajar ilmu agama setelah ini. Aku akan hidup jauh dari kata glamor. Saatnya aku hijrah." Ranti berkata pada diri sendiri untuk berubah.


"Amin..." kata Sania harap Ranti penuhi janji. Sania tak bisa ucapkan kata maafkan saat ini. Mungkin suatu saat Sania akan lakukan hal itu pada Ranti. Sania tak tahu kapan hari itu akan tiba.


"Terima kasih Sania. Bolehkah aku memanggilmu adik?" Ranti menatap Sania penuh harapan.


Yang hadir di situ menanti jawaban Sania dengan tegang. Mereka berdoa semoga hati Sania terbuka mau terima Ranti sebagai kakak walau sarat kesalahan.


Lisa tak yakin Sania bersedia diakui adik oleh Ranti. Rasa kesal Sania pada Ranti tak dapat diukur dengan meteran panjang. Terlalu dalam ke dasar jurang. Tapi apapun terjadi Lisa berharap adik-adik Rangga bersatu kembali dalam wadah utuh.


Kepala mungil Sania mengangguk kecil. Kecil tapi bisa dilihat semua orang. Rangga menarik nafas lega. Selaku abang tertua Rangga bahagia adik-adiknya tak berseteru lagi layak anjing dan kucing. Memang butuh waktu panjang untuk satukan benang yang terlanjur putus. Tetap harus disambung walau ada cacat pada sambungan. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali.


"Ya Allah...hari ini kupuji kebesaranMu. Kau kembalikan adikku." Ranti mengangkat kedua tangan tengadah ke atas memuji Tuhan. Akhirnya dia dapatkan pengakuan Sania walau belum terucap kata maaf.


Suhada berlinang air mata saking bahagia. Keluarganya cerai berai akhirnya bisa bersatu. Cukup lama mereka hidup bagai orang asing, bahkan saling menjatuhkan. Berbagai kejadian tragis buka mata mereka yang berada di jalan gelap. Inilah moments terindah dalam hidup Suhada. Emas permata serasa tak berharga saat ini. Anak-anak adalah harta abadi yang takkan punah di makan waktu.


Suhada ingin sekali merangkul Sania yang duduk di sampingnya. Namun sikap dingin Sania urungkan niat Suhada memeluk anak yang pernah hilang itu. Ntah sampai kapan Sania bersedia menerima mereka dengan tangan terbuka. Saat ini Sania menerima dengan setengah hati. Jelas tergugat di wajah cantik itu kalau belum ada ketulusan keluar dari hati wanita sedang hamil itu.


"Jangan lupa masih ada Agra! Oya mana Agra?" Rangga tersadar kalau adik bungsu mereka tak ada di tempat.


"Agra sudah kami antar pulang! Kasihan dia bosan di sini. Lebih baik dia berada di rumah." Lisa menyahuti pertanyaan Rangga.


Rangga angguk maklum. Di ruang rawat Ranti masih tampak kaku terutama Sania. Sania tak tahu harus bagaimana bersikap. Sania tak mau sok akrab banyak bicara. Nanti Ranti salah sangka pikir dia telah takluk pada keluarga masa lalunya. Sania masih mau jaga jarak.


"Oya...kapan bisa pulang?" tanya Lisa basa basi karena semua enggan buka mulut.


"Rencana besok sudah boleh pulang. Tapi aku mau lusa saja karena takut bekas jahitan luka belum kering."


"Lha kan lahir normal kok ada jahitan? Apanya dijahit?" Lisa bingung mengapa Ranti dijahit padahal lahiran normal. Dari mana ada luka.


"Anakku meninggal dalam kandungan jadi waktu lahiran ada sedikit pemaksaan. Jalan lahiran sedikit sobek maka dijahit." Ranti menerangkan dengan pelan sedikit malu karena banyak laki di situ.


"Oh...ada gitu juga ya! Sakit ngak sih waktu lahiran?"


"Sakit banget terutama pinggang. Rasanya digilas truk tronton. Dan kau Sania...bagusnya operasi Caesar saja! Lahiran normal itu sakitnya minta ampun." Ranti berkata pada Sania.


"Rencananya memang Caesar karena bayiku ramai. Dokter tak sarankan operasi saja untuk jamin keselamatan sang bayi." Sania mulai nyambung ngobrol dengan Ranti. Belajar sedikit dari Ranti untuk menambah wawasan bekal lahiran nanti.

__ADS_1


__ADS_2