MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Ijab Kabul


__ADS_3

Seorang bintang tak selamanya berjaya. Suatu masa dia akan perlahan meredup tanpa dikenal orang. Beda dengan orang yang mampu berkarya hasilkan sesuatu yang berarti. Itu takkan tenggelam di makan waktu. Bahkan akan makin cemerlang karena makin lama makin berpengalaman sekian lama berkarya.


Tak terasa waktu yang dijanjikan tiba. Bara dan Sania akan meresmikan diri menjadi suami isteri. Sesuai permintaan orang tua Bara kedua orang itu menikah di mesjid dekat rumah mereka.


Pak Jaya sengaja adakan acara di sana agar tetangga sekitar rumah tahu Bara menikahi Sania secara resmi dan sah. Nania juga dihadirkan untuk perkuat posisi Sania sebagai isteri diakui.


Harapan keluarga Pak Jaya tentu saja Sania bisa memberi Bara keturunan. Nania sudah divonis tak bisa memberi penerus keluarga yang diidamkan pihak keluarga Bara.


Acara berlangsung sederhana namun hikmat. Sania meminta Rangga menjadi walinya. Memang seharusnya Rangga menjadi wali Sania karena Rangga adalah Abang Sania satu bapak lain ibu.


Bara menjabat tangan Rangga mengucapkan ijab dengan lantang. Pak Bur dan beberapa keluarga Pak Jaya jadi saksi nikah Bara dan Sania.


Sania cantik sekali memakai kebaya warna gading. Dandanan Sania sederhana tidak menor. Kesemua itu tak kurangi nilai kecantikan alami Sania. Bara beruntung mendapat daun muda segar.


Nania duduk tak jauh dari tempat Bara dan Sania ambil ikatan janji suami isteri. Hati Nania teriris juga walau dia ikhlas terima Sania sebagai madu. Sania jauh lebih baik dari perempuan perempuan penggoda yang ingin merebut perhatian Bara.


Wanita mana mampu seikhlas lihat suami kawin lagi. Namun Nania tak punya pilihan lain. Sania baik dan perhatian padanya. Sania tak pura pura bersikap manis di depan Bara lalu di belakang caci maki seperti kakak kandungnya sendiri.


Sania gugup juga walau pernikahan mereka hanya pernikahan perjanjian. Sania tak mau teken kontrak nikah seperti dalam cerita novel novel roman yang digilai kaum ibu ibu muda. Sania jalani pernikahan ini tanpa beban. Harapan Sania hanya satu yakni Nania cepat sehat. Semoga Nania bisa menemukan kebahagiaan yang memang miliknya.


Seruan sah cukup keras membuat Sania tersentak kaget. Seruan itu telah menutup predikat Sania sebagai gadis lajang. Kini dia adalah isteri orang. Isteri dari pengusaha muda Bara. Statusnya isteri muda, madu dari Nania. Bukan reputasi bagus namun itulah fakta.


"Sania..cium tangan imam mu!" terdengar bisikkan dari belakang. Sania menoleh ke belakang cari siapa yang telah menyadarkannya. Bu Bur mengangguk lembut.


Sania segera meraih tangan Bara di bawa ke bibirnya. Perlahan Sania mencium tangan Bara. Salam pertama awal dari pernikahan mereka.


Bara meraih kepala Sania lalu mendaratkan bibir di jidat Sania. Sikap Bara sangat kaku tak ada mesranya. Sania maklumi kondisi demikian karena menikah tanpa cinta.


Nania meraba dadanya terasa nyeri. Pedih tanpa luka. Kini Bara bukan milik pribadinya lagi. Sudah ada gadis yang segalanya melebihi dirinya. Akankah dia tersingkir dari kisah hidup Bara? Semua tergantung Sania menjalankan poligami ini. Sania akan bijak atau jahat padanya. Nania adalah sosok tak berdaya harap kemurahan hati Sania.


Acara selanjutnya adalah kumpul keluarga di rumah Bara. Yang hadir hanya keluarga Bara dan keluarga Pak Bur. Rangga dan Agra tentu jadi tokoh penting karena mereka adalah saudara Sania.


Sania langsung membawa Nania masuk kamar setelah pulang dari mesjid. Sania tahu Nania pasti sedang berduka kehilangan setengah perhatian suami. Sania hendak katakan langsung pada Nania kalau dia bukan ancaman tapi teman.


Sania mendorong Nania masuk kamar lalu membantu wanita itu berbaring di tempat tidur. Sania menggenggam tangan Nania penuh persahabatan.


Nania tersenyum merasa sedikit tenang Sania tak berubah walau telah berstatus isteri Bara.


"Selamat ya Sania..."


"Mbak istirahat ya! Jangan pikir yang bukan bukan! Aku di sini untuk mbak. Mbak harus janji makin rajin berobat. Kita cari kesembuhan bersama."


"Terima kasih... kau mau tinggal sama kami?"


"Terserah mbak saja! Aku ikuti semua keinginan mbak."


"Tinggallah di sini! Kita bisa ngobrol dan berbagi." Nania menarik tangan Sania membawanya ke dada.


"Tentu mbak tapi beri aku waktu ya. Tunggu berapa hari lagi aku akan pindah sini. Aku hanya punya satu permintaan dari mbak."


"Katakan!"


"Aku mau mbak yakin berobat. Allah telah beri cobaan tentu akan beri jalan pada kita lalui cobaan ini. Aku janji akan dampingi mbak setiap pengobatan."

__ADS_1


Nania terharu pada perhatian Sania. Sania kelihatannya memang tulus padanya. Harapan Sania sama juga dengan harapannya walau kadang Nania putus asa berobat sana sini belum juga tambah sehat. Malah makin hari makin drop.


Semoga kehadiran Sania bisa bangkitkan semangat juangnya terhadap kanker mematikan ini.


"Mbak janji...mbak janji."


"Bagus...mbak istirahat dulu! Nanti kita makan bersama. Mbak kelihatan lelah." Sania bangkit dari tempat tidur Nania menyelimuti wanita itu.


Nania mangut pelan. Tenaganya memang terkuras habis ikuti acara ijab kabul Bara dan Sania. Nania sudah terlalu lemah beraktifitas. Kanker di badan sudah menyebar merata ke seluruh badan. Selama masih ada setetes harapan Sania akan bantu Nania berjuang.


Sania keluar dari kamar Nania menuju ke ruang keluarga yang masih banyak tamu. Terlihat Bara berbincang dengan Pak Bur dan Pak Jaya beserta beberapa kerabat Bara.


Kelompok ibu ibu ngerumpi di sudut lain. Tawa derai warnai rumah yang sudah lama suram. Semoga Sania mampu kembalikan cahaya rumah itu.


"Sania sini..." panggil Bu Jaya paling bahagia putra sulungnya mendapat bini nilai plus.


Sania melebarkan bibir memenuhi panggilan sang mertua. Bu Jaya menepuk sofa di sampingnya minta Sania duduk di situ. Sania tak banyak tingkah ikuti saran mertua dengan senang hati.


"Wah seru banget ngobrolnya!" Sania tempatkan diri di samping mertua.


"Lagi omongin kamu dan Nania. Kamu kelihatannya suka pada madumu." kata seorang ibu bersanggul gede.


Sania bukan orang bodoh tak tahu kalau itu kalimat jebakan. Dalam sejarah mana ada isteri tua dan isteri muda bisa akur berbagi suami. Tetap ada gap antara mereka.


"Aku di sini karena mbak Nania perlu kawan. Mbak Nania yang melamar aku untuk Pak Bara." sahut Sania manis.


"Huuusss..sudah jadi suami isteri masih panggil bapak. Mas atau abang gitu lho!" Bu Jaya ralat cara panggil Sania terhadap Bara.


Sania tersipu malu ditegur mertua, "Maaf belum terbiasa."


"Ya Bu.."


"Salah lagi..mulai sekarang harus panggil mama seperti Bara. Kamu sudah jadi isteri Bara ya jadi anakku juga." Bu Jaya makin ramah mendapatkan Sania memang gadis polos.


"Ya ma..."


Rangga dan Agra duduk di pojok tak ikut nimbrung dalam obrolan. Mata Agra liar memantau sekeliling rumah Bara. Rumah mewah beda dengan panti asuhan.


Di panti asuhan segalanya sederhana nyaris tak ada barang mewah. Mereka hidup sangat sederhana dibantu para donatur. Semua anak panti harus sadar diri tak boleh menuntut. Bisa makan dan sekolah saja sudah bersyukur. Berharap hidup mewah macam anak lain jauh dari angan mereka. Jangankan membayangkan, bermimpi saja dilarang keras.


Sania melirik Rangga dan Agra yang terasing duduknya. Sania minta ijin hampiri kedua saudaranya. Rangga dan Agra tentu merasa asing pada orang orang yang belum mereka kenal. Untuk berbaur perlu waktu. Belum lagi dunia mereka berbeda. Rangga dan Agra sudah terbiasa hidup sederhana hendak masuk lingkungan jet set tidak semudah balik telapak tangan. Masih banyak kendala memahami hidup orang kaya.


"Mas...Agra...maaf sudah abaikan kalian! Aku benar sibuk." Sania duduk di samping Agra seraya membelai rambut bocah lajang kecil itu.


"Mas ngerti kok! Sekarang kamu sudah jadi isteri orang. Segala langkah harus hati hati. Mas merasa hidupmu akan penuh tantangan." Rangga beri nasehat sebagai abang. Rangga tentu berharap yang terbaik untuk Sania.


Rangga merasa kehilangan lagi. Baru jumpa sang adik kini harus jadi milik orang lain. Rangga kurang senang Sania hanya berpredikat bini muda yang selalu dapat point negatif. Mana ada bini muda dihargai di masyarakat. Tak jarang bini muda diberi julukan abadi sang pelakor.


"Sania ngerti mas. Malam ini kita pulang ke apartemenku ya! Kita makan malam bersama di restoran."


Rangga bingung dengan kata kata Sania mengajak dia dan Agra pulang ke apartemen. Bagaimana Bara yang sudah menjabat suami. Ini adalah malam pertama Sania dan Bara. Bahasa kerennya malam pengantin. Mana boleh dihabiskan dengan orang lain.


"Kau sehat dek?" Rangga masih tak percaya ajakan Sania habiskan malam bersama saudara sendiri.

__ADS_1


"Apa ada gejala aku sakit? Aku ingin rayakan sama kalian. Berapa hari ini aku sibuk tak bisa temani kalian. Ini moments tepat untuk kita. Terutama untuk Agra." Sania mengelus pipi Agra. Sania tak peduli malam pengantin atau sejenis itu. Dia dan Bara bukan pasangan sejati, tak ada kesepakatan harus lakukan ritual malam bersejarah. Tak ada yang beda kecuali status Sania berubah menjadi isteri Bara.


"Jangan gitu dek! Ngak enak sama Bara. Apa kata orang bila kau tinggalkan lakimu di hari pertama nikah."


Sania luruskan mata ke arah Bara yang masih ngobrol dengan kelompok pria. Sania yakin Bara juga tak tertarik bahas soal malam pengantin. Di mata laki itu cuma ada Nania isteri tercinta. Bara cinta mati pada Nania. Di hati laki itu sudah terpahat sosok Nania. Tak mudah musnahkan pahatan yang telah mendarah daging.


"Bara akan maklumi Sania mau bersama kalian. Waktu kami masih panjang. Agra lapar?" Sania malah alihkan pembicaraan mengajak Agra cari makan.


"Belum mbak..."


"Agra betah tinggal di tempat Kak Lisa?"


"Betah...kak Lisa baik. Mama juga baik kok. Cuma Agra kurang suka mama Bur selalu minta Agra makan terusan. Perut Agra sampai mules." Agra berkata dengan raut wajah sedih.


Sania tertawa kecil mencoba ingat kelakuan Bu Bur yang selalu paksa mereka makan. Ternyata Agra juga terkena hobi aneh Bu Bur. Badan gemuk cerminkan badan sehat. Itu motto beliau yang aneh bin ajaib.


Bu Bur tak tahu bukan jaman orang bertubuh gendut dikatakan sehat. Justru gemuk gampang mengundang berbagai penyakit akibat timbunan lemak. Gadis sekarang matian diet biar tampak langsing menarik. Ini malah ingin lihat anak anak gemuk.


"Agra jangan melawan ya! Niat mama Bur baik supaya Agra punya tenaga kuat. Katanya mau ujian naik kelas. Harus banyak makan biar berenergi."


"Satu lagi guru sumo. Pingin lihat Agra segede pegulat sumo ya?" Agra mendecak sambil geleng kepala. Sania tak jauh beda sama mamanya Lisa. Agra harus banyak makan biar kuat. Bahasanya beda namun tujuan tetap ke sana yakni harus gemuk. Agra memang terlalu kurus untuk ukuran anak seumurnya.


"Huuusss..anak kecil jangan membantah! Agra mau makan apa? Kita pergi makan sampai pulangnya digelindingkan. Ok?"


"Bukan digelindingkan tapi terbang kayak balon. Ach mbak ini...ekornya makan lagi. Gimana kalau ponsel?" Agra memasang tampang imut supaya Sania luluh. Minta sama Rangga malah dicuekin. Anak kecil tak perlu ponsel. Itu kata sakti tolak permintaan Agra.


"Belum dibeliin sama mas Rangga?" Sania kaget juga Rangga belum beli permintaan Agra padahal Sania sudah pesan pada Rangga penuhi keinginan Agra.


"Agra masih kecil belum butuh barang itu. Nanti malah malas belajar asyik main handphone." Rangga kasih alasan mengapa tak mau beli ponsel untuk Agra.


Agra menarik tangan Sania digoyang goyangkan tangan putih mulus itu. Tatapan mata Agra memelas namun tak berani melawan larangan sang Abang.


"Mbak beliin tapi dengan catatan nilai Agra harus makin meningkat. Kalau anjlok mbak sita ponselnya. Janji?"


"Janji..." Agra mengangkat dua jari ikrar sungguh hati.


Rangga menghela nafas. Sania tak tahu cara didik anak dengan baik. Memanjakan adik tidak dilarang cuma tak boleh terlalu turuti keinginan sang adik berlebihan. Nanti timbul efek buruk. Agra bisa berubah malas asyik dengan mainan barunya. Apalagi Agra tak pernah memiliki barang mewah itu. Pasti akan main pagi siang malam.


"San...apa ini tak ganggu jam belajar Agra?"


"Mbak percaya sama Agra. Main setelah belajar. Nilai harus makin bagus. Ok?"


"Ok..."


"Kita beli..."


"Makasih mbak...Agra sayang mbak Sania." Agra langsung memeluk Sania suka cita. Ponsel impian segera mendarat di tangan. Kini Agra sudah bisa main game seperti kawan lain. Tak perlu meminjam kepunyaan teman sebangku lagi.


"Manjain terus!" sentil Rangga tak bisa berbuat apa. Sania punya duit bisa beli apapun. Sedang dia hanya montir bergaji kecil.


"Mas Rangga sirik. Mas kan sudah dibeliin mobil. Giliran Agra dong!" Agra mencabik bibir ke arah Rangga. Sania tertawa geli merasakan ada aliran hangat mengalir di relung hati. Nyaman sekali bisa berkumpul sama darah daging sendiri.


"Oya...gimana mobilnya mas? Sania lupa soal mobil mas. Sudah on road?"

__ADS_1


"Sudah...Oya ini ke kartu ATM punyamu. Simpanlah! Mas takut hilang." Rangga merogoh saku celana mengeluarkan dompet di mana kartu ATM Sania bersemayam beberapa hari ini.


"Mas simpan saja untuk keperluan Agra. Usahakan rumah untuk Agra. Tak baik terlalu lama numpang pada Lisa."


__ADS_2