MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Damai


__ADS_3

"Sudah siap?" tanya Bara menanti Sania berdamai dengan masa lalu.


"Insyaallah..." Sania mengangguk mantap.


Bara lega Sania bisa kontrol perasaan untuk menemui papanya yang tak dianggap. Bara ingin Sania bisa keluar dari kenangan buruk yang jadi momok hidupnya selama bertahun. Mungkin Allah sengaja pilih jalan ini untuk membuat Sania buka hati pada papanya.


"Ayok!" Bara menggandeng Sania menuju hari penuh damai.


Dari jauh gerombolan Rangga datang hampiri Bara dan Sania. Kelompok itu juga ngeri-ngeri sedap jumpa Sania. Banyak kendala untuk memaksa Sania harus jumpa Suhada. Memaksa Sania adalah salah karena wanita itu sedang hamil anak Bara.


Bila stress bisa bawa akibat fatal. Maka itu mereka harus pintar siasat keadaan agar Sania secara rela temui Suhada sebelum masuk ruang operasi.


Tangan Sania makin dingin dan kaku waktu lihat kelompok Rangga mendekat. Jantung Sania berpacu lebih cepat seolah jumpa malaikat maut.


Bara rasakan tangan Sania makin dingin dalam genggaman. Trauma apa sampai demikian kuat hujan jantung Sania.


"Sayang...kau bisa!" bisik Bara lembut usir kegundahan Sania.


"Iya Lieve..." Sania berusaha tegar tampilkan wajah biasa. Namun tetap tak seperti biasa. Ada sesuatu yang hilang dari raut wajah Sania. Cahaya kehidupan.


"Mbak Sania..." seru Agra berlari kecil menubruk Sania minta dipeluk. Otomatis Sania melepaskan tangan Bara untuk menerima pelukan Agra.


Sania kaget dipeluk Agra secara mendadak. Sania tak menolak pelukan adiknya yang dirindunya. Sania mengelus kepala Agra dengan lembut.


Kepala Agra menempel di dada Sania bisa rasakan detak jantung kakaknya itu. Sudah cukup lama Agra tak rasakan kehangatan pelukan Sania. Wanita tak beri kabar sama sekali seolah hilang dari mata Agra.


"Agra sehat?"


"Mbak ke mana saja? Apa tak sayang pada Agra lagi?" tuduh Agra sambil terisak. Kerinduan menyesak membuat Agra tak dapat menahan tangis.


"Siapa bilang mbak tak mau kamu? Ini sudah ada mbak! Mbak rindu padamu juga! Anak laki pantang nangis! Ayok hapus air matanya!" Sania menjauhkan tubuh Agra dari tubuhnya agar bisa melihat Agra lebih jelas. Sania menyeka air mata di wajah Agra dengan tangannya.


Agra angguk menatap Sania cari kejujuran di wajah kakaknya. Agra takut Sania hanya ingin hibur dirinya bilang rindu. Wajah Sania yang agak pucat mengetuk hati Agra untuk tidak cari kesalahan sang kakak.


"Mbak tak bohong?"


"Bohong itu dosa. Agra anak laki harus kuat. Jangan cengeng! Agra mau ikut mbak ke Belanda?" tanya Sania dapat kesempatan tanya niatnya bawa Agra ke Belanda. Sania tak peduli delikan mata Rangga melarang Sania bertanya.


Di situ ada Bu Bur yang sayang pada Agra melebihi nyawa sendiri. Bagaimana perasaan wanita paro baya itu Sania berniat jauhkan Agra dari mereka.


"Asal sama mbak di mana saja boleh!" sahut Agra mantap jiwa.


Bu Bur kontan layu dengar kesediaan Agra ikut Sania. Ternyata kasih sayangnya yang tulus tak mampu melawan ikatan darah. Darah lebih kental dari air. Tetap menang ikatan darah walau Bu Bur sudah beri air sejuk untuk bikin Agra betah.


"Dek...itu kita bahas nanti. Kita pergi jumpa papa dulu. Mumpung dia masih sadar." Rangga menengahi agar perbincangan soal Agra terputus di sini.


"Apa dia sudah tahu soal Agra?" tanya Sania masih memegang Agra. Tangan Sania memeluk bahu Agra erat-erat tak ingin adiknya pergi.


"Belum...kita jumpa bersama. Kita harus bijak tak pancing emosinya. Jantungnya sangat buruk. Tunggu setelah operasi baru kita cerita. Takutnya dia syok tahu banyak kisah tertutup darinya. Yok!" Rangga maju berdiri di antara Sania dan Agra. Rangga gunakan kedua belah tangan merengkuh kedua adiknya kiri kanan.


Rangga melirik Sania dan Agra yang berada dalam rengkuhan dengan dada bergemuruh. Saatnya pertemukan adiknya pada Suhada. Rangga berjalan meninggalkan yang lain di belakang.

__ADS_1


Andai orang lain yang memeluk Sania mungkin Bara akan beri bogem mentah. Namun ini Abang Sania, tak ada sela bagi Bara untuk cemburu. Malah Bara harus bersyukur Rangga bantu Sania keluar dari trauma.


Rangga memimpin jalan ke depan. Di belakang ikut empat sosok lain berjalan ke ruang rawat Suhada sebelum masuk ruang operasi. Sania merasa lebih berani maju bersama saudara-saudaranya. Keberanian itu muncul begitu saja. Mungkin Rangga dan Agra bangkitan kekuatan Sania.


Langkah mereka berhenti di salah satu kamar VIP. Rangga berhenti beri waktu untuk Sania menarik nafas kumpulkan kekuatan bertemu musuh bebuyutan dalam hidup. Rangga bisa rasakan tubuh Sania bergetar menahan emosi. Berapa dalam dendam di hati Sania sampai tak mampu beri ampun pada orang yang sedang sekarat.


Bara dan keluarga Pak Bur berdiri agak jauh beri kesempatan pada abang adik itu jumpa papa mereka. Biarlah Rangga selaku anak sulung selesaikan masalah yang terlanjur mengakar itu. Bara berharap Sania mampu dan bisa kalahkan rasa ego.


"Dek..siap?" tanya Rangga setelah lewati beberapa menit di depan pintu kamar ruang rawat Suhada.


"Bismillah saja mas!" sahut Sania mencekal lengan Rangga kuat-kuat untuk salurkan rasa takut. Sania takut tak bisa kontrol emosi. Bukan takut pada sosok Suhada.


Rangga tak jawab. Laki ini mendorong pintu ruang rawat Suhada perlahan. Deritan bunyi pintu memancing penghuni ruang rawat itu. Mata cekung tak bercahaya menoleh ke arah pintu penasaran siapa yang datang.


Mata Sania disambut pandangan miris. Satu sosok tanpa daya terbaring di brankar ditutupi selimut putih. Hanya kepala dan wajah orang itu tampak memancarkan aura tak sedap. Mata cekung dan rona wajah pucat. Muka tirus kehilangan sebagian daging dari laki yang biasa tampil gagah perlente. Masa jaya Suhada telah berlalu. Kini laki itu tak ubah seonggok daging bernyawa. Tak ada cahaya gemilang seperti dulu.


"Erlangga..." desis laki itu pelan. Suaranya kecil nyaris tak terdengar. Mata buram itu menatap Sania dan Agra bergantian seakan dua orang itu sangat familiar.


"Pa...ada enakan?" Rangga maju dekati Suhada biarkan Sania dan Agra masih mematung dekat pintu. Sania masih membeku tak tahu harus beri reaksi bagaimana.


Dari segi kemanusiaan Sania iba lihat Suhada tak berdaya lawan maut. Tapi dari segi masa lalu Sania masih marah. Amarah lawan rasa iba mana lebih kuat. Sania bisa maafkan Suhada lupakan semua yang telah terjadi atau simpan dendam itu biar terbawa sampai Suhada dijemput ajal.


"Maafkan papa telah banyak salah nak! Papa telah dibutakan oleh harta dan kemewahan. Kini semua ini tak berarti. Kalau papa pendek umur tolong kuburkan pada dekat kuburan bunda Rene ya! Papa ingin dekat dengannya biar bisa tebus kesalahan papa pada bunda Rene dan adikmu Santi."


Hati Sania bergetar dengar Suhada menyebut nama kecilnya. Artinya Suhada mengira Sania ikut meninggal bersama Rene mamanya. Laki ini tak tahu Sania dijepit keluarga Rene dibawa ke Belanda.


"Papa akan panjang umur. Malam ini papa akan dioperasi. Papa harus kuat karena papa harus gendong cucu. Rangga akan segera menikah dengan Lisa. Ingat gadis yang Rangga kenalkan? Itu calon isteri Rangga. Dia yang bantu Rangga kelola perusahaan. Lisa anak baik." Rangga menenangkan Suhada agar punya semangat juang lawan penyakit.


Rangga menebar senyum damai pada Sania dan Agra. Rangga mau Sania tahu bahwa Suhada tak sejahat bayangan Sania. Semua skenario diatur oleh Amanda. Suhada juga korban Amanda. Semua kejahatan dirancang Amanda untuk rebut harta wanita Suhada.


"Papa pernah lihat mereka?" pancing Rangga biarkan Suhada ingat anak-anaknya sendiri.


"Anak laki ini mirip bunda Tiur. Dan anak cewek ini mirip kamu Rangga. Sangat cantik." puji Suhada tulus.


Mata Rangga terasa panas karena insting Suhada bekerja dengan baik. Anak-anak di depannya memang anak kandung dari ibu berbeda. Sania anak Rene dan Agra anak Tiur.


"Papa yakin? Andai mereka anak papa gimana?" tanya Rangga sambil canda.


"Dari mana anak papa? Santi dan adik lakimu meninggal. Sebenarnya papa sangat sedih. Jasad mereka tak diijinkan papa lihat. Amanda tak ingin papa bersedih maka kuburkan mereka tanpa beri kesempatan pada papa. Andai mereka masih ada mungkin itu karunia tak terhingga." ujar Suhada lebih mirip mengeluh.


"Andai anak-anak papa masih hidup?"


"Papa akan berjuang sembuh untuk menjaga mereka. Papa akan bayar semua kesalahan papa pada mereka. Sayang mereka sudah tak ada." mata cekung itu berkaca-kaca menahan tangis.


Sania merasa hatinya remuk redam saksikan Suhada juga menderita ditinggal anak-anak tanpa sempat lihat jasad mereka. Amanda memang keji. Kejahatannya terbungkus sempurna sampai Suhada lupa daratan.


"Pa...berjuanglah! Ini kami! Aku Santi dan ini Agra anak bunda Tiur." terdengar suara serak Sania menahan tangis. Rangga kaget melihat Sania berani bikin pengakuan pada Suhada.


"Santi??? Kaulah itu nak?" Suhada berusaha bangun dari tempat tidur karena wanita cantik di depannya bikin semangatnya muncul.


Sania cepat-cepat menahan Suhada untuk bangkit dari brankar. Kesehatan Suhada tak ijinkan dia banyak bergerak. Hati Sania terketuk beri jalan maaf atas semua kejadian masa lalu. Suhada hanya korban dari keserakahan Amanda.

__ADS_1


"Ini Santi...Santi belum meninggal. Begitu juga anak bunda Tiur. Kami diselamatkan orang berbeda dari kejahatan Amanda." Santi meraih tangan Suhada yang tinggal tulang berbungkus kulit. Suhada yang gagah ganteng lenyap berganti seorang Kakek renta tunggu ajal.


"Ya Tuhan...di akhir ajalku Kau beri karunia indah! Santi anakku. Dan ini siapa namanya?" Suhada menatap Sania dan Agra bergantian.


"Agra...aku yang beri nama itu. Agra besar di panti asuhan." timpal Rangga bahagia akhirnya Sania bisa berdamai dengan papanya.


"Agra...nama yang bagus! Sini nak! Bolehkah papa peluk kalian? Papa harus sembuh agar bisa kumpul lagi dengan kalian."


Rangga mengajak Agra dekati Suhada untuk merasakan pelukan sang papa untuk pertama kali. Anak lajang itu ragu untuk maju karena asing pada Suhada. Seumur hidup Agra baru kali ini jumpa Suhada dan diakui sebagai anak.


"Gra...ini papa kita! Papa mbak Sania juga. Papa mas Rangga. Ayok cium tangan!" Rangga mengarahkan Agra cium tangan Suhada sebagai tugas anak.


Agra maju dengan ragu tanpa bersuara. Anak itu lakukan permintaan Rangga sedikit malu. Suhada sendiri tak dapat tahan tangis melihat anaknya yang dikabarkan meninggal utuh berdiri di hadapannya.


Suhada ingin memeluk Agra namun terhalang oleh selang-selang dan kabel yang terpasang di badan. Suhada hanya bisa mengelus pipi montok Agra sambil berurai air mata.


Rangga kuatir kondisi Suhada akan drop bila terbawa suasana sedih. Sania terlalu berani ambil resiko buat pengakuan saat kondisi Suhada masih belum stabil.


"Panggil papa nak! Aku ini papamu. Tunggu papa sehat akan jaga kamu dan mbakyu kamu." Tangan Suhada yang satu lagi mengelus punggung tangan Sania yang berada di atas brankas.


"Panggil papa Gra! Ayok!" pinta Rangga memerintah Agra agar penuhi permintaan Suhada.


Agra menatap Sania minta dukungan. Di saat genting gini Sania tentu saja mengangguk. Sejelek apapun suhada dia tetap papa mereka.


"Papa..." Agra keluar juga panggilan itu.


Suhada makin sesungguk dipanggil pelan oleh Agra. Kini laki itu menatap Sania menuntut panggilan sama keluar dari bibir mungil Sania.


Sania gampang ijinkan Agra memanggil Suhada papa namun bibirnya kelu untuk keluar satu kata keramat bagi Suhada. Panggilan Sania sangat berharga bagi Suhada. Itu adalah obat penyembuh paling manjur.


Lama Sania termenung menimbang apa sanggup keluarkan kata itu. Suhada menanti penuh harapan. Sania sangat cantik mirip dirinya. Suhada terkenal ganteng bikin semua wanita jatuh cinta maka dengan gampang Suhada nikahi beberapa wanita. Walau pada akhirnya sad ending.


Rangga gregetan lihat Sania masih berat untuk akui Suhada. Kalau Sania bijak pasti akan bertindak rasional keluarkan satu kata saja.


"Dek...papa menunggu!" Rangga ingatkan Sania untuk tidak ragu.


Mata Sania sudah berembun tebal hendak keluarkan cairan bening. Sania yang terkenal angkuh dan arogan mulai leleh lihat kondisi Suhada. Sania menundukkan kepala mencium tangan Suhada sambil berkata.


"Pa..."


"Anak papa...kau sudah besar dan cantik! Tunggu papa sehat akan jaga kamu. Papa akan lindungi kamu dan Agra. Kita berkumpul lagi bangun keluarga kita." Suhada menyentuh kepala Sania lembut. Tangan lemah itu berusaha bergerak mengelus kepala Sania lebih lama.


"Iya pa! Cepat sembuh!" Sania biarkan Suhada memegang kepalanya selama yang dia inginkan.


"Pasti...pasti...papa punya kalian! Papa harus sembuh!" Suhada berkata semangat. Wajahnya lebih bercahaya pancarkan aura positif.


Rangga salah mengira Suhada akan drop setelah tahu punya anak yang masih hidup. Dugaan Rangga meleset. Suhada justru makin semangat setelah tahu masih punya Sania dan Agra. Ini angin positif percepat kesembuhan Suhada. Yang paling vital adalah semangat juang Suhada lawan penyakit.


"Papa akan dioperasi malam ini. Kami semua akan di sini bersama papa. Semua anak papa." Rangga berkata naikkan spirit Suhada agar makin meningkat.


"Iya...papa siap! Tapi Agra masih kecil. Lebih baik tunggu kabar di rumah. Papa akan cepat sehat agar bisa kawani kamu main sepak bola." Suhada berkata pada Agra yang banyak diam.

__ADS_1


__ADS_2