MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Janji Bara


__ADS_3

Sania bukannya tidak iba pada karyawan yang kena imbas rasa kesalnya. Cuma kelakuan Arsy sudah melewati batas kemanusiaan. Pakai kekuasaan ancam orang lain untuk puaskan nafsu angkaranya. Hati Sania terasa sakit ingat nasib Kintan yang tak berharga di mata Arsy. Kintan hanya dijadikan sarana menjerat Bara.


"Om selidiki orang sombong ini! Sania akan cerita nanti mengapa Sania tega berbuat jahat. Tunggu kabar Sania Om. Sania minta maaf ingkar janji."


"Tak apa sayang. Asal kamu senang Om ikut senang. Kendali emosi jangan terpancing oleh hal tak penting!"


"Iya Om...Sania minta Om pantau perusahaan orang tua Arsy. Kalau Sania suruh remukkan ya remukkan."


"Sayang...Om baru saja bilang kontrol emosi. Kekerasan takkan berbuah manis. Ngucap nak!" nasehat Pak Elmo tak ingin Sania berjalan di atas emosi yang merusak hati dan pikiran.


"Astaghfirullah..." Sania tersadar oleh wejangan Pak Elmo. Hati Sania dibutakan amarah.


"Bagus...tenangkan diri ya! Assalamualaikum..." Pak Elmo sengaja hindari bincang lebih lama agar Sania tak minta dia lakukan hal aneh-aneh.


Dasar Sania itu baik penuh kasih sayang. Beberapa hal memaksa Sania lakukan hal bertolak belakang dengan dasar sifatnya. Sania merasa hidupnya senantiasa berteman duka. Ada sedikit cahaya harapan sering redup perlahan. Baru saja dia mereguk rasa bahagia bersama Bara muncul Maya, kini muncul Arsy pula. Sampai kapan kisah hidup Sania berbalut duka.


Setegar apapun seorang wanita ada kalanya akan lelah. Kaki kesemutan untuk melangkah lebih jauh. Akankah Sania menyerah tak mampu dililit kisah masa lalu Bara yang tak pernah usai.


Sania tak sadar di depannya sudah ada dua lelaki dewasa menatap Sania heran. Di mana Sania simpan kesadaran sampai dia sosok besar berdiri di depan tak tampak olehnya.


"Sania..." panggil Bara usir lamunan isterinya.


Sania tersadar memandang kedua laki di depannya dengan wajah bodoh. Sania masih terbawa rasa sedih dan kesal pada Arsy. Sania bergegas pulihkan ingatan ke alam nyata. Ingat nasib Kintan.


"Oh...silahkan duduk!" Sania persilahkan Rudi dan Bara.


Rudi patuh duduk di sofa tak jauh dari meja kerja Sania. Jarak cukup dekat takkan pengaruhi obrolan. Suara masing-masing masih terdengar jelas. Bara memilih duduk di meja kerja Sania tak mau jauh dari bini mungilnya. Bara tahu Sania sedang gundah oleh kehadiran Arsy.


"Ini sudah ada Rudi! Katakan niat hatimu." ujar Bara mengijinkan Sania utarakan cara melawan Arsy yang makin tak terkontrol.


"Kak Rudi...apa waktu Arsy menyerahkan Kintan pada kalian ada hitam putih?" tanya Sania langsung ke Rudi.


"Ada...soalnya dulu waktu hak asuh jatuh ke tangan Arsy ada surat dari pengadilan. Maka kami ambil alih harus cabut hak asuh Arsy. Tidak gampang dia ambil Kintan! Dia itu gertak saja. Kamu tak perlu kuatir. Keluargaku tak mungkin serahkan Kintan pada wanita kurang waras."


"Dia ngancam akan hancurkan bisnis keluargamu. Seberapa strong perusahaan mereka?"


Rudi tertawa kecil menanggapi pertanyaan Sania. Sania terlalu banyak dirundung rasa kuatir yang merusak kesehatan. Bukan perkara gampang ingin merusak satu perusahaan seperti kata Arsy. Dasar apa Arsy ingin ganggu bisnis keluarganya. Arsy bukan dewa maut bisa atur hidup mati satu perusahaan.


"Keluarga Arsy bukan orang bodoh. Andai mereka mau minta Kintan bukan hari ini. Dari dulu mereka tak peduli Kintan. Mau hidup atau mati mereka tak open. Arsy bukan anak kandung keluarga mereka. Arsy hanya anak angkat." cerita Rudi buka aib Arsy. Sebenarnya Rudi tak berniat bongkar status Arsy namun kelakuan Arsy lewat batas maka mau tak mau Rudi harus beberkan fakta.


Bara kaget tak menyangka Arsy hanya anak pungut. Tapi Arsy cukup mendapat kasih sayang dari keluarganya. Kuliah di luar negeri, hidup foya-foya dengan kekayaan keluarga. Tak ada tanda-tanda Arsy anak angkat. Semua berjalan wajar.


"Oh..." hanya itu yang keluar dari mulut Sania ikut kaget setelah tahu status Arsy.


"Keluarga Arsy cukup malu dengan tingkah Arsy maka selama masih ada Kintan Arsy tak bisa pulang ke rumah. Setelah serahkan Kintan padaku Arsy diterima lagi. Percayalah! Mereka takkan perjuangkan Kintan! Tak usah peduli padanya! Sekarang semua tergantung Bara. Jauhi Arsy sebelum bala datang pada rumah tangga kalian. Soal Kintan tak perlu kuatir. Aku jamin tak ada cela buat Arsy rebut Kintan." ujar Rudi tegas yakinkan Sania tak perlu kuatir nasib Kintan.

__ADS_1


Sania mangut kecil lega dengar janji Rudi. Rudi sudah berani jamin keselamatan Kintan merupakan kabar baik. Sania tahu Rudi tak bohong karena Kintan adalah darah dagingnya. Tak mungkin Rudi tega menyakiti Kintan.


Bara masih tergugu dengar kisah Arsy. Nasib Arsy sungguh kasihan juga. Status di keluarga hanya anak angkat yang tak punya power. Pantas Arsy selalu berusaha cari orang kaya untuk penuhi gaya hidup mewahnya. Nyatanya dia tak dapat semua itu dari keluarga. Posisi anak angkat mana bisa setara anak kandung.


Bara mulai lagi Galang rasa iba yang bisa menggerus rumah tangga sendiri. Sikap plin plan ini yang akan giring Bara ke jurang kehancuran. Tak bisa dipungkiri Bara masih ada rasa pada Arsy. Mantan pacar yang dampingi dia selama kuliah.


Di depan Rudi dan Sania mana mungkin Bara katakan rasa iba pada Arsy. Bisa-bisa Bara kena pinalti dari Sania. Bara tak ingin kehilangan Sania walau apapun terjadi. Arsy hanya masa lalu yang sisakan kenangan buruk.


"Syukurlah kak Rudi! Jaga Kintan baik-baik! Tunggu Kintan dewasa kelak terserah dia mau pilih hidup dengan siapa. Kintan terlalu kecil untuk pahami rumit kisah kalian. Terpenting Pak Bara dan Kak Rudi jangan simpan dendam! Kita berdamai untuk kemajuan bersama."


"Ya ngaklah! Kita semua sudah dewasa. Ini jadi pelajaran buat kita tak terjerumus nafsu setan. Aku ingin hidup tenang berkarya di sini selama dibutuhkan. Hariku ceria tanpa beban mental." ujar Rudi sambil tertawa.


"Rudi benar sayang! Kami bukan anak kecil rebutan permen. Saatnya belajar tanggung jawab. Apa lagi aku akan jadi Daddy. Sekarang kau lega bukan? Aku akan perintahkan pada satpam larang Arsy masuk kantor. Ok?" Timpal Bara menguatkan keinginan Rudi pilih hidup tenang tanpa campur aduk masa lalu dengan masa kini.


Sania cuma bisa angguk berusaha terima janji kedua laki ini. Titik noda kedua cowok ini adalah Arsy. Sanggupkah mereka lepaskan nama Arsy dari alam pikiran mereka? Hanya keduanya bisa jawab.


"Kak Bara serius sama Putri? Putri itu anak baik walau bukan Puteri ningrat."


Rudi tersenyumlah misterius tak berani iyakan kata-kata Sania. Rudi memang kagum pada Putri namun masih ragu ungkap perasaan. Mereka baru kenalan belum lama. Belum menyatukan visi. Masih perlu waktu.


"Biar kami berteman dulu. Masa lalu aku kelam. Putri belum tentu terima laki macam aku."


"Baguslah kak! Saling mengenal dulu. Cuma kumohon jangan samakan Putri dengan wanita lain! Dia anak tulus dan polos."


"Aku janji...ok..kerjaku banyak! Hari ini aku akan tinjau pembangunan bank. Aku mohon pamit." Rudi bangkit hendak tinggalkan ruang kerja Sania. Sania angguk beri ijin pada Rudi kembali aktifitas. Persoalan ada titik terang Sania tak perlu turun tangan besi terhadap keluarga Arsy.


Rudi keluar dari ruang Sania sisakan Bara dan Sania saling membisu. Sania lega sedang Bara masih memikirkan status Arsy. Bayangan putus asa Arsy bermain di mata Bara. Bara kasihan pada Arsy. Bukan karena cinta.


Nasib Arsy tentu tak semanis bayangan semua orang. Apa Arsy tahu siapa sebenarnya orang tua kandungnya? Bagaimana perasaan Arsy setelah tahu dia hanya anak angkat.


"Lieve.." Sania menguak keheningan.


"Ya sayang?"


"Besok kita jadi ke pulau B?"


"Jadi dong! Proyek sudah harus jalan. Cuma Lieve mau sayang katakan semua pada Lieve sebelum bergerak. Lieve bukan marah kamu telah kirim alat berat. Di sini Lieve sibuk memikirkan alat berat dan tiba-tiba kamu bilang sudah ada. Kita loose komunikasi. Gimana kalau Lieve sewa lagi? Kan mubazir?"


"Maafkan aku Lieve! Aku lupa beritahu." Sania mengaku salah bertindak tanpa sepengetahuan Bara. Niat Sania hanya ingin meringankan beban Bara. Tak ada niat lain.


Bara mendekati Sania meraih wanita ini ke pelukan. Bara tak ingin membangun tembok antara dia dan Sania. Segala harus diawali dengan kejujuran. Arsy tetap hanya bagian masa lalu walau Bara iba pada wanita itu. Arsy tak boleh merusak rumah tangganya. Cukup ada satu Sania .


"Lieve maafkan! Mulai detik ini kita harus saling berbuka!"


"Buka apa?"

__ADS_1


Bara tertawa geli dipancing Sania. Bara melonggarkan pelukan menangkup ke dua pipi Sania pakai tangan. Sepasang mata indah Sania dipaksa menatap mata elang Bara. Ada manik-manik kristal menghiasi biji mata indah Sania. Betapa teduh telaga bening itu. Tulus damai.


"Apa boleh kubilang buka pakaian?" gurau Bara disambut cibiran bibir Sania.


Bara gregetan pada bibir mungil yang tampak lezat untuk dimakan. Pasti manis bila dicicipi.


Tanpa ijin Bara daratkan bibirnya ke bibir Sania yang menggoda dari tadi. Pertama Sania menolak merasa tak etis mesraan di kantor. Tapi Bara mana mau lepaskan moments berharga ini. Laki ini memaksa Sania buka mulut menerima lidah ular yang lincah bermain di rongga mulut Sania.


Keduanya ciuman cukup lama sampai Sania kehabisan oksigen. Sania memukul dada lakinya minta dibebaskan. Bara puas akhirnya bebaskan Sania menarik oksigen sebanyak mungkin penuhi rongga dada. Nafas Sania terengah-engah kekurangan pasokan oksigen. Pakar bercinta selihay Bara tentu tak terganggu hanya kekurangan pasokan oksigen. Beda sama amatiran macam Sania.


Bara menyentuh bibir Sania yang tampak merah kena jilatan lidah ular Bara. Bagi Bara bibir mungil itu makin menggairahkan sedikit bengkak. Sania malah menunduk malu.


"Sayangku...kau tetap menjadi canduku! Lieve makin cinta."


"Gombal...ayok balik kerja! Dasar otak mesum." Sania mendorong Bara ke ruangnya via pintu ajaib. Bara sempat beri tanda cinta pakai jari sebelum ditekan pintu.


Sania tersenyum senang digombalin Bara. Tak perlu persembahan segunung harta untuk memikat pasangan cukup perhatian dan ketulusan. Bahagia itu sederhana. Asal dibarengi niat baik.


Mereka pulang berdua dengan hati damai. Segala salah paham sedikit terurai walau masih banyak pr belum diselesaikan Bara. Laki ini belum sadar belum sepenuhnya laksanakan tugas sebagai suami sejati. Tapi Bara akan berusaha penuhi semua tanggung jawab sebagai suami Sania.


Senja belum jatuh waktu mereka pulang. Di rumah sudah ada Fadil dan Pak Jaya. Keduanya pulang lebih duluan. Fadil bergegas menyambut Sania tak peduli pada tampang seram Bara. Fadil sudah rindu pada Sania karena berhari-hari tak jumpa. Perasaan Fadil pada Sania tak pernah berubah walau Sania adalah kakak iparnya. Fadil hanya ingin lindungi Sania dari segala tantangan hidup.


"Halo kakak ipar...rinduku telah kusimpan sekoper sebagai oleh-oleh!" Gombalan khas Fadil menyeruak pada sambutan pertama.


"Koper besar atau kecil?" Sania sambut rayuan Fadil tak ingin merusak mood laki muda itu.


"Koper gede dong! Menurut berita teranyar aku akan jadi om ya! Aku tak mau dipanggil om tapi harus panggil aku Daddy. Om menjauhkan aku dari bayimu."


Bara yang berniat naik ke lantai dua hentikan langkah dengar ocehan Fadil mengoyak harga dirinya. Bara berbalik badan mendekati sang adik yang cengar-cengir tak takut diancam Bara.


"Otakmu korslet ya! Apa hak lhu minta anak gue panggil lhu Daddy?" geram Bara mengepal tinju ke wajah Fadil.


Fadil menurunkan tinju Bara dengan gaya Flamboyan. Perayu ulung macam Fadil mana termakan intimidasi semu Bara.


"Berjaga-jaga kalau kelak mas Bara lupa pada anak bini. Kan sudah ada aku calon pengganti." sahut Fadil Santuy.


Sania mendorong Bara jauhi Fadil. Sania tahu Fadil hanya bercanda goda abangnya. Anak sesopan Fadil mana mungkin berbuat jahat. Fadil sengaja merayu Sania untuk uji perasaan Bara pada Sania. Fadil tahu sisi gelap Bara susah keluar dari bayangan masa lalu. Fadil bersumpah akan lindungi Sania dari segala tekanan. Fadil mencintai Sania dengan tulus. Tidak bisa bersama Sania tak jadi masalah asal Sania bahagia Fadil sudah bahagia.


"Sudah Lieve...Fadil hanya canda! Pergi mandi. Sebentar lagi Sania nyusul. Ada yang ingin Sania bincangkan dengan papa."


"Iya mandi sono! Bau tuh!" Fadil kasih angin bau kentut biar Bara makin kesal.


Bara mengalah sambil lontarkan tatapan tajam pada Fadil. Bara cukup kuatir Fadil akan berbuat bodoh sabotase cintanya. Fadil pintar ambil hati wanita dengan gombalan hangat. Si kaku Bara bukan lawan Fadil dalam mencuri perhatian cewek. Bara kalah total.


Tawa ejek Fadil bergema di seluruh ruangan. Betapa puas Fadil berhasil ciptakan kegalauan di hati Bara. Bara pasti akan lebih hati-hati jaga Sania dari incaran laki lain. Fadil puas sekali. Provokasi Bara sekaligus lindungi Sania.

__ADS_1


Bara merasa dadanya mau meledak diejek Fadil. Sampai detik ini Fadil belum percaya Bara mampu keluar dari bayangan masa lalu. Kecurigaan Fadil masih besar Bara akan jatuh pada kenangan buruk yang bisa menjauhkan dirinya dari Sania.


__ADS_2