MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Roy Sekar Jadian


__ADS_3

Rudi tak percaya Arsy nekat menusuk Bara. Apa isi otak wanita sampai berbuat anarkis. Hukuman penjara menanti. Bisa jadi hukuman mati sedang mengincar Arsy karena terbukti lakukan pembunuhan berencana. Wanita itu sudah menyiapkan dua buah pisau dapur lumayan tajam. Perut Bara terkoyak gara-gara perbuatan Arsy.


Untunglah pihak keamanan menyadarkan Rudi untuk segera membawa Bara ke rumah sakit. Antara sadar tidak sadar Rudi mengangkat Bara ke mobilnya. Waktu itu Rudi sudah tak sanggup mengendarai mobil. Lututnya serasa tak bertenaga. Hilang seluruh fungsi tubuh.


Satpam kantor dengan sigap menemani Rudi ke rumah sakit sementara Arsy digiring ke kantor polisi. Ini artinya dua wanita masuk penjara karena Bara. Pertama Ranti yang masih diproses dan sekarang Arsy. Untuk saat ini nasib kedua wanita itu tak masuk dalam benak Rudi.


Tujuan utama adalah selamatkan Bara. Rudi memangku kepala Bara di pahanya di jok belakang mobil. Wajah Bara makin pucat menahan sakit serta darah mengalir tak henti. Rudi gunakan saputangan tutupi luka di perut Bara untuk bantu hentikan aliran darah. Namun sayang itu tak membantu. Darah tetap mengalir.


"Bar..sabar..bertahan! Kita segera sampai rumah sakit." Rudi memberi semangat pada Bara yang mulai hilang kesadaran.


"Rud...tolong jaga Sania ya! Jauhkan Sania dari orang-orang jahat macam kita. Dunianya bagai dunia anak-anak. Tak ada kejahatan." ujar Bara berusaha kuat.


"Kamu yang harus jaga dia. Kamu suaminya. Ingat Bara! Kamu harus sehat. Di perut Sania ada anak kalian. Apa kau tega anakmu terlahir tanpa ayah? Begitu lahir sudah jadi anak yatim? Bertahanlah!" Rudi beri semangat pada Bara. Sania dan bayi mereka jadi senjata memompa semangat juang Bara untuk bertahan hidup.


Bara terbatuk-batuk menahan nyeri di perut. Kondisi Bara makin melemah. Ingin rasanya Rudi berteriak sekuat tenaga untuk kembalikan Bara seperti semula. Rudi banyak bersalah pada Bara namun laki itu tulus memaafkannya. Belum sempat Rudi balas kebaikan Bara muncul Arsy si brengsek kacaukan segalanya.


"Aku tak kuat lagi." selesai omong gitu Bara terkulai. Rudi memeriksa denyut nadi Bara serta detak jantung Bara. Masih terasa walau sangat lemah.


"Tancap gas?" perintah Rudi pada satpam yang kawal mereka ke rumah sakit.


"Siap..." mobil melesat membelah kemacetan. Satpam gedung bunyikan klakson mobil minta jalan agar bisa maju ke depan. Lampu sen belakang dihidupkan untuk beri kode lagi dalam kondisi urgen.


Ada yang mengerti tapi ada yang mengumpat tak suka didahului mobil yang membawa Bara dalam keadaan sekarat.


Puji syukur mobil berhenti di rumah sakit tepat waktu. Bara hilang kesadaran namun masih bernafas. Pihak rumah sakit segera tangani Bara langsung dioperasi karena tusukkan Arsy melukai usus perut Bara.


Beruntung Bara berhasil diselamatkan walau masih belum sadar dari obat bius. Sekilas beginilah kronologi kejadian yang menimpa Bara.


Flash back off.


Kembali pada kelompok pegawai Bara yang sedang menjaga bos mereka. Tak ada cahaya di wajah keempat pegawai Bara itu. Semuanya kuyu tak berseri. Selama Bara belum sadar tak ada kata senang di antara mereka. Hanya doa bertalu-talu gema dalam sanubari harap mukjizat dari Allah lindungi dari mata bahaya.


"Putri..kau antar Rudi pulang!" perintah Roy sekali lagi. Rudi tampak tak berniat tinggalkan Bara sebelum sadar.


"Kita tunggu Bara sadar." lirih Rudi lemparkan mata ke pintu ruang rawat Bara yang tertutup.


"Kau pulang mandi bro! Apa bagus dilihat orang kau lumuran darah gitu? Kami di sini jaga Bara. Putri akan kawani kamu! Nanti kalian balik sini." Roy menepuk bahu Rudi meminta temannya tak usah kuatir.


Rudi menatap Roy dengan tatapan tak yakin. Rudi merasa dia bertanggung jawab sepenuhnya atas kejadian yang menimpa Bara. Berawal dari perselingkuhan berlanjut kehancuran masing-masing. Semua ulah Arsy.


"Kalian yakin?"


"Bara juga temanku. Bos kita. Pergilah bersihkan tubuhmu! Kalau begini terus orang mengira kamu yang bunuh Bara. Mau rasakan hotel gratis? Tuh! Putri siap antar nasi dingin buat ente." Roy coba bergurau usir rasa galau.


"Amit-amit...iya deh! Nanti kami balik. Begitu Bara siuman kabari aku ya!"

__ADS_1


"Iya...cerewet! Oya Put...jaga Rudi baik-baik! Takut dia hilang akal makan daging mentah!" Roy mengejek Rudi pakai kata kiasan. Sekar dan Putri yang alim mana ngerti arah tujuan omongan Roy. Hanya Rudi yang tahu.


"Aku masih waras. Kamu yang awas jangan ngelayap ke daerah terlarang. Bisa dituntut. Mau temani aku nginap di hotel prodeo?" balas Rudi terpancing candaan Roy.


Sekar dan Putri dibuat bingung obrolan yang tak mereka pahami. Dunia mereka jauh dari kata porno apa lagi kata mesum. Keduanya memilih diam biarkan dua laki itu bercanda menurut gaya mereka.


"Aku selalu waras. Tak punya skandal. Ayo cepat pulang! Kalau balik bawa cemilan. Aku lapar." Roy mendorong Rudi tinggalkan Lorong tempat Bara di rawat.


Rudi beri kode ok pakai jari tangan. Sejujurnya Rudi juga tak nyaman memakai pakaian lumuran darah. Tapi demi Bara yang sekarat Rudi tepis rasa tak nyaman itu. Untunglah Roy dan dua pegawai Bara lainnya cepat datang menemaninya. Kalau tidak Rudi deg-degan jaga Bara sendirian. Keluarga Bara tak ada di tempat maka otomatis merekalah jadi wali Bara untuk sementara.


Akhirnya Rudi dan Putri tinggalkan rumah sakit. Sekar dan Roy memandangi punggung kedua insan yang baru membangun chemistry tersebut. Roy sengaja minta Putri temani Rudi untuk kurangi tekanan batin laki itu. Rudi memang tampak syok atas ulah Arsy.


"Kita lihat Bara dulu! Ayo masuk!" ujar Roy pada Sekar setelah sepasang insan itu hilang dari pandangan.


Sekar yang dari tadi hanya diam mengangguk menerima ajakan Roy. Sekar kasihan pada Sania. Tidak gampang meraih kebahagiaan harus hancur karena keegoisan manusia.


Roy dan Sekar masuk ke ruang rawat Bara perlahan. Mereka menemukan Bara masih belum sadar masih dibantu infus dan selang oksigen. Wajah Bara pucat pasi bak mayat hidup. Tak ada tanda-tanda ada kehidupan selain perut Bara turun naik karena bernafas.


"Kasihan Bara dan Sania. Ntah berapa banyak masalah lagi hujani hidup mereka?" desis Sekar pelan.


"Mereka berdua sangat cocok. Punya latar belakang kisah cinta ruwet. Tak kusangka Arsy kolaborasi dengan Bobby goncang rumah tangga Sania. Mereka manusia berotak dangkal. Anggap hidup ini bisa diatur sesuai skenario mereka." timpal Roy tak lepaskan mata dari Bara.


Sekar hempaskan bokong kecilnya ke sofa tamu. Sekar juga lelah kejar waktu nonstop dari pulau B langsung ke rumah sakit. Untunglah Bara masih bisa diselamatkan walau hasil akhir belum jelas.


Kata-kata Sekar menohok tapi ditujukan pada siapa belum jelas. Roy tak merasa obral cinta tak open dengan sindiran Sekar. Kisah cinta Roy jauh dari sensasi. Roy sangat hati-hati letakkan kata cinta agar tragedi yang menimpa kawannya tak berulang di badannya. Yang paling parah tentu Bara. Bara digilai banyak cewek maka tak heran kisahnya paling rumit.


"Sekar...aku sangat hormati yang namanya satu hubungan intim. Harus dilandasi beberapa hal. Pertama saling memberi dan menerima, kedua saling percaya dan ketiga saling menjaga hati. Kalau ketiga hal ini bisa kita terapkan dalam hubungan kita segalanya akan berjalan aman."


"Kita? Emang Pak Roy pacar aku?" tanya Sekar dengan sinar mata tajam.


Roy ayunkan langkah ke arah Sekar lalu duduk di samping gadis itu. Roy mantapkan hati coba mengetuk pintu cinta di hati Sekar. Bertele-tele tarik ukur hanya bikin hati nyesek.


Sekar bergeser menjauh belum siap berada dalam jarak dekat dengan bosnya. Intim tanpa status jelas bukan gaya Sekar. Sudah pacaran juga tak boleh lewati rambu di luar batas kesopanan. Sekar gadis berlabel halal bagi suami tapi haram bagi laki sebelum jadi suami.


"Sekar..." Rudi berkata serius, "Aku tak pandai gombal macam Rudi atau laki lain. Aku serius dalam jalani hubungan menuju jenjang pernikahan. Hari ini di depan Bara aku meminta kesediaan mu jadi pacarku."


Nyali Sekar langsung menciut ditembak langsung oleh Roy. Tidak berdarah tapi tinggalkan bekas di hati. Bukan rasa perih atau sakit tapi perlahan embun sejuk membungkus jantung hingga berdetak lebih kencang. Tanpa sadar Sekar menyentuh dada rasakan sensasi detak jantung tak beraturan.


Roy tidak memaksa Sekar harus segera jawab. Roy tahu gadis beriman tebal macam Sekar tidak gampang menerima sesuatu yang berhubungan erat dengan masa depan. Sekali Sekar angguk maka seumur hidup Sekar menjadi bagian dari hidup Roy.


"Aku bukan dari keluarga kaya. Ayahku cuma seorang guru agama dan ibu hanya ibu rumah tangga. Apa pantas dampingi bapak?" Sekar bukannya jawab malah bertanya.


"Aku menikah denganmu. Bukan dengan harta keluarga. Aku hanya kenal kamu apa adanya. Kamulah Sekar wanita yang kuharap bisa berdiri di sisiku selamanya. Kau bersedia?"


Sekar masih ragu untuk iyakan. Perbedaan status sering menimbulkan riak ombak hantam bahtera rumah tangga. Apa lagi keluarga Sekar sangat taat beragama. Apa Roy sanggup ikuti semua aturan keluarga Sekar yang sedikit kolot.

__ADS_1


"Keluarga kami tak kenal selingkuh juga trik-trik kotor dari wanita nakal. Apa bapak sanggup habiskan waktu bersamaku yang membosankan?"


"Bukan membosankan justru kamu jadi tantangan buatku. Aku tertantang untuk masuk ke dunia baru berdimensi agama. Kalau aku salah jangan lepaskan genggaman tanganmu! Tetap pegang aku lalui cobaan duniawi. Jadilah mentorku untuk jadi manusia lebih baik. Aku sudah petik hasil dari kisah Rudi dan Bara. Aku tak mau seperti mereka. Kuharap kau bimbing aku untuk jadi manusia lebih berguna." Roy meraih tangan Sekar ngeri sedap takut ditolak gadis ini.


Roy bersyukur Sekar tak menepis tangan Roy. Cuma mata indah Sekar menatap Roy dalam-dalam cari kesungguhan di mata laki itu. Roy tak bergeming ditantang lewat adu mata. Roy tak boleh gagal dalam ungkap cinta pada Sekar. Sudah maju pantang mundur. Kejar sampai titik akhir.


"Aku bersedia asal Pak Roy serius." ungkap Sekar akhirnya.


Senyum Roy mengembang hiasi wajah klimis itu. Roy jarang tampil lecek biarkan kumis dan jambang tumbuh subur di wajah. Ada sebagian cewek suka laki piara kumis dan jenggot. Lebih macho katanya. Tapi ada sebagian cewek jijik lihat laki piara kumis.


Inilah indahnya perbedaan selera. Masing-masing punya prinsip tersendiri.


Roy dekatkan tangan Sekar ke bibirnya lalu mengecup punggung tangan gadisnya. Roy sudah bisa anggap Sekar gadisnya setelah Sekar bersedia jadi pacarnya.


Sekar tersipu malu sampai wajah memerah bak kepiting rebus. Jantung Sekar berpacu lebih kencang dari biasanya.


Lebih tepat Sekar lagi sport jantung hati ini. Pagi dapat kabar buruk bertubi-tubi kini dapat perihal bahagia. Sekar tidak jomblo lagi di usia dua puluh lima tahun. Sudah ada bos siap dampingi hidupnya meniti hari depan.


"Terima kasih...mulai hari ini jangan panggil bapak! Panggil Bang Roy."


"Idihhh...gimana kalau di kantor? Maluin saja!" Sekar melengos malu diberi panggilan baru. Masa di kantor panggil Abang pada bos. Apa yang ada di otak orang lain? Karyawan lain pasti bertanya mengapa Sekar berani panggil Roy dengan kata Abang. Bau-bau hubungan mesra tercium seantero kantor. Mau disimpan di mana wajah teduh Sekar.


"Kok malu? Aku mau umumkan kau kekasihku biar tak ada cowok berani punya angan dekati kamu!"


"Aduh pak!!! Jangan dulu deh! Perlahan saja. Kita rahasiakan dulu sampai Sania pulang sini!"


Sebenarnya Roy keberatan Sekar mau sembunyikan hubungan mereka. Roy serius menjalin hubungan dengan Sekar. Mereka berjalan di atas jalan terang jadi untuk apa takut. Kecuali mereka ada niat buruk takut ketahuan orang lain.


"Bagus di kamu saja! Kalau berdua jangan panggil bapak! Uban di kepala auto berkembang. Makin tua."


Sekar tertawa geli lihat Roy manyun. Tangan Sekar masih dalam genggaman Roy seakan telah menyatu sulit dipisahkan. Sekar tak berniat kecewakan Roy menepis tangan laki itu. Kalau hanya sekedar pegang tangan masih tahap wajar. Sekar tak keberatan asal tak keluar dari rel.


"Bang...terima aku apa adanya dan aku akan terima Abang apa adanya. Kita harus saling terbuka walau ada kendala sepahit bagaimanapun. Kita diskusi semua ganjalan dalam berhubungan."


"Abang tahu...selalu ingatkan Abang bila salah langkah. Kita hadapi semua perbedaan cari solusi terbaik."


"Iya bang...tanganku panas! Apa bisa dilepaskan dulu?"


"Oh maaf! Abang terlalu bahagia sampai lupa diri. Semoga kita bisa satukan hati."


"Amin.." Kedua saling melempar senyum damai. Hati Roy lega telah sampaikan maksud hati pada Sekar. Lebih lega lagi Sekar menerima ungkapan cintanya. Artinya Roy sudah bisa ucapkan selamat tinggal jomblo suram. Kini Roy punya pelita siap terangi kisi hati yang selama ini redup.


Keheningan membalut ruang rawat Bara. Sekar dan Rudi membisu dalam bahagia. Bara dalam kondisi belum stabil. Sungguh keterlaluan bila keduanya euforia rayakan hari jadi mereka gegap gempita sementara teman mereka berjuang melawan maut.


Erangan kecil keluar dari bibir kasar Bara menyentak Sekar dan Roy dari tapa bisu. Keduanya serentak bangkit dari sofa tamu berburu dekati Bara.

__ADS_1


__ADS_2